MasukSetelah ayahnya terkena stroke, Ica terpaksa menikah dengan kawan sang kakak, Rey, sebelum dia pergi menempuh pendidikan S2-nya ke German, sebagai syarat keluarga itu mau membiayai pengobatan sang ayah, kuliah Ica dan membantu modal usaha sang kakak. Rupanya usul itu berasal dari Rey sendiri karena dia sudah lama menaruh hati pada Ica sejak lama.
Lihat lebih banyak“Pentagram! Akan aku ingat wajah kalian berlima! Di alam baka nanti, kalian akan kucincang satu persatu! Terutama kau Nata Digjaya!” teriak seorang pria tua dengan tubuh berlumuran darah, tepat sesaat sebelum tubuhnya melebur menjadi abu. Jari telunjuknya menunjuk seorang pemuda yang juga bersimbah darah yang terkapar di depannya.
“Lotus!” teriak seorang pemuda yang tengah terbaring di tengah kegelapan.“Kenapa.. padahal sudah satu tahun sejak Lotus tewas,” gumam pemuda tersebut yang tak lain adalah Nata Digjaya. Perlahan dia mengusap wajahnya dengan nafas yang memburu seolah begitu ketakutan.Perlahan Nata mengatur nafasnya kembali agar tenang. Entah kenapa malam ini udara terasa begitu dingin dari biasanya, perlahan Nata menggerakan kedua kakinya. Nafasnya yang sudah teratur kembali memburu saat merasakan kalau kakinya seolah berada di permukaan tanah, padahal dia ingat jelas kalau malam ini dia terbaring di kediaman barunya yang tak jauh dari istana megah kerajaan Lotus.“Apa ini?” gumam Nata yang mencoba untuk tetap tenang seraya tangannya meraba tempatnya terbaring.“Tanah? Bebatuan? Apa mimpi itu membuatku berhalusinasi?”“Lagipula kamar ini rasamya terlalu gelap dibandingkan biasanya.”Nata mencoba berdiri untuk menyalakan lampu obor di samping tempat tidurnya, namun dia sama sekali tidak merasa berada di ranjang. Dia mencoba menarik nafas perlahan untuk menenangkan diri. Setelah tenang akhirnya Nata menengadahkan telapak tangan kanannya, tiba-tiba bola api yang begitu terang muncul di atas telapak tangannya.“Mustahil..” gumam Nata setelah melihat tempatnya terbaring tadi.“Di mana ini?” batin Nata seraya memandangi sekelilingnya.Nata saat ini tengah berdiri di tempat yang sekelilingnya terbuat dari tanah dan bebatuan. Jelas-jelas kalau dia sedang berada dalam sebuah gua saat ini, Nata juga mengepal ngepalkan tangan kirinya karena merasa ada sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya. Kekuatannya serasa tidak seprima biasanya, selain itu banyak pertanyaan aneh lainnya yang mendadak muncul.“Kenapa aku bisa berada di tempat ini?”“Jika memang ini pengaruh sihir teleportasi, seharusnya aku bisa merasakannya meski hanya sesaat,” pikir Nata yang kini begitu kebingungan dengan keadaannya saat ini.Nata kemudian menghela nafas panjang karena tidak ada satupun jawaban yang masuk akal baginya, dia memutuskan untuk keluar dari gua tersebut dan mencari jawabannya di luar. Setelah berjalan cukup lama menelusuri lorong gua akhirnya dia bisa melihat secercah cahaya dan berhasil keluar dari dalam gua tersebut.Alangkah kagetnya saat dia melihat pemandangan diluar gua yang begitu asing. Meskipun pemandangan yang terhampar di depan matanya begitu indah, namun suasana serta keadaannya cukup berbeda jauh dengan yang pernah dia lihat selama ini. Gua tempatnya terbaring ternyata berada di puncak bukti.Di kejauhan terlihat bangunan-bangunan yang cukup padat dan luas. Namun arsitektur bangunan serta gaya dan bahan-bahan yang digunakannya Nampak berbeda jauh dengan yang pernah dilihatnya selama ini. Nata pikir mungkin