
DIINGINKAN TIGA PRIA POSESIF
“Asal kamu jadi milikku, pakai aku untuk balas dendammu, Dilara. Sampai Rifat menyesal,” ucap Adnan Aydan dengan mengungkungku di dinding.
“Itu nggak akan terjadi!”
Kenan berjalan mendekat, menyingkirkan tangan Adnan lalu menatapku.
“Aku lebih dekat dengan Rifat, Dila. Kalau kamu mau balas dendam, pakai aku aja.”
Aku belum sempat mengatakan apa pun ketika suara ketiga terdengar.
“Jadi ini yang terjadi setelah aku pergi?”
Rifat datang. Pria yang pernah meninggalkanku di hari pernikahan. Tatapannya beralih dari Adnan, ke Kenan, lalu berhenti padaku.
Tangannya terulur lembut ke arahku.
“Pulang bersamaku, Sayang. Kita mulai dari awal. Lupakan salahku dan maafkan aku.”
Aku menatap tiga pria di hadapanku.
Pria yang menghancurkan hidupku. Pria yang ingin kugunakan untuk balas dendam. Dan pria yang menolak membiarkanku terluka lagi.
Lucunya, semuanya mengira ini tentang cinta. Padahal semuanya dimulai karena balas dendam. Sekarang mereka semua menginginkanku.
Pada akhirnya siapa yang akan kupilih?
Read
Chapter: Kasih Sayang Palsu“Kamu nggak perlu kaget atau panik kalau tiba-tiba ada black campaign yang keluar nyerang produk kita di pasaran."Seketika itu juga, Adnan menatapku dengan wajah penuh tanya."Apa maksudmu?"Aku menyandarkan punggung ke sofa, menatapnya sungguh-sungguh."Serangan itu datangnya dari Mandala Kapital. Rifat mau bikin Solvio cacat di mata publik, supaya produk dari perusahaannya tetap mendominasi pasar."“Rifat bukan orang bodoh yang ceroboh membiarkan strategi internalnya bocor ke luar."Aku menyunggingkan senyum tipis, memutar gelas anggur di depanku."Rifat memang nggak bodoh, Adnan. Dia pakai salah satu orang kepercayaannya di Mandala Kapital untuk nyusun strategi kotor itu."Aku menjeda kalimatku, mengingat laptop belasan juta milik Kenan yang kini sudah jadi rongsokan. Ada sedikit rasa bersalah yang melintas, namun segera kutepis jauh-jauh. Demi menghancurkan Rifat, semua bidak harus rela dikorbankan."Tapi sayangnya, orang kepercayaannya itu punya sedikit hati nurani. Dia kayak ngg
Last Updated: 2026-05-29
Chapter: Menciummu Sekarang JugaMendengar nama itu disebut dari mulutku, tubuh Adnan menegang. Sorot matanya yang semula dipenuhi kejengkelan kini berubah menjadi kewaspadaan."Rifat?" Adnan mengulang nama sepupunya sendiri.Aku mengangkat kepalaku dari pundaknya. Lalu menyunggingkan senyum miris karena luka masa lalu."Aku ada di Monexia bukan karena kebetulan, Adnan. Aku memilih menjeratmu bukan karena aku mendambakan posisi biar bisa disisimu. Tapi aku datang untuk menghabisi Mandala Kapital.”Kemudian aku menoleh dan menatapnya dengan sorot sungguh-sungguh.“Aku mau lihat Rifat jatuh, hancur, kalau perlu sampai dia miskin. Nggak punya apa-apa lagi di dunia ini."“Dila? Kamu serius?”"Aku mau sepupumu yang brengsek itu tahu kalau aku bisa dapatin apa pun yang kumau, termasuk lelaki yang kesuksesannya ada di atas dia. Yaitu … kamu."Aku menatap kedua mata Adnan tanpa keraguan.Tiba-tiba, aku tertawa namun terdengar sinis dan dingin. Lalu melepaskan cekalan tanganku di lengannya. Kemudian bersandar di sofa dengan ga
Last Updated: 2026-05-27
