Dosa Termanisku
Denyut nadiku berpacu memikirkan pak Ardi dan sisa-sisa kehormatan yang lenyap saat aku berlutut di depannya.
Aromanya, kehalusan kulitnya dan kehangatan kejantanannya membuatku mendongkak saat aku menggenggam kejantanannya dengan jari-jemariku.
Aku ingin menangis, aku ingin menjerit, tapi aku ingin juga berada disini, dengannya. Dengan sedikit rasa yang ia berikan untukku.
"Dosa termanisku."
Lidahku menyusurinya, menjilatinya naik-turun, sesekali menggoda lubang kecilnya dengan isapan kecil yang membuatnya mengerang nikmat.
Chapitres populaires