MasukHavi, seorang murid berprestasi, kehilangan kedua orang tuanya, Ridho dan Saras, akibat tabrak lari yang tak pernah terungkap. Kesedihan mendalam menjerumuskannya ke dunia kriminal hingga dia menjadi residivis, dan hidupnya berakhir tragis di RS Hadiyaksa setelah dihakimi massa. Namun, doa‑doa penuh cinta dan penyesalan dari Nuriana Salim, seorang wanita berusia 55 tahun yang pernah menjadi korban jambret Havi, dikabulkan Tuhan. Havi diberi kesempatan untuk hidup kembali, dan kembali ke usia tujuh belas tahun. Dalam kehidupan barunya, Havi bertekad menebus masa lalu. Dia memulai usaha kecil sebagai pemasok getah perca, yang perlahan berkembang menjadi bisnis besar. Rofik dan Teguh, yang dahulu menjerumuskannya ke dunia kriminal, kini menjadi sahabat sekaligus anak buah setia. Pertemuannya dengan Kakek Har, tukang kayu legendaris sahabat kakeknya, membuka jalan bagi perubahan besar itu. Dari kincir air sederhana yang diajarkan Kakek Har, Havi berhasil mengaliri listrik ke empat puluh rumah di desa Loban. Rahasia masa lalu pun terkuak, termasuk rawa buatan di hutan Wanarengga yang ditanam ratusan pohon perca oleh Kakek Har dan kakek Havi. Akan tetapi, takdir membawa ironi. Nuriana, yang doa‑doanya menghidupkan Havi, ternyata menyimpan rahasia kelam. Dialah pelaku tabrak lari yang merenggut nyawa Ridho dan Saras di kehidupan Havi sebelumnya. Diana Galuh, wanita yang setia mencintai Havi hingga usia 48 tahun, kembali hadir, menuntut jawaban atas cinta yang digantung dan luka yang pernah dia derita. Di sisi lain, konflik bisnis dan keluarga muncul melalui Yunus Adirjo, pemilik arogan PT. Hextex, dan Haryo Wibowo, pemilik PT. Nujaya, paman Diana sekaligus rival Yunus.
Lihat lebih banyakKota Telaga, pukul 10.15 pagi.
SRET!!!
"Ah! Jambret!!! Tolong! Tas-ku dijambret!!"
Seorang wanita paruh baya berteriak meminta tolong.
Tak jauh dari sana, seorang pria dewasa berlari sambil membawa tas hasil jambretan setelah mencurinya dari wanita tersebut.
Nama penjambret itu adalah Havian Shahreza, seorang pria tampan berusia 48 tahun dan dikenal sebagai seorang residivis.
Havi yang sekarang pekerjaannya adalah sebagai penjambret ulung, sudah sangat dikenal di wilayah sekitar Pasar Mulyo.
Dia sering melakukan aksinya di kawasan tersebut.
Selain menjambret, Havi juga pernah melakukan kejahatan lain seperti pencurian motor, perampasan, bahkan pembunuhan.
Tindak kriminal pembunuhan itu bahkan tidak terbukti karena Havi dengan cerdik berhasil membuat teman korban yang saat itu bersamanya menjadi tersangka dalam kasus pembunuhan tersebut.
Saat kejadian, Havi dan dua orang korbannya sedang berada di sebuah rumah kosong di pinggiran kota.
Havi sudah merencanakan semuanya. Dia menggunakan sarung tangan agar tidak meninggalkan sidik jari dan membawa pisau yang sudah dia lap dengan cairan pembersih untuk menghilangkan bekas sidik jari apapun.
Setelah membunuh korban, Havi meletakkan pisau itu di dekat tangan teman korban yang saat itu sudah pingsan karena dipukul dari belakang oleh Havi sebelum kejadian.
Havi kemudian memindahkan beberapa barang milik korban ke dalam tas milik temannya, termasuk dompet dan ponsel korban.
Sebelum pergi, Havi menyiram sedikit darah korban ke baju teman korban agar terlihat seperti baru saja terjadi perkelahian.
Setelah memastikan tidak ada yang melihat, Havi meninggalkan lokasi dan menyembunyikan sarung tangannya di tempat sampah umum yang jauh dari lokasi kejadian.