Chapter: Calon Suamiku GalakSambil menyambar jas kerjanya di atas meja dengan gerakan kasar, Adnan menatapku tajam."Tapi kita bawa mobil masing-masing. Aku akan ikuti mobilmu dari belakang. Aku nggak mau repot-repot harus nganter kamu pulang setelah makan malam sialan ini selesai."Aku tertawa meremehkan untuk memprovokasi harga dirinya. Lalu melangkah maju, hingga ujung sepatu hak tinggiku nyaris menyentuh sepatunya."Bawa mobil masing-masing? Oh, ayolah, Pak Adnan. Mana ada sepasang kekasih pergi kencan tapi konvoi di jalanan kayak lagi pawai?" sindirku dengan nada manja."Saya mau kita satu mobil. Saya mau duduk manis di sebelah Anda. Layaknya sepasang kekasih yang sesungguhnya."Adnan kemudian mundur agar menjauh dariku."Jangan keterlaluan, Dilara! Aku udah turuti maumu, jangan mendikte gimana cara --- ""Apa harus saya ingatkan lagi tentang alamat rumah orang tua Anda, Pak?" potongku dengan unsur ancaman yang langsung membuat Adnan diam seribu bahasa.Tangannya mengepal kesal dengan mata menatapku geram. A
Last Updated: 2026-05-24
Chapter: Hubungan Intim KitaHatiku bergemuruh mendengar sindiran Adnan yang jelas-jelas keterlaluan dan sengaja dilakukan untuk meruntuhkan harga diriku.Namun, aku menolak untuk terpancing emosi dan terlihat lemah.Perlahan aku menarik nafas dalam-dalam lalu menunjukkan senyum tenang sambil menatap matanya."Benar kata Anda, Pak Adnan. Memang ada masalah di tempat tidur, seperti tuduhan Anda," jawabku santai.Membuat mereka yang hadir di ruang rapat saling lirik."Semalam saya tidur larut karena harus memeriksa ulang seluruh kesiapan sistem Solvio agar tidak ada error sekecil apa pun. Ditambah lagi kemacetan pagi ini sama sekali tidak bersahabat. Tapi saya jamin, keterlambatan setengah jam ini tidak akan mengurangi kualitas hasil kerja keras saya."Mendengar jawabanku yang berkelas dan berani, Adnan menghentikan ketukan pulpennya. Wajahnya sedikit kesal tapi dia segera menguasai diri agar tetap terlihat berwibawa."Bagus kalau begitu. Duduk di tempatmu, Dilara. Kita tidak punya banyak waktu untuk membahas urusan
Last Updated: 2026-05-23
Chapter: Kendala Di Tempat TidurBegitu melangkah keluar dari ruangan Adnan, aku menuju basemen dengan langkah santai sambil menikmati kemenangan kecil hari ini.Adnan mungkin mengira dia bisa mengendalikan bidak caturnya, tapi dia tidak sadar bahwa papan caturnya sendiri sudah berada di bawah kuasaku.“Jangan harap bisa mengaturku, Adnan. Karena aku datang, untuk menggunakanmu melawan Rifat. Jadi … bersiaplah.” Gumamku pada diri sendiri.Tepat saat aku memarkirkan mobil di basemen apartemen, ponselku bergetar.Sebuah notifikasi pesan masuk dari …“Kenan.”Aku membukanya dan seketika seulas senyum santai dan lepas terbit di bibirku.Kenan mengirimkan sebuah foto. Di atas meja makannya yang sederhana, sudah tertata rapi dua piring nasi goreng dengan kepulan asap tipis, lengkap dengan lauk cumi pedas manis k yang menggoda selera.Di tengah meja, sebuah lilin kecil dinyalakan sebagai pemanis.[Dari Kenan : Sudah siap, Tuan Putri. Cepat datang sebelum cumi pedas manisnya nggak manis lagi.]Kebetulan perutku keroncongan ka
Last Updated: 2026-05-22
Chapter: I Love YouTepat saat jam pulang kerja, layar ponselku menyala, menampilkan nama yang membuat senyum dingin terbit di bibirku.Adnan.Aku menggeser tombol hijau, menempelkan benda pipih itu ke telinga."Ke ruanganku sekarang. Jangan sampai ada yang lihat," perintahnya singkat.Dan langsung memutuskan sambungan sebelum aku sempat mengiyakan. Suaranya yang kaku memicu alarm kewaspadaan di kepalaku.Aku merapikan sisa berkas di meja lalu melangkah menuju lantai atas. Langkahku tenang, namun otakku bekerja dua kali lebih cepat.Di depan pintu eksekutif itu, aku memasang kembali topeng pegawai yang patuh. Aku mengetuk pintu dua kali lalu melangkah masuk.Adnan perlahan memutar kursi kebesarannya, lalu berdiri. Ia berjalan dan bersandar di tepi meja kerja. Kedua tangannya bersedekap di dada, matanya menatapku dengan sorot dingin."Udah dapat mangsa baru, Dila?" tanya Adnan tiba-tiba.Suaranya terdengar meremehkan sekaligus merendahkanku."Maksud Bapak apa?"Adnan mendengus sinis, senyum tipis yang mere
Last Updated: 2026-05-20
Chapter: Alasan Untuk KembaliTiga tahun telah berlalu sejak Elira pergi. Respati, kini menjadi CEO Kanagara Group yang baru, memimpin perusahaan properti dan jaringan hotel mewah Ayahnya.Ia telah memindahkan seluruh kantornya kembali ke Jakarta, fokus mengelola aset besar yang tersebar di berbagai kota.Respati tidak pernah mendekati perempuan lain.Ia bekerja tanpa henti, membiarkan liontin cincin Elira tersembunyi di balik dasinya, menjadi satu-satunya ikatan yang tersisa dari pernikahan mereka.Ia telah mengutus Dion untuk secara diam-diam mencari tahu tentang perkembangan karir Elira, ingin memastikan bahwa Elira baik-baik saja dan aman, tetapi ia tidak pernah mencoba menghubunginya.Hatinya dipenuhi harapan yang mustahil bahwa suatu hari nanti, takdir akan membawa Elira kembali kepadanya.Pada awal tahun keempat, salah satu hotel termewah milik Kanagara Group di Jakarta Pusat terpilih menjadi venue utama untuk acara tahunan Grand Wedding Showcase—peragaan busana pengantin paling bergengsi.Respati secara pri
Last Updated: 2025-12-09
Chapter: Cinta Yang Terlambat“Halo, Res. Kamu jadi pulang cepat?” tanya Ibunya.Berusaha keras tidak terdengar panik.“Aku lagi ngejar deadline, Bu. Kenapa? Apa Elira di rumah?”“Dia di rumah. Lagi sibuk sama benang-benangnya. Oh ya, Ibu pengen sesuatu, Res.”“Pengen apa, Bu?” Respati mendesah, jelas merasa terganggu tetapi tidak bisa menolak permintaan Ibunya.“Ibu pengen Martabak Pak Kumis yang di Jalan Bima itu, lho. Yang paling terkenal di Jogja, yang antreannya panjangnya setengah kilometer.”Respati terdiam.Ia tahu betul lokasi yang dimaksud Ibunya. Itu adalah salah satu martabak paling legendaris dan lokasinya cukup jauh dari rumah mereka, membutuhkan waktu minimal 45 menit perjalanan pergi dan pulang di jam sibuk ini.“Bu, itu jauh banget! Yang lain aja lah,” protes Respati.“Ibu maunya yang itu. Kalau kamu sayang Ibu, tolong belikan.” Ibunya menggunakan senjata pamungkas.Rasa bersalah.Respati menghela napas kasar. Tetapi permintaan Ibunya, meskipun aneh, tidak bisa ditolaknya. Lagipula, ia yakin Elira
Last Updated: 2025-12-09
Chapter: Penjara DinginPagi menjelang, cahaya samar-samar mulai menyelinap masuk melalui celah gorden kamar Respati.Keheningan yang dingin tidak lagi ada.Respati memeluk Elira erat. Ia merasa lega dan cemas pada saat yang bersamaan. Ia telah melakukan tindakan yang sangat egois, tetapi ia merasa utuh kembali, seolah ia telah menemukan harta yang ia buang sendiri.Elira terbangun lebih dulu. Ia merasakan lengan Respati melingkari pinggangnya dengan kuat, seolah takut Elira akan menghilang jika pelukannya mengendur sedikit saja. Tubuh mereka bertautan, sisa-sisa keintiman malam itu masih terasa.Elira mencoba bergerak, berniat melepaskan diri dan kembali ke kamarnya.Seketika, pelukan Respati mengerat.“Jangan bergerak,” bisik Respati, suaranya dalam dan serak khas bangun tidur.“Aku harus kembali ke kamarku,” jawab Elira pelan, nadanya datar dan tanpa emosi.Ia tidak mau mengakui keintiman ini.“Nggak,” Respati menekan kata itu. Ia membuka matanya, menatap Elira dengan tatapan posesif yang dingin. “Kamu ngg
