Masuk"Ouh, geli, Ja! Ah-ah," raung Susan semakin nyaring. Suaranya bergema memenuhi ruangan klinik yang sunyi, memecah hening dengan nada desahan melengking yang tak lagi mampu ditahannya.Dalam hati Teja paham betul bahwa dengan ia membuka kembali kekakuan dan letak saraf-saraf itu secara otomatis akan membuka kembali pintu kenikmatan bagi Susan yang sebelumnya terbelenggu. Belenggu trauma belasan tahun yang mengunci respon alami tubuh gadis itu kini perlahan luruh, tergantikan oleh sensitivitas murni yang selama ini terendam rapat di balik rasa takut dan rasa sakit."Tahan ya, San," Teja menambah tekanan jemarinya, memadukan pijatan dan penyaluran energi Qi. Aliran hawa murni kebiruan yang terpancar dari telapak tangan Teja bergerak semakin intensif, mendorong sisa-sisa simpul tegang di sepanjang otot paha hingga benar-benar terurai sempurna. Setiap dorongan lembut energi tersebut memberikan rangsangan kejutan hangat yang langsung menjalar ke pusat saraf sensitif Susan."Oh-oh, Ja! P
Rabaan tangan Teja kembali bergerak mencari titik yang menyebabkan keluhan Susan. Jemari besarnya bergeser secara perlahan dan teliti, menelusuri tiap lekuk otot paha mulus yang terasa sedikit tegang.Ia juga mengaktifkan mata batinnya untuk memeriksa jaringan di bawah kulit paha mulus tersebut. Pancaran penglihatan spiritual Teja menyusup menembus lapisan dermis, memindai alur pembuluh darah, jaringan saraf, serta kelenjar otot yang tersembunyi di area tersebut.Tak lama kemudian ia mengangguk-angguk. Jalur tubuh di area tersebut memang menunjukkan adanya jejak trauma lama yang belum sepenuhnya pulih. "Kamu pernah cedera pas masih kecil dulu?" tanya Teja lembut.Susan mengangguk. Matanya bergetar menatapi langit-langit ruangan klinik, mengenang memori kelam yang sekian lama tertimbun rapat di dalam benaknya. "Dulu pas kelas 6 SD sepedaku sempat ditabrak motor yang dikendarai oleh orang mabuk. Terus..." Susan menghentikan kalimatnya. Air matanya mengalir di pipi, menetes melewat
"E-eh, enggak kok, San," Teja membuang wajah, mengalihkan pandangannya ke sudut ruangan lain demi menutupi rasa canggung dan gejolak yang mendadak melintas di dadanya.Susan mendekat hingga berhadapan dengan Teja. Langkah kakinya begitu tenang, memangkas habis jarak di antara mereka hingga hembusan napasnya mulai terasa di sekitar leher Teja. "Baru kali ini aku lihat cowok kok polos banget kayak kamu, Ja. Biasanya cowok tuh justru suka jelalatan matanya," ucap Susan lembut."I-iya, San," sahut Teja terbata, berusaha keras menjaga ritme pernapasan dan detak jantungnya agar tetap stabil di bawah tatapan tajam nan memikat dari gadis di depannya."Kamu kenapa melengos gitu? Badanku jelek ya?" pancing Susan, memiringkan kepalanya sedikit untuk mengamati reaksi pemuda di hadapannya."Bukan, San. Aku... aku..." Teja kehabisan kata-kata, lidahnya terasa kelu untuk menyusun alasan yang logis."Kamu nggak suka?!" seru Susan dengan nada merajuk yang begitu lucu, berpura-pura kesal."Eh su-suka
Mobil sport mewah itu terus meluncur mulus membelah aspal kota. Kehadiran sedan hitam mengkilap dengan garis desain yang begitu aerodinamis itu semakin menarik perhatian banyak pasang mata pengguna jalan di sepanjang rute yang mereka lalui.Teja mengarahkan mobil menuju warung bakso langganannya. Ia mengemudikan kendaraan bernilai miliaran rupiah tersebut dengan sangat tenang, memutarkan kemudi memasuki area parkir sederhana di pinggir jalan yang cukup ramai pengunjung."Bakso ini rekomendasi banget, San. Kuahnya seger, baksonya juga enak," terang Teja saat mereka turun dari mobil dan melangkah menuju warung bakso tersebut. Suara bising kendaraan jalan raya menyambut kedatangan mereka, namun tak mengurangi kenyamanan tempat makan sederhana itu.Mereka memesan dua mangkok bakso dan dua gelas es degan. Tak butuh waktu lama, dua porsi bakso daging sapi yang masih mengepulkan uap panas beserta minuman segar es kelapa muda disajikan rapi di atas meja kayu.Susan dengan cepat langsung m
Dua mobil memasuki halaman rumah Teja siang itu. Deru halus mesin Pajero Sport putih dan suara khas mesin Maserati Quattroporte GTS V8 bergema pelan saat kedua kendaraan mewah tersebut meluncur beriringan melewati gerbang pagar.Toni keluar ke teras menatap mobil Maserati Quattroporte GTS V8 yang dikendarai Susan. Pandangan mata pria paruh baya itu terkunci pada desain bodi sedan sport hitam yang sangat elegan dan memancarkan aura kemewahan kelas atas tersebut.Untung saja garasi rumah baru Teja itu cukup luas. Setidaknya empat mobil ukuran SUV masih bisa muat tanpa saling menghalangi ruang gerak satu sama lain.Teja turun dari Pajero Sport putihnya bersamaan dengan Susan yang turun dari Maserati. Pemuda itu mengitarinya, menghampiri Susan yang baru saja mematikan mesin kendaraan bernilai miliaran rupiah tersebut."Nggak jadi kuliah tadi kamu, Ja?" tegur Toni sembari melangkah turun dari teras, menatap putranya dengan dahi berkerut penasaran."Iya, Yah. Tadi aku nolongin ayahnya Su
Reza mengangkat kunci mobilnya, memamerkan gantungan kunci berlogo trisula yang elegan di hadapan Teja. "Mobil hitamku yang di depan itu Maserati Quattroporte GTS V8. Harganya masih di kisaran 5,5 sampai 6 miliar. Itu buat kamu," ucap Reza tenang tanpa ada keraguan sedikitpun.Jantung Teja seperti hampir meletus mendengarnya. Aliran darahnya mendadak berdesir hebat, sementara matanya membelalak tak percaya menatapi kunci kendaraan mewah yang kini terulur di atas meja makan. "Mas Reza?!" serunya bingung harus menanggapi dengan kalimat apa."Nyawa ayahku nggak sebanding sama itu semua, Ja," pangkas Reza lugas, menegaskan betapa berharganya sosok Bob Salim bagi mereka."Tapi... tapi aku tadi udah dikasih 1 miliar kan? Masa sekarang malah dikasih lagi mobil 6 miliar?!" protes Teja gagap. Otaknya serasa membeku membayangkan nilai nominal total miliaran yang mendadak digelontorkan padanya dalam kurun waktu sangat singkat.Lala tersenyum anggun, memandangi Teja dengan tatapan seorang kak
Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri
“Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha
"Kamu bukan tandingan guru silat itu, Tang. Mereka memiliki keahlian bela diri dan terlatih, beda sama kamu yang cuma bisa tawuran," ujar Teja menolak tawaran Bintang dengan nada yang tetap tenang dan realistis.Bintang menunduk lesu dan segera mundur ke samping posisi berdiri Nana, merasa malu di
“Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter







