Masuk“Asal kamu jadi milikku, pakai aku untuk balas dendammu, Dilara. Sampai Rifat menyesal,” ucap Adnan Aydan dengan mengungkungku di dinding. “Itu nggak akan terjadi!” Kenan berjalan mendekat, menyingkirkan tangan Adnan lalu menatapku. “Aku lebih dekat dengan Rifat, Dila. Kalau kamu mau balas dendam, pakai aku aja.” Aku belum sempat mengatakan apa pun ketika suara ketiga terdengar. “Jadi ini yang terjadi setelah aku pergi?” Rifat datang. Pria yang pernah meninggalkanku di hari pernikahan. Tatapannya beralih dari Adnan, ke Kenan, lalu berhenti padaku. Tangannya terulur lembut ke arahku. “Pulang bersamaku, Sayang. Kita mulai dari awal. Lupakan salahku dan maafkan aku.” Aku menatap tiga pria di hadapanku. Pria yang menghancurkan hidupku. Pria yang ingin kugunakan untuk balas dendam. Dan pria yang menolak membiarkanku terluka lagi. Lucunya, semuanya mengira ini tentang cinta. Padahal semuanya dimulai karena balas dendam. Sekarang mereka semua menginginkanku. Pada akhirnya siapa yang akan kupilih?
Lihat lebih banyak“Mbak, apa mempelai prianya ... masih di perjalanan?”
Aku mengerutkan kening sedikit.
“Rifat belum datang?”
“Belum.”
Aku menghela nafas karena kebiasaan Rifat akhir-akhir ini yang sering terlambat. Terlalu sibuk dengan jabatan barunya.
Namun hari ini adalah hari pernikahan kami. Seharusnya dia mengutamakannya.
“Tunggu bentar ya? Dia pasti segera sampai.”
Aku kembali seorang diri di dalam kamar lalu mataku menatap jam dinding.
10.05 pagi.
Upacara pernikahan seharusnya dimulai pukul sepuluh tepat. Aku pikir lima menit keterlambatan bukan masalah besar.
Aku mengambil ponsel dan mengirim pesan ke nomer Rifat, tapi hanya tercentang satu. Kembali aku mengirimkan pesan dan hasilnya sama. Lalu aku menekan tombol panggil tapi tidak terhubung.
Firasatku mulai tidak enak hingga sepuluh menit berlalu, lima belas menit, lalu dua puluh menit.
Suara bisikan tamu jga mulai membuatku resah. Awalnya pelan tapi makin jelas.
“Pengantin prianya belum datang?”
“Kok lama banget ya?”
“Apa terjadi sesuatu?”
Pintu kamarku terbuka. Mama masuk dengan wajah cemas dan tegang.
“Ma, tunggu bentar ya? Rifat pasti masih perjalanan. Mungkin ponselnya kehabisan daya jadi nggak bisa dihubungi.”
Mama tidak menjawab. Tapi ekspresinya membuatku makin takut dengan kemungkinan terburuk lalu menggenggam tanganku.
“Ada apa?”
Mama diam sejenak, seolah menimbang jawaban.
“Dila, Rifat … mungkin nggak bakalan datang.”
Aku menatap Mama dengan pandangan terkejut dan tidak percaya. Bahkan tubuhku seperti tersengat listrik berkekuatan tinggi.
“Nggak datang? Apa maksudnya?”
“Nggak ada satu pun keluarganya yang angkat telfon Mama. Mereka kayak hilang. Dan ini ... udah telat lebih dari setengah jam.”
Pandanganku mendadak buram, bahkan aku seperti tidak bisa bernafas dengan benar.
“Nggak mungkin. Dia pasti dalam perjalanan, Ma.”
Aku membuka ponsel dan memperlihatkan riwayat percakapanku dengan Rifat. Hubungan kami selama ini berjalan lancar dan tidak ada yang mencurigakan.
Kemudian kakak laki-lakiku, Erhan, masuk dengan wajah sangat kecewa.
“Dila.”
Nada suaranya cukup untuk membuat duniaku berhenti.
“Apa, Kak?”
“Aku baru dapat kabar.”
Aku harap itu adalah kabar dari Rifat bahwa dia masih terjebak macet atau ada hal lain yang membuatnya terlambat.
“Apa, Kak? Apa dia kena macet?”
“Rifat … dia nggak bakal datang.”
Kalimat itu kembali terulang jelas, dua kali, oleh dua anggota keluarga yang sangat menyayangiku. Tidak mungkin mereka berbohong atau menjadikan ini candaan. Tapi otakku menolak memahami kata-kata itu karena aku menantikan hari ini.
Lalu Kak Erhan menyerahkan ponselnya.
“Bacalah.”
Hanya satu pesan. Dari Rifat tapi melalui nomer sepupunya.
Aku pikir dia menjelaskan semuanya. Tapi pesan yang dikirim sangat pendek dan menghancurkan seluruh hidupku.
[Maaf. Aku nggak bisa menikahi Dila.]
Hanya itu. Tidak ada penjelasan, alasan, atau apapun. Semua persiapan pernikahan yang ada di depan mata menguap seperti embun.
“Ini ... ini lelucon, kan?”
Tidak ada yang menjawab lalu aku menoleh ke arah Mama dan kembali pada Kak Erhan. Lalu ke cermin yang memperlihatkan pantulan seorang pengantin wanita dengan gaun putih, riasan sempurna, dan mahkota di rambutnya tapi tanpa pengantin pria.
Lalu mataku mulai panas.
“Rifat nggak mungkin ngelakuin ini.”
Tapi pada kenyataannya, Rifat tidak bisa dihubungi. Dan bisikan tamu yang sudah menunggu terdengar jelas. Beberapa orang mulai bosan dan memainkan ponsel mereka.
Lalu seseorang berseru.
“Astaga, Tuhan!”
“Ada apa?!”
"Ini kan calon suaminya Dilara?! Kok bisa nikah sama perempuan lain?!"
Lalu Kak Erhan mengambil ponselnya dari tanganku dan mengeceknya sendiri. Beritanya baru saja muncul di portal hiburan online dengan judul ‘Putra Pengusaha Fintech, Rifat Aydan, Menikahi Mantan Kekasihnya Pagi Ini.’
Tanggalnya hari ini. Jamnya, satu jam yang lalu.
Di foto itu Rifat memakai jas pengantin putih dan tersenyum. Di sampingnya berdiri seorang wanita dengan gaun putih, memeluk lengannya.
Impian dan harga diriku benar-benar hancur. Kakiku pun tidak kuat menopang tubuh ini dan terjatuh ke lantai. Mama dan Kak Erhan memelukku.
Akhirnya, air mataku jatuh. Satu tetes lalu satu lagi dan satu lagi. Di luar, suara tamu mulai kacau, bisikan berubah menjadi gossip lalu menjadi skandal.
Aku hanya bisa meratapi nasib, memakai gaun pengantin dengan mahkota di rambut, dan tidak pernah jadi menikah.
Aku menutup mata lalu berbisik pelan.
“Rifat … ”
Ketika aku membuka mata kembali, tatapanku sudah berbeda. Tidak ada lagi harapan di sana. Hanya satu hal yang tersisa.
Harapan.
“Suatu hari nanti … kamu bakal nyesel ninggalin aku kayak gni.”
****
Enam bulan berlalu. Rasa sakit itu hanya berkurang sedikit. Kenangan saat memakai gaun pengantin putih tanpa mempelai pria, kerap menghantui mimpiku.
Kota kelahiranku berubah menjadi tempat yang tidak nyaman. Terlalu banyak orang yang mengenalku di sini. Bila berpapasan, ada yang menatap iba dan berbisik pelan.
Putri dari keluarga pebisnis Aditya Pasha ditinggalkan di hari pernikahan dan aku tidak ingin menjadi subjek cerita sedih yang terus diperbincangkan.
Lalu aku memutuskan untuk berhenti bekerja dan meninggalkan kota tempat keluargaku berada sekaligus tempat keluargaku dikenal.
Aku masih ingat saat ponselku tidak berhenti berdering setelah kejadian itu. Mulai dari teman lama, kerabat jauh, bahkan jurnalis, ingin tahu.
Apa yang kurasakan ketika pria yang kucintai menikahi wanita lain di hari pernikahan kami. Sebenarnya tanpa bertanya pun, mereka seharusnya sudah tahu bagaimana hancurnya hidupku.
Demi menjaga kewarasan, aku memutuskan ... pergi.
Pindah ke kota lain, membuka lembaran baru, berharap tidak ada yang mengenalku, atau peduli pada masa laluku.
Dan akhirnya, hari ini sebuah perusahaan besar menerima lamaranku, bukan sebagai pegawai biasa, tetapi sebagai seseorang yang dipercaya untuk memimpin sebuah tim kecil dalam proyek yang cukup penting.
Aku menatap bayanganku di kaca lift. Memakai setelan kerja hitam dengan rambut ditata rapi dan wajah penuh tekad. Ini bukan tentang masa lalu melainkan awal yang baru.
Sebelum benar-benar bekerja, aku dijadwalkan bertemu direktur perusahaan ini terlebih dahulu. Aku sudah membaca namanya beberapa kali di dokumen perekrutan.
Adnan Aydan.
Nama yang sering muncul di artikel bisnis dengan berbagai julukan seperti bos muda yang jenius dan pria paling dingin di perusahaan ini.
“Adnan Aydan,” gumamku.
Nama belakangnya ‘Aydan’ lalu perlahan sesuatu mulai terhubung di pikiran setelah mengubur memori itu sedalam mungkin. Aku membeku saat sebuah fakta muncul di kepalaku seperti petir.
‘Rifat Aydan dan Adnan Aydan.’
Aku menatap nama Adnan yang tergantung di depan pintu direktur utama.
Apakah Rifat dan Adnan bersaudara?
