LOGIN"Ndoro, boleh saya masuk? Saya bawakan kopi buat Ndoro..."
Suara ketukan pelan dipintu membuat Brata Yuda mendongak dari tumpukan berkas di mejanya. Pria berkepala tiga itu memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.
"Masuk, Mira," sahut Brata, suaranya serak karena kelelahan.
Pintu terbuka sedikit. Mira melangkah masuk dengan sangat hati-hati, kedua tangannya memegangi nampan berisi secangkir kopi hitam dan sepiring kecil biskuit rumahan.
Mira menatap Brata sendu. Pria semuda ini harus menanggung beban memiliki istri seperti Ratna.
Kepalanya menunduk, matanya sengaja tidak menatap langsung ke arah Brata. Ada jarak dua langkah yang sengaja ia jaga di depan meja kerja.
"Ditaruh di sini saja, Mir," ucap Brata lembut, menunjuk area kosong di mejanya.
Mira melangkah maju, meletakkan cangkir itu tanpa menimbulkan suara. Namun, saat tangannya hendak menarik nampan, pandangannya tidak sengaja jatuh pada wajah Brata yang pucat dengan lingkaran hitam di bawah mata.
"Ndoro... maaf," bisik Mira tiba-tiba, suaranya mencicit ragu.
Brata menghentikan gerakan penanya. "Ya? Ada apa, Mira?"
"Ndoro kelihatan... kurang sehat," ucap Mira, meremas pinggiran nampan kayu di dadanya. Bahunya sedikit menciut, seolah takut perkataannya akan menyinggung sang majikan.
"Kalau boleh... Ndoro istirahat sebentar. Dari siang Ndoro belum makan nasi sama sekali. Saya tadi melihat piring Ndoro di meja makan masih utuh."
Brata tertegun. Ia memandangi wajah polos pelayan barunya itu. Di saat rumah ini penuh dengan ketegangan dan amukan Ratna, justru gadis ini yang menyadari kalau dia belum menyentuh makanan sejak siang. Hatinya tersentuh.
"Saya tidak lapar, Mira. Pekerjaan di perkebunan numpuk banyak, dan..." Brata tidak melanjutkan kalimatnya, matanya melirik sekilas ke arah foto pernikahannya dengan Mira.
"Tapi Ndoro harus menjaga stamina. Ndoro bekerjanya sangat keras," sela Mira pelan, lalu buru-buru menunduk lagi dengan wajah pias.
"Maaf, Ndoro! Maaf... saya tidak niat lancang... saya tidak bermaksud menceramahi Ndoro. Saya hanya... kasihan melihat Ndoro."
Mendengar perhatian tulus dari mulut Mira, dada Brata mendadak terasa sesak.
Selama ini, ia sudah lama tak mendapatkan perhatian ini. Yang ada dalam hidupnya hanya tuntutan dan beban berat yang ditaruh di pundaknya– bahkan sejak ia memutuskan untuk menikah dengan Ratna.
Brata bangkit dari kursi kerjanya, membuat Mira refleks mundur satu langkah karena terkejut.
"Jangan minta maaf, Mira. Kamu tidak lancang sama sekali," ucap Brata, melangkah memutari meja hingga jarak mereka mengikis.
Pria itu menatap pelayan barunya dengan sorot mata melunak. "Terima kasih banyak, ya, Mira."
"Sama-sama, Ndoro. Kalau begitu saya permisi dulu ke belakang," pamit Mira sopan sembari menundukkan kepala.
"Eh, Mira... tunggu sebentar!"
Mira menghentikan langkahnya tepat di dekat pintu, lalu berbalik ragu. "Iya, Ndoro? Ada yang bisa saya bantu lagi?"
Brata diam sejenak, menatap cangkir kopi buatan Mira sebelum kembali menatap gadis itu.
"Saya minta tolong... kamu yang sabar, ya, menghadapi istri saya. Jujur, saat ini saya sangat butuh orang sepertimu di rumah ini."
Brata menghela nafas, “Sejak anak saya meninggal, emosi Ratna makin tidak stabil. Saya gak tau lagi kalau tanpa kamu.”
Mendengar pengakuan jujur dan raut putus asa dari majikannya, Mira tersenyum tipis.
"Ndoro jangan khawatir. Saya akan bekerja sebaik mungkin untuk melayani Nyonya Ratna."
"Terima kasih. Sekarang kamu istirahatlah, ini sudah malam," ucap Brata, merasa sedikit lega.
"Terima kasih kembali, Ndoro."
Mira berbalik hendak membuka pintu, namun gerakannya mendadak terhenti. Seperti baru mengingat sesuatu, gadis itu membalikkan badan lagi. Ia merogoh saku celemeknya, lalu mengulurkan sebuah bungkusan plastik kecil ke arah Brata.
"Ndoro, ini... ada sedikit vitamin yang diberikan oleh ibu angkat saya sebelum saya kerja di sini. Kata beliau, ini sangat bagus untuk menjaga stamina supaya tidak gampang tumbang," ucap Mira agak ragu, menyodorkan bungkusan itu dengan kedua tangannya.
Brata tertegun, lalu menggeleng pelan. "Lho, jangan, Mir. Ini kan punyamu. Kerja di rumah ini berat, kamu lebih butuh vitamin ini daripada saya."
"Tidak apa-apa, Ndoro. Saya dibawakan banyak sekali sama Ibu saya. Tolong diterima, Ndoro," bujuk Mira dengan tatapan mata yang begitu tulus.
Brata akhirnya mengulurkan tangan dan menerima bungkusan itu. Lengkungan senyum tulus terbit di wajahnya yang lelah. "Baiklah, terima kasih banyak. Saya ganti dengan uang, ya?"
Brata langsung merogoh saku celananya, mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu, lalu menyodorkannya pada Mira.
"Eh, jangan, Ndoro! Tidak usah, ini hanya vitamin," tolak Mira panik. Ia menolak dengan mendorong tangan Brata yang memegang uang.
"Ambil saja, Mira. Ini sebagai tanda terima kasih saya." Brata bersikeras, kembali memajukan tangannya, mencoba menyelipkan uang itu ke jemari Mira.
"Sungguh tidak usah, Ndoro..." Mira kembali mendorong tangan Brata menjauh, membuat tangan mereka kini saling tumpang-tindih dan dorong-dorongan dalam jarak yang sangat dekat.
Dari kejauhan, posisi tubuh mereka yang saling condong dan tangan yang saling menggenggam itu terlihat sangat ambigu.
KREEEKKK!
"Ndoro...?"
Pekikan tertahan itu seketika membuat Brata dan Mira tersentak. Mereka kompak menoleh ke arah pintu yang sudah terbuka paruh. Di ambang pintu, Bi Sumi berdiri mematung dengan mata melotot lebar, menatap tajam ke arah tangan mereka yang baru saja terlepas.
Wajah Brata langsung berubah formal, guratan tegas kembali menghiasi wajahnya. "Bi Sumi? Kenapa tidak ketuk pintu dulu?" tegurnya tidak nyaman.
"Maaf, Ndoro... maaf!" ucap Bi Sumi dengan suara gemetar, namun matanya tetap melirik sinis ke arah Mira.
"Itu... di kamar utama, Nyonya Ratna maksa minta turun dari ranjang sendiri. Beliau... Nyonya jatuh ke lantai, Ndoro!"
"Apa?!"
Brata panik, tanpa mempedulikan apapun lagi, pria itu langsung berlari kencang keluar dari ruang kerja, setengah menubruk bahu Bi Sumi demi bisa secepatnya sampai ke kamar istrinya.
Sepeninggal Brata, keheningan mencekam langsung menyelimuti ruangan. Bi Sumi perlahan membalikkan tubuhnya yang ringkih.
Sorot mata wanita paruh baya itu berubah menjadi sedingin es, menusuk langsung ke arah Mira yang masih berdiri di tempatnya.
"Saya sudah peringatkan kamu sore tadi, Nduk! Jangan pernah mencari masalah di rumah ini!" bisik Bi Sumi, suaranya sarat akan intimidasi yang tajam.
Mira meremas nampan kayunya, mencoba membela diri dengan wajah pias. "Tidak seperti yang Bibi lihat... tadi Ndoro Brata hanya mau—"
"Sudah banyak pekerja muda yang datang ke sini dan berusaha menggoda Ndoro Brata," sela Bi Sumi dingin, memotong kalimat Mira tanpa ampun. "Dan asal kamu tahu... mereka semua berakhir kehilangan pekerjaan. Kamu masih tidak mengerti juga segila apa kalau Nyonya tau?!”
Menjelang siang, tiba waktunya Ratna meminum obat pereda nyeri dan vitamin pasca-persalinan.Mira menyiapkan nampan berisi segelas air putih hangat dan beberapa butir pil. Sebelum melangkah keluar dari dapur, ia merogoh saku celemeknya.Di sana terdapat sebuah sapu tangan pria berwarna abu-abu gelap dengan inisial 'B.Y' di sudutnya. Itu sapu tangan milik Brata yang ia temukan jatuh di kolong meja kerja kemarin sore, saat ia bersembunyi dari amukan Ratna.Dengan sangat sengaja, Mira menyelipkan sapu tangan itu ke dalam saku daster lusuhnya, membiarkan sedikit bagian kain berinisial itu menyembul keluar, cukup untuk ditangkap oleh mata yang jeli.Saat Mira mendorong pintu kamar utama, suasana di dalam terasa sangat suram. Tirai tertutup rapat, dan Ratna duduk bersandar di ranjang dengan wajah ditekuk, memancarkan aura permusuhan yang kental."Permisi, Nyonya. Waktunya minum obat," ucap Mira lembut, melangkah masuk dengan kepala menunduk
Kokok ayam jantan dari kejauhan membelah kabut pagi. Di ruang makan, keheningan yang mencekam menyelimuti meja, hanya suara denting sendok yang beradu dengan porselen yang terdengar.Ratna duduk di kursi rodanya, wajahnya tampak pucat pasi dengan perban tipis di dahinya, akibat benturan kemarin. Tatapannya kosong, namun setiap kali ia melirik ke arah Mira yang sedang menyajikan sarapan, matanya akan menyipit tajam seperti silet yang siap mengiris.Brata sendiri lebih banyak diam. Pria itu menyembunyikan tangannya di bawah meja, jemarinya terus bergerak gelisah. Ia tampak seperti seseorang yang sedang menyimpan rahasia besar di balik topeng ketegasannya."Mas," suara Ratna memecah keheningan, terdengar serak dan dingin. "Aku ingin pelayan ini dipecat hari ini juga."Tangan Mira yang sedang menuang air putih ke gelas Ratna sedikit bergetar. Ia sengaja menumpahkan beberapa tetes air ke taplak meja, lalu dengan wajah ketakutan, ia segera mengambil serbet untuk membersihkannya."Maaf,
"Mira! Buka pintunya!" suara itu berat dan berwibawa.Itu suara Brata.Mira buru-buru mengambil kemeja yang tadi ia buang ke lantai dan memakainya asal-asalan, bahkan tanpa mengancingkannya dengan benar. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia melompat dari ranjang dan membuka kunci pintu.Pintu terbuka. Brata berdiri di sana dengan wajah yang terlihat sangat kusut. Tatapan pria itu tajam, namun ada raut kecemasan yang mendalam di matanya. Pria itu langsung melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya dengan sekali dorongan."Ndoro? Ada apa? Nyonya... bagaimana?" tanya Mira, berusaha memasang wajah bingung dan sedikit ketakutan.Brata tidak menjawab. Pria itu menyapu pandangannya ke kamar yang sempit dan remang tersebut, lalu berhenti pada wajah Mira yang masih memerah dengan sisa-sisa gairah yang belum sepenuhnya sirna. Brata mendekat, memangkas jarak hingga mereka nyaris bersentuhan."Tadi itu... hampir saja," bisik Brata, suaranya parau dan sarat akan penyesalan yang
"B–Bi Sumi..." sahut Mira gugup, refleks menundukkan kepala."Aku tanya, dari mana saja kamu, Nduk?!" desak Bi Sumi, melangkah mendekat dengan raut wajah mengeras. "Nyonya Ratna mengamuk keliling rumah mencarimu sampai jatuh pingsan! Dan kamu... tiba-tiba muncul dari arah lorong depan dengan baju yang kusut seperti ini. Habis dari mana kamu, hah?!"Mira memaksakan bahunya bergetar, memanggil kembali air mata buatan yang selalu menjadi senjata utamanya."S-saya takut, Bi..." isak Mira, suaranya pecah dan bergetar hebat. "Waktu dengar Nyonya teriak-teriak memanggil nama saya... saya ketakutan. Saya ingat Nyonya mau menampar saya tadi pagi. Jadi... jadi saya lari ke gudang belakang, Bi. Saya sembunyi di balik tumpukan karung beras..."Bi Sumi memicingkan mata, tak percaya begitu saja. "Gudang belakang? Lalu kenapa kamu muncul dari arah lorong ruang kerja Ndoro Brata?""S-saya baru berani keluar setelah keadaan sepi, Bi. Saya memutar lewat lorong depan karena pintu belakang dikunci
"MIRA! KELUAR KAMU!" jeritan Ratna melengking, memantul di dinding ruangan.Amarah seolah mematikan seluruh saraf sakit di tubuhnya. Ratna bergerak liar di atas kursi rodanya, memutar kursi itu ke sana kemari untuk menyisir ruangan seperti orang kesetanan. Dengan napas memburu, ia menyibak tirai beludru tebal di dekat jendela secara kasar, menarik paksa pintu lemari arsip hingga engselnya berderit, lalu menendang tumpukan koran di sudut ruangan hingga berhamburan. "Keluar kamu, perempuan murahan! Aku tahu kamu sembunyi di ruangan ini! MIRA!!"Di bawah meja, Mira menekan punggungnya sejauh mungkin ke sudut gelap kolong tersebut. Ia mematung, bahkan tidak berani berkedip. Keringat dingin menetes perlahan dari pelipisnya. "Ratna, cukup! Hentikan kegilaan ini!" Brata melangkah cepat, berusaha mencengkram lengan istrinya untuk menghentikan kursi roda itu.Wajah pria itu pias, campur aduk antara panik setengah mati dan amarah yang memuncak. "Kamu benar-benar sudah kehilangan akal sehat
"Kenapa pintunya dikunci, Mas?!" bentak Ratna lagi.Terdengar suara berdecit yang menyayat hati– suara putaran roda kursi yang beradu dengan lantai kayu lorong. Ratna, dengan napas tersengal dan peluh yang membanjiri pelipisnya, memaksakan kedua tangannya memutar roda kursi roda itu sekuat tenaga. Kakinya yang lunglai dan tidak berdaya hanya terbalut selimut tipis, tampak menyedihkan sekaligus mengerikan karena rasa curiga yang terus membakarnya sejak pagi.Brata segera menempelkan telunjuk di bibirnya sendiri, matanya melotot memberi isyarat panik agar Mira sama sekali tidak mengeluarkan suara. Pria itu menahan napas, berharap istrinya kehabisan tenaga dan menyerah."Bi Sumi bilang kamu masuk ke sini dan belum keluar sama sekali!" seru Ratna dari balik pintu. Terdengar bunyi benturan kursi roda ke daun pintu kayu. "Aku tahu kamu ada di dalam, Mas! Buka pintunya!"Hening mencekam. Brata menahan napasnya, tidak berani bergerak satu inci pun. Ia berharap istrinya kehabisan tenaga dan







