MasukKini semuanya menjadi masuk akal. Mengapa Wang Ji'an bersusah payah mencari Ming Zhu. Mengapa Pangeran Rui tidak pernah menyerah memburunya. Mereka membutuhkan darah pewaris Dinasti Ming. Ming Zhu menarik napas panjang. Kemudian tanpa ragu, ia mengeluarkan belati kecil. Namun sebelum bilah itu menyentuh telapak tangannya, Liang Wei menahan pergelangan tangannya. "Tunggu,” ucapnya pelan. Ming Zhu menatapnya. "Bagaimana jika ini jebakan?" ucap Liang Wei. Jenderal Luo segera menjawab, "Jika tidak dibuka sekarang, kita akan kehilangan kesempatan, Pangeran,” ujar Jenderal Lup. Liang Wei tetap tidak melepaskan tangannya. Tatapannya mengarah ke dinding batu. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Lalu, Mo Lin yang sedang mengamati sekitar tiba-tiba berseru pelan. "Yang Mulia,” ucapnya pelan. Semua menoleh. Mo Lin menunjuk ke arah tanah di dekat gerbang batu. Ada bercak darah yang masih segar. Tidak jauh darinya tergeletak sebuah pedang patah. Hei Yan memung
Fajar mulai menyingsing di balik Pegunungan Baiyun. Dari atas tebing, rombongan Liang Wei masih mengamati dua pasukan yang saling berhadapan di lembah. Untuk sementara, tidak ada yang bergerak. Ketegangan di bawah justru memberi waktu bagi mereka untuk beristirahat sejenak. Hei Yan, Su Mu, Mo Lin, dan Ye Shuang berpencar memeriksa jalur yang akan mereka lalui berikutnya. Tuan Tianyi memanfaatkan waktu itu untuk memeriksa kembali luka lama Ming Zhu. "Syukurlah lukanya sudah menyatu dengan baik," gumamnya. "Tetapi jangan memaksakan diri bertarung terlalu lama,” lanjutnya dengan sedikit sewot. Ming Zhu mengangguk. "Aku mengerti, Tuan. Terimakasih,” balas Ming Zhu. Setelah Tuan Tianyi pergi, Ming Zhu berjalan perlahan menuju sebuah batu besar di tepi tebing. Dari sana, reruntuhan bekas wilayah Dinasti Ming tampak samar di kejauhan. Liang Wei menghampirinya tanpa berkata apa-apa. Beberapa saat, mereka hanya berdiri berdampingan menikmati embusan angin pagi. "Apa yang k
Malam itu juga tanpa membuang waktu, rombongan Liang Wei segera meninggalkan desa di bawah pimpinan Jenderal Luo. Mereka tidak membawa banyak perbekalan. Kecepatan jauh lebih penting daripada kenyamanan. Langit dipenuhi awan gelap. Hanya cahaya bulan yang sesekali menembus celah pepohonan, menerangi jalan setapak menuju Pegunungan Baiyun. Jenderal Luo berlari di barisan paling depan. "Jika perkiraanku benar, pasukan Wang Ji'an mengambil Jalur Naga Batu,” ucapnya. "Apakah itu jalan tercepat?" tanya Liang Wei. "Bukan, Yang Mulia,” jawab Jenderal Luo. "Kalau begitu kenapa mereka memilihnya?" tanya Liang Wei. "Karena jalur itu cukup lebar untuk dilalui ratusan prajurit,” jelas Jenderal Luo. "Tetapi ada jalan lain yang lebih sempit. Hanya orang-orang Dinasti Ming yang mengetahuinya,” lanjutnya. Ming Zhu langsung memahami maksudnya. "Jalur itu akan memotong perjalanan mereka,” ucap Ming Zhu cepat. Jenderal Luo mengangguk. "Benar, Yang Mulia,” ucap Jenderal Luo. Liang Wei seger
Kaisar dan Kasim tua itu saling melirik. “Yang Mulia, ini—“ Perkataan kasim itu terputus. “Permainan mereka telah dimulai,” sela Kaisar sembari menghela nafasnya. Sementara itu, jauh di selatan, di bekas wilayah Dinasti Ming. Desa kecil di kaki Pegunungan Baiyun masih diselimuti ketegangan setelah kemunculan pasukan berpanji gagak hitam. Namun anehnya, mereka tidak langsung menyerang. Jenderal bertopeng yang memimpin pasukan itu hanya menghentikan kudanya sekitar seratus langkah dari gerbang desa. Tatapannya lurus mengarah kepada Ming Zhu. "Putri Ming,” ucapnya. Suara beratnya bergema. "Ikutlah denganku,” lanjutnya. Hei Yan langsung tertawa sinis. "Kalau mau mengundang orang, setidaknya turun dulu dari kudanya!” seru Hei Yan. Su Mu mengangguk. "Dan bawa hadiah!” sambung Su Mu. "Diamlah!” celetuk Mo Lin Mo Lin menepuk kepala keduanya pelan. Di tengah candaan mereka, Liang Wei melangkah satu langkah ke depan Ming Zhu. Pedangnya masih berada dalam sarung.
Kaisar memandang peta besar Kekaisaran Xuanyin yang tergantung di dinding. Tatapannya kemudian bergeser ke arah selatan. Ke arah bekas wilayah Dinasti Ming. Tempat Liang Wei dan rombongannya sedang menuju. "Semoga kau lebih cepat menemukan kebenaran sebelum perang ini benar-benar pecah,” gumamnya. Di luar istana, genderang malam kembali dipukul. Menandakan bahwa Xuanyin telah memasuki keadaan siaga penuh. “Yang Mulia,” ucap Permaisuri. Kaisar menoleh dan mendapati Istrinya tengah berjalan kearahnya. “Ada apa? Ini sudah larut,” ucap Kaisar. Permaisuri menghela nafas. “Yang Mulia tahu bahwa ini sudah malam. Tapi kenapa masih belum beristirahat?” ucap Permaisuri. “Zhao’er kau seharusnya paham kenapa aku tidak bisa beristirahat,” ucap Kaisar. Permaisuri mendekat. Ia kemudian menggenggam tangan Kaisar. “Walau situasi sedang kacau seperti ini, Yang Mulia tidak boleh mengabaikan kesehatan sendiri,” ujar Permaisuri. Kaisar menghela nafasnya. “Aku khawatir dengan Liang W
Kabut tipis menyelimuti hutan ketika rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Tidak seorang pun mengendurkan kewaspadaan. Jejak roda kereta dan lambang Teratai Biru yang ditemukan Ming Zhu menjadi bukti bahwa mereka tidak jauh dari seseorang yang mengetahui rahasia Dinasti Ming. Mo Lin berjalan paling depan sebagai penunjuk jalan. Di belakangnya, Ye Shuang dan Hei Yan bergantian mengamati pepohonan di kanan dan kiri. Su Mu, seperti biasa, mencoba mencairkan suasana. "Kalau kita terus berjalan begini, aku yakin yang pertama menemukan makam bukan kita!” ujarnya. Hei Yan meliriknya. "Lalu siapa?" tanya Hei Yan. "Perutku,” jawab Su Mu cepat. Ming Yue tertawa kecil. "Sejak berangkat, yang kau pikirkan hanya makan,” ejek Ming Yue. "Aku hanya menjaga semangat tim saja, bukan begitu Yang Mulia?” ujar Su Mu. "Alasan,” balas Liang Wei singkat. Di tengah candaan mereka, Liang Wei memperhatikan Ming Zhu yang sejak tadi lebih banyak diam. Ia memperlambat langkah hingga berja
Keesokan paginya, langit istana tampak mendung. Kabut tipis menyelimuti koridor-koridor batu, membuat suasana terasa lebih dingin dari biasanya. Di Paviliun Giok, semua orang sudah berkumpul sejak pagi. Setelah keributan Tuan Tianyi semalam, suasana akhirnya kembali serius. Karena kondisi Putra M
Malam di Paviliun Giok berubah mencekam. Seluruh area ditutup rapat oleh penjaga bayangan Liang Wei. Tidak ada pelayan yang diizinkan bergerak bebas, bahkan suara langkah kaki di koridor pun nyaris tidak terdengar. Di dalam kamar utama, Ming Zhu akhirnya selesai membersihkan luka kecil di leherny
Suasana di ruang samping Paviliun Giok perlahan kembali serius setelah candaan Hei Yan mereda. Meski sudut bibir Su Mu masih tampak menahan tawa, semua orang akhirnya memusatkan perhatian pada Ye Shuang. Pria itu menarik napas pendek sebelum menyerahkan gulungan kecil ke atas meja. “Kasim Liu d
“Di dalam sup ini, ada satu bahan lain yang sangat samar,” celetuk Ming Yue. Tatapan semua orang langsung tertuju padanya. Dan saat Ming Yue mengangkat wajahnya, ada kegelisahan nyata di matanya. “Bahan itu, hanya digunakan oleh keluarga kekaisaran,” katanya pelan. Ming Yue terlihat ragu bebe







