Chapter: bab 45Waktu bergerak lebih cepat dari yang Lily sadari.Perutnya kini bulat penuh, berat, dan selalu bergerak—tiga kehidupan kecil yang tak pernah benar-benar diam. Kehamilan memasuki bulan kesembilan dengan segala campur aduknya: lelah, bahagia, dan cemas yang kadang datang diam-diam di malam hari.Axelo justru semakin gelisah.“Lily, kamu yakin enggak kontraksi?”“Lily, kamu pusing?”“Lily, tadi bayinya gerak semua, kan?”Lily hanya bisa tersenyum sambil mengelus perutnya.“Axelo… kalau kamu terus tegang begini, yang mau melahirkan kamu atau aku?”Axelo mengusap wajahnya kasar, napasnya berat.“Aku cuma takut. Kamu bawa tiga nyawa sekaligus.”Dan ketakutan itu terbukti ketika suatu malam, Lily meringis sambil memegang perutnya.“Ax… kayaknya… ini bukan cuma kram biasa.”Axelo langsung berdiri. Wajahnya pucat.“Kita ke rumah sakit. Sekarang.”Dokter memutuskan induksi.“Kondisi ibu stabil, tapi kehamilan kembar tiga terlalu lama
Terakhir Diperbarui: 2026-01-07
Chapter: bab 44Malam itu, ruang rawat Lily terasa berbeda. Lampu-lampu tampak lebih hangat, bau obat tak lagi menyengat, dan detak jantung Lily seolah berdetak seirama dengan senyum Axelo yang tak kunjung luntur.“Axelo…” panggil Lily pelan, suaranya manja, seperti ketika ia ingin dimanjakan tanpa harus meminta banyak.Axelo yang sejak tadi duduk di sisi ranjang, langsung menoleh. “Kenapa, Sayang? Kamu kenapa? Sakit? Pusing?”Lily tertawa kecil. “Kamu kenapa panik begitu? Aku cuma mau bilang… aku lapar.”Axelo terdiam sepersekian detik, lalu wajahnya berubah cerah. “Lapar? Kamu mau makan apa? Aku panggil perawat sekarang!”“Jangan perawat,” Lily menggeleng lemah. “Aku pengin… sup bening. Tapi yang kamu buat.”Axelo mengerjap. “Aku?”“Iya. Aku mau buatan ayah dari anak-anakku,” ucap Lily sambil tersenyum nakal.Axelo tertawa kecil, lalu berdiri dan mencium kening istrinya penuh cinta. “Baik, Nyonya Whites. Aku akan membuat sup terbaik di dunia.”Beberapa hari kemudian, Lily sudah diizinkan pulang. Ru
Terakhir Diperbarui: 2026-01-06
Chapter: bab 43"Keluarga Nyonya Lilyana whites." Axelo segera berlari mendekat, dengan tatapan penuh harap untuk istrinya baik-baik saja. "Saya suaminya." "Pasien tidak mengalami luka dalam, Tuan. Beberapa luka luar pasien juga sudah ditangani. Kami juga melakukan pemeriksaan menyeluruh kepada pasien dan semua organ normal tanpa gangguan," terang dokter. "Syukurlah! Itu artinya, Istriku baik-baik saja, kan, dok?" Dokter mengangguk sembari mengulas senyum. "Benar, Tuan. Dan dari hasil pemeriksaan ... kami menemukan sesuatu," ungkap sang dokter. "M-menemukan apa?" "Ada janin di rahim pasien, Tuan. Pasien tengah mengandung," ujar dokter membuat Axelo terdiam seketika. "A-apa?" "Pasien hamil, Tuan!" axelo diam seribu bahasa. Ia benar-benar tak menyangka akan mendapatkan kabar mengejutkan ini setelah dibuat geger ole
Terakhir Diperbarui: 2025-03-21
Chapter: bab 42"Apa mau mu, Russell?" Russell menyeringai, "Mau ku? Tembak kepalamu sendiri, Axelo!" Hening, Axelo masih menggeretakkan giginya saling beradu. Ia sangat tau Russell memang membencinya, sejak dulu Russell memang selalu berusaha mengambil apapun yang menjadi haknya. Bahkan, Angelica pun tak luput dari Russell. Sayangnya, Angelica memang wanita jallang yang mudah tergoda. Axelo tidak mempermasalahkan karena memang ia tak segila itu mempertahankan wanita yang dengan suka rela menyerahkan tubuhnya pada pria lain. Tapi, Lily berbeda, wanita yang satu ini berperan besar dalam mengumpulkan bukti kejahatan Camelia dan Elvan. Dia juga menjaga diri dari bujuk rayu Russell sampai mendapatkan pelecehan dari sepupunya. "Ayo! Kenapa ragu? Atau kau lebih suka melihat kepala wanitamu menyentuh aspal dengan keras?" Russell sedikit mengangkat kakinya yang berpijak pada tali yang menggantung tubuh Lily. Karena berat badan Lily, otomatis tubuh Lily yang meng
Terakhir Diperbarui: 2025-03-20
Chapter: bab 41Lily membuka matanya, ruang remang dan berbau pengap. Kepalanya terasa sangat pusing, Lily terus mencoba mengumpulkan kesadarannya. Melihat lebih jelas meski sulit untuk melihat dalam ruangan yang minim pencahayaan itu. Lily menyadari gerak tubuhnya terbatas, merasakan ikatan yang kuat di tangan dan tubuhnya. Rasa cemas dan gelisah menghinggapi nya seketika, saat ingatan akan pertemuan dengan Russel. Masih lekat dalam ingatannya, tentang pelecehan yang Russell lakukan padanya. Tubuh Lily menggigil seketika, matanya berkeliaran mencari pria yang sudah menculiknya kali ini. Lily takut, tapi, meski berteriak meminta tolong, tak akan ada yang datang karena ia yakin, Russel bukan pria bodoh yang menyekap tawanannya di tengah kota. Saat ini Lily hanya berharap, Axelo akan datang menolongnya. Segaris cahaya terlihat menyinari ruangan yang perlahan melebar sebesar pintu. Pertanda, seseorang memasuki ruang remang itu. Lily menajamkan penglihatan, sosok yang tamp
Terakhir Diperbarui: 2025-03-19
Chapter: bab 40"Apa kamu bilang? Russell kabur?" Suara kakek Douglas menggema di seluruh ruangan. Ada gelisah yang tersisip amarah. Amarah untuk para penjaga yang teledor hingga Russell sampai lolos dari pulau pengasingan, dan rasa gelisah jika sampai Axelo tau, sudah pasti dia tak akan melepaskan Russell. Mengingat Axelo seorang pendendam. "Russell, jangan sampai kau mendkati Lily lagi. Kakek tak bisa melindungi mu jika kau sampai nekat." Gumam tuan Douglas. Mau semarah apapun tuan Douglas, dan seburuk apapun Russell, tetaplah cucu. Darah daging tuan Douglas juga. Ia tak akan Setega itu jika sampai Russel membuat ulah dan Axelo sampai melewati batasnya. Tuan Douglas memijit pelipisnya, sangat mudah menangani orang lain. Tinggal buang dan hancurkan, tapi Russell keluarga nya. Tak mungkin juga ia akan berlaku sama. "Temukan Russel sebelum Axelo mendengar kabar tentang bocah yang kabur itu." Perintah kakek Douglas tegas dengan sorot mata
Terakhir Diperbarui: 2025-03-18
Chapter: bab 29Desi masih memegang tangan Pani erat saat mereka duduk di ruang tamu rumah perlindungan anak. Mata kecilnya sembab sejak tadi menangis. Namun kali ini tatapannya tidak lagi seseram tadi pagi. Ia diam-diam melirik Ranu yang sedang berdiri dekat pintu sambil berbicara dengan Bu Ratih mengenai administrasi dan pendampingan hukum. Pria itu terlihat sibuk sejak tadi. Mengurus semuanya. Tidak mengeluh. Tidak marah. Dan anehnya, Desi mulai merasa aman. Padahal sebelumnya ia selalu takut setiap melihat Ranu dekat dengan Pani. Dalam pikirannya, pria itu pasti akan merebut Pani darinya. Sama seperti Faisal yang dulu merebut semuanya dari hidup Desi. Namun hari ini berbeda. Ranu datang membawa polisi. Membela Pani. Membawanya keluar dari rumah itu. Desi menunduk pelan sambil memainkan ujung bajunya. "M
Terakhir Diperbarui: 2026-07-29
Chapter: bab 28Pagi itu Ranu sudah bangun sejak langit masih gelap. Pria itu duduk di ruang kerjanya sambil memandangi layar laptop dengan wajah serius. Kopi hitam di sampingnya bahkan sudah dingin karena tak disentuh lagi. Satu per satu panggilan telepon ia lakukan. Mulai dari kenalan di kantor polisi, pengacara kenalan keluarganya, sampai seseorang dari lembaga perlindungan perempuan dan anak. "Ada dugaan kekerasan pada anak dan penelantaran pendidikan," ujar Ranu tegas lewat sambungan telepon. "Saya butuh pendamping resmi." Di ujung sana terdengar jawaban yang membuat rahangnya sedikit mengendur. "Baik, Pak Ranu. Kami bisa bantu mendampingi." Ranu akhirnya mengembuskan napas panjang. Tatapannya jatuh pada jam dinding. Pukul lima pagi. Tanpa membuang waktu, ia langsung mandi dan bersiap menjemput Pani. **** Saat mobil Ranu berhenti d
Terakhir Diperbarui: 2026-07-27
Chapter: bab 27Malam itu rumah kecil milik Pani masih berantakan. Walau pecahan kaca sudah dibersihkan sebagian. Kursi yang miring sudah dibetulkan posisinya. Namun, bekas kekacauan masih tersisa. Ranu berdiri di tengah ruang tamu sambil memandangi keadaan sekitar dengan rahang mengeras. Tangannya mengepal kuat. Ibunya Pani masih menangis pelan di sudut sofa. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kecil dari luar pagar. "Paaapaa!" Sasa berlari masuk sambil memegang tangan Aji. Di belakang mereka, Pani berjalan pelan membawa kantong plastik berisi es krim yang mulai meleleh. Begitu melihat Ranu masih ada di sana, langkahnya terhenti. Suasana mendadak canggung. "Papa belum pulang?" "Papa nunggu kalian," balas Ranu berjongkok menyamakan tinggi. "Papa?" ulang Pani dengan alis terangkat sebelah. Ranu langsung menatapnya. "Kenapa? Kau keberatan?"
Terakhir Diperbarui: 2026-07-25
Chapter: bab 26"Kamu kemana saja sih seharian?" rengek wanita itu sambil mengusap perutnya yang membuncit. "Kok kemana aja? Aku kan kerja." "Tadi ada perempuan datang bawa anak itu. Dia panggil Mama. Kamu bohong ya sama aku? Katanya kamu sudah duda?!" Faisal terlihat kaget lalu langsung menggeleng kuat. "Kamu ngomong apa? Aku kan sudah bilang, mantan istriku sudah meninggal! Aku duda mati! Tidak ada ikatan apa-apa lagi!" "Terus siapa yang bawa Desi tadi?!" teriak istrinya makin histeris. "Dia panggil-panggil Mama! Kamu pasti masih berhubungan sama mantan kamu ya! Dasar pembohong!" Wanita itu mulai menangis, menjatuhkan diri ke sofa sambil mengeluh pusing dan lelah. "Aku hamil besar begini masih harus kerja keras bersihin rumah, mikirin hidup, eh kamu malah main belakang!" Faisal memijat pelipisnya kesal. Ia tahu siapa yang berani melakukan itu. Pasti mantan adik iparnya, Pani. Si perempuan sok suci yang selam
Terakhir Diperbarui: 2026-07-23
Chapter: bab 25Mobil berhenti tepat di depan rumah kecil bercat krem yang sudah mulai pudar dimakan usia. Lampu terasnya menyala redup. Begitu melihat mobil hitam milik Ranu masuk ke gang sempit itu, seorang wanita paruh baya langsung keluar dengan wajah panik. "Astaghfirullah, Pani!" Ibunya Pani buru-buru turun dari teras. Tatapannya langsung mencari Desi. Pani cepat membuka pintu mobil lalu menggandeng Desi turun. "Ibu..." suara Pani langsung melemah. Ibunya langsung memeluk Desi duluan. Napas perempuan tua itu terdengar lega sekali. "Ya Allah, Nak... Ibu takut sekali tadi." Desi tampak bingung. "Lho, Emang kenapa sih semua panik?" Pani langsung mengusap kepala anaknya pelan sambil menahan tangis lagi. Ranu ikut turun dari mobil. Tingginya langsung mencolok di depan rumah sederhana itu. Ibunya Pani segera menoleh dan sedikit membungkuk sopan. "Pak Ranu? Kok bisa sama pak Ranu?" Ranu meng
Terakhir Diperbarui: 2026-07-21
Chapter: bab 24"Pani?" Perempuan itu langsung menoleh cepat. Napasnya terlihat memburu di balik helm yang miring. Matanya merah. Entah karena marah atau habis menangis. Namun yang paling membuat Ranu heran adalah... Pani sama sekali tidak terkejut melihat dirinya. "Oh... Bapak." Jawabannya datar sekali. Ranu langsung mengernyit. "Kamu nabrak mobil orang terus reaksinya cuma 'oh bapak'?" Pani bahkan tidak menanggapi. Ia buru-buru membetulkan motornya yang miring lalu mencoba menyalakan mesin. "Cepetan... ayo nyala..." gumamnya panik. Motor itu menyala sebentar lalu mati lagi. "Ck!" Pani mencoba membelokkan stang. Namun... "Kok belok sih?!" serunya frustrasi. Stang motornya bengkok. Wajah Pani langsung pucat. "Ya Allah..." suaranya mulai bergetar. Ranu yang tadi kesal perlahan mengamati perempuan itu lebih serius. Biasanya Pani past
Terakhir Diperbarui: 2026-07-19