Masuk"Sekertarisku yang menggemaskan itu ternyata masih perawan. Kok bisa? Dia kan punya tiga anak. lalu, anak siapa mereka?" Ranu baru saja patah hati karena wanita yang dia cintai ternyata adalah adik iparnya. Ia pergi ke kota yang jauh, untuk menutup lukanya. Namun, dia malah bertemu dengan sekertaris cantik yang menggemaskan.
Lihat lebih banyakDesi masih memegang tangan Pani erat saat mereka duduk di ruang tamu rumah perlindungan anak. Mata kecilnya sembab sejak tadi menangis. Namun kali ini tatapannya tidak lagi seseram tadi pagi. Ia diam-diam melirik Ranu yang sedang berdiri dekat pintu sambil berbicara dengan Bu Ratih mengenai administrasi dan pendampingan hukum. Pria itu terlihat sibuk sejak tadi. Mengurus semuanya. Tidak mengeluh. Tidak marah. Dan anehnya, Desi mulai merasa aman. Padahal sebelumnya ia selalu takut setiap melihat Ranu dekat dengan Pani. Dalam pikirannya, pria itu pasti akan merebut Pani darinya. Sama seperti Faisal yang dulu merebut semuanya dari hidup Desi. Namun hari ini berbeda. Ranu datang membawa polisi. Membela Pani. Membawanya keluar dari rumah itu. Desi menunduk pelan sambil memainkan ujung bajunya. "M
Pagi itu Ranu sudah bangun sejak langit masih gelap. Pria itu duduk di ruang kerjanya sambil memandangi layar laptop dengan wajah serius. Kopi hitam di sampingnya bahkan sudah dingin karena tak disentuh lagi. Satu per satu panggilan telepon ia lakukan. Mulai dari kenalan di kantor polisi, pengacara kenalan keluarganya, sampai seseorang dari lembaga perlindungan perempuan dan anak. "Ada dugaan kekerasan pada anak dan penelantaran pendidikan," ujar Ranu tegas lewat sambungan telepon. "Saya butuh pendamping resmi." Di ujung sana terdengar jawaban yang membuat rahangnya sedikit mengendur. "Baik, Pak Ranu. Kami bisa bantu mendampingi." Ranu akhirnya mengembuskan napas panjang. Tatapannya jatuh pada jam dinding. Pukul lima pagi. Tanpa membuang waktu, ia langsung mandi dan bersiap menjemput Pani. **** Saat mobil Ranu berhenti d
Malam itu rumah kecil milik Pani masih berantakan. Walau pecahan kaca sudah dibersihkan sebagian. Kursi yang miring sudah dibetulkan posisinya. Namun, bekas kekacauan masih tersisa. Ranu berdiri di tengah ruang tamu sambil memandangi keadaan sekitar dengan rahang mengeras. Tangannya mengepal kuat. Ibunya Pani masih menangis pelan di sudut sofa. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kecil dari luar pagar. "Paaapaa!" Sasa berlari masuk sambil memegang tangan Aji. Di belakang mereka, Pani berjalan pelan membawa kantong plastik berisi es krim yang mulai meleleh. Begitu melihat Ranu masih ada di sana, langkahnya terhenti. Suasana mendadak canggung. "Papa belum pulang?" "Papa nunggu kalian," balas Ranu berjongkok menyamakan tinggi. "Papa?" ulang Pani dengan alis terangkat sebelah. Ranu langsung menatapnya. "Kenapa? Kau keberatan?"
"Kamu kemana saja sih seharian?" rengek wanita itu sambil mengusap perutnya yang membuncit. "Kok kemana aja? Aku kan kerja." "Tadi ada perempuan datang bawa anak itu. Dia panggil Mama. Kamu bohong ya sama aku? Katanya kamu sudah duda?!" Faisal terlihat kaget lalu langsung menggeleng kuat. "Kamu ngomong apa? Aku kan sudah bilang, mantan istriku sudah meninggal! Aku duda mati! Tidak ada ikatan apa-apa lagi!" "Terus siapa yang bawa Desi tadi?!" teriak istrinya makin histeris. "Dia panggil-panggil Mama! Kamu pasti masih berhubungan sama mantan kamu ya! Dasar pembohong!" Wanita itu mulai menangis, menjatuhkan diri ke sofa sambil mengeluh pusing dan lelah. "Aku hamil besar begini masih harus kerja keras bersihin rumah, mikirin hidup, eh kamu malah main belakang!" Faisal memijat pelipisnya kesal. Ia tahu siapa yang berani melakukan itu. Pasti mantan adik iparnya, Pani. Si perempuan sok suci yang selam
Pani masih menatap tangan Ranu yang terulur beberapa detik lebih lama dari seharusnya. “Bayar? Bapak kok perhitungan sekali sih?” Nada suaranya setengah protes, setengah tidak percaya. Ada sedikit kesal, tapi juga tidak benar-benar marah. Ranu menarik tangannya pelan. Wajahnya tetap datar. “Itu
“Pak... saya mohon... jangan pulangkan saya...” Suara Pani gemetar. Matanya mulai berkaca-kaca. Tangannya menggenggam ujung tas seperti mencari pegangan. Ranu tetap menatap lurus ke depan. Seolah tidak terpengaruh oleh bujukan sekertaris nya. Pani langsung menoleh cepat. “Pak, aku benar-benar bi
Ranu hampir tidak percaya. Tatapannya bergantian antara Pani dan tiga anak kecil di depannya. “Kamu…” suaranya pelan, seperti menimbang kata, “Mereka bertiga, anakmu?” Pani terlihat canggung. Tangannya refleks merangkul bahu anak laki-laki kecil yang masih memeluk kakinya. “Iya, Pak.” Ranu mena
Pagi masih begitu dingin ketika Ranu sudah berdiri di ruang tengah. Keringat tipis mulai muncul di pelipisnya. Gerakan peregangan dilakukan pelan, hati-hati, seolah setiap langkahnya dihitung dengan sadar. Kakinya sudah jauh lebih baik, tapi dia tetap tidak ingin gegabah.Pintu kamar terbuka perlah






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.