登入CHAPTER 30
POV — SUMMERSummer pulang ke asrama lebih awal dari biasanya. Langkahnya terasa ringan, namun bukan karena kebahagiaan yang meluap. Ringan itu datang karena tidak ada lagi beban yang mendorongnya untuk bersembunyi. Tidak ada lagi tatapan tajam yang mengejarnya di koridor, tidak ada lagi suara-suara sumbang yang memanggil namanya dengan nada menghina.Ia masuk ke kamar, menutup pintu rapat-rapat, dan berdiri diam dalam keheningan yang menyambutnya. Summer meletakkCHAPTER 108Kai tidak segera menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada Summer yang kini berdiri di sisi Dylan sambil menggenggam lengan pria itu. Namun sesuatu telah berubah. Gadis yang selama bertahun-tahun selalu menundukkan kepala di hadapannya kini balas menatap tanpa lagi berusaha menghindar. Summer tidak lagi bersembunyi darinya.Pandangan Kai kemudian menyapu halaman Royal Crest Academy, mulai dari mobil-mobil hitam yang terus berdatangan, para pria berpakaian hitam yang telah membentuk beberapa lapis pengamanan, hingga kilatan cahaya di atap gedung utama yang langsung dikenalnya sebagai posisi para penembak.Senyum tipis perlahan muncul di wajahnya saat pandangannya kembali berhenti pada Dylan yang tetap berdiri di sisi Summer tanpa sedikit pun bergeser. Dylan ternyata telah mempersiapkan semuanya jauh lebih matang daripada yang ia perkirakan.Hari ini ia hanya datang dengan beberapa pengawal, sementara Dylan telah mengubah seluruh sekolah menjadi benteng.
CHAPTER 107“…Kai Akazakura.”Dylan seketika berdiri dari kursinya. Jantungnya berdetak lebih cepat dan tangannya refleks merogoh saku jas lalu mengeluarkan ponsel.Begitu layar menyala, sorot matanya berubah saat melihat sembilan panggilan tak terjawab dari Ethan beserta pesan yang baru masuk beberapa menit sebelumnya.💬 Ethan: Tuan muda. Kai Akazakura menuju Royal Crest Academy. Saya tidak bisa menyusulnya secepat itu. Jalanan menuju sekolah macet. Beberapa tim kehilangan arah setelah target memecah jalur pengawasan. Maaf.“…Jadi begitu.” Dylan mengembuskan napas kasar. Kai tidak pernah menghilang. Pria itu sengaja memecah perhatian seluruh tim Ethan agar bisa datang ke Royal Crest tanpa ada yang menyadarinya.“Dy.” Cloud yang berdiri di sampingnya ikut melihat perubahan ekspresi Dylan.“Dia tidak boleh ada di sini.”Cloud mengernyit. “Lo kenal dia?”Dylan mengangkat pandangannya ke arah Summer yang masih membeku di atas panggung. “Masalah
CHAPTER 106Senin pagi.Cahaya matahari yang masuk dari balik jendela memenuhi kamar asrama Dylan. Ia berdiri di depan meja kerja sambil membuka laci paling bawah, lalu mengangkat sebuah kotak beludru hitam.Saat tutupnya terbuka, di dalamnya terdapat sebuah kalung sederhana dengan liontin perak kecil.Tatapan Dylan melembut. Kalung itu sudah ia siapkan beberapa waktu lalu sebagai hadiah kelulusan untuk Summer. Dan hari ini, akhirnya tiba juga saat yang ia tunggu untuk memberikannya.“Bagus.” Suara Cloud membuat Dylan menoleh. Pria itu bersandar santai di dekat pintu sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana. “Dia pasti suka.”Dylan kembali memandang kalung itu beberapa saat, lalu menutup kotaknya perlahan. “Cloud.”“Hm?”“Ada yang belum gue omongin sama lo.”Cloud mengangkat sebelah alis, menyadari nada bicara Dylan kali ini jauh lebih serius daripada biasanya. “Apa?”“Gue tahu… lo pernah suka sama Summer.”Cloud terdiam mendenga
CHAPTER 105Saat bel panjang akhirnya berbunyi, ruang ujian yang semula sunyi seketika berubah riuh. Beberapa siswa langsung menyandarkan tubuh ke kursi sambil mengembuskan napas lega, sementara yang lain tertawa dan saling melempar candaan begitu para pengawas mulai mengumpulkan lembar jawaban terakhir.Summer menyerahkan kertas ujiannya, merapikan alat tulis ke dalam tas, lalu berjalan keluar bersama arus siswa yang mulai meninggalkan ruang kelas. Begitu tiba di koridor, Emma yang sejak tadi berada di sampingnya tiba-tiba mengangkat kedua tangannya ke udara.“Aku resmi bebas!”Summer tersenyum geli. “Baru selesai ujian, sudah merasa jadi orang baru?”“Jelas.” Emma merentangkan kedua lengannya sambil berjalan di samping Summer. “Lima hari berturut-turut bangun pagi, belajar, ujian, pulang, belajar lagi. Aku hampir lupa rasanya hidup.”“Kamu memang berlebihan.”“Aku serius.” Emma menepuk dadanya dramatis. “Mulai malam ini aku nggak mau lihat buku sat
CHAPTER 104Pukul sepuluh malam berlalu tanpa ada satu pun keputusan yang berubah. Daigo tetap memilih mempertahankan Seo Kang Jin, yakin Takeshi tidak akan menepati ancamannya.Namun keyakinan itu runtuh ketika puluhan kendaraan berhenti di sekitar kediaman Akazakura menjelang tengah malam. Malam itu keluarga Ryu datang membawa Seo Kang Jin keluar dan meninggalkan Daigo dengan kehilangan yang jauh lebih berharga daripada uang.Kepercayaannya.Beberapa jam kemudian, serangkaian laporan anonim mulai tiba di meja pemerintah dan aparat penegak hukum. Dokumen-dokumen itu memuat catatan transaksi ilegal, pemerasan, penyelundupan, hingga berbagai aktivitas yang selama bertahun-tahun disembunyikan keluarga Akazakura.Tidak ada satu pun laporan yang mencantumkan nama keluarga Ryu, tetapi semua orang tahu dari mana informasi itu berasal.Dalam hitungan hari, nama Daigo Akazakura menjadi sorotan di seluruh Jepang. Para mitra bisnis mulai menarik diri, orang-orang
CHAPTER 103Beberapa pengawal mengikuti dari belakang saat Kai memasuki lobi hotel. Tidak ada seorang pun yang berani membuka suara hingga mereka masuk ke lift pribadi dan pintunya tertutup rapat.Salah satu pria di belakangnya akhirnya memberanikan diri bertanya, “Tuan, apa rencana kita selanjutnya?”Kai tetap memandangi angka lantai yang terus bergerak naik. “Aku ingin menikmati waktuku sebentar.”Pria itu mengangguk pelan. “Kalau begitu… haruskah saya menjemput Nona Summer?”Suasana di dalam lift seketika berubah sunyi saat Kai mengalihkan pandangannya ke arah pria itu. Tatapannya tidak berubah sedikit pun, tetapi pria tersebut langsung memucat dan menundukkan kepala.“Apa kau ingin mati?” tanyanya tenang.Dalam hitungan detik pria itu menjatuhkan diri berlutut. “Maafkan saya, Tuan.”Tidak ada yang berani bergerak ataupun mengangkat kepala. Kai mengalihkan pandangannya ke depan lalu berkata dengan tenang, “Selama aku masih diam, tidak ada yang
CHAPTER 27“Aku sampai sini,” kata Axl ringan, seolah situasi ini hanyalah perpisahan biasa setelah hari sekolah yang membosankan. “Kamu aman dari sini?” Summer mengangguk. Gerakannya kecil dan sangat terkendali, seolah ia sedang menjaga agar jiwanya tidak retak. “Iya.” Ia ragu sesa
CHAPTER 26Eve, yang berdiri di sampingnya, menyipitkan mata dengan benci. "Pintunya terkunci dari luar. Dia seharusnya membusuk di sana sampai operasi malam dimulai."Sora, yang sejak tadi hanya diam, mengamati pemandangan itu dengan ketenangan seorang sosiopat. Ia seolah sedang mel
CHAPTER 22Tangannya menekan lantai marmer saat ia meluncur turun, tubuhnya merosot tak berdaya. Jari-jarinya mencengkeram erat serat karpet asrama seolah-olah ia bisa menambatkan dirinya ke masa kini agar tidak terseret lebih jauh ke masa lalu yang mengerikan.Berhenti.Berhenti
CHAPTER 21Royal Crest Academy tidak kembali normal. Ia menyesuaikan diri. Penyesuaian itu tidak datang lewat pengumuman resmi di papan digital atau pidato kepala sekolah di aula. Ia datang seperti perubahan tekanan udara—tak terlihat, namun langsung terasa menyesakkan paru-paru sia







