"Aahh... pelan, Ndoro... pelan...." Mira meringis, jemarinya mencengkram erat pinggiran pintu. Tadi, kaki kirinya baru saja terkilir saat membawa baskom air panas. Percikan air panas sempat mengenai kebaya katun tipisnya, membuat kebayanya menjiplak siluet tubuhnya. Ia berusaha mencoba melangkah, namun kakinya benar-benar menyerah. Ia limbung, nyaris jatuh ke lantai. Namun, Brata Yuda, majikannya menuntunnya ke sofa. “Makanya, jalan itu pakai mata, jangan melamun," Begitu terduduk, Brata menarik kaki Mira yang terkilir ke atas pangkuannya. Ia menyingkap sedikit kain kebaya yang membalut kaki jenjang Mira. “Saya bantu pijat.”Jemarinya yang kasar mulai mengurut titik-titik nyeri di pergelangan kaki gadis itu."Ndoro... pelan..." rintih Mira. Refleks, ia menarik kakinya hingga kainnya tersingkap lebih tinggi.Namun saat pakaian dalamnya terlihat, Brata menahan nafas. Brata tidak bicara. Dia justru menarik kaki itu kembali, menekan lebih dalam pada titik saraf yang tepat."Ahh.
Last Updated : 2026-06-13 Read more