LOGINBelum lama bekerja sebagai perawat pribadi majikannya, Mira tak sengaja memergoki suami majikannya sedang menuntaskan hasratnya seorang diri. Pria yang selama ini dikenal sabar rupanya menyimpan kesepian. Dan kini Mira dalam masalah besar!
View More"Aahh... pelan, Ndoro... pelan...."
Mira meringis, jemarinya mencengkram erat pinggiran pintu.
Tadi, kaki kirinya baru saja terkilir saat membawa baskom air panas.
Percikan air panas sempat mengenai kebaya katun tipisnya, membuat kebayanya menjiplak siluet tubuhnya. Ia berusaha mencoba melangkah, namun kakinya benar-benar menyerah. Ia limbung, nyaris jatuh ke lantai.
Namun, Brata Yuda, majikannya menuntunnya ke sofa. “Makanya, jalan itu pakai mata, jangan melamun,"
Begitu terduduk, Brata menarik kaki Mira yang terkilir ke atas pangkuannya.
Ia menyingkap sedikit kain kebaya yang membalut kaki jenjang Mira. “Saya bantu pijat.”
Jemarinya yang kasar mulai mengurut titik-titik nyeri di pergelangan kaki gadis itu.
"Ndoro... pelan..." rintih Mira. Refleks, ia menarik kakinya hingga kainnya tersingkap lebih tinggi.
Namun saat pakaian dalamnya terlihat, Brata menahan nafas. Brata tidak bicara. Dia justru menarik kaki itu kembali, menekan lebih dalam pada titik saraf yang tepat.
"Ahh... Ndoro.. Ah…" Suara Mira berubah. Ada erangan halus antara rasa sakit yang luar biasa dan sensasi panas yang menjalar ke pangkal pahanya.
Hangat minyak urut berpadu dengan sentuhan tangan Brata yang dominan membuat bulu kuduknya meremang. Atmosfer di ruangan itu mendadak menyesakkan.
"Ah... Ndoro, sudah... sudah. Sepertinya sudah lebih baik," ujar Mira cepat, menarik kakinya dan menyingkirkan tangan Brata.
Pipinya memerah, bukan karena malu, melainkan karena ia harus segera memutus kontak fisik dengan majikannya.
"Mira, bisa tidak jangan mendesah?" desis Brata pada akhirnya.
Matanya menatap tubuh Mira yang basah. Bagai kucing disuguhkan ikan, siapa yang bisa tak goyah?
"Kalau nyonyamu dengar, dia akan menendangmu keluar malam ini juga karena menganggapmu menggoda saya.”
Mira menunduk, menyembunyikan getaran di hatinya.
"Maaf, Ndoro. Saya ceroboh..." bisik Mira pelan. Tatapannya yang redup kini berubah tajam
Sudah seminggu Mira menginjakkan kaki di rumah besar ini. Awalnya, dia direkrut sebagai pengasuh untuk bayi yang sangat dinantikan majikannya itu.
Namun, takdir berkata lain bayi itu lahir tak bernyawa.
Kematian sang buah hati menghancurkan mental Ratna, membuatnya lumpuh oleh duka dan terus terkurung di kamar, memaksa Mira yang seharusnya merawat bayi, kini terjebak melayani Nyonya besar yang masalahnya...
Emosinya seringkali tidak stabil.
Bahkan ia tak segan meludahi Mira jika dirinya salah.
"Ganti bajumu," perintah Brata, suaranya serak. "Jangan pakai kain seperti itu, pakai saja daster supaya lebih leluasa bergerak."
"Saya tidak punya, Ndoro. Pakaian saya hanya ini," jawab Mira pelan, sengaja membiarkan dadanya turun-naik dengan ritme yang teratur. Ia beralasan bahwa dari kampung tak ada baju yang seperti itu.
Brata mendengus, lalu masuk ke kamar utama. Tak lama, ia kembali membawa tumpukan baju milik istrinya. "Pakai ini. Setelah itu, urus istri saya."
Mira menerima pakaian itu dengan senyum tipis. Ia segera mengganti kebaya basahnya dengan dress katun milik Ratna.
Karena tubuh Mira lebih tinggi dan berisi, dress itu jatuh tepat di atas lututnya, dengan kerah rendah yang memperlihatkan leher jenjang dan belahan dada yang menantang.
Setiap gerakannya memicu lekuk tubuh yang terbungkus ketat, membuat tubuhnya lebih provokatif daripada penampilan sebelumnya.
Ketika Mira melangkah masuk ke kamar majikannya dengan ember air hangat yang masih mengepul, suasana di dalam ruangan langsung mencekam.
Brata Yuda berdiri mematung di sudut kamar, jakunnya naik-turun memperhatikan bagaimana dress itu memeluk lekuk tubuh Mira dengan begitu liar.
Ratna, yang terbaring lemah di ranjang, melotot tajam.
Wajahnya memucat, amarahnya meluap melihat pelayan itu mengenakan pakaian kesayangannya di depan suaminya sendiri.
"Kenapa dia memakai pakaianku, Mas?!" teriak Ratna parau.
Dengan sisa tenaga, ia meraih vas bunga di meja samping tempat tidur dan melemparkannya ke arah Brata Yuda.
Praangg!!!
Vas itu menghantam lantai, hancur berkeping-keping. Mira tersentak, menjatuhkan embernya sedikit hingga air hangat membasahi kakinya.
"Maaf nyonya. Maaf nyonya!” seru Mira dengan nada penuh keterkejutan dan ketakutan yang dibuat-buat, ia segera berjongkok dengan panik di dekat pecahan kaca.
Brata Yuda mengabaikan pecahan kaca itu, ia justru melangkah maju dan meraih lengan Mira, menariknya berdiri dengan kasar. "Kamu tidak apa-apa? Ada yang terluka? Ratna! Kenapa lagi?!"
"Saya... saya tidak apa-apa, Ndoro," bisik Mira dengan suara bergetar dan tatapan menunduk yang tampak polos sekaligus rapuh.
Lalu, dengan sisa tenaga dan suara yang bergetar hebat menahan tangis, Ratna kembali memekik.
"Brengsek! Kamu selingkuh di depan mataku?!"
Gerakan tangan Brata yang hendak meraih gelas mendadak kaku di udara. Napasnya tercekat, seolah oksigen di meja makan mendadak lenyap. Ia tahu pasti dari mana asalnya tanda merah di leher jenjang itu. Itu adalah bekas cengkeramannya yang terlalu kuat semalam, saat ia kehilangan akal sehatnya di dinding gudang.Mira berdiri mematung. Dengan gerakan pelan yang seolah dipenuhi kepanikan, tangannya refleks naik menutupi kerah bajunya. Matanya membola, memancarkan ketakutan yang begitu meyakinkan."M–merah apa, Nyonya? S-saya tidak mengerti..." cicit Mira, suaranya sengaja dibuat bergetar hebat."Jangan pura-pura bodoh!" Ratna menggebrak meja kaca dengan keras, mengabaikan kakinya yang masih sakit. Wanita itu berdiri dengan napas memburu, matanya menatap liar ke arah pelayan barunya."Sini kamu! Kudekatkan matamu ke cermin supaya kamu bisa lihat sendiri!""Ratna, cukup! Kamu ini kenapa lagi, sih?!" tegur Brata, suaranya meninggi menutupi kepanikannya sendiri. Ia berusaha bangkit dari k
Tubuh Mira menegang. Sentuhan ibu jari Brata di rahangnya terasa membakar, namun lebih dari itu, pertanyaan pria itu membunyikan alarm bahaya di kepalanya.Jika ia mengangguk atau membalas sentuhan itu, topeng kepolosan yang ia bangun dengan susah payah akan hancur seketika. Brata akan melihatnya sebagai wanita gampangan, bukan gadis malang yang terjebak dalam situasi yang salah. Mira tahu betul, ia harus mempertahankan kendali psikologis atas pria ini.Dengan gerakan pelan namun sengaja dibuat gemetar, Mira menepis tangan Brata. Ia mundur selangkah, membiarkan punggungnya menabrak dinding kayu gudang yang dingin."Ndoro... jangan..." bisik Mira. Suaranya sengaja dibuat serak, diiringi setetes air mata buatan yang meluncur di sudut matanya. Ia merapatkan handuknya hingga buku-buku jarinya memutih, menutupi tubuhnya seolah merasa sangat terhina. "Saya... saya sadar diri siapa saya di rumah ini."Brata tertegun. Gairah liar di matanya yang tadi menyala terang, perlahan memudar, digant
“S-saya tidak mengerti, Ndoro. Apa yang bisa saya bantu?” cicit Mira dengan suara bergetar. Tatapannya mendongak memperlihatkan raut lugu yang begitu meyakinkan, meski di dalam hatinya ia bersorak penuh kemenangan. Rencananya benar-benar bekerja dengan sempurna. “Jangan pura-pura tidak tahu, Mira.” geram Brata. Rahangnya mengeras menahan gejolak yang semakin memuncak. Tanpa membuang waktu, Brata meraih sebelah tangan Mira yang bebas dan menariknya turun, menempelkannya tepat di atas pusat gairahnya yang mengeras menyakitkan di balik resleting celana. Mira terkesiap pelan, matanya membelalak lebar. "Ndoro..." "Bantu saya, Mira. Sentuh," geram Brata parau. Tangannya yang besar menutupi punggung tangan gadis itu, memaksanya untuk merasakan seberapa putus asa dirinya malam ini. "Saya tidak tahan lagi." "T-tapi Ndoro... bagaimana kalau ada yang lihat?" cicit Mira, masih mempertahankan ekspresi lugunya. "Tidak akan ada yang kemari." Tangan besar Brata perlahan turun, meraih perg
Mira baru saja keluar dari kamar mandi diluar– bangunan semen tua yang dingin dan lembab di ujung area pekerja. Tubuhnya hanya dibalut selembar handuk putih yang dililitkan seadanya, sementara rambutnya yang masih basah meneteskan butiran air ke bahu dan lehernya. Baru beberapa langkah menuju kamarnya, ia mendadak menghentikan langkah ketika mendengar suara desahan.“Ah… ahh… ahh..”Siapa disana?!Ini kamar mandi luar. Berada di pekarangan belakang rumah Brata. Seperti biasa, hanya bunyi nyaring jangkrik yang saling bersahutan di antara pepohonan. Area itu merupakan wilayah yang nyaris tak pernah didatangi keluarga inti, hanya para pelayan dan pekerja kasar yang beraktivitas di sana. Karena itulah, Mira sama sekali tidak menyangka akan ada suara.Apalagi sampai suara desahan.Mira mengendap-endap. Pria itu… Brata Yuda. Majikannya itu tampaknya menyandar ke tembok, kemejanya terbuka di bagian atas. Napasnya memburu tidak teratur, disertai desahan rendah yang tertahan di tenggoroka


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.