MasukRuangan kembali sunyi setelah percakapan kecil itu. Pani duduk di kursinya, mencoba fokus pada layar komputer. Namun sudut matanya sesekali melirik ke arah Ranu yang tampak serius membaca dokumen.
Beberapa menit berlalu tanpa suara. Lalu tiba-tiba Pani bersuara. “Pak.” “Hmm?” “Ini data penjualan bulan lalu.” Ia berdiri dari kursinya dan mendekati meja bos nya. Pani menggeser beberapa lembar ke arah Ranu. “Ada yang agakLampu jalan memantulkan cahaya kuning pucat di atas aspal yang sedikit basah. Mobil melambat, lalu berhenti tepat di samping sosok yang berdiri di tepi trotoar. Ranu menurunkan kaca jendela. Matanya menyipit. “Pani?” Pani yang sedang jongkok di samping motornya langsung menoleh. Rambutnya agak berantakan, wajahnya terlihat kesal. “Pak Ranu?” Ia berdiri cepat. “Ngapain Bapak di sini?” Ranu melirik motor itu. “Aku yang tanya. Kamu lagi ngapain?” Pani menunjuk motornya dengan ekspresi datar. “Piknik, Pak. Malam-malam, di pinggir jalan. Seru banget.” Ranu menghela napas pendek. “Motor mogok?” “Enggak, lagi meditasi.” Ranu menatapnya tanpa ekspresi. Pani mengangkat bahu. “Iya, mogok.” Sopir di kursi depan menahan senyum. Ranu membuka pintu mobil dan turun. Ia mendekat, melihat kondisi motor sekilas. “Sudah coba
Ruangan kembali sunyi setelah percakapan kecil itu. Pani duduk di kursinya, mencoba fokus pada layar komputer. Namun sudut matanya sesekali melirik ke arah Ranu yang tampak serius membaca dokumen. Beberapa menit berlalu tanpa suara. Lalu tiba-tiba Pani bersuara. “Pak.” “Hmm?” “Ini data penjualan bulan lalu.” Ia berdiri dari kursinya dan mendekati meja bos nya. Pani menggeser beberapa lembar ke arah Ranu. “Ada yang agak… janggal.” Ranu mengangkat alis. “Janggal bagaimana?” “Produk herbal kita, yang varian baru itu… penjualannya turun drastis. Padahal awal launching cukup bagus.” Ranu langsung mengambil kertas itu. Matanya bergerak cepat membaca angka demi angka. “Turun hampir empat puluh persen,” gumamnya. “Iya.” Ranu menyandarkan punggungnya. “Kenapa bisa?” Pani menghela napas. “Awalnya saya pikir karena t
Mobil berhenti di depan rumah kontrakan Pani saat langit sudah gelap sepenuhnya. Lampu-lampu jalan memantul di kaca mobil, menciptakan bayangan samar di wajah mereka. “Terima kasih, Pak,” ucap Pani pelan. Nada suaranya berbeda. Lebih hangat. Tidak sekaku biasanya. Anak-anak sudah setengah mengantuk. Aji bahkan tertidur bersandar di bahu Desi. Sasa menguap berkali-kali, matanya merah. Ranu hanya mengangguk singkat. “Besok,” katanya. “Iya, Pak. Dokumennya saya bawa.” Pani membuka pintu, lalu turun satu per satu bersama anak-anak. Sebelum benar-benar masuk, ia sempat menoleh. “Pak…” Ranu tidak langsung menjawab. “Terima kasih. Untuk hari ini.” Ada jeda. Ranu tidak melihat ke arahnya. Tapi rahangnya sedikit mengencang. “Hm.” Pani tersenyum kecil, lalu masuk. Mobil kembali melaju. Jalanan malam terasa lebih lengang. Lampu kota berlalu satu per satu seperti garis panjang tanpa akhir. Ranu bersandar di kursi belakang. Matanya menatap kosong ke depan. Entah kenapa… hari itu t
