LOGINAdiyatma Alister Bagaskara, seorang ketua geng danger yang begitu dingin dan mengerikan. Melalui kejadian yang tidak terduga, dia bertemu dengan Diva. Namun anehnya, ada sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya. Bukan amarah, tetapi perasaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Hingga akhirnya Adit membuat pernyataan yang menggemparkan seisi sekolah. Awalnya Diva merasa kesal, tetapi semakin lama cinta itu tumbuh di hatinya. Disaat mereka sedang menikmati indahnya percintaan, masalah demi masalah terus berdatangan. Menggoyahkan kepercayaan, kesetiaan, dan kesabaran. Sanggupkah mereka mempertahankan cinta yang sudah melekat di hati?
View MoreAdit mengalihkan pandangannya seraya menghela napas pelan. Kemudian kembali menatap kedua sahabatnya dengan raut serius. Meskipun ragu, dia akan mengatakannya karena mereka harus tahu kebenarannya."Karin hamil." Adit berkata dengan suara yang begitu pelan. Namun meskipun begitu, Bara dan Revan masih dapat mendengar dengan jelas.Tubuh keduanya mendadak kaku dengan mulut setengah terbuka. Mereka tidak salah dengar 'kan?"Ha ha pasti itu cuma alasan lo biar enggak dimarahi kami 'kan?" tanya Revan tertawa garing.Tawa Bara menguar, seolah apa yang diucapkan Adit adalah hal paling lucu. "Lo emang enggak pantes ngelawak, Dit. Nanti berguru sama gue. Jangan bawa-bawa kehamilan anjir, ngeri gue."Tangan Adit terangkat menepuk bahu kedua sahabatnya diikuti dengan gelengan kepala."Gue enggak lagi ngelawak. Ini beneran, Karin hamil anak gue," ucap Adit berhasil menghentikan tawa Bara.Raut wajah laki-laki yang suka bercanda itu berubah menjad
Kini giliran mereka yang terdiam. Benar-benar tidak menyangka dengan jawaban Diva yang sedikit menyentil hati mereka. Hati dan perasaan seseorang memang tidak bisa ditebak. Kemarin suka dan sekarang benci. Revan mengkode Bara melalui lirikan mata. Diam-diam dia meringis tidak enak. Berada di situasi seperti ini sangat tidak nyaman. "Va, sorry, gue engg-" "Enggak papa kok," sela Diva memotong ucapan Bara dengan wajah datarnya yang semakin membuat laki-laki itu merasa bersalah. "Gue minta maaf. Gue sama sekali enggak maksud ngomong gitu," cicit Bara. Daniel maju selangkah lalu mengusap rambut Diva lembut. "Pikirin baik-baik sebelum membuat keputusan." Diva hanya mengangguk pelan. Melihat pemandangan di depannya membuat Nisa mengalihkan pandangannya. Hatinya berdenyut sakit. "Ngelihat lo kayak gini malah bikin gue sa
Dengan posisi yang masih membelakangi Adit, Diva mengukir senyum tipis penuh luka. Di posisinya ini, dia juga melihat kedua sahabatnya yang berdiri kaku beberapa langkah di depannya. Perlahan Diva membalikkan badannya, menatap laki-laki yang sudah memberikan banyak rasa kepadanya. "Kenapa harus marah? Gue enggak marah sama sekali. Lagi pula lo enggak punya kesalahan yang harus gue marahin, Adit." "Terus, kenapa lo beda?" tanya Adit menatap Diva sayu. Diva menoleh ke samping lalu menarik napas pelan dan kembali menatap Adit. Namun kali ini tatapannya tidak lagi lembut, melainkan datar. "Apanya yang beda? Gue emang kayak gini. Lo 'kan enggak kenal sama gue, jadi wajar kalau ngerasa gue beda," jawab Diva tenang. Langkah kaki Adit perlahan membawanya mendekat ke arah Diva. "Gue minta maaf kalau ada salah. Gue ... gue ngerasa enggak suka sama sikap lo yang kayak gini, Diva," ucapnya bersungguh-sungguh. "Semua kesalahan lo udah gue maafin ko
Baru saja Nisa akan menjawab, suara dentingan sendok mengalihkan perhatian semuanya. Pelakunya adalah Diva. Dia sengaja sedikit membanting sendok karena terlalu risih dengan tatapan dua laki-laki yang tak lain adalah Adit dan Daniel. "Loh, Va, lo mau ke mana?" tanya Mira heran saat melihat Diva bangkit dari duduknya, padahal mereka belum selesai bahkan baru saja mulai. "Kelas," jawab Diva singkat dan langsung melenggang pergi. Meninggalkan tanda tanya besar untuk sahabatnya. "Makanannya belum habis loh," tunjuk Tika ke arah makanan Diva yang baru termakan sedikit. Mereka saling pandang lalu menggeleng dengan kompak. Mereka bingung kenapa Diva menjadi seperti ini. Disuruh bercerita menolak, mau menebak pun mereka juga tidak bisa. Karena ekspresi Diva terlihat biasa saja, tidak ada emosi. "Diva sebenarnya kenapa sih?" tanya Bara bertopang dagu menatap ke arah perginya Diva.
Diva menelan salivanya dengan susah payah. Ini memang salahnya, tetapi tetap saja dia merasa takut jika Abang Justin sudah berbicara datar seperti ini."Diva lupa, Bang," jawab Diva cengengesan."Halah alasan, pasti lo terlalu asik berduaan sama Daniel 'kan? Makanya sampai lupa
Wajah Karin memerah lantaran kesal dan emosi dengan tingkah laku Diva. Selalu mengganggu kebersamaan dia dengan Adit, lalu sekarang bersikap jijik karena menyentuh lengannya. Apa Diva pikir, dia ini kuman?"Gaya banget lo, seharusnya yang gue yang mandi air tujuh sumur, karena badan lo penu
"Jaga ucapan kamu, Adit!" teriak Bunda Desi kesal. Kenapa anaknya menjadi seperti ini? Semua ini pasti ada hubungannya dengan Karin."Bun, enggak papa. Diva memang aneh kok, aneh karena masih mencintai Adit yang jelas-jelas menggoreskan luka paling dalam di hati. Adit, saat ini kamu memang
Suara dehaman seseorang membuat mereka langsung menoleh, terutama Diva yang sedang meyakinkan Adit."Lo kalau mau deham bisa lihat kondisi enggak sih?" tanya Diva kesal kepada seseorang yang menurutnya pengganggu dan orang itu adalah Bara."Kok gue sih?"












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore