LOGINCorruption ternyata bukan kutukan. Hanya luka yang tidak pernah diberi kesempatan untuk sembuh. Bab 10 akan naik malam ini. Thomas masih menunggu di selnya.
"Apa kau siap?" tanya Nox pada Seraphina.Seraphina menatap pusaran air di hadapannya. Permukaan air itu memantulkan bayangan dirinya yang dulu. Beban lama itu masih ada. Luka hatinya pun masih tersimpan rapat di sana, membeku tanpa riak emosi."Kau benar..." Seraphina menarik napas dalam-dalam. "Yang pertama harus disembuhkan adalah hatiku sendiri."Ketakutan itu tidak mendadak hilang, tetapi kilau perak baja yang kini mengeras di matanya menjadi bukti. Ia tidak akan mundur lagi. Demi dirinya sendiri. Seraphina melangkah maju, berdiri tegak di samping Nox, lalu mengangguk mantap. Hati dan mentalnya sudah siap.Nox membuka pusaran dimensi. Tanpa ragu, Seraphina melangkah masuk ke dalam pusaran air tersebut.***Saat Seraphina membuka mata, sekelilingnya telah berubah total. Malam telah larut, menyisakan kesunyian yang mencekam. Di atas meja tua yang berdebu, tumpukan tagihan yang belum lunas berserakan secara berantakan di samping sisa makanan yang telah mendingin.Detik berikutnya, s
Langit malam yang semula luruh perlahan mereda. Bersamaan dengan itu, ribuan suara jeritan korban mulai memudar. Di sana, sang pemuda kini tertinggal seorang diri. Ia duduk termangu, kian menjauh dan mengabur dari jarak pandang Seraphina.Sebelum bayangan itu benar-benar hilang, kabut hitam berputar cepat menyelimuti mereka. Dalam satu kedipan mata, kabut itu membawa Seraphina dan Nox kembali ke tepi sungai perak yang tenang. Suasana kembali sunyi, seolah kekacauan tadi tidak pernah terjadi.Namun, Seraphina masih bergeming. Tangannya terkepal erat di depan dada, tepat di mana jantungnya berdegup kencang. Bahkan setelah semua pemandangan mengerikan itu menghilang, rasa sakit milik Kael seolah tertinggal dan membekas di sana. Dada Seraphina terasa sesak. Seraphina menarik napas panjang, mencoba menguasai diri."Jadi ... itu adalah Corruption?" suaranya sedikit bergetar.Nox menggeleng pelan. "Itu hanya sebuah luka."Mata abu keperakan milik Seraphina beralih, menatap tajam ke arah Nox
Pandangan kabur yang mulai menggelap dan menyempit adalah hal pertama yang dirasakan Seraphina.Tubuhnya serasa tidak lagi memiliki berat. Detik berikutnya, gravitasi seperti berbalik, menariknya jatuh ke dalam lubang tanpa dasar yang dingin. Angin melolong di telinganya, tajam seperti pisau yang mengiris kulit. Kegelapan di sekelilingnya bukan sekadar hilangnya cahaya, melainkan sesuatu yang hidup—pekat, tebal, dan menekan dadanya hingga ia sulit bernapas.Aku akan mati.Degup jantungnya memburu, terasa sakit, seakan mencekik lehernya sendiri. Ketakutan itu begitu nyata. Seraphina mencoba menggapai, mencari pegangan, namun jemarinya hanya menangkap udara kosong. Di dalam kegelapan yang tak berujung ini, ia merasa begitu kecil, begitu rapuh.Seraphina perlahan memejamkan mata, membiarkan tubuhnya terus terseret. Di dalam kepasrahan ini, ketika hatinya mulai belajar menerima bahwa ini adalah akhir dari segalanya, sebuah sensasi aneh muncul. Sesuatu yang terasa hangat bergetar di dadanya
Lantai marmer yang dingin seakan menjalar ke tubuh Seraphina hingga membuatnya tak bisa bergerak. Matanya menyipit, memperhatikan gerak-gerik sosok asing yang duduk santai di atas altar suci. Tempat yang seharusnya bersih dari noda, kini diinjak oleh sepasang sepatu bot hitam.Dalam hati, Seraphina mempertanyakan dari mana kemunculan pria misterius itu. Ia sama sekali tidak mendengar satu suara pun sebagai tanda kedatangannya. Tidak ada derit pintu, tidak ada langkah kaki. Pria itu tiba-tiba ada di sana, seolah muncul dari balik bayangan."Siapa kau sebenarnya?" tanya Seraphina.Ia beranjak perlahan penuh waspada dari posisi berlututnya. Tangannya meraba jubahnya, bersiap jika harus melarikan diri. Atensinya tidak lepas sedikit pun dari sang pria misterius.Sebagai jawaban, seulas senyuman tipis diterima Seraphina. Mata hitam sepekat malam milik si pemuda membalas tatapannya lekat-lekat."Sudah kubilang," ucapnya tenang tanpa melepas kontak mata. "Seekor monster."Pria misterius itu er
Langkah kaki Seraphina terhenti seketika. Dadanya berdenyut menyakitkan melihat pemandangan di depan mata. Lucien, yang tiba hampir bersamaan di sisinya, hanya bisa terpaku tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun.Puluhan ksatria suci telah membentuk barikade lingkaran yang rapat. Pedang-pedang mereka terhunus, namun tangan mereka gemetar. Mereka mengepung satu sosok tunggal di tengah lapangan. Ketakutan begitu nyata di udara; tidak ada satu pun dari prajurit itu yang berani melangkah maju.Bisik-bisik penuh kecemasan terdengar di antara barisan."Komandan...""Apakah kita benar-benar harus mengeksekusinya?"Kael berdiri sendirian di tengah kepungan. Pemuda yang biasanya selalu memasang raut wajah datar dan tajam itu kini terlihat begitu rapuh. Ia tampak hancur, digerogoti oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Aura hitam pekat bocor tak terkendali dari tubuhnya, melahirkan kelopak-kelopak bunga legam yang bermekaran ngeri di atas kulitnya.Saat sepasang mata emas Kael yang meredup
Seraphina kembali mengabaikan makan siangnya hari itu. Meski rentetan peringatan dari para pelayan terus menggema di sepanjang koridor, ia memilih memekakkan telinga. Langkah kakinya bergerak cepat, setengah berlari menuju perpustakaan.Setibanya di sana, kesunyian langsung menyambut. Seraphina segera memusatkan seluruh fokusnya untuk memanggil kekuatan magis yang ia cari. Namun, seperti beberapa hari terakhir, hasilnya tetap sama. Throne of Light tidak kunjung menjawab. Ia tetap gagal.Kecewa, Seraphina melangkah gontai kembali ke kamarnya. Ia menghempaskan tubuh ke ranjang, mengembuskan napas panjang dan berat. Saat membuka mata, ia hanya bisa mendongak menatap langit-langit kamar yang temaram, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Rasa lelah dan frustrasi mulai mengikis pertahanannya. Namun, bayangan kondisi Kael yang semakin kritis terus menghantui pikiran. "Sekali lagi," bisiknya pada kegelapan ruangan, mencoba mencambuk semangatnya sendiri yang mulai goyah. "Aku harus mencobanya