dia saat ini sedang berada di benua antah berantah yang sangat jauh dari kerajaan Lotus.Nata kemudian berlari cepat menuruni bukit dengan lincahnya, dia berencana untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya dari orang-orang yang tinggal di sekitar bukit tempatnya terbangun. Di dalam perjalanannya itu Nata semakin yakin kalau ada yang salah dengan kekuatannya, seolah-olah saat ini hanya separuh saja dari kekuatannya yang bisa dia gunakan.Namun tampaknya tidak ada keanehan dari kekuatan fisik serta tenaganya. Dia bahkan bisa mencapai jarak satu kilometer hanya dalam waktu sepuluh detik saja hingga kini dia sudah berada tak jauh dari pemukiman penduduk yang dia lihat di atas bukit tadi. Akan tetapi dia juga merasa heran karena di sepanjang jalan dia sama sekali tidak berpapasan dengan satu orangpun. Padahal jika melihat besar dan luasnya desa ini seharusnya ada banyak orang yang meninggalinya.“Apakah tempat ini memang selalu sepi?” ujar Nata sembari menatap rumah-rumah penduduk yang tampak lebih permanen dari yang pernah dia lihat selama ini.“Kualitas semua bangunan ini jelas-jelas berbeda jauh dengan yang aku tahu selama ini. Bahan-bahannya terlihat mirip dengan yang digunakan di istana Lotus,” sambung Nata sambil memegang tembok rumah.Di kejauhan tampak tiga orang dewasa tengah berjalan terburu-buru ke arah yang berlawanan dengan tempat Nata datang tadi. Nata juga mulai berjalan hendak mengejar mereka bertiga. Belum sempat Nata mendekati mereka, tiba-tiba saja terdengar suara riuh orang yang begitu ramai dari arah yang hendak mereka tuju saat ini.Terlihat banyak orang berkerumun mengelilingi sebuah lapangan luas yang ada di tengah-tengah pemukiman tersebut. Nata memicingkan matanya seolah ingin melihat lebih jelas apa yang sedang orang-orang itu perhatikan, namun orang-orang itu berdempetan rapat hingga tidak terlihat jelas apa yang tengah mereka lihat.“Tiang apa itu?” gumam Nata saat melihat di tengah kerumunan warga terdapat dua tiang menjulang tinggi. Nata perlahan mendekati kerumunan serta mencoba merangsek ke dekat tiang karena begitu penasaran apa yang sebenarnya sedang terjadi.“Kasihan sekali,” ucap seorang wanita dengan begitu pelan.“Kalau saja dia menuruti apa kata tuan Leon tentunya mereka tidak akan bernasib seperti ini,” timpal yang lainnya setengah berbisik, terlihat jelas raut ketakutan di wajah mereka.“Apa yang sebenarnya terjadi?” batin Nata yang semakin penasaran hingga terus menerobos rapatnya barisan warga agar bisa lebih jelas melihat keadaan di tengah lapangan.Samar-samar di pertengahan kerumunan orang-orang Nata sudah bisa melihat kalau di tengah lapangan tersebut ada panggung dari bambu. Di atas panggung tersebut terlihat ada dua orang yang sedang berlutut dengan kedua tangan yang terikat serta kepala yang terbungkus kain, hanya dengan melihat sekilas saja Nata sudah mulai memahami keadaan di tempat itu. bahkan dari postur tubuh dan pakaian kedua orang itu saja Nata bisa memperkirakan bahwa salah seorang diantaranya adalah wanita muda dan yang lainnya adalah pria paruh baya.Di sekeliling panggung tersebut tampak banyak ksatria berbaju besi dengan persenjataan lengkap, tepat di depan panggung itu juga ada sebuah kursi mewah yang tengah di duduki pemuda rupawan sembari tumpang kaki. Sementara di samping kursi yang di dudukinya berdiri seorang wanita berambut panjang dengan wajah dibalut perban hingga wajahnya tidak mungkin dikenali. Wanita itu hanya berdiri mematung tanpa bergerak sedikitpun, sementara kepalanya tertunduk ke bawah. Pemuda yang tengah duduk di kursi menengadahkan kepalanya dengan angkuh, pandangannya tertuju kepada dua orang yang berada di atas panggung. Tak lama kemudian pemuda itu berdiri seraya menatap kerumunan warga di sekelilingnya.