Teilen

bab 28

last update Veröffentlichungsdatum: 27.07.2026 12:15:17

Pagi itu Ranu sudah bangun sejak langit masih gelap.

Pria itu duduk di ruang kerjanya sambil memandangi layar laptop dengan wajah serius. Kopi hitam di sampingnya bahkan sudah dingin karena tak disentuh lagi.

Satu per satu panggilan telepon ia lakukan.

Mulai dari kenalan di kantor polisi, pengacara kenalan keluarganya, sampai seseorang dari lembaga perlindungan perempuan dan anak.

"Ada dugaan kekerasan pada anak dan penelantaran pend
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 29

    Desi masih memegang tangan Pani erat saat mereka duduk di ruang tamu rumah perlindungan anak. Mata kecilnya sembab sejak tadi menangis. Namun kali ini tatapannya tidak lagi seseram tadi pagi. Ia diam-diam melirik Ranu yang sedang berdiri dekat pintu sambil berbicara dengan Bu Ratih mengenai administrasi dan pendampingan hukum. Pria itu terlihat sibuk sejak tadi. Mengurus semuanya. Tidak mengeluh. Tidak marah. Dan anehnya, Desi mulai merasa aman. Padahal sebelumnya ia selalu takut setiap melihat Ranu dekat dengan Pani. Dalam pikirannya, pria itu pasti akan merebut Pani darinya. Sama seperti Faisal yang dulu merebut semuanya dari hidup Desi. Namun hari ini berbeda. Ranu datang membawa polisi. Membela Pani. Membawanya keluar dari rumah itu. Desi menunduk pelan sambil memainkan ujung bajunya. "M

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 28

    Pagi itu Ranu sudah bangun sejak langit masih gelap. Pria itu duduk di ruang kerjanya sambil memandangi layar laptop dengan wajah serius. Kopi hitam di sampingnya bahkan sudah dingin karena tak disentuh lagi. Satu per satu panggilan telepon ia lakukan. Mulai dari kenalan di kantor polisi, pengacara kenalan keluarganya, sampai seseorang dari lembaga perlindungan perempuan dan anak. "Ada dugaan kekerasan pada anak dan penelantaran pendidikan," ujar Ranu tegas lewat sambungan telepon. "Saya butuh pendamping resmi." Di ujung sana terdengar jawaban yang membuat rahangnya sedikit mengendur. "Baik, Pak Ranu. Kami bisa bantu mendampingi." Ranu akhirnya mengembuskan napas panjang. Tatapannya jatuh pada jam dinding. Pukul lima pagi. Tanpa membuang waktu, ia langsung mandi dan bersiap menjemput Pani. **** Saat mobil Ranu berhenti d

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 27

    Malam itu rumah kecil milik Pani masih berantakan. Walau pecahan kaca sudah dibersihkan sebagian. Kursi yang miring sudah dibetulkan posisinya. Namun, bekas kekacauan masih tersisa. Ranu berdiri di tengah ruang tamu sambil memandangi keadaan sekitar dengan rahang mengeras. Tangannya mengepal kuat. Ibunya Pani masih menangis pelan di sudut sofa. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kecil dari luar pagar. "Paaapaa!" Sasa berlari masuk sambil memegang tangan Aji. Di belakang mereka, Pani berjalan pelan membawa kantong plastik berisi es krim yang mulai meleleh. Begitu melihat Ranu masih ada di sana, langkahnya terhenti. Suasana mendadak canggung. "Papa belum pulang?" "Papa nunggu kalian," balas Ranu berjongkok menyamakan tinggi. "Papa?" ulang Pani dengan alis terangkat sebelah. Ranu langsung menatapnya. "Kenapa? Kau keberatan?"

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 26

    "Kamu kemana saja sih seharian?" rengek wanita itu sambil mengusap perutnya yang membuncit. "Kok kemana aja? Aku kan kerja." "Tadi ada perempuan datang bawa anak itu. Dia panggil Mama. Kamu bohong ya sama aku? Katanya kamu sudah duda?!" Faisal terlihat kaget lalu langsung menggeleng kuat. "Kamu ngomong apa? Aku kan sudah bilang, mantan istriku sudah meninggal! Aku duda mati! Tidak ada ikatan apa-apa lagi!" "Terus siapa yang bawa Desi tadi?!" teriak istrinya makin histeris. "Dia panggil-panggil Mama! Kamu pasti masih berhubungan sama mantan kamu ya! Dasar pembohong!" Wanita itu mulai menangis, menjatuhkan diri ke sofa sambil mengeluh pusing dan lelah. "Aku hamil besar begini masih harus kerja keras bersihin rumah, mikirin hidup, eh kamu malah main belakang!" Faisal memijat pelipisnya kesal. Ia tahu siapa yang berani melakukan itu. Pasti mantan adik iparnya, Pani. Si perempuan sok suci yang selam

