MasukKalia Putri bersumpah menjauhi Reza Aditya, pria yang menghancurkan perusahaan kecil ayahnya lima tahun lalu dan membuat keluarganya terpuruk. Namun saat ayahnya koma dan utang miliaran mengancam rumah mereka, Kalia terpaksa menerima tawaran menikah kontrak dua tahun dengan Reza, semua utang dilunasi, biaya pengobatan ditanggung. Reza, pengusaha properti sukses di Surabaya, memperlakukannya dingin dan penuh kebencian. Di rumah megahnya, Kalia hidup sebagai istri tanpa cinta. Tetapi seiring waktu, ia melihat luka tersembunyi dan rahasia masa lalu Reza yang menggoyahkan keyakinannya. Apakah benci yang dalam bisa berubah menjadi cinta yang mendalam? Ataukah kontrak pernikahan ini hanya akan membawa penderitaan lebih besar bagi mereka berdua?
Lihat lebih banyakMalam itu, suasana di ruang makan utama rumah besar keluarga Wijaya terasa begitu hangat, hidup, dan penuh dengan gelak tawa yang lepas. Suasana yang dulu selalu dingin, kaku, dan penuh tembok pembatas, kini telah berubah total. Ruangan itu tidak hanya diisi oleh Reza dan Kalia, tapi juga Tuan Mahendra beserta istrinya yang kini duduk berdampingan dengan sangat akrab dan santai. Tidak ada lagi jarak yang memisahkan. Tidak ada lagi kecanggungan yang menyiksa. Tidak ada lagi tatapan curiga atau benci. Yang ada hanyalah dua keluarga besar yang kini bersatu, menikmati makan malam bersama, layaknya saudara darah daging yang sudah lama terpisah dan akhirnya dipertemukan kembali. Reza duduk dengan tenang di kursi utamanya, tepat di samping Kalia. Di bawah meja, tangan mereka saling menggenggam erat, seakan tak ingin melepaskan satu sama lain lagi selamanya. Mata mereka berdua berkeliling mengamati pemandangan indah di hadapan ini, dan di sudut mata mereka, terbit rasa haru yang begitu
Pagi harinya, sinar matahari pagi menyelinap lembut masuk melalui celah tirai jendela ruang kerja. Cahaya keemasan itu menyentuh lantai marmer, seakan ikut membersihkan aura gelap yang selama ini menghuni ruangan tersebut. Suasana yang semalam begitu berat, penuh air mata dan keputusasaan, kini telah berganti menjadi sebuah ketenangan yang aneh namun sangat damai. Hati yang tadinya sesak oleh dendam, kini terasa lega, seakan beban berton-ton telah diangkat dari bahu sang pemiliknya. Reza Wijaya duduk tegak di kursi kerjanya yang besar. Wajahnya memang masih terlihat sedikit lelah. Ada lingkaran hitam samar di bawah matanya, bukti bahwa semalam dia hampir tidak memejamkan mata, sibuk meraba ulang seluruh ingatan dan sejarah hidupnya. Tapi tatapan matanya sama sekali berbeda. Dia menatap layar komputer sejenak, lalu dengan tangan yang mantap, dia menekan tombol interkom. "Siapkan mobil. Aku mau keluar," perintah Reza singkat, padat, dan tegas. Tidak ada nada marah, tidak ada nada d
Ruangan itu kembali hening, sunyi senyap. Hanya suara napas mereka berdua yang terdengar, bercampur dengan detak jarum jam yang seakan berjalan semakin lambat, seakan memberi waktu bagi Reza Wijaya untuk mencerna semua informasi yang baru saja meledak di kepalanya. Reza menatap layar laptop itu dengan pandangan yang kosong. Matanya bergerak lambat, membaca ulang baris demi baris data, angka, dan bukti yang ditunjukkan Rafi. Otaknya yang biasa bekerja cepat dan logis kini seakan macet, berusaha menerima kenyataan pahit yang bertolak belakang dengan apa yang dia yakini selama puluhan tahun. Selama ini... Selama ini dia hidup dengan api kebencian yang membara di dada. Dia membangun tembok setinggi langit antara dirinya dan keluarga Mahendra. Tembok yang begitu tinggi dan tebal, tak ada satupun yang bisa menembusnya. Dia menyiksa diri sendiri dengan rasa dendam. Dia menyiksa dengan kecurigaan dan kemarahan. Dia bahkan hampir membuat hubungan dengan anak-anaknya retak. Semuanya... s
Malam semakin larut, namun cahaya lampu kristal di ruang kerja pribadi Reza Wijaya masih menyala terang. Suasana di ruangan itu terasa begitu berat, sunyi, dan penuh dengan tekanan. Hanya suara detak jarum jam dinding yang terdengar jelas, seakan menghitung mundur waktu sebelum badai pecah. Reza duduk tegak di kursi kerjanya yang besar dan mewah. Wajahnya datar, tak ber ekspresi, namun sorot matanya tajam menusuk, menatap lurus ke arah putranya, Rafi, yang berdiri kokoh di hadapan meja kerja itu. Di tangan Rafi, tergenggam sebuah laptop dan setumpuk berkas tebal yang terikat rapi, bukti-bukti yang telah dia kumpulkan dengan susah payah. "Jadi, apa yang mau kamu bicarakan sampe segitunya, Fi?" tanya Reza akhirnya. Suaranya dingin, datar, namun menyiratkan wibawa yang menakutkan. "Kamu mau minta izin supaya Papa biarin Aisyah terus pacaran sama anak Mahendra itu? Kamu tau kan sejarahnya? Keluarga mereka benci kita sama kayak kita benci mereka." Rafi menggeleng pelan. ia mengumpulkan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak