
Budak Kesayangan Pangeran Buta
Setelah dinasti keluarganya runtuh, Ming Zhu, putri dari kaisar yang dilengserkan, kehilangan segalanya—orang tuanya dibunuh dan kakaknya, Ming Yue, dijual ke rumah bordil. Hidup dalam pelarian, Ming Zhu akhirnya bekerja sebagai asisten pribadi seorang bangsawan misterius bernama Liang Wei, pria dingin dengan penglihatan yang lemah dan rahasia yang tak diketahui siapa pun. Hubungan keduanya semakin menegang saat Liang Wei menyelamatkannya dari rumah bordil dan menjadikannya budak seumur hidupnya. Di tengah intrik istana, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan, dua orang yang sama-sama hidup dalam bayangan akhirnya menyadari bahwa takdir mereka saling terikat. Ketika identitas mereka akhirnya terbongkar ke dunia, Ming Zhu dan Liang Wei tidak lagi memiliki tempat untuk bersembunyi.
Namun alih-alih jatuh, mereka memilih untuk bangkit. Bersama-sama mereka memulai permainan berbahaya melawan para pengkhianat yang telah menghancurkan masa lalu mereka. Akankah mereka berhasil merebut kembali tahta yang seharusnya milik mereka?
Leer
Chapter: PeperanganFajar mulai menyingsing di balik Pegunungan Baiyun. Dari atas tebing, rombongan Liang Wei masih mengamati dua pasukan yang saling berhadapan di lembah. Untuk sementara, tidak ada yang bergerak. Ketegangan di bawah justru memberi waktu bagi mereka untuk beristirahat sejenak. Hei Yan, Su Mu, Mo Lin, dan Ye Shuang berpencar memeriksa jalur yang akan mereka lalui berikutnya. Tuan Tianyi memanfaatkan waktu itu untuk memeriksa kembali luka lama Ming Zhu. "Syukurlah lukanya sudah menyatu dengan baik," gumamnya. "Tetapi jangan memaksakan diri bertarung terlalu lama,” lanjutnya dengan sedikit sewot. Ming Zhu mengangguk. "Aku mengerti, Tuan. Terimakasih,” balas Ming Zhu. Setelah Tuan Tianyi pergi, Ming Zhu berjalan perlahan menuju sebuah batu besar di tepi tebing. Dari sana, reruntuhan bekas wilayah Dinasti Ming tampak samar di kejauhan. Liang Wei menghampirinya tanpa berkata apa-apa. Beberapa saat, mereka hanya berdiri berdampingan menikmati embusan angin pagi. "Apa yang k
Última actualización: 2026-07-31
Chapter: Perjalanan ke gunung baiyunMalam itu juga tanpa membuang waktu, rombongan Liang Wei segera meninggalkan desa di bawah pimpinan Jenderal Luo. Mereka tidak membawa banyak perbekalan. Kecepatan jauh lebih penting daripada kenyamanan. Langit dipenuhi awan gelap. Hanya cahaya bulan yang sesekali menembus celah pepohonan, menerangi jalan setapak menuju Pegunungan Baiyun. Jenderal Luo berlari di barisan paling depan. "Jika perkiraanku benar, pasukan Wang Ji'an mengambil Jalur Naga Batu,” ucapnya. "Apakah itu jalan tercepat?" tanya Liang Wei. "Bukan, Yang Mulia,” jawab Jenderal Luo. "Kalau begitu kenapa mereka memilihnya?" tanya Liang Wei. "Karena jalur itu cukup lebar untuk dilalui ratusan prajurit,” jelas Jenderal Luo. "Tetapi ada jalan lain yang lebih sempit. Hanya orang-orang Dinasti Ming yang mengetahuinya,” lanjutnya. Ming Zhu langsung memahami maksudnya. "Jalur itu akan memotong perjalanan mereka,” ucap Ming Zhu cepat. Jenderal Luo mengangguk. "Benar, Yang Mulia,” ucap Jenderal Luo. Liang Wei seger
Última actualización: 2026-07-20
Chapter: Kembalinya Jenderal LuoKaisar dan Kasim tua itu saling melirik. “Yang Mulia, ini—“ Perkataan kasim itu terputus. “Permainan mereka telah dimulai,” sela Kaisar sembari menghela nafasnya. Sementara itu, jauh di selatan, di bekas wilayah Dinasti Ming. Desa kecil di kaki Pegunungan Baiyun masih diselimuti ketegangan setelah kemunculan pasukan berpanji gagak hitam. Namun anehnya, mereka tidak langsung menyerang. Jenderal bertopeng yang memimpin pasukan itu hanya menghentikan kudanya sekitar seratus langkah dari gerbang desa. Tatapannya lurus mengarah kepada Ming Zhu. "Putri Ming,” ucapnya. Suara beratnya bergema. "Ikutlah denganku,” lanjutnya. Hei Yan langsung tertawa sinis. "Kalau mau mengundang orang, setidaknya turun dulu dari kudanya!” seru Hei Yan. Su Mu mengangguk. "Dan bawa hadiah!” sambung Su Mu. "Diamlah!” celetuk Mo Lin Mo Lin menepuk kepala keduanya pelan. Di tengah candaan mereka, Liang Wei melangkah satu langkah ke depan Ming Zhu. Pedangnya masih berada dalam sarung.
Última actualización: 2026-07-20
Chapter: Teratai hitamKaisar memandang peta besar Kekaisaran Xuanyin yang tergantung di dinding. Tatapannya kemudian bergeser ke arah selatan. Ke arah bekas wilayah Dinasti Ming. Tempat Liang Wei dan rombongannya sedang menuju. "Semoga kau lebih cepat menemukan kebenaran sebelum perang ini benar-benar pecah,” gumamnya. Di luar istana, genderang malam kembali dipukul. Menandakan bahwa Xuanyin telah memasuki keadaan siaga penuh. “Yang Mulia,” ucap Permaisuri. Kaisar menoleh dan mendapati Istrinya tengah berjalan kearahnya. “Ada apa? Ini sudah larut,” ucap Kaisar. Permaisuri menghela nafas. “Yang Mulia tahu bahwa ini sudah malam. Tapi kenapa masih belum beristirahat?” ucap Permaisuri. “Zhao’er kau seharusnya paham kenapa aku tidak bisa beristirahat,” ucap Kaisar. Permaisuri mendekat. Ia kemudian menggenggam tangan Kaisar. “Walau situasi sedang kacau seperti ini, Yang Mulia tidak boleh mengabaikan kesehatan sendiri,” ujar Permaisuri. Kaisar menghela nafasnya. “Aku khawatir dengan Liang W
Última actualización: 2026-07-15
Chapter: Desa BaiyunKabut tipis menyelimuti hutan ketika rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Tidak seorang pun mengendurkan kewaspadaan. Jejak roda kereta dan lambang Teratai Biru yang ditemukan Ming Zhu menjadi bukti bahwa mereka tidak jauh dari seseorang yang mengetahui rahasia Dinasti Ming. Mo Lin berjalan paling depan sebagai penunjuk jalan. Di belakangnya, Ye Shuang dan Hei Yan bergantian mengamati pepohonan di kanan dan kiri. Su Mu, seperti biasa, mencoba mencairkan suasana. "Kalau kita terus berjalan begini, aku yakin yang pertama menemukan makam bukan kita!” ujarnya. Hei Yan meliriknya. "Lalu siapa?" tanya Hei Yan. "Perutku,” jawab Su Mu cepat. Ming Yue tertawa kecil. "Sejak berangkat, yang kau pikirkan hanya makan,” ejek Ming Yue. "Aku hanya menjaga semangat tim saja, bukan begitu Yang Mulia?” ujar Su Mu. "Alasan,” balas Liang Wei singkat. Di tengah candaan mereka, Liang Wei memperhatikan Ming Zhu yang sejak tadi lebih banyak diam. Ia memperlambat langkah hingga berja
Última actualización: 2026-07-08
Chapter: Penyelidikan DimulaiLonceng perang masih menggema di luar istana. Namun di dalam Aula Naga Emas, perhatian semua orang kini tertuju pada satu keputusan. Kaisar Liang Sheng memandang Liang Wei. "Menurutmu?" tanya Kaisar. Liang Wei melangkah maju. Tatapannya tetap tenang, meski pikirannya telah menyusun berbagai kemungkinan. "Jika semua petunjuk mengarah ke Makam Teratai Putih, maka kita harus mendahului mereka, Ayah,” jawab Liang Wei. "Kalau tidak, Wang Ji'an atau orang-orang Pangeran Rui akan lebih dulu menemukan apa yang ditinggalkan Kaisar Ming,” ucapnya cepat. Ming Zhu mengangguk pelan. "Hamba akan pergi, Yang Mulia,” ujar Ming Zhu. Belum sempat ada yang menanggapi, Liang Wei langsung berkata, "Aku ikut!” ucapnya. Nada suaranya tegas. Mendengar itu, Pangeran Rui terkekeh pelan. "Menarik. Pangeran Xuanyin hendak mempertaruhkan nyawanya demi putri dari kerajaan yang dulu dianggap musuh,” celetuknya. Liang Wei menatapnya tanpa gentar. "Musuhku bukan Dinasti Ming,” balasnya.