“Apakah semua orang yang ada di desa ini sudah berkumpul semuanya kepala desa?” tanya pemuda itu dengan lantang menatap seorang pria tua yang sedang berlutut di tanah.“Sudah tuan, sesuai perintah tuan Leon,” jawab kepala desa dengan tubuh gemetar.“Bagus, asal kalian ingat. Siapapun yang tidak hadir ke tempat ini maka mereka akan dianggap penghianat kerajaan serta akan dieksekusi dengan cara yang sama!” tegas pemuda yang ternyata bernama Leon Leonard.“Jadi itu alasannya,” batin Nata sambil menatap dua orang yang siap di eksekusi di atas panggung.“Tidak heran aku tidak berpapasan dengan siapapun saat ke sini. Tapi masih ada yang aneh di sini,” gumam Nata sembari menatap wajah orang-orang di sekelilingnya.Mereka tampak begitu sedih, ada juga yang terlihat ketakutan. Bahkan kebanyakan wanita memejamkan matanya. Jika memang kedua orang yang akan dieksekusi itu adalah penjahat, maka reaksi mereka tidak akan sesuram itu. Bahkan mungkin rasa lega akan tersiran di wajah mereka saat tahu kalau kedua penjahat itu akan dieksekusi.“Buka penutup kepala mereka!” perintah Leon kepada dua ksatria yang berada di dekat panggung.Perlahan mereka berdua membuka penutup kepala dua orang tersebut, dan benar saja perkiraan Nata bahwa salah satu diantara mereka adalah pria paruh baya serta satu orang lainnya adalah gadis muda. kedua orang itu saling memandang satu sama lain, raut wajah mereka mendadak terkejut.“Ayah?” ucap gadis muda itu dengan lirih, airmata mulai keluar dari pelupuk matanya.“Elis? Kenapa kau juga di sini?” ujar pria paruh baya dengan wajah pucat.“Tu-tuan Leon. Bukankah anda sudah berjanji tidak akan mengganggu putri saya?” tanya pria paruh baya dengan nada memelas.“Sayang sekali. Anakmu itu sangat bodoh Atang. Aku sudah memberinya pilihan untuk menikah denganku tapi dia memilih mati daripada harus menjadi istriku,” jawab Leon seraya duduk di kursinya lagi dengan congkak.“Tapi tuan. Anda juga memberi pilihan untuk menukar nyawa ayahku dengan nyawaku sendiri,” teriak Elis sambil menangis.“Tidak tuan, anda sudah berjanji untuk mengeksekusi saya dan tidak akan mengganggu keluarga saya lagi!” potong Atang.“Saya mohon tuan,” sambung Atang sambil menempelkan kepalanya ke panggung.“Ah.. hubungan keluarga memang begitu indah. Karena itulah agar adil maka aku akan mengeksekusi kalian berdua sekaligus, walaupun aku awalnya ingin menghabisi kalian sekeluarga tapi sisanya malah sudah kabur entah kemana. Tapi tenang saja, aku berjanji bahwa mereka juga akan segera menyusul kalian berdua,” jawab Leon sembari tersenyum puas.“Bagaimana mungkin.. kenapa masih ada hal semacam itu di dunia ini?” gumam Nata yang tersentak kaget saat mendengar percakapan ketiga orang yang jadi pusat perhatian di tempat itu.“Seharusnya setelah Lotus beserta kerajaannya takluk satu tahun yang lalu maka pengaruh buruknya di dunia ini juga lenyap, tidak ada perbedaan kasta atau semacamnya, tidak ada juga kesemena-menaan. Mungkin kejahatan kecil memang akan selalu ada, tapi ketidakadilan dan kesewenang-wenangan seperti itu seharusnya sudah lenyap.”