MasukKetukan pintu kamar terdengar saat Melan tengah menyisir rambut panjangnya di depan meja rias. Ia letakkan sejenak sisir tersebt pada tempatnya, lalu berjalan ke dekat pintu. Dibukanya pintu kamar yang semula masih dikunci itu.
"Mas Ardian?" Ya, ternyata Ardian yang menyambangi kamarnya pagi-pagi begini. Ardian menghela napas sejenak. Ia seolah kebingungan sendiri untuk berbicara pada sang istri. Apalagi setelah cekcok kemarin. "Mau berangkat sekarang, kan? Ngapain ke sini dulu?" Pertanyaan itu membuat Ardian menatap Melan lamat-lamat. Ternyata perempuan itu sudah tahu maksud kedatangannya. "Iya. Aku pergi," katanya. Melan hanya mengangguk pelan dan tak mengeluarkan sepatah kata pun. Hah, memangnya dia mau bilang apa? Mau melarang Ardian agar tidak pergi? Tidak akan pernah lagi! Ia akui dulu terlalu bodoh sehingga selalu memohon agar Ardian tetap tinggal saat laki-laki itu akan pergi dengan Lila. Melan akan melakukan apa pun supaya sang suami mengurungkan niatnya. Bahkan saat di titik tergilanya, ia pernah berpura-pura sakit. Namun, tentu itu semua tidak berhasil mencegah langkah Ardian untuk pergi. Hah, Melan ingin tertawa saja rasanya jika mengingat kebodohannya yang dulu. Jika saja setelah Oma Risma meninggal, ia langsung meminta cerai pada Ardian, mungkin saat ini ia sudah bisa keluar dari sangkar emas yang penuh penderitaan itu. Ardian menatap Melan cukup lama karena perempuan itu hanya diam saja. "Jangan pernah masukkan Ferdi ke rumah ini selama aku gak ada!" Kening Melan seketika mengkerut mendengar peringatan suaminya. "Aku memang pergi. Tapi, mata-mataku akan terus memantau pergerakanmu, Melan. Jadi, jangan macam-macam." Melan sama sekali tak menanggapi ucapan Ardian hingga laki-laki itu pergi dari hadapannya. Ia memilih kembali masuk ke kamar dan melanjutkan kegiatan yang tadi sempat tertunda. Ada sesuatu yang harus ia selesaikan selama Ardian tidak ada. Persetan dengan mata-mata yang dikatakan oleh sang suami. Ia sama sekali tak peduli. *** Selama di perjalanan, entah kenapa Ardian merasa tak tenang. Ingatanya selalu tertuju pada sikap Melan yang benar-benar sudah berubah. Selain membangkang, perempuan itu juga terlampau dingin sekarang. Jujur saja, di satu sisi ia takut perkataan Ferdi semalam adalah benar. Namun, di sisi lain, ia pun tak bisa melakukan banyak hal karena sudah terikat oleh Lila. Ah, sial! Kenapa hidupnya jadi rumit seperti ini? Padahal sebelumnya semua aman terkendali. 'Ck! Ini gara-gara si Ferdi!' decaknya dalam hati. Entah kenapa, kuat sekali dugaan Ardian bahwa Ferdi memang penyebab keretakan rumah tangganya dengan Melan. "Sayang!" Ardian tersadar saat mendengar suara keras Lila dari sampingnya. Perempuan itu tampak cemberut, entah kenapa. "Bisa gak usah teriak, gak?" tanyanya ketus. Lila berdecak kesal sambil melepaskan tangannya dari lengan laki-laki itu. "Habis kamu dari tadi ngelamun terus. Lagi mikirin apa, sih? Aku ngomong sampai gak ditanggapi lho." Huft! Ardian menghela napas kasar, lalu menggeleng pelan. "Kamu ngomong apa?" tanyanya, agar masalah tidak diperpanjang. Akan tetapi, Lila sepertinya bisa menebak jalan pikiran Ardian. Karena itu, ia sama sekali tidak terjebak dan tetap menanyakan apa yang sang kekasih pikirkan sejak tadi. Sama seperti Lila yang bersikeras mengorek informasi, Ardian pun sekuat tenaga menahan agar tak mengatakan apa-apa pada Lila. Ia masih belum mau bercerita. Terlebih, memang harusnya perempuan itu tidak perlu tahu tentang masalahnya. "Kamu aneh banget, sih, Mas! Semalam aku ajak liburan juga sempat nolak. Apa ini gara-gara si Lila? Jangan-jangan dari tadi kamu ngelamunin dia?" Ardian menoleh pada sang kekasih yang tengah menatapnya curiga. Namun, ia tetap tak mengeluarkan kata. Hingga tiba-tiba saja perempuan itu melontarkan pertanyaan yang membuatnya kembali merenung cukup lama. "Atau jangan-jangan ... kamu udah punya perasaan sama Melan?" Sementara itu di lain tempat, Melan baru saja meninggalkan loket informasi di sebuah pengadilan agama. Ia sengaja datang ke tempat ini untuk menanyakan apa saja yang diperlukan untuk mengajukan perceraian. Sayangnya, ia belum memenuhi syarat. Menurut informasi yang didapatkan, ia harus sudah pisah rumah dengan sang suami setidaknya selama enam bulan, baru bisa mengajukan gugatan. Sementara sekarang, mereka saja masihh tinggal di rumah yang sama. "Apa aku diam-diam keluar dari rumah aja, ya? Mumpung Mas Ardian gak ada," gumamnya pelan. Sepertinya ide itu tidak buruk. Melan bisa mencari sebuah kontrakan yang cukup jauh dan terpencil hingga sulit dijangkau oleh sang suami. Namun, tentu saja tidak bisa ia lakukan sekarang karena tahu pasti mata-mata Ardian masih berkeliaran. Perempuan itu segera masuk mobil dan meminta sopir untuk mengantarnya pulang. Ia akan memikirkan kembali strategi untuk kabur ketika sudah tiba di rumah nanti. Melan perlu berpikir dengan jernih agar langkahnya tepat dan membuahkan hasil. Namun, sayang sekali. Ketika tiba di rumah, harapannya pupus seketika melihat seorang lelaki berdiri dengan gagah di depan pintu, seolah sedang menantinya.Ternyata dugaan Lila benar bahwa Ardian akan menemui Melan. Terbukti kini mobil laki-laki itu sudah masuk ke basement Mercure Tower. Setelah mobil Ardian tak terlihat, gegas Lila membawa mobilnya ke basement juga. Kemudian, melangkah cepat menuju lobi.Entah keberuntungan apa yang menyertai Lila hari ini. Tanpa perlu mencari ke unit, Ardian dan Melan ternyata sedang berdiri di lobi. Melan tampak menatap Ardian dingin, berbanding terbalik dengan laki-laki itu yang menatap Melan penuh permohonan.Cih!Lila benar-benar muak melihat Ardian yang seolah mengemis maaf dan cinta dari Melan. Padahal, selama ini ia sudah merelakan semuanya untuk laki-laki itu.Tanpa menunggu lebih lama, Lila melangkah mendekat pada mereka."Mas," panggilnya.Melan dan Ardian sontak menoleh dengan ekspresi berbeda. Ardian tampak terkejut, sedangkan Melan hanya menatap datar seolah kedatangan Lila bukan kejutan."Lila? Buat apa kamu ke sini?" tanya Ardian sembari menahan emosi. Ia menatap tajam sang kekasih.Lila
"Dasar ga tahu malu!" teriak Hera yang langsung mengundang tatapan banyak pasang mata.Melihat itu, Melan dan Ferdi sontak berdiri. "Ada apa, sih, Ma? Malu dilihat orang," tegur Ferdi dengan suara pelan, tapi tajam. Ia tahu maksud teriakan sang mama tadi adalah untuk Melan. Karena itu ia harus segera mengambil tindakan agar tidak sampai terjadi keributan besar."Diam kamu, Ferdi! Ini urusan Mama sama dia!" Hera mengarahkan telunjuknya ke depan wajah Melan.Melan yang bingung hanya diam sambil sesekali melirik orang sekitar yang tampak keheranan. Sementara Ferdi segera menurunkan tangan sang mama dan coba bicara baik-baik dengannya."Tolong jangan buat keributan di sini, Ma. Gak enak—""Mama bilang diam!" Hera berteriak lagi hingga memotong ucapan Ferdi. Ia menatap tajam putra satu-satunya itu. "Cukup kamu bela dia terus, Fer! Dia cuma mau memanfaatkan kamu biar bisa lepas dari Ardian! Iya, kan?!"Melan segera menggeleng saat Hera mengalihkan tatapan padanya. Tentu itu fitnah, karena
"Tolong izinkan Ardian menikah dengan Lila." Kalimat itu masih terus terngiang di telinga Melan. Ia berusaha mengusirnya, tapi tak bisa. Kenapa dunia begitu tega padanya? Kenapa semua orang selalu bersikap egois dan tidak memikirkan perasaannya? Tadi di rumah sakit, Opa Hendra baru saja memintanya untuk mengizinkn Ardian menikahi Lila. Gila! Ini sungguh gila! Padahal, ia kira pria tua itu sama baiknya dngan Oma Risma. Ternyata tidak. Melan meenghapus kasar air mata di wajahnya ketika mendengar ponselnya berbunyi pertanda panggilan masuk. Ternyata dari Ferdi. "Halo, Fer." Ia berusaha menormalkan suaranya. Namun, sepertinya telinga Ferdi memang terlalu tajam. "Mel? Kamu nangis?" Perempuan itu terdiam sebentar. Sebenarnya ia tidak ingin melibatkan Ferdi dalam masalah malam ini. Ia takut laki-laki itu tidak bisa menahan emosi lagi. "Enggak." Akhirnya Melan memilih berdusta. "Ada apa?" tanyanya kemudian. "Aku udah cari Ardian ke rumah Lila tapi gak ada. Satpam bilang, Lila lagi d
Darah Ferdi langsung mendidih ketika mendengar cerita Melan tentang Lila yang tengah mengandung anak Ardian. Ia ingin sekali membalik meja kafe saat itu juga, tapi tidak ingin membuat keributan di luar. Terlebih, Melan sudah lebih dulu memintanya untuk tidak terpancingg emosi.Beberapa jam Ferdi bisa diam dan mengubur amarahnya dalam-dalam. Namun, tidak ketika sudah tak ada Melan di sisinya. Setelah mengantar peerempua itu pulang, ia langsung melajukan mobilnya menuju rumah Ardian tanpa pikir panjang.Ferdi tidak mau tahu. Pokoknya Ardian harus membayar rasa sakit hati Melan malam ini juga.Laju mobil yang dikemudikan Ferdi makin menggila. Beberapa pengendara yang dilewati, sampai mengumpat karena ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Saking tingginya, untuk tiba di depan rumah Ardian saja hanya memerlukan waktu 30 menit. Padahal normalnya bisa menghabiskan waktu hingga 1 jam perjalanan.Ferdi gegas turun dari mobil dan melangkah tegas menuju teras. Begitu pintu utama dibuka
"Opa ...." Lila berbisik lirih. Hatinya hancur melihat sang opa terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Pria yang satu-satunyan ia miliki itu bahkan belum membuka mata semenjak tak sadarkan diri di restoran."Ke-kenapa bisa sampai begini, Mas?" tanyanya pada Ardian, sebab laki-laki itu yang mengabarinya dan membawa Opa Hendra ke rumah sakit.Ardian lebih dulu mendekat pada sang kekasih dan mengusap pundaknya pelan. "Tadi aku datang ke restoran buat makan siang. Begitu keluar, Opa tiba-tiba tampar aku dan dia pingsan. Mungkin ... Opa masih belum terima kalau kita punya hubungan, La."Lila terdiam. Memang semalam ia sempat beradu mulut dengan sang opa ketika mengatakann hubungannya dengan Ardian. Apalagi ketika ia bilang tengah meengandung anak dari laki-laki itu.Opa Hendra benar-benar marah besar. Bahkan tangannya hampir saja mendarat di pipi Lila kalau tidak segera tersadar. Pria itu tidak terima bahwa selama ini ia menjadi simpanan Ardian.Tangis Lila makin pecah mengingat kejadian
"Aku lagi meengandung anak Mas Ardian."Dunia Melan seketika runtuh mendengar pengkuan Lila yang tidak dibantah oleh Ardian. Laki-laki itu hanya diam, tanpa menjelaskan apa-apa.Meski hatinya hancur, Melan tetap tersenyum di depan mereka. Ia tidak ingin terlihat lemah, apalagi di depan Lila."Selamat, ya," ucapnya tanpa melunturkan senyuman. Ia kemudian beralih menatap suaminya. "Aku pulang, Mas."Ardian ingin menahan, tapi rasanya percuma karena Melan pasti akan tetap pergi sekarang. Akhirnya ia hanya diam, menatap punggung sang istri hingga hilang dari pandangan.Sementara itu, Melan langsung memasuki taksi setelah memberhentikannya. Ia memejamkan mata sembari menahan sesak yang terus menghantam dada.Tuhan ... baru kali ini Melan merasakan sakit yang amat sangat atas pengkhianatan suaminya.'Ini yang kamu bilang terpaksa, Mas?' batin perempuan itu melirih.Sungguh tidak masuk logika. Mana mungkin Ardian terpaksa jika sampai bisa menghamili Lila?'Kalian berdua memang bajingan!'Per
"Aku mau kita pisah!"Satu kalimat itu berhasil membuat tatapan Ardian menajam. Kedua tangannya terkepal erat di samping tubuh hingga urat-uratnya terlihat."Bisa ulangi sekali lagi?""Aku mau kita pisah, Mas Ardian!"Brak!Teriakan Melan terdengar bersamaan dengan suara gebrakan meja yang sangat k
"Mas Ardian!" Teriakan itu terdengar memenuhi kamar. Melan tahu itu adalah suara Lila. Namun, tak ada niat untuknya menoleh barang sedikit saja.Melan masih tetap membelakangi Ardian sembari membungkus tubuh polosnya menggunakan selimut. Sementara matanya yang basah menatap nanar ke luar jendela.
"Jangan pernah coba-coba buat kabur, Melan!"Suara Ardian terdengar dingin dan menusuk, membuat tubuh Melan kian membeku. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Berusaha tetap kabur pun percuma karena ternyata di luar rumah sudah berdiri beberapa orang pria yang ia yakini adalah orang suruhan sang
Tatapan Melan menajam. Tangannya terkepal melihat Ferdi berdiri di depan pintu rumahnya. Tanpa berkata apa pun, ia melewati laki-laki itu begitu saja.Tentu Ferdi tidak tinggal diam. Ia pun bingung dengan sikap melan. Gegas laki-laki itu masuk ke rumah dan mengejar langkah Melan yang sudah hendak m