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 25

    Mobil berhenti tepat di depan rumah kecil bercat krem yang sudah mulai pudar dimakan usia. Lampu terasnya menyala redup. Begitu melihat mobil hitam milik Ranu masuk ke gang sempit itu, seorang wanita paruh baya langsung keluar dengan wajah panik. "Astaghfirullah, Pani!" Ibunya Pani buru-buru turun dari teras. Tatapannya langsung mencari Desi. Pani cepat membuka pintu mobil lalu menggandeng Desi turun. "Ibu..." suara Pani langsung melemah. Ibunya langsung memeluk Desi duluan. Napas perempuan tua itu terdengar lega sekali. "Ya Allah, Nak... Ibu takut sekali tadi." Desi tampak bingung. "Lho, Emang kenapa sih semua panik?" Pani langsung mengusap kepala anaknya pelan sambil menahan tangis lagi. Ranu ikut turun dari mobil. Tingginya langsung mencolok di depan rumah sederhana itu. Ibunya Pani segera menoleh dan sedikit membungkuk sopan. "Pak Ranu? Kok bisa sama pak Ranu?" Ranu meng

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 24

    "Pani?" Perempuan itu langsung menoleh cepat. Napasnya terlihat memburu di balik helm yang miring. Matanya merah. Entah karena marah atau habis menangis. Namun yang paling membuat Ranu heran adalah... Pani sama sekali tidak terkejut melihat dirinya. "Oh... Bapak." Jawabannya datar sekali. Ranu langsung mengernyit. "Kamu nabrak mobil orang terus reaksinya cuma 'oh bapak'?" Pani bahkan tidak menanggapi. Ia buru-buru membetulkan motornya yang miring lalu mencoba menyalakan mesin. "Cepetan... ayo nyala..." gumamnya panik. Motor itu menyala sebentar lalu mati lagi. "Ck!" Pani mencoba membelokkan stang. Namun... "Kok belok sih?!" serunya frustrasi. Stang motornya bengkok. Wajah Pani langsung pucat. "Ya Allah..." suaranya mulai bergetar. Ranu yang tadi kesal perlahan mengamati perempuan itu lebih serius. Biasanya Pani past

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 5 - serasa liburan keluarga

    Pani masih menatap tangan Ranu yang terulur beberapa detik lebih lama dari seharusnya. “Bayar? Bapak kok perhitungan sekali sih?” Nada suaranya setengah protes, setengah tidak percaya. Ada sedikit kesal, tapi juga tidak benar-benar marah. Ranu menarik tangannya pelan. Wajahnya tetap datar. “Itu

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 4 - angkut semua

    “Pak... saya mohon... jangan pulangkan saya...” Suara Pani gemetar. Matanya mulai berkaca-kaca. Tangannya menggenggam ujung tas seperti mencari pegangan. Ranu tetap menatap lurus ke depan. Seolah tidak terpengaruh oleh bujukan sekertaris nya. Pani langsung menoleh cepat. “Pak, aku benar-benar bi

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 3 - Dinas yang mendebarkan

    Ranu hampir tidak percaya. Tatapannya bergantian antara Pani dan tiga anak kecil di depannya. “Kamu…” suaranya pelan, seperti menimbang kata, “Mereka bertiga, anakmu?” Pani terlihat canggung. Tangannya refleks merangkul bahu anak laki-laki kecil yang masih memeluk kakinya. “Iya, Pak.” Ranu mena

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 1 - Sekertaris Pani

    "Papa!"Seorang anak kecil berusia 4 tahun memeluk kakinya. Sampai Ranu terlonjak kaget, tapi tak sampai bersuara. Dia menatap bocah itu. Siapa bocah ini? Kenapa tiba-tiba memanggil papa?"Aji!"Ranu menoleh, seorang wanita berpakaian rapi berlari mendekat dan menarik anak itu."Maaf, Pak.""Dia an

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status