Last Updated: 2025-12-06
Chapter: Kamu Milikku!!!Pukul dua dini hari. Keheningan total menyelimuti rumah itu.Respati terbangun dengan rasa haus yang luar biasa. Ia menyalakan lampu kecil di kamarnya. Pikirannya masih dipenuhi kata-kata Ibunya dan tatapan tenang Elira di Malioboro. Ia memutuskan untuk mandi agar pikirannya jernih.Respati keluar dari kamarnya, hanya mengenakan celana pendek. Langkah kakinya pelan menuju kamar mandi.Tepat pada saat yang sama, pintu kamar Elira terbuka pelan. Elira keluar. Ia juga haus. Di bawah cahaya remang-remang, terlihat jelas mata Elira sedikit sembab, bekas sisa tangis yang ia tahan setelah kembali dari Malioboro.Ia bergerak perlahan menuju dapur, tidak menyadari Respati ada di lorong.Kemudian mereka berpapasan tepat di depan kamar Respati.Elira tersentak kaget. Ia melihat Respati yang berdiri di sana, bertelanjang dada.Elira dengan cepat mengendalikan diri, wajahnya kembali datar, dan ia berusaha untuk melewatinya begitu saja, tidak peduli dengan kehadiran suaminya.“Permisi,” gumam Elira
Last Updated: 2025-12-05
Chapter: Suami Tidak Tahu DiriElira mempertahankan senyum tenangnya, senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya, namun cukup untuk membuat Respati dan Risa merasa canggung.Ia mengabaikan tatapan panik Respati dan menoleh ke arah Risa.“Halo, Risa. Ternyata kita bertemu lagi, ya,” sapa Elira ramah, seolah mereka hanyalah dua orang kenalan biasa. “Senang melihat kalian berdua menikmati festival ini. Kalian tampak … sangat cocok sebagai rekan kerja.”Risa terlihat sangat tidak nyaman.“Eh, iya. Kami hanya … hanya research kostum untuk event mendatang, kok.”Respati, yang masih tergagap dan bingung harus berkata apa setelah berbohong kepada Ibunya, hanya bisa diam menatap Elira. Tatapan Elira begitu tenang, begitu tidak menuduh, sehingga justru membuat Respati semakin merasa bersalah.Elira kembali menatap Respati.“Festivalnya pasti akan berlanjut sampai malam. Silakan kalian berdua lanjutkan melihat peragaan busana atau bunga-bunga ini. Tadi Ibuku bilang dia kelelahan. Aku harus segera mengantarnya pulang.”Elir
Last Updated: 2025-12-05
Chapter: Kalian Terlihat Akrab“El, kamu menang,” seru mertuanya nyaris berteriak. “Kamu juara pertama! Juara Pertama Kontes Desain Pakaian Daerah!”Elira membeku sejenak. Kemudian, rasa gembira yang luar biasa meluap. Ia bangkit dan memeluk mertuanya erat-erat, air mata kebahagiaan akhirnya tumpah setelah sekian lama ia hanya menangis dalam diam.“Aku menang, Bu! Aku berhasil!” Elira tertawa dan menangis bersamaan. Ia merasa diakui, bukan sebagai istri pelarian, tetapi sebagai seorang desainer berbakat.“Ibu tahu kamu berbakat, El!”Kemenangan ini adalah penawar untuk semua rasa sakit dan pengabaian yang ia rasakan. Elira merasa bahwa kini ia benar-benar siap untuk menghadapi perpisahan dengan Respati, karena ia punya masa depan yang bisa ia genggam dengan tangannya sendiri.Namun, di tengah luapan kebahagiaan itu, ia teringat satu hal.Respati.“Bu, Respati nggak boleh tahu aku melanggar aturannya,” kata Elira, kembali pada kewaspadaan.Mertuanya mengangguk cepat.“Jangan khawatir, El. Kita akan atur semuanya. Sek