Última actualización: 2026-07-08
Chapter: Medan PerangCath Company Glen berdiri di ruang rapat Cath Company dengan jas gelap dan ekspresi dingin. Ruangan penuh—manajer, kepala divisi, bahkan perwakilan klien utama hadir. Semua mata tertuju padanya. “Ashley sedang dalam kondisi medis yang tidak bisa diganggu,” kata Glen lugas. “Tapi Cath Company tidak akan dibiarkan jatuh.” Ia menatap layar presentasi. “Proyek Kerjasama dengan Zaxe company tidak gagal. Strateginya perlu disesuaikan, dan itu sedang dilakukan.” Nada suaranya tidak ramah, tapi meyakinkan. “Untuk sementara,” lanjutnya, “aku yang akan menjadi pengambil keputusan strategis. Semua revisi kampanye lewat aku.” Beberapa orang saling pandang—terkejut, tapi juga lega. Glen bukan Ashley. Tapi ia adalah pemimpin Vierca. Dan nama itu cukup untuk membuat klien berpikir dua kali. Disisi lain, Ashley sedang tertidur diranjang rumah sakit. Dan George, Pria itu menemani Ashley tepat disamping ranjangnya sembari sibuk mengutak atik laptop yang berada dipangkuannya. Saat Ashley
Última actualización: 2025-12-31
Chapter: Istirahat Total“Aku tahu. Kita harus mencari cara agar dia tidak memaksa untuk terus bekerja. Sangat berbahaya bagi bayi yang dikandung,” ujar George. Saat sedang berdiskusi, Dokter tiba. “Tuan Glen, saya ingin bicara dengan anda,” Dokter kandungan masuk kedalam kamar Ashley dengan map ditangannya. Wajahnya profesional namun serius. Glen mengikuti langkahnya dibelakang. Ia menutup pintu, memastikan ruangan tenang. Monitor berdetak stabil, tapi justru itu yang membuat kata-katanya terdengar lebih berat. “Kontraksi yang Anda alami bukan kejadian biasa,” lanjutnya. “Ini respons tubuh terhadap stres emosional yang cukup ekstrem.” Ashley menelan ludah. “Apakah… berbahaya?” “Jika terulang, iya.” Dokter itu menatap Ashley lurus. “Risiko kelahiran prematur meningkat. Dan pada kondisi tertentu, bisa mengancam ibu dan janin.” Glen mengepal tangan. “Apa yang harus kami lakukan?” “Pertama,” jawab dokter tegas, “rawat inap sampai kondisi stabil. Kedua, hilangkan sumber stres.” Kalimat itu me
Última actualización: 2025-12-26
Chapter: Kontraksi Palsu“Ada apa?” tanya Alfredo curiga begitu melihat ekspresi Louis yang tak biasa. Louis menggeleng dengan wajah gugup. Dibenaknya hanya terpikir kata-kata George dan Ashley yang barusan ia dengar. Tangannya gemetar tak beraturan. “Bagaimana jika itu bayiku.” kata kata George terus terputar dikepalanya. Ia sudah lama menjadi asisten George. Ia tahu sisi liar bosnya, tahu perubahan sikap George sejak Ashley muncul kembali. Tapi yang barusan ia dengar—itu bukan sekadar obsesi. Ini sangat bahaya. Jika rumor ini keluar, bukan hanya George yang hancur. Ashley. Glen. Cath Company. Bahkan Slytzean. Semua bisa ikut tenggelam. Sementara itu, di lantai atas, Ashley masuk kembali ke ruang kerjanya. Ia menutup pintu, bersandar di sana beberapa detik, lalu perlahan mengusap perutnya. “Tenang,” bisiknya. Entah pada dirinya sendiri, atau pada bayi itu. Percakapan barusan membuat dadanya sesak. Bukan karena George semata—melainkan karena ketakutan yang selama ini ia tekan mulai menemukan be
Última actualización: 2025-12-26
Chapter: Rapat Di Cath CompanyPagi di mansion berjalan rapi seperti biasa. Glen sudah berpakaian formal, jasnya sempurna, ekspresinya tenang. Ashley turun menyusul dengan langkah pelan, satu tangannya menahan perut yang mulai terasa berat. “Aku antar kamu ke kantor,” ujar Glen.. Ashley tersenyum kecil. “Kamu tidak terlambat?” “Aku masih bisa mengatur waktu,” jawabnya ringan. Perjalanan menuju Cath Company berlangsung hening namun nyaman. Glen sesekali melirik Ashley, memastikan ia duduk dengan baik. Tidak banyak bicara, tapi kehadirannya terasa menenangkan. Sesampainya di depan gedung Cath Company, Glen turun lebih dulu, membukakan pintu. “Jangan memaksakan diri,” katanya singkat namun tegas. “Kalau lelah, hentikan rapat.” Ashley mengangguk. “Aku tahu.” Glen menunggu sampai Ashley benar-benar masuk ke gedung sebelum kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanannya menuju Vierca Group. Tak lama setelah itu, sekretaris Ashley mengetuk pintu ruang kerjanya. “Nyonya Ashley, Tuan George dari Slytzea
Última actualización: 2025-12-24
Chapter: Moment bahagia Ashley dan GlenSore itu paviliun belakang mansion terasa tenang. Angin berembus pelan, membawa aroma teh hangat yang baru diseduh. Ashley duduk dengan posisi rapi namun santai, satu tangannya memegang cangkir, tangan lain sesekali menyentuh perutnya. Glen duduk di hadapannya. Sebagai anak bungsu keluarga Moonstone, sikapnya selalu terlihat lebih ringan dibanding saudara-saudaranya—namun tetap penuh perhitungan. “Kamu sudah dengar soal Rensca?” tanya Ashley membuka pembicaraan. Glen mengangguk pelan. “Sudah. Keputusan itu langsung dari Tuan Besar.” Ashley menarik napas. “Jujur saja, aku merasa caranya terlalu keras. Dia sedang hamil, tapi justru dipindahkan dan dijauhkan dari William.” Glen menyandarkan punggungnya dengan tenang. “Di keluarga Moonstone, stabilitas selalu lebih penting daripada perasaan. Ayah hanya melakukan apa yang menurutnya perlu.” Nada suaranya datar, tidak membela, namun juga tidak menentang. Ashley menatap permukaan teh di cangkirnya. “Aku takut kondisi Rensca mal
Última actualización: 2025-12-24
Chapter: Nasib RenscaDengan segala pertimbangan, Akhirnya Rensca dilarukan kerumah sakit terdekat. Koridor rumah sakit kembali sunyi setelah dokter masuk ke ruang observasi. Rensca masih terbaring lemah di balik pintu tertutup itu—bertarung sendirian mempertahankan janin yang hampir saja hilang. Di luar, keluarga Moonstone berdiri tanpa empati. Tuan Besar Moonstone duduk di kursi tunggu paling ujung. Tongkat kayunya bertumpu di lantai, genggamannya mantap, wajahnya tak menunjukkan sedikit pun kegelisahan. Usia tak pernah melemahkan wibawanya—justru memperkerasnya. “Dokter bilang janin masih hidup,” lapor salah satu anggota keluarga dengan suara hati-hati. “Masih,” ulang Tuan Besar pelan. Satu kata itu terdengar seperti vonis. William berdiri tak jauh, rahangnya mengeras. “Ayah, kondisi Rensca tidak stabil. Dia hampir—” “Dia kehilangan kendali,” potong Tuan Besar dingin. “Dan itu tidak bisa ditoleransi dalam keluarga Moonstone.” Tak ada nada khawatir. Hanya penilaian. Seorang paman Mo
Última actualización: 2025-12-24

Tawanan Hasrat Raja Lingga
Setiap kali Zhiya terlelap, tubuhnya jatuh ke dunia lain—ke dalam pelukan Lingga, sang raja yang seolah menunggu di ujung antara mimpi dan kematian.
Dalam mimpi itu, sentuhannya terasa nyata. Panas. Memabukkan. Seolah maut pun tak mampu memisahkan mereka.
Namun cinta di antara dua dunia bukanlah anugerah, melainkan kutukan.
Untuk memecahkannya, mereka harus menyatu—dan memilih satu dunia untuk bertahan.
Ketika fajar menuntut keputusan, Zhiya tahu… pada akhirnya ia harus kembali ke dunianya.
“Apa yang kau inginkan dariku…?” suara Zhiya nyaris tidak terdengar.
Lingga menatap wajahnya dari jarak yang begitu dekat hingga Zhiya dapat merasakan panas napasnya menyentuh kulit.
“Aku ingin memastikan kau tetap nyata di sini,” bisiknya.
“Aku ingin memastikan kau tidak lenyap lagi, Yu Zhiya.”
Tangannya menyentuh garis rahang Zhiya, lalu menelusur perlahan ke bawah—hangat, lembut, namun mengandung kekuatan yang mampu mengikat jiwa.
Dan ketika Zhiya membuka matanya kembali, ia sudah tidak berada di istana itu lagi.
Hanya napasnya yang masih bergetar, hanya detak jantungnya yang masih mengingat bentuk pelukan itu.
Saat ia kembali ke dunianya, dalam pameran itu— nama Lingga. Raja yang hilang dari peradaban ribuan tahun lalu.
[MATURE 21+]
Leer
Chapter: Era kejayaan QingzhouDi Paviliun Anggrek Giok, Zhiya masih duduk diam ketika pintu tiba-tiba terbuka. Lingga masuk. Biasanya para penjaga akan mengumumkan kedatangan kaisar, tetapi kali ini ia datang terlalu cepat. Zhiya menatapnya sedikit terkejut. “Lingga—” Namun sebelum ia sempat berkata lebih jauh, Lingga sudah berdiri di depannya. Tatapannya jatuh pada wajah Zhiya… lalu perlahan pada perutnya. “Apakah itu benar?” Suaranya lebih pelan dari biasanya. Zhiya tersenyum lembut. “Tabib Qin sudah memastikannya.” Untuk pertama kalinya sejak kabar itu keluar, Lingga benar-benar terlihat kehilangan kata-kata. Tangannya perlahan menyentuh tangan Zhiya. Hati-hati. Seolah ia takut menyentuh sesuatu yang terlalu berharga. “Zhiya…” Ia jarang memanggil namanya dengan suara selembut itu. Zhiya memandangnya dengan hangat. “Kau akan menjadi ayah.” Lingga menatapnya lama. Kemudian sesuatu yang sangat jarang terlihat di wajah Kaisar Qingzhou muncul— Senyum kecil. Ia menarik Zhiya ke dalam pel
Última actualización: 2026-03-06
Chapter: Kehamilan PertamaPerjamuan dimulai. Pelayan istana membawa hidangan satu demi satu: bebek panggang madu, ikan sungai giok kukus, sup ginseng kekaisaran, dan anggur bunga plum yang harum. Para penari istana memasuki aula, pakaian sutra mereka berputar seperti kelopak bunga di udara. Musik menjadi lebih hidup. Namun perhatian terbesar tetap tertuju pada meja utama. Seorang pejabat tua akhirnya bangkit dari kursinya. Itu adalah Menteri Agung Han, penasihat senior kerajaan sekaligus mertua dari kakaknya, Yu Lian. Ia mengangkat cawan anggurnya dan membungkuk hormat. “Hari ini Qingzhou mendapatkan seorang permaisuri yang berbudi luhur dan berjasa besar bagi negeri. Kami, para pejabat kerajaan, mengucapkan selamat kepada Yang Mulia Raja dan Ratu.” Seluruh aula mengikuti. Cawan-cawan terangkat. “Untuk Ratu Qingzhou!” Zhiya mengangkat cawannya dengan tenang. Tatapannya menyapu aula sebelum ia berkata lembut namun jelas, “Aku hanyalah seorang wanita yang kebetulan diberi kesempatan melindungi
Última actualización: 2026-03-06
Chapter: Penobatan ZhiyaLangit Qingzhou pagi itu tampak lebih jernih dari biasanya, seolah seluruh alam ikut menyaksikan perubahan besar yang akan tercatat dalam sejarah istana. Genderang upacara ditabuh bertalu-talu dari Gerbang Naga Emas hingga ke Aula Kemuliaan Agung. Para pejabat tinggi berdiri berjajar dalam balutan jubah resmi mereka, kepala tertunduk khidmat, sementara para pelayan istana bergerak cepat namun nyaris tanpa suara. Hari itu, nama Zhiya akan diukir selamanya dalam silsilah kekaisaran Qingzhou. Di Paviliun Anggrek Giok, Zhiya duduk tenang di depan cermin perunggu. Gaun permaisuri berwarna merah kekaisaran membalut tubuhnya—sutra halus bersulam burung phoenix emas yang tampak hidup ketika tersentuh cahaya pagi. Mahkota phoenix bertatah mutiara dan giok hijau terpasang anggun di kepalanya. Namun di balik kemegahan itu, mata Zhiya tetap jernih… dan berat. Yu Lian berdiri di belakangnya, membantu merapikan lipatan lengan. “Yang Mulia,” bisik Yu Lian pelan, suaranya bergetar haru, “hari
