Share

Aku Ingin Pisah
Aku Ingin Pisah
Penulis: Deshika Widya

Chapter 1

Penulis: Deshika Widya
last update Tanggal publikasi: 2026-03-04 10:01:24

"Aku mau kita pisah!"

Satu kalimat itu berhasil membuat tatapan Ardian menajam. Kedua tangannya terkepal erat di samping tubuh hingga urat-uratnya terlihat.

"Bisa ulangi sekali lagi?"

"Aku mau kita pisah, Mas Ardian!"

Brak!

Teriakan Melan terdengar bersamaan dengan suara gebrakan meja yang sangat kencang, membuat ruangan kerja itu seketika sunyi. Hanya sesekali terdengar isak tangis Melan dan deru napas Ardian yang tak beraturan.

"Ke-kenapa, sih, Mas? Buat apa kita masih mempertahankan rumah tangga, sementara kamu aja udah dapat Lila?" Akhirnya Melan mengeluarkan suara lirih.

"Oma udah gak ada. Sekarang gak ada lagi yang mengikat kita, Mas. Kamu bisa lakukan apa pun sama Lila, tapi ceraikan aku dulu!"

Tangan Ardian makin mengepal. Ia maju selangkah hingga wajahnya nyaris tanpa jarak dengan wajah Melan. "Sampai kapan pun aku gak akan pernah menceraikanmu!"

"Tapi kenapa?" sahut Melan cepat.

Sungguh ia tidak mengerti jalan pikiran Ardian. 2 tahun lalu, mereka menikah secara paksa karena permintaan Oma Risma. Dan selama 2 tahun itu, keduanya menjalani rumah tangga yang hampa.

Melan tidak pernah sedikit pun mendapat perlakuan lembut, apalagi cinta dari Ardian. Laki-laki itu selalu sibuk bersama Lila—kekasihnya yang disembunyikan dari sang oma dan keluarga.

Ardian menarik pinggang sang istri hingga menempel padanya. Kemudian, ia tangkup wajah perempuan itu dengan sedikit kasar. "Karena kamu adalah tawananku," ucapnya penuh penekanan.

Melan segera menggeleng. "Kamu gak akan dapat apa-apa dengan menahanku, Mas. Justru kamu akan bebas dan bisa menikahi Lila kalau kita bercerai!"

"Tutup mulutmu, Melan!" sentak Ardian hingga membuat Melan terlonjak. Dadanya bergemuruh hebat setiap kali sang istri melontarkan kata pisah.

"Jadilah istri yang baik, dan jangan pernah berpikir kita akan pisah!"

Ardian melepas Melan setelah mengatakan itu. Kemudian, ia berjalan keluar ruangan seolah tanpa beban, meninggalkan Melan sendirian yang kini hanya mampu menangis dalam diam.

'Sebenarnya mau kamu apa, Mas?'

***

Rasanya tidak berguna Melan berlama-lama di kantor, sebab laki-laki yang ia temui pun sudah pergi. Akhirnya, ia memilih kembali ke rumah dengan tangan kosong. Entah harus seperti apa lagi Melan membujuk Ardian agar mau menceraikannya. Jujur saja, ia merasa tersiksa tiap kali melihat sang suami bersama Lila.

Bayangkan saja, hubungan gila ini sudah terjadi selama 2 tahun, dan Melan hanya bisa diam. Ia tidak memiliki pilihan selain mengikuti permainan Ardian demi Oma Risma. Wanita tua itu awalnya memang hanya pasien jompo yang ia rawat. Namun, sebagai perempuan yang sudah tak memiliki orang tua, kehangatan dan kebaikan Oma Risma membuat Melan terikat secara emosional. Ia akan melakukan apa pun agar Oma Risma semangat dalam menjalani sisa hidupnya.

Akan tetapi, kini satu-satunya pegangan Melan di rumah ini sudah pergi. Ia tak memiliki siapa pun lagi.

"Melan?"

Suara itu tiba-tiba muncul dari depan, membuat Melan mendongak. "Ferdi? Kapan kamu datang?"

Laki-laki yang mengenakan kemeja biru itu seolah tak punya niat untuk menjawab pertanyaan Melan. Ia melangkah lebih dekat, lalu balik bertanya, "Kenapa nangis? Ardian buat ulah lagi?"

Lagi.

Ya, sedikit banyak, Ferdi memang tahu kondisi rumah tangga sepupunya karena Melan sempat bercerita.

Melan segera menghapus jejak air mata di wajahnya, lalu duduk pada sofa yang ada di sana. "Aku habis dari kantor Mas Ardian."

Jawaban itu cukup membuat kening Ferdi mengernyit. Segera ia duduk di samping Melan. "Buat apa kamu ke sana? Lalu, apa yang Ardian lakukan sama kamu?"

Melan tak lantas menjawab. Ada helaan napas panjang yang mengisi jeda. Hingga dengan suara pelan ia berkata, "Aku baru minta pisah."

"Serius?"

Mata Ferdi seketika membulat. Ia terkejut, tapi senang dengan keputusan yang akhirnya berani Melan ambil. Jujur saja, sudah sejak lama ia menyaksikan bagaimana pernikahan Melan dan Ardian hanya sebuah status belaka. Terlebih, ia pun sering melihat Ardian terang-terangan berhubungan dengan Lila, tanpa memikirkan perasaan Melan.

Melan mengangguk pelan, membuat Ferdi menggeser duduknya agar lebih rapat. "Lalu, gimana reaksi Ardian? Dia setuju?"

"Mas Ardian gak mau bercerai, Fer."

Jawaban itu seketika membuat harapan Ferdi setengah pupus. Dadanya bergemuruh menahan emosi. "Kenapa bisa begitu? Bukannya selama ini dia cuma mencintai Lila?"

Melan kembali menggeleng. "Aku pun bingung, Fer. Aku gak tahu harus lakukan apa lagi sekarang. Hatiku terlalu sakit buat bertahan sama Mas Ardian," ucapnya lirih, diikuti isak pelan seiring cairan bening yang keluar dari sudut mata cantiknya.

Sungguh Ferdi tak tega. Ia melingkarkan tangan ke bahu Melan, membawa kepala perempuan itu bersandar di dadanya. "Kamu tenang aja, Mel. Aku akan bantu kamu biar bisa lepas dari Ardian. Aku janji."

"Tapi gimana caranya, Fer?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
kelamaan merawat oma yg jompo membuatnya. g bisa menggunakan otaknya buat mikir dan mencari jalan keluar buat cerai.
goodnovel comment avatar
kang halu
awal yg menarik
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Aku Ingin Pisah   AIP 40

    Ternyata dugaan Lila benar bahwa Ardian akan menemui Melan. Terbukti kini mobil laki-laki itu sudah masuk ke basement Mercure Tower. Setelah mobil Ardian tak terlihat, gegas Lila membawa mobilnya ke basement juga. Kemudian, melangkah cepat menuju lobi.Entah keberuntungan apa yang menyertai Lila hari ini. Tanpa perlu mencari ke unit, Ardian dan Melan ternyata sedang berdiri di lobi. Melan tampak menatap Ardian dingin, berbanding terbalik dengan laki-laki itu yang menatap Melan penuh permohonan.Cih!Lila benar-benar muak melihat Ardian yang seolah mengemis maaf dan cinta dari Melan. Padahal, selama ini ia sudah merelakan semuanya untuk laki-laki itu.Tanpa menunggu lebih lama, Lila melangkah mendekat pada mereka."Mas," panggilnya.Melan dan Ardian sontak menoleh dengan ekspresi berbeda. Ardian tampak terkejut, sedangkan Melan hanya menatap datar seolah kedatangan Lila bukan kejutan."Lila? Buat apa kamu ke sini?" tanya Ardian sembari menahan emosi. Ia menatap tajam sang kekasih.Lila

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 39

    "Dasar ga tahu malu!" teriak Hera yang langsung mengundang tatapan banyak pasang mata.Melihat itu, Melan dan Ferdi sontak berdiri. "Ada apa, sih, Ma? Malu dilihat orang," tegur Ferdi dengan suara pelan, tapi tajam. Ia tahu maksud teriakan sang mama tadi adalah untuk Melan. Karena itu ia harus segera mengambil tindakan agar tidak sampai terjadi keributan besar."Diam kamu, Ferdi! Ini urusan Mama sama dia!" Hera mengarahkan telunjuknya ke depan wajah Melan.Melan yang bingung hanya diam sambil sesekali melirik orang sekitar yang tampak keheranan. Sementara Ferdi segera menurunkan tangan sang mama dan coba bicara baik-baik dengannya."Tolong jangan buat keributan di sini, Ma. Gak enak—""Mama bilang diam!" Hera berteriak lagi hingga memotong ucapan Ferdi. Ia menatap tajam putra satu-satunya itu. "Cukup kamu bela dia terus, Fer! Dia cuma mau memanfaatkan kamu biar bisa lepas dari Ardian! Iya, kan?!"Melan segera menggeleng saat Hera mengalihkan tatapan padanya. Tentu itu fitnah, karena

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 38

    "Tolong izinkan Ardian menikah dengan Lila." Kalimat itu masih terus terngiang di telinga Melan. Ia berusaha mengusirnya, tapi tak bisa. Kenapa dunia begitu tega padanya? Kenapa semua orang selalu bersikap egois dan tidak memikirkan perasaannya? Tadi di rumah sakit, Opa Hendra baru saja memintanya untuk mengizinkn Ardian menikahi Lila. Gila! Ini sungguh gila! Padahal, ia kira pria tua itu sama baiknya dngan Oma Risma. Ternyata tidak. Melan meenghapus kasar air mata di wajahnya ketika mendengar ponselnya berbunyi pertanda panggilan masuk. Ternyata dari Ferdi. "Halo, Fer." Ia berusaha menormalkan suaranya. Namun, sepertinya telinga Ferdi memang terlalu tajam. "Mel? Kamu nangis?" Perempuan itu terdiam sebentar. Sebenarnya ia tidak ingin melibatkan Ferdi dalam masalah malam ini. Ia takut laki-laki itu tidak bisa menahan emosi lagi. "Enggak." Akhirnya Melan memilih berdusta. "Ada apa?" tanyanya kemudian. "Aku udah cari Ardian ke rumah Lila tapi gak ada. Satpam bilang, Lila lagi d

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 37

    Darah Ferdi langsung mendidih ketika mendengar cerita Melan tentang Lila yang tengah mengandung anak Ardian. Ia ingin sekali membalik meja kafe saat itu juga, tapi tidak ingin membuat keributan di luar. Terlebih, Melan sudah lebih dulu memintanya untuk tidak terpancingg emosi.Beberapa jam Ferdi bisa diam dan mengubur amarahnya dalam-dalam. Namun, tidak ketika sudah tak ada Melan di sisinya. Setelah mengantar peerempua itu pulang, ia langsung melajukan mobilnya menuju rumah Ardian tanpa pikir panjang.Ferdi tidak mau tahu. Pokoknya Ardian harus membayar rasa sakit hati Melan malam ini juga.Laju mobil yang dikemudikan Ferdi makin menggila. Beberapa pengendara yang dilewati, sampai mengumpat karena ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Saking tingginya, untuk tiba di depan rumah Ardian saja hanya memerlukan waktu 30 menit. Padahal normalnya bisa menghabiskan waktu hingga 1 jam perjalanan.Ferdi gegas turun dari mobil dan melangkah tegas menuju teras. Begitu pintu utama dibuka