Last Updated: 2025-12-05
Chapter: Ramuan KonspirasiTiba-tiba suara ketukan pintu terdengar. Membuat Pangeran Wikrama menghentikan langkahnya. Namun aku dan Rawati yang bersembunyi tetap waspada dengan jantung berdegub kencang.“Pangeran Grawira! Mohon segera ke balairung! Persiapan rapat pengukuhan sebagai Putra Mahkota harus segera dibicarakan!”Senyum kemenangan Pangeran Wirakrama tercetak jelas. Dan dia seketika lupa dengan tujuan awalnya mencari suara tidak jelas di kamarnya ini.Langkah Pangeran Wikrama terdengar menjauh menuju pintu.“Beri aku waktu sebentar,” ucapnya sembari mengambil jubah kebesarannya yang disulam dengan benang emas.Setelah Pangeran Wikrama melangkah keluar, aku melepaskan Rawati yang secara tidak sengaja kudekap cukup erat.Kami langsung menjauh dan tanpa sadar membentur langit-langit meja. Beruntung Pangeran Wikrama sudah pergi.“Maaf, Rawati,” ucapku.Dia hanya mengangguk dengan membetulkan pakaiannya yang tidak kenapa-napa dengan wajah sedikit memerah karena malu.Keheningan sejenak itu menyelimuti ruang
Last Updated: 2025-08-17
Chapter: Semoga Saja BerhasilBerbekal mengenakan pakaian prajurit curian, aku bisa memasuki istana dengan leluasa. Namun jika memiliki kesempatan, aku selalu bergerak cepat. Kulihat Rawati mulai memasuki istana dan dia mengangguk sangat pelan dengan menatapku. Dalam hati aku berdoa agar Rawati bisa memasuki kamar Pangeran Wikrama dengan alasan akan membersihkannya. "Kamu kenapa, Wira?" tanya seorang prajurit yang sedang berjaga denganku. Aku berpura-pura memegangi perut sambil memasang wajah kesakitan. "Sepertinya aku tidak enak perut. Aku mau ke belakang sebentar. Tolong kamu yang berjaga sebentar ya?""Cepatlah! Sebelum panglima menghukummu!"Dengan setengah berlari aku menuju belakang namun di balik bangunan aku segera berbelok ke arah istana Pangeran Wikrama. Lalu dengan amat hati-hati, aku menyelinap masuk. "Biar aku saja yang membersihkan kamar Pangeran Wikrama. Kamu beristirahatlah." Itu suara Rawati. Dia sedang berbicara dengan seorang dayang yang biasanya membersihkan kamar Pangeran Wikrama. "Apa
Last Updated: 2025-08-02
Chapter: Kepercayaan Tidak Penuh"Bagus!" gumamku lalu tersenyum puas ketika anak panah telah menancap sempurna di pohon pisang bidikanku. Lalu tangan kananku menarik tali kuda dan membuatnya berhenti perlahan. Begitu kepalaku menoleh ke arah dimana Rawati berdiri dan memperhatikan, dia hanya memandangku dengan tatapan banyak kebimbangan. Aku turun dari kuda lalu mengikatkan talinya ke salah satu pohon lalu mendekati Rawati. "Aku tidak memaksamu untuk percaya. Tapi tolong bantu aku. Tolong cari tahu kapan penobatan Pangeran Wikrama akan dilangsungkan." "Bagaimana kalau kamu ternyata seorang pengkhianat?" "Waktuku hanya empat puluh hari lagi. Jika dihitung dari sekarang, tersisa tiga puluh hari saja, Wati. Aku tidak memiliki banyak waktu untuk berbohong. Lihat saat hari keempat puluh nanti. Raga yang kudiami ini akan kembali menjadi sosok Grawira yang sebenarnya. Aku meminta tolong padamu, Rawati." Kemudian aku berbalik menuju kuda untuk mencari strategi baru bagaimana cara menguak rahasia mati suri yang kualam
