Share

39. Pesta Gila

Penulis: Leva Lorich
last update Tanggal publikasi: 2026-06-15 10:47:05

Bab 39

TINN!

TINN.

Leon menekan klakson beberapa kali saat mobilnya mendekati sebuah vila besar yang letaknya sedikit terpisah dari kumpulan vila lainnya.

Pintu pagar tinggi langsung terbuka begitu saja, memudahkan mobil mewah Leon memasuki carport vila tersebut.

Di belakang sana, dua penjaga kembali menutup pintu pagar itu dengan sigap dan waspada.

“Yon, kok sepi? Katanya temen-temen SMA kita bakal datang ke sini?“ perasaan Nana semakin tak enak.

“Belum datang kayaknya, Na. Santai aja, nanti j
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   41. Menolongnya

    “Mereka sudah diamankan, Tang?“ tanya Teja ketika mobil sudah melaju cepat menuruni arega pegunungan tersebut.“Beres, Bos. Enam orang sudah dibawa anak buah kita ke markas. Siap menunggu instruksi Bos Teja selanjutnya,” jawab Bintang sembari tetap fokus mengemudi.Mobil semakin melesat cepat memasuki kota di bawah kendali Bintang yang ternyata sangat mahir mengemudi.“Tang, tolong arahkan mobil ke rumah Nana dulu. Setelah itu tolong kamu antarkan Citra pulang ya,” perintah Teja penuh ketegasan.“Baik, Bos,” jawab Bintang tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan aspal di depan mereka.Tak lama kemudian mobil sudah tiba di depan rumah Nana. Teja segera menuntun Nana masuk ke rumahnya tersebut, sedangkan Bintang kembali melajukan mobil untuk mengantar Citra pulang.“Bawa, aku langsung ke kamar, Jo. Orang tuaku nggak ada di rumah. Mereka sering banget ke luar kota,” lirih Nana bernada kecewa karena kurangnya perhatian kedua orang tuanya.Teja mendudukkan Nana di ranjang kamarnya, kemudia

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   40. Membawa Pulang

    Nana dan Citra terbelalak kaget. Mereka tak menyangka jika skenario Leon dan Marcel akan sebejat ini!“Ja-jangan, jangan mendekat! Aku nggak mau!“ susah payah Nana melontarkan kalimatnya dalam deraan rasa ingin yang kian menjalari tubuhnya. Jantung sudah berdegup sangat kencang.“Tolong, ampun. Jangan kayak gini!“ imbuh Citra yang tak kalah memerah wajahnya terdesak hasrat.Mereka berdua baru menyadari jika es buah yang mereka minum tadi nampaknya telah dicampurkan obat afrodisiak oleh dua pria tak tahu diri tersebut.Meski mendengar teriakan itu, Leon dan Marcel masih diam tak bergerak. Hanya tangan mereka yang kini bergerak mengelus milik masing-masing yang sudah mengembang di balik celana dalam sembari menatap mesum ke arah Citra dan Nana.“Terus saja silakan menolak. Nggak lama lagi kalian bakal sepenuhnya menggelepar dan justru meminta-minta sama kami, hehe,” suara Marcel menyeruak di dalam keheningan kamar vila itu yang entah kenapa justru terdengar begitu seksi di telinga Nana

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   39. Pesta Gila

    Bab 39TINN!TINN.Leon menekan klakson beberapa kali saat mobilnya mendekati sebuah vila besar yang letaknya sedikit terpisah dari kumpulan vila lainnya.Pintu pagar tinggi langsung terbuka begitu saja, memudahkan mobil mewah Leon memasuki carport vila tersebut.Di belakang sana, dua penjaga kembali menutup pintu pagar itu dengan sigap dan waspada.“Yon, kok sepi? Katanya temen-temen SMA kita bakal datang ke sini?“ perasaan Nana semakin tak enak.“Belum datang kayaknya, Na. Santai aja, nanti juga dateng sendiri. Turun yuk,” jawab Leon santai sembari membuka pintu mobilnya.Meski enggan dan ragu, Nana tetap memberanikan diri untuk turun dan mengikuti langkah Leon masuk ke dalam vila.Begitu mereka tiba di dalam sana, seorang pria lain menyambut dengan riang.“Ahhh, akhirnya si cantik Nana juga dateng. Makin seru nih pesta kita nanti,” sambut Marcel dengan senyum