Pani masih menatap tangan Ranu yang terulur beberapa detik lebih lama dari seharusnya. “Bayar? Bapak kok perhitungan sekali sih?” Nada suaranya setengah protes, setengah tidak percaya. Ada sedikit kesal, tapi juga tidak benar-benar marah. Ranu menarik tangannya pelan. Wajahnya tetap datar. “Itu kesepakatanmu sendiri.” Pani mendesah panjang. Ia memijat pelipisnya. “Ya Allah… saya lagi tidak punya uang lebih, Pak.” “Bukan urusanku.” Jawaban itu cepat. Dingin. Tegas. Pani menatapnya tajam beberapa detik, lalu tiba-tiba tersenyum kecil. “Kalau saya bayar pakai doa?” Ranu tidak menjawab. Ia berbalik dan berjalan menuju kamar. “Besok jam tujuh. Jangan telat.” Pani mendecak pelan. “Iya, Pak Bos galak…” Di dalam kamar, suasana jauh lebih tenang. Lampu kuning hangat menyelimuti ruangan. Sasa dan Aji sudah tertidur lelap dengan posisi yang berantakan. Kaki Aji bahkan hampir menendang bantal Desi. Pani duduk di tepi kasur. Ia memperhatikan anak-anaknya satu per satu. Wajahnya pe
“Pak... saya mohon... jangan pulangkan saya...” Suara Pani gemetar. Matanya mulai berkaca-kaca. Tangannya menggenggam ujung tas seperti mencari pegangan. Ranu tetap menatap lurus ke depan. Seolah tidak terpengaruh oleh bujukan sekertaris nya. Pani langsung menoleh cepat. “Pak, aku benar-benar bisa mengatasi ini...” Mobil berbelok masuk ke gang kecil menuju rumah Pani. “Turun. Urus anak-anakmu.” Pani makin gelisah. “Pak saya mohon. Saya sangat butuh pekerjaan ini... Saya harus menghidupi mereka... Jika...” “Turun.” Mobil berhenti tepat di depan rumah Pani. Ranu turun tanpa banyak bicara. Pani masih mencoba mengejar langkahnya. “Pak, saya bisa cari orang, sumpah. Saya telepon lagi nanti, pasti ada yang bisa...” Ranu tetap berjalan. Tidak menjawab. Langkahnya tegas masuk ke halaman rumah. Pani makin bingung. “Pak... tolong dengar saya dulu...” Pintu rumah sudah terbuka. Suara tawa anak-anak langsung terdengar. Desi, Sasa, dan Aji sedang bermain di ruang tengah. Mereka terlihat
Ranu hampir tidak percaya. Tatapannya bergantian antara Pani dan tiga anak kecil di depannya. “Kamu…” suaranya pelan, seperti menimbang kata, “Mereka bertiga, anakmu?” Pani terlihat canggung. Tangannya refleks merangkul bahu anak laki-laki kecil yang masih memeluk kakinya. “Iya, Pak.” Ranu menatap anak yang paling besar. Tingginya sudah sedada Pani. Yang satu skitar sepinggang Pani. Anak laki-laki yang paling kecil tiba-tiba mengangkat wajah. Matanya menatap Ranu ragu-ragu. “Papa…” Pani langsung menegang. “Aji!” suaranya sedikit keras. Anak itu tersentak, lalu mundur sedikit. Wajahnya berubah takut. “Jangan sembarangan manggil!” lanjut Pani, nada suaranya lebih tegas. Ranu mengangkat alis, sedikit kaget. Aji menunduk. “Maaf…” Pani menghela napas, lalu berlutut di depan anaknya. Suaranya melembut. “Enggak semua orang itu papa kamu, Aji. Mama kan udah bilang.” Aji mengangguk pelan. Ranu memperhatikan, ada sesuatu yang terasa menusuk di dadanya, entah kenapa. Pani berdir