“Apa mungkin tempatku berada saat ini sejak awal memang tidak terjamah pengaruh lotus? Tapi mustahil, kerajaan Lotus sudah berdiri sejak seribu tahun sebelum akhirnya runtuh, tidak ada kerajaan lain di dunia ini selain Lotus karena semuanya sudah dia taklukan. Jikapun memang ada tempat seperti ini maka seharusnya sudah ada kabarnya ke kerajaan Lotus dan juga kepada kami,” batin Nata yang jelas-jelas tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.Satu tahun sejak kekalahan Lotus Sang Raja Ketamakan sudah cukup untuk mengubah dunia di era Avaritia. Kedamaian sudah sampai ke seluruh penjuru dunia, bahkan kejahatan sudah sangat jarang ditemukan. Tapi kini apa yang Nata lihat sangat berbeda kenyataannya, perbedaan kasta, ketidakadilan dan kesombongan sedang terpampang jelas di hadapannya.“Penggal mereka berdua sekarang!” perintah Leon seraya mengangkat tangannya sebagai tanda diiringi dengan senyuman keji tanpa rasa iba.Semua orang di sana serentak menutup matanya ketika dua ksatria menghunuskan pedangnya yang berkilau pertanda tajam. Elis serta ayahnya hanya bisa tertunduk pasrah menerima nasib mereka, Nata tersentak sadar bahwa saat ini bukan waktunya dia kebingungan memikirkan keadaan di tempat itu, yang jelas kini ada dua orang yang tak jelas kesalahannya akan dieksekusi mati di depan matanya.Bersambung…Note:
Jika berkenan silahkan follow IG, Youtube atau Fanpage f******k saya di bawah. Di sana ada informasi tentang karya saya yang lainnya.
Salah satunya ada novel saya tentang para penyihir vs para pendekar yang sudah tamat volume ke-1 nya dan bisa dibaca secara gratis oleh sobat semua.
IG: @jajakareal
Fp: Jalan Fantasy
Yt: Jalan Fantasy
Terima kasih.
Dari depan pintu minimarket, Cindy sengaja memanggil-manggil nama Rey dengan suara keras. Beberapa orang tampak memandangi perempuan itu dan juga Rey yang tak jauh dari depan minimarket. "Rey, tunggu! Tolong aku!" Suara lantang Cindy itu terang saja membuat beberapa orang memandangi Rey yang disangka tidak bertanggung jawab.Rey menduga itu hanya akal-akalan Cindy, tapi ia pun terpaksa membawa Cindy ke klinik terdekat. Tanpa ia sadari Cindy mengambil foto candid.Rey buru-buru pergi, takut gadis itu menggunakan trik lain lagi.Sesampainya di kamar ia langsung membuka semua pakaiannya yang tadi sempat bersentuhan dengan Cindy dan mengguyur tubuhnya di bawah shower. “Rey, kok kamu mandi malam-malam? Badan kamu sampe dingin begini?” tanya Mayang yang terbangun saat seseorang tiba-tiba berbaring di sampingnya. “Tadi kena kotoran di minimarket, jadi aku mandi lagi. Peluk dong sayang, aku kedinginan,” rengek Rey saat Ica memegangi tangan dan wajahnya.Tanpa banyak bicara, perempuan itu l
Sherly tersenyum meringis melihat reaksi spontan Rey itu. Ia mengira Rey pasti tidak akan setuju dan berpikir itu ide konyol.“Bunda cuma merasa, Ica itu sudah dekat sama kita. Lagipula, Ica baru ditinggal papanya. Kalau Bunda lihat, wajah Ica tuh kayak yang masih sedih gitu.” Ungkap Sherly dengan wajah memelas. Berharap anak lelakinya itu tak marah.“Bunda serius?” tanya Rey, masih tak percaya dengan niatan bundanya itu. “Serius lha, Rey! Bunda tuh udah sayang banget sama Ica,” terang Sherly, mencoba meyakinkan putranya lagi.“Yah, ayah sendiri gimana? Sudah setuju dengan rencana Bunda ini?” Rey berdiri tak tenang, menahan rasa kaget dan emosinya.“Ayah sih setuju jika itu memang positif. Win-win solution juga. Kita bisa membantu keluarga mereka dengan merawat Ica, dan bunda akan ada teman di rumah.”“Ayah pikirannya ke bisnis aja, pakai win-win solution segala.” Celetuk Sherly sambil menepuk bahu suaminya itu pelan.“Ya, memang kenyataannya begitu, kan! Jadi, gimana menurut kamu, Re