“Kamu nggak perlu kaget atau panik kalau tiba-tiba ada black campaign yang keluar nyerang produk kita di pasaran."Seketika itu juga, Adnan menatapku dengan wajah penuh tanya."Apa maksudmu?"Aku menyandarkan punggung ke sofa, menatapnya sungguh-sungguh."Serangan itu datangnya dari Mandala Kapital. Rifat mau bikin Solvio cacat di mata publik, supaya produk dari perusahaannya tetap mendominasi pasar."“Rifat bukan orang bodoh yang ceroboh membiarkan strategi internalnya bocor ke luar."Aku menyunggingkan senyum tipis, memutar gelas anggur di depanku."Rifat memang nggak bodoh, Adnan. Dia pakai salah satu orang kepercayaannya di Mandala Kapital untuk nyusun strategi kotor itu."Aku menjeda kalimatku, mengingat laptop belasan juta milik Kenan yang kini sudah jadi rongsokan. Ada sedikit rasa bersalah yang melintas, namun segera kutepis jauh-jauh. Demi menghancurkan Rifat, semua bidak harus rela dikorbankan."Tapi sayangnya, orang kepercayaannya itu punya sedikit hati nurani. Dia kayak ngg
Mendengar nama itu disebut dari mulutku, tubuh Adnan menegang. Sorot matanya yang semula dipenuhi kejengkelan kini berubah menjadi kewaspadaan."Rifat?" Adnan mengulang nama sepupunya sendiri.Aku mengangkat kepalaku dari pundaknya. Lalu menyunggingkan senyum miris karena luka masa lalu."Aku ada di Monexia bukan karena kebetulan, Adnan. Aku memilih menjeratmu bukan karena aku mendambakan posisi biar bisa disisimu. Tapi aku datang untuk menghabisi Mandala Kapital.”Kemudian aku menoleh dan menatapnya dengan sorot sungguh-sungguh.“Aku mau lihat Rifat jatuh, hancur, kalau perlu sampai dia miskin. Nggak punya apa-apa lagi di dunia ini."“Dila? Kamu serius?”"Aku mau sepupumu yang brengsek itu tahu kalau aku bisa dapatin apa pun yang kumau, termasuk lelaki yang kesuksesannya ada di atas dia. Yaitu … kamu."Aku menatap kedua mata Adnan tanpa keraguan.Tiba-tiba, aku tertawa namun terdengar sinis dan dingin. Lalu melepaskan cekalan tanganku di lengannya. Kemudian bersandar di sofa dengan ga
Sambil menyambar jas kerjanya di atas meja dengan gerakan kasar, Adnan menatapku tajam."Tapi kita bawa mobil masing-masing. Aku akan ikuti mobilmu dari belakang. Aku nggak mau repot-repot harus nganter kamu pulang setelah makan malam sialan ini selesai."Aku tertawa meremehkan untuk memprovokasi harga dirinya. Lalu melangkah maju, hingga ujung sepatu hak tinggiku nyaris menyentuh sepatunya."Bawa mobil masing-masing? Oh, ayolah, Pak Adnan. Mana ada sepasang kekasih pergi kencan tapi konvoi di jalanan kayak lagi pawai?" sindirku dengan nada manja."Saya mau kita satu mobil. Saya mau duduk manis di sebelah Anda. Layaknya sepasang kekasih yang sesungguhnya."Adnan kemudian mundur agar menjauh dariku."Jangan keterlaluan, Dilara! Aku udah turuti maumu, jangan mendikte gimana cara --- ""Apa harus saya ingatkan lagi tentang alamat rumah orang tua Anda, Pak?" potongku dengan unsur ancaman yang langsung membuat Adnan diam seribu bahasa.Tangannya mengepal kesal dengan mata menatapku geram. A
Hatiku bergemuruh mendengar sindiran Adnan yang jelas-jelas keterlaluan dan sengaja dilakukan untuk meruntuhkan harga diriku.Namun, aku menolak untuk terpancing emosi dan terlihat lemah.Perlahan aku menarik nafas dalam-dalam lalu menunjukkan senyum tenang sambil menatap matanya."Benar kata Anda, Pak Adnan. Memang ada masalah di tempat tidur, seperti tuduhan Anda," jawabku santai.Membuat mereka yang hadir di ruang rapat saling lirik."Semalam saya tidur larut karena harus memeriksa ulang seluruh kesiapan sistem Solvio agar tidak ada error sekecil apa pun. Ditambah lagi kemacetan pagi ini sama sekali tidak bersahabat. Tapi saya jamin, keterlambatan setengah jam ini tidak akan mengurangi kualitas hasil kerja keras saya."Mendengar jawabanku yang berkelas dan berani, Adnan menghentikan ketukan pulpennya. Wajahnya sedikit kesal tapi dia segera menguasai diri agar tetap terlihat berwibawa."Bagus kalau begitu. Duduk di tempatmu, Dilara. Kita tidak punya banyak waktu untuk membahas urusan


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.