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 36

    "Opa ...." Lila berbisik lirih. Hatinya hancur melihat sang opa terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Pria yang satu-satunyan ia miliki itu bahkan belum membuka mata semenjak tak sadarkan diri di restoran."Ke-kenapa bisa sampai begini, Mas?" tanyanya pada Ardian, sebab laki-laki itu yang mengabarinya dan membawa Opa Hendra ke rumah sakit.Ardian lebih dulu mendekat pada sang kekasih dan mengusap pundaknya pelan. "Tadi aku datang ke restoran buat makan siang. Begitu keluar, Opa tiba-tiba tampar aku dan dia pingsan. Mungkin ... Opa masih belum terima kalau kita punya hubungan, La."Lila terdiam. Memang semalam ia sempat beradu mulut dengan sang opa ketika mengatakann hubungannya dengan Ardian. Apalagi ketika ia bilang tengah meengandung anak dari laki-laki itu.Opa Hendra benar-benar marah besar. Bahkan tangannya hampir saja mendarat di pipi Lila kalau tidak segera tersadar. Pria itu tidak terima bahwa selama ini ia menjadi simpanan Ardian.Tangis Lila makin pecah mengingat kejadian

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 35

    "Aku lagi meengandung anak Mas Ardian."Dunia Melan seketika runtuh mendengar pengkuan Lila yang tidak dibantah oleh Ardian. Laki-laki itu hanya diam, tanpa menjelaskan apa-apa.Meski hatinya hancur, Melan tetap tersenyum di depan mereka. Ia tidak ingin terlihat lemah, apalagi di depan Lila."Selamat, ya," ucapnya tanpa melunturkan senyuman. Ia kemudian beralih menatap suaminya. "Aku pulang, Mas."Ardian ingin menahan, tapi rasanya percuma karena Melan pasti akan tetap pergi sekarang. Akhirnya ia hanya diam, menatap punggung sang istri hingga hilang dari pandangan.Sementara itu, Melan langsung memasuki taksi setelah memberhentikannya. Ia memejamkan mata sembari menahan sesak yang terus menghantam dada.Tuhan ... baru kali ini Melan merasakan sakit yang amat sangat atas pengkhianatan suaminya.'Ini yang kamu bilang terpaksa, Mas?' batin perempuan itu melirih.Sungguh tidak masuk logika. Mana mungkin Ardian terpaksa jika sampai bisa menghamili Lila?'Kalian berdua memang bajingan!'Per

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 6

    "Jangan pernah coba-coba buat kabur, Melan!"Suara Ardian terdengar dingin dan menusuk, membuat tubuh Melan kian membeku. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Berusaha tetap kabur pun percuma karena ternyata di luar rumah sudah berdiri beberapa orang pria yang ia yakini adalah orang suruhan sang

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 5

    Tatapan Melan menajam. Tangannya terkepal melihat Ferdi berdiri di depan pintu rumahnya. Tanpa berkata apa pun, ia melewati laki-laki itu begitu saja.Tentu Ferdi tidak tinggal diam. Ia pun bingung dengan sikap melan. Gegas laki-laki itu masuk ke rumah dan mengejar langkah Melan yang sudah hendak m

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 4

    Ketukan pintu kamar terdengar saat Melan tengah menyisir rambut panjangnya di depan meja rias. Ia letakkan sejenak sisir tersebt pada tempatnya, lalu berjalan ke dekat pintu. Dibukanya pintu kamar yang semula masih dikunci itu."Mas Ardian?"Ya, ternyata Ardian yang menyambangi kamarnya pagi-pagi b

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 3

    "Melan, tunggu!"Suara Ardian berhasil menghentikan langkah kaki Melan yang hendak menaiki anak tangga. Perempuan itu menoleh sedikit pada sang suami. "Apa?" tanyanya datar."Apa yang Ferdi bilang sama kamu?"Kening Melan jelas mengkerut mendengar pertanyaan itu. "Maksudnya?"Ardian maju selangkah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status