“Ca, sayang! Ayo, bangun! Kita sudah sampai, sudah landing!”“Hah, apa?”“Kita sudah di daratan,”terang Rey lagi, lalu tersenyum geli ketika gadis itu celingukan memperhatikan sekelilingnya dan juga melihat keluar melalui kaca jendela pesawat.“Waah, kita sudah turun. Pesawatnya selamat, alhamdulillah ya Allah!” gumamnya sambil menengadahkan tangan, lalu mengusap wajahnya.“Ica, sudah tenang, kan, gak terjadi apa-apa, kan naik pesawat?” Ayah Yoga ikut mengomentari saat melihat tingkah lugu menantunya.“Hehe, iya, yah! Alhamdulillah.”Ica memperhatikan saat Rey melepas sabuk pengaman dan mengikutinya. Hampir semua penumpang nampak bersiap-siap turun dan mengambil tas dari kabin setelah pramugari memberi informasi bahwa pesawat sudah parkir dan pintu pesawat sudah dibuka.Rey mengelus kepala Ica saat ia hendak berdiri, seolah memberinya tanda bahwa semua baik-baik saja.“Huaahh!” Ica menutup mulutnya karena menguap lagi dan lagi saat mereka berada di mobil yang membawa keluarga itu ke ho
Ica memegangi tangan Rey erat saat ia sudah duduk di kabin pesawat. Dia memang belum pernah naik pesawat. Perjalanan travelliing bersama keluarga Rey kali ini menjadi perjalanan pertamanya naik kapal terbang. "Rey, apa aku minum obat anti mabuk aja, ya! Biar aku tidur!"Rey tertawa ringan,"kalau kamu tidur, kamu jadi gak bisa menikmati perjalanan di udara, dong!", ia menarik kepala Ica ke bahunya, lalu seperti membacakan sesuatu di atas kepala Ica, lalu meniup kepala Ica. Ica hanya diam dan makin mengeratkan pegangannya ke lengan Rey. "Sudah aku bacakan doa, supaya kamu gak takut. Anggap aja kamu naik bis besar, yang melayang!" bisik Rey setengah bercanda lalu mengelus tangan Ica berharap bisa menenangkannya. [ Para penumpang yang terhormat, selamat datang di Penerbangan 123A dengan tujuan Bandung menuju Lombok.Saat ini, kami berada di antrean ketiga untuk lepas landas dan diperkirakan akan mengudara dalam waktu sekitar tujuh menit.Mohon pastikan sabuk pengaman Anda telah terpasa
“Ca, bener nih, gak mau ikut ke kota?” Seru Anggi kencang dari pintu villa.Ica yang sejak tadi memperhatikan laut yang berarak sempat terhenyak. Tapi kemudian ia melambaikan tangannya.“Iya, aku agak papa. Aku lagi enjoy nieh! Titip minuman kesukaanku aja ya!” Teriaknya hampir tak terdengar, diliha
Flasback InPrang!! “Huuu…….huwaaaa……!” Suara gelas pecah diikuti erangan seorang gadis mungil membahana di ruang makan. “Udah, Ca! Jangan nangis lagi, sini biar Rey yang beresin kacanya!” Seorang anak remaja berjongkok memunguti pecahan gelas di lantai. Gadis mungil itu memandanginya sambil ses
Ica bersujud sambil memejamkan matanya yang masih sangat mengantuk lepas shalat shubuh. “Ca!”Rey menyentuh pundaknya pelan. Ica bangkit lalu mencium tangan Rey. “Sekalian dong, pipiku dan ini..!”Rey menunjuk bibirnya. Ica melotot tak percaya lalu mendorong cowok itu. “Dasar genit, nggak sopan,
Sejak pernikahan itu terjadi, Ica mencoba meyakinkan diri, bahwa semua itu demi kebaikan dirinya. Dan sebersit perasaan sukanya pada sosok Rey yang dulu pernah ia kesampingkan, menjadi sebuah kekuatan baginya untuk menerima kenyataan di depannya.Sepeninggal Rey, ia kembali harus menjalani hari-hari






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.