Ketika polisi datang, berdasarkan laporan warga yang mendengar suara keributan, mereka menemukan korban tewas dan temannya tergeletak dengan pisau di dekat tangannya serta barang-barang korban di tasnya.
Bukti-bukti itu cukup untuk membuat polisi menetapkan teman korban sebagai tersangka, sehingga Havi pun lolos dari tuduhan.
Selain itu, rata-rata korban dari aksi Havi adalah wanita muda atau wanita paruh baya yang terlihat membawa tasnya.
Sebelum melakukan aksinya, Havi akan mengamati situasi dengan teliti.
Dia biasanya berdiri atau duduk di tempat yang memberinya pandangan jelas terhadap kerumunan, seperti halte, sudut pertokoan, atau parkiran pasar.
Dia akan memperhatikan siapa saja yang terlihat lengah, sendirian, dan membawa tas yang mudah dijangkau.
Havi mencatat dalam pikirannya siapa yang paling beresiko rendah untuk dilawan, seperti wanita yang terlihat lemah, sibuk dengan ponsel, atau tidak waspada terhadap lingkungan sekitarnya.
Dia juga memperhitungkan lokasi terdekat untuk kabur, seperti gang sempit, kendaraan yang diparkir, atau jalur umum yang bisa membantunya menghilang di antara keramaian.
Sebelum bertindak, Havi memastikan tidak ada petugas keamanan, kamera pengawas, atau orang mencurigakan di sekitarnya yang bisa menjadi saksi.
Jika kondisinya tidak aman, dia menunda atau mencari korban lain. Namun, jika situasinya mendukung, Havi akan bergerak cepat dan langsung menarik tas korban, lalu berlari ke arah pelarian yang sudah dia hafal sebelumnya.
Havi juga sudah mempersiapkan semua kemungkinan, termasuk jika korban berteriak meminta tolong, atau ada orang lain yang mencoba membantunya.
Dia memiliki jalur kabur alternatif dan tahu titik-titik aman untuk bersembunyi, meski sekedar berganti pakaian agar tidak dikenali.
Semua itu dilakukan untuk meminimalkan resiko tertangkap.
Selain itu, Havi juga dikenal sudah keluar masuk penjara berkali-kali, dan setiap kali keluar dari penjara, dia sama sekali tidak pernah berusaha untuk berubah menjadi lebih baik.
Berkali-kali, Havi bahkan menjadi sasaran kemarahan warga karena tindakan-tindakannya yang sering meresahkan.
Warga yang marah pernah menangkap dan memukulinya secara ramai-ramai. Namun, setiap kali kejadian seperti itu terjadi, Havi tidak pernah melawan atau membalas orang-orang yang telah menghajarnya.
Dia hanya diam, menahan sakit, dan menerima perlakuan itu tanpa perlawanan.
Setelah kejadian, jika tidak dibawa ke kantor polisi, dia biasanya pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun.
Sikapnya itu membuat sebagian orang bingung, karena meskipun dia pelaku kejahatan, dia tidak pernah melampiaskan dendam kepada warga yang menghukumnya secara fisik.
Suatu hari, orang yang pernah menghajar Havi melihatnya sedang makan di sebuah warung.
Orang itu merasa penasaran, lalu mendekat dan duduk di dekat Havi.
Dia kemudian bertanya, kenapa Havi tidak pernah punya dendam kepada orang-orang yang sudah memukulnya dulu.
Havi hanya tersenyum, lalu menjawab bahwa dia menjambret hanya untuk kebutuhan makan sehari-hari.
Menurut Havi, jika hari itu dia berhasil menjambret dan mendapatkan hasil, maka uang itu hanya akan dipakai untuk bertahan hidup, seperti membeli makanan atau minuman.
Akan tetapi, jika hari itu dia tidak berhasil mendapatkan apa-apa, maka sudah pasti dia tidak akan makan sebutir nasi atau bahkan tidak minum setetes air.
Orang itu pun merasa iba, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya kepada Havi.
Dia berharap Havi bisa segera menemukan pekerjaan dan berhenti dari kehidupannya yang sekarang.
Havi hanya tersenyum masam dan berkata, "Kesempatanku sudah habis. Aku tidak butuh masa depan lagi di dunia ini!"
Mendengar itu, orang tersebut hanya menggelengkan kepala, lalu berdiri dan pergi meninggalkan Havi yang menatap diam dengan pikiran kosong ke arah jalan.
Havi sebenarnya dikaruniai wajah tampan, rambut ikal, kulit putih bersih, dan memiliki tubuh yang mulus serta atletis.
Penampilannya sangat cocok untuk menjadi pria idaman bagi banyak wanita. Namun, jika pakaiannya dilepas, tampak jelas bekas-bekas luka dan memar di tubuhnya, tanda kekerasan dari warga dan polisi yang pernah memukulinya dengan brutal.
Para pedagang dan warga sekitar Pasar Mulyo sebenarnya sangat geram dengan aksi penjambretan yang sering dia lakukan.
Havi yang cerdas dan licik selalu punya cara untuk mengelabui orang-orang di sekitarnya, hingga membuatnya sulit untuk benar-benar ditangkap atau dijebak.
Peribahasa yang mengatakan bahwa sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga, rupanya terjadi pada Havi kali ini.
Setelah menjambret tas milik seorang wanita paruh baya, dalam pelariannya Havi terpojok di sebuah gang sempit sambil masih menggenggam erat tas hasil jambretannya.
Di hadapannya, puluhan orang sudah berdiri dengan ekspresi marah.
Mereka membawa berbagai senjata seperti kayu, besi, dan beberapa orang terlihat menggenggam batu.
Havi yang panik tidak bisa berpikir jernih. Satu-satunya pilihan yang ada di pikirannya saat itu hanyalah menerobos kerumunan.
Dia berharap bisa lolos dari amukan warga dan berharap kali ini tidak mengalami luka yang terlalu parah.
Dengan sekuat tenaga, Havi menerobos puluhan orang yang menghadang jalannya.
Dia menyerang ke kiri dan kanan menggunakan tas hasil jambretannya sebagai alat untuk membela diri dan membuka jalan.
Tubuhnya yang tinggi dan atletis memberinya keuntungan untuk bergerak lebih cepat dan kuat dibanding sebagian besar warga yang mencoba menghentikannya.
Banyak dari orang-orang yang mengerumuninya kewalahan menghadapi perlawanan Havi yang nekat dan kuat meskipun sendirian.
Namun, keunggulan itu tidak bertahan lama.
Seorang warga yang membawa batang besi berhasil mendekat dari arah belakang.
Tanpa suara peringatan, warga itu mengayunkan batang besi ke arah kepala Havi.
TANG!
Suara benturan keras antara batang besi dan kepala Havi terdengar jelas di tengah keributan.
Havi langsung terpental ke depan dan tubuhnya jatuh tersungkur ke tanah.
Warga yang melihatnya tiba-tiba menjadi sunyi ketika melihat Havi langsung roboh dan tergeletak tengkurap di tanah dengan darah yang mulai menggenang di sekitarnya.
Tidak ada yang bergerak atau bersuara, suasana berubah menjadi tegang dan hening.
Sementara itu, Havi masih menggenggam erat tas hasil jambretannya, seolah tidak ingin melepaskannya meskipun tubuhnya sudah tidak lagi bergerak.
"Ah, sepertinya kita sudah keterlaluan kali ini!" seru seorang warga yang memukul Havi dengan sebatang besi.
Dia terkejut karena tindakannya membuat Havi langsung diam dan tidak bergerak.
"Segera panggil ambulance! Selamatkan dia dulu! Nanti saya yang akan menjelaskan semuanya kepada polisi!" kata warga lainnya dengan tegas.