Last Updated: 2023-08-12
Chapter: Berkuda Sekaligus Memanah"Ampun, Baginda Raja! Saya hanya mengingatkan. Dari pada nanti akan terjadi kudeta seperti Wangsa Samara hingga membuat sang raja dihabisi oleh rakyatnya." Aku memberanikan diri sedikit mendongak untuk melihat raut wajah Baginda Raja, ayahku. Terlihat dia begitu kesal dengan bibir mengerucut dan alis menukik tajam. Lalu Pangeran Wikrama membisikkan sesuatu di telinga Baginda Raja kemudian beliau mengangguk kecil. Ekspresinya sedikit mengendur ketika mendapat bisikan kecil dari Pangeran Wikrama. Entah apa yang adikku itu katakan hingga Baginda Raja menurut. Beliau mengambil nafas sebanyak mungkin lalu menghembuskannya kasar dihadapan para patih yang duduk dihadapannya. "Baiklah, kita tunda seperti rencana awal." Aku ikut melega mendengar keputusan Baginda Raja karena setidaknya aku bisa menyusun rencana selanjutnya. Setidaknya aku harus tahu secara pasti kapan tanggal penobatan Pangeran Wikrama. Begitu acara usai, aku segera menuruni tangga lebih dulu lalu bergerak cepat mening
Last Updated: 2023-08-10
Chapter: Titisan Dewa Yang Tidak Bisa Menjadi PanutanSetelah mendapat informasi kapan Pangeran Wikrama akan dilantik menjadi putra mahkota, aku tidak kembali ke istana tempat ragaku terbaring lemah. Juga tidak tega jika harus kembali ke sana tapi melihat Putri Mahkota Kayuwangi bersedih hati, namun aku juga sangat ingin tahu bagaimana kabar ketiga putraku. Calon penerusku. Bertepatan dengan langkah yang terasa berat ini, aku melihat rombongan para menteri menuju istana yang ditempati Baginda Raja. Aku hafal wajah dan nama mereka satu demi satu karena setiap kali Baginda Raja melakukan perkumpulan di setiap pagi hari, aku duduk di sebelah Baginda Raja menatap para menteri yang bergelar patih itu. Dengan sigap, aku urung melangkah kembali ke istanaku, melainkan bersembunyi di dekat bangunan yang ada di dekat dapur istana. "Apa yang akan mereka lakukan malam-malam begini ke kediaman Baginda Raja? Apa yang akan mereka bicarakan? Apa ada pembicaraan penting yang sifatnya mendadak?" gumamku sendiri. Kemudian aku makin melangkah mundur
Last Updated: 2023-08-03
Chapter: Saatnya Bergerak!"Pergi kamu dari istanaku, Pangeran Wikrama! Jangan pernah meletakkan kakimu lagi di istana ini!" Pekikan Putri Mahkota Kayuwangi terdengar menggema di pelataran istana yang biasa kutinggali dengannya saat raga ini masih sehat. Ia tengah berhadap-hadapan dengan Pangeran Wikrama yang berdiri tinggi menjulang dengan tubuh gagah dan tangan mengepal. Pakaian indah khas anggota kerajaan yang melekat di tubuh dan mahkota kecil dengan bermatakan intan serta berlapiskan emas yang tersunggi di atas kepalanya, nampak memantulkan sinar rembulan di malam ini. Menjadikannya sosok yang terlihat agung untuk dipuja. Di belakang Pangeran Wikrama ada lima prajurit berpakaian kurang lebih sama denganku, tengah berdiri dengan membawa gulungan kain dan tikar. Untuk apa? "Kamu hanya menantu di Istana Mahayana, Putri Mahkota! Jadi, tidak perlu bersikap jagoan akan melawanku yang jelas-jelas adalah keturunan dari kerajaan ini!" ucapnya tegas. "Walau aku menantu, tapi ini adalah istanaku dengan Putra
Last Updated: 2023-08-02