Última actualización: 2026-03-06
Chapter: Pengakuan ZhiyaSore merambat pelan di Paviliun Teratai Putih. Cahaya keemasan menembus tirai tipis, jatuh lembut di lantai marmer. Kolam teratai di luar jendela tenang—terlalu tenang, seolah ikut menahan napas. Pintu paviliun tertutup. Hanya ada dua orang di dalam. Zhiya berdiri beberapa langkah dari ambang pintu. Tubuhnya kaku. Jantungnya berdetak terlalu keras. Di seberang ruangan— Yu Lian berdiri membelakanginya. Anggun. Tenang. Namun bahunya sedikit gemetar. Seolah ia juga menahan sesuatu yang sudah terlalu lama dipendam. “Kak….” Suara Zhiya pecah lebih pelan dari yang ia kira. Yu Lian membeku. Perlahan… ia berbalik. Mata mereka bertemu. Waktu seakan berhenti. Tidak ada istana. Tidak ada Qingzhou. Tidak ada kutukan. Hanya dua saudari yang akhirnya saling menemukan lagi. Mata Yu Lian langsung memerah. “Zhiya…” Langkahnya goyah. Satu langkah. Dua langkah. Lalu—ia memeluk Zhiya erat. Zhiya sempat kaku. Sepersekian detik. Lalu lengannya balas memeluk. Kuat. Sangat kuat. Seolah
Última actualización: 2026-03-04
Chapter: Mengobati Lingga“Kalau suatu hari aku kembali ke Aetheria…” lirih Zhiya “Apakah kau akan mencariku?” lanjutnya. “Aku akan menyeberangi dunia.” ucap Lingga. “Seribu kali.” Zhiya tersenyum, “Aku berharap… kita tidak perlu dan jangan sampai berpisah.” Kereta berguncang lembut. Di luar, suara burung pagi terdengar. Lingga mulai terlelap. Kepalanya miring. Tanpa sadar, bersandar di bahu Zhiya. Zhiya kaku sesaat. Lalu membiarkannya. Ia menyelimuti Lingga dengan mantel. Menatap wajahnya lama. “Raja yang keras kepala…” bisiknya. “…tapi paling baik.” Beberapa jam kemudian—menara istana terlihat. Berkilau di bawah matahari pagi. Zhiya menarik napas panjang, “Sudah sampai…” Lingga membuka mata dan Menatapnya, “Terima kasih… sudah pulang bersamaku.” Zhiya menggenggam tangannya dan mengangguk. “Zhong Li, bantu Yang Mulia kembali ke kamar,” ujar Zhiya dari dalam kereta. “Baik Nona,” ucap Zhong Li. Setelah Zhong Li memapah Lingga, Zhiya berbalik badan dan berbicara dengan Han Yu. “Beri
Última actualización: 2026-02-15
Chapter: Peperangan Melawan Wu ShenTiba-tiba— tepuk tangan pelan terdengar. “Kalian cepat juga.” Dari balik tirai batu, seorang pria muncul. Berusia sekitar empat puluh. Berjubah kelabu. Mata dingin. Lingga mengenalnya. “Wu Shen…” Mantan penasehat Dewan Lama. Yang seharusnya sudah mati. Wu Shen tersenyum tipis. “Raja muda… dan gadis dua dunia.” “Pasangan yang menarik.” Zhiya melangkah maju. “Semua ini ulahmu.” Wu Shen mengangguk santai. “Tentu.” “Qingzhou terlalu bersih sekarang.” “Perlu sedikit… kekacauan.” Lingga mengangkat pedang. “Kau akan menjawab di hadapan hukum.” Wu Shen tertawa. “Hukum siapa?” Ia menjentikkan jari. Dari lorong-lorong— puluhan bandit muncul. Mengurung mereka. Pedang terhunus. Busur diarahkan. Zhiya berbisik “Kita terjebak.” Lingga menggenggam tangannya “Belum.” Matanya menyala “Selama kita bersama.” Api biru di tengah Kuil Angin Retak berdenyut semakin cepat. Seolah merasakan darah yang akan tumpah. Angin malam menerobos celah dinding, membawa suara log
Última actualización: 2026-02-14