Beberapa puluh menit kemudian, Havi sampai juga di rumahnya. Di dalam rumah, kedua orang tua Havi, Ridho dan Saras sudah menunggu dari tadi. Mereka berdua tentu saja heran melihat Havi yang baru pulang setelah hari mulai gelap. Saras mendekati Havi dan berkata, "Havi, kenapa baru pulang sekarang?! Ibu kira kamu ikut Diana ke rumahnya!" ujarnya. Ridho ikut menambahkan sembari tersenyum, "Iya, Bapak juga sempat menduga kamu pergi bersama Diana, Nak!" ujarnya. Havi tersenyum sejenak, lalu menjawab, "Tidak kok, Ayah, Ibu! Aku baru saja dari rumah Kakek Har, yang rumahnya dekat dengan gerbang desa itu!" jelasnya.Saras mengerutkan dahinya, lalu membalas, "Kakek Har?! Setahu Ibu, orang yang tinggal di dekat gerbang desa itu namanya Mardi! Ibu juga tidak tahu seperti apa orangnya, hanya pernah mendengar dari cerita orang-orang desa!" katanya. Ridho mengangguk dan ikut membenarkan, dia setuju dengan perkataan istrinya bahwa nama orang yang tinggal sebuah rumah di dekat gerbang desa mem
Havi berjongkok sambil menatap Kincir Air versi mini di hadapannya yang baru saja berhenti berputar. Ekspresi yang terlihat di wajahnya begitu sangat serius, dan sesekali terlihat dia membuang nafasnya melalui mulutnya sembari menggelengkan kepalanya.Kakek Har memperhatikan ekspresi Havi, lalu bertanya, "Apa yang sedang kamu pikirkan, Anak Muda?! Sepertinya kamu ada sedikit ketidakpuasan?!" ucapnya.Havi membuang nafasnya sekali lagi, lalu menjawab, "Saya sedang berpikir, apa Kincir Air benar-benar bisa dibuat sempurna di dekat Air Terjun Wira, Kek?! Keadaan sekitar Air Terjun Wira cukup terjal, dan saya khawatir, tidak mudah membangun Kincir Air itu di sana!" ujarnya.Kakek Har menatap Havi dengan senyuman, lalu berkata, "Itu pemikiran yang wajar, Nak! Air Terjun Wira memang deras dan tempatnya curam, tapi justru di situlah tenaga air paling besar bisa dimanfaatkan!" jelasnya. Havi menundukkan kepalanya sejenak, lalu menatap lagi Kincir Air versi mini di hadapannya yang kembali b
Kakek Har memperhatikan ekspresi wajah Havi yang penuh keterkejutan, dan dalam hatinya, Kakek itu merasa sangat puas."Bagaimana?!" tanya Kakek Har sembari terus melihat ekspresi wajah Havi.Havi yang masih terkejut dan ternganga tidak segera menjawab pertanyaan Kakek Har itu meski sebenarnya Havi mendengarnya, hingga Kakek Har harus bertanya sekali lagi kepada Havi."Hei, Anak Muda! Kau dengar Kakek tidak?!" tanya Kakek Har, dan kali ini suaranya lebih dikeraskan.Havi langsung sadar dari keterkejutannya, lalu dengan segera membalas pertanyaan Kakek Har, "Oh, maaf Kek, ini luar biasa!" jawabnya memuji.Kakek Har terkekeh sejenak, lalu menunjuk ke arah sudut ruangan yang di sana terdapat beberapa jenis kayu, lalu meminta Havi untuk tetap mengikutinya."Ayo, kita latihan dulu!" kata Kakek Har sembari berjalan ke arah sudut ruangan."Latihan?! Maksudnya, Kek?!" tanya Havi tidak mengerti.Kakek Har berhenti lalu berbalik, kemudian menaikkan sebelah alisnya dan menjawab, "Katanya kamu ing
Pertanyaan dari Havi akhirnya dijawab dengan sebuah pukulan ringan yang kembali mendarat di kepala Havi, dan tentu saja yang melakukannya adalah Kakek Har lagi."Anak muda! Kamu meremehkan Kakek, ya?! Kakek memang tidak tamat sekolah, tapi bukan berarti Kakek belum pernah melihat kincir air sama sekali!" ujar Kakek Har dengan marah. Havi terkejut dan mengedip-ngedipkan matanya, lalu menghela nafasnya sembari berkata, "Kakek, saya kan hanya bertanya! Kenapa harus dipukul lagi!" ujarnya dengan kesal. "Ya sudah, lanjutkan!" ujar Kakek Har mendengkus dengan kasar dan memerintahkan Havi untuk lanjut menjelaskan. Havi mengangguk, meski masih sedikit kesal, dia tetap melanjutkan, "Kakek tahu tidak untuk apa Kincir Air itu digunakan?!" tanyanya.Kakek Har terdiam sejenak sembari berpikir, dia mengernyitkan dahinya karena tidak mengerti. Dia pun menjawab, "Kakek memang tidak tahu apa sebenarnya kegunaan Kincir Air itu! Apa mungkin itu semacam mainan atau hiasan?! Orang-orang zaman sekarang












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.