ВойтиKeesokan harinya, terlihat di suatu restoran Roni sedang melakukan pertemuan dengan salah satu klain bisnisnya yang berasal dari luar kota. Iya beginilah kesibukan Roni di tiap harinya melakukan pertemuan dengan klain untuk membicarakan rencana-rencana bisnis.Dan di saat Roni sedang fokus-fokusnya menjelaskan rencananya kepada klainnya itu, tiba-tiba ponselnya berdering. Dia langsung menghentikan pembicaraan yang dia bicarakan untuk menerima panggilan telepon, karena yang menelpon adalah Miya istrinya. Dan sesibuk apa pun Roni jika yang menelpon atau mengganggunya adalah salah satu istrinya, Roni langsung menanggapi mereka dan menunda kesibukannya.“Sebentar ya, saya mau menerima panggilan telpon,” ujar Roni, dan klain bisnisnya itu hanya bisa mengangguk walaupun sedikit terlihat di raut wajahnya kalau dia tidak menyukai adanya hal lain yang mengganggu saat membicarakan hal penting seperti saat ini.“Halo sayang, iya ada apa?” tanya Roni ke Miya yang menelponnya.“Begini Roni, kamu p
Di saat jam pulang terlihat Liona menunggu jemputan Ali. Tidak jauh dari tempat Liona menunggu, Riki di sana berdiri memantau. Sepertinya dia ingin tahu siapa suami Liona. Ya, dia dengar Liona diantar tadi pagi oleh suaminya. Pastinya dia akan dijemput juga, jadi Riki ikut menunggu ingin melihat seperti apa suami Liona.Sampai sekitar lima menitan menunggu, Ali akhirnya datang dengan mengendarai motor yang tadi pagi. Ali tiba di depan gerbang kampus, di sana Ali sudah melihat Liona yang sedang menunggu.Dengan wajah tersenyum, Liona bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Ali.“Maaf aku sedikit terlambat, tadi Elina rewel. Untung ada mama yang bantu nenangin dia,” kata Ali menjelaskan kenapa dia sedikit terlambat.“Gak apa-apa kok, aku juga gak lama nunggunya,” ujar Liona sambil menerima helm yang diberikan oleh Ali.Tiba-tiba, tanpa sepengetahuan Ali dan Liona, Riki mendekat lalu menarik jaket yang dikenakan oleh Ali dengan cukup keras, membuat Ali tertarik dan motor yang
Di keesokan harinya, terlihat Liona bersiap-siap berangkat ke kampus, takutnya kalau ditunda lagi dia bisa ketinggalan banyak mata pelajaran pada kuliahnya.Dan kali ini bukan papanya atau sopir pribadi keluarga yang mengantarnya, tapi Ali yang sudah menjadi suaminya.“Cie yang diantar suami...” ledek mamanya saat Liona bersiap-siap.“Hehe, ya dong, Ma. Oh ya, Mama sendiri kenapa gak berangkat?” kata Liona sambil bertanya balik.Oh ya, Mama Liona juga adalah seorang kepala dosen di kampus tempat Liona kuliah sekaligus penerus kepemilikan kampus itu setelah kakek Liona meninggal.“Nanti Mama belakangan, sana cepat, Ali sudah menunggu di luar itu.”“Iya, Ma, sabar. Ini udah mau siap,” ucap Liona.Sementara di luar, Ali sudah menunggu di atas motor. Ya, walaupun banyak sekali mobil terparkir di sana yang bisa saja digunakan oleh Ali untuk mengantar Liona, malah motor yang dipilih oleh Ali. Seperti yang kita tahu, memang dari masih remaja Ali sangat menyukai motor.“Pa, pinjem motornya ya
Setelah Ali selesai makan, dengan perut yang kenyang papa mertuanya mengajaknya bermain catur di depan sambil minum kopi, sementara Liona mengobrol berdua dengan sang mama sambil menggendong Elina, dan mamanya menggendong adiknya yang masih berusia sekitar dua tahunan.“Mama lihat-lihat kamu cocok juga jadi seorang ibu, tak disangka anak gadis mama sudah tumbuh dewasa sekarang,” kata sang mama, sementara Liona sedang memberi Elina dot yang berisi air susu.“Ya dong, Mama. Masa aku selalu kecil sih, harus pandai dong jadi gadis dewasa juga, hehe. Ma, coba lihat anak ini lucu banget kalau sedang mimik susu, membuat aku pengen terus menatapnya,” jawab Liona.“Ya lagian papanya juga cakep sih, buktinya kamu aja bisa kecantol olehnya. Coba dong ceritain gimana ceritanya kamu bisa menyukai Ali, setahu Mama kamu kan berpacaran dengan siapa tuh, yang pernah kamu bawa ke rumah waktu itu?” tanya Mamanya penasaran.“Riki, Ma. Liona sudah putus sama dia sebelum menjalin hubungan serius dengan Ali
Beberapa hari kemudian, tibalah di hari pernikahan Ali dengan Liona. Syukurnya semua berjalan dengan lancar sesuai harapan mereka. Pernikahan itu juga dilangsungkan dengan sangat sederhana, tanpa pesta dan tanpa resepsi besar-besaran seperti pernikahan Ali dengan Sasa sebelumnya. Itu Ali lakukan demi menghargai sang mendiang istri, dan Liona juga memahaminya serta menerima semuanya.Bagi Ali, jika dia mengadakan pernikahan dini dengan pesta besar, takutnya dia akan terus kepikiran Sasa, sementara Sasa belum lama meninggal. Dan walaupun Ali sekarang menikah lagi, Sasa akan selalu ada di hatinya, tertanam dalam pada diri putri mereka, Elina."Sa, maafkan aku. Demi putri kita aku harus menikah lagi. Tapi ketahuilah, kamu selalu di hatiku, selalu dalam doaku. Maafkan aku, sayang, aku tidak bermaksud menduakanmu. Aku mencintaimu selalu, Sa," kata Ali dalam hati setelah beberapa saat mengucapkan ijab kabul pernikahan dengan Liona.Liona sebenarnya tahu betul bahwa Ali belum bisa melupakan S
"Baik, sekarang Ali bawa Liona pulang bersamamu untuk memperkenalkan dia kepada keluargamu. Sementara om akan kembali ke Rusia sendiri untuk memberitahu tante kamu soal ini. Kami akan hadir nanti di acara pernikahan kalian. Om titip Liona, ya," ujar Tuan Folio meminta Ali untuk membawa Liona agar dikenalkan kepada keluarganya."Baik, Om. Ayo, Liona," ajak Ali.Liona yang masih malu-malu tidak mau melepaskan pelukan papanya. Ia malah menyembunyikan wajahnya dalam pelukan sang papa."Ayo sana, bukankah ini yang kamu inginkan? Ayo, keburu papa ketinggalan pesawat nanti," kata papanya."Pa... malu...""Kenapa harus malu? Ayo sana, cepat! Kalau tidak mau, biar papa seret ikut pulang nih.""Eemm... papa...""Astaga, lihat dirimu kayak anak-anak saja. Ali, tolong tarik ke pelukanmu, om harus segera pergi," ujar Tuan Folio.Ali memegang tangan Liona. Liona melirik ke belakang lalu kembali bersembunyi di pelukan papanya. Ia benar-benar malu sekali, sampai akhirnya papanya pun terpaksa melepask
Tiba-tiba Ali meneteskan air mata di saat Liona sedang menatap wajahnya, sepertinya Ali sedang memimpikan sesuatu yang begitu menyedihkannya hingga membuatnya sampai meneteskan air mata. Liona yang sedari tadi menatapnya pun terkejut, ia menjulurkan tangannya hendak mengusap air mata itu. Dan, “Sa
Roni mulai menyentuh dada Miya yang membuat Miya menutup matanya. Saat Roni menyadari bahwa dada Miya besar, dia semakin tidak bisa menahannya. Roni membantu Miya melepaskan bajunya dan mencium lehernya, sementara tangan Miya diarahkan ke sosis hangat Roni, sementara tangan Roni bermain di dada Miy
Pagi itu, Roni mengeluarkan ponsel yang diberikan Bobi kepadanya dari dalam tas dan menanyakan cara menggunakannya. “Miya, tolong dong kamu ajarin dia sampai bisa, ya,” pinta Bobi kepada Miya agar mengajarkan Roni cara menggunakan ponsel. “Baiklah, sini aku ajarin. Begini ya caranya,” kata Miya s
Malam semakin larut, dan suhu semakin dingin terasa karena hembusan angin malam di pantai itu. Namun, Roni dan Miya masih betah mengobrol di depan api unggun yang sudah hampir mati, menyisakan arang yang berpendar samar.Miya mulai bercerita tentang masa kecilnya yang ternyata pernah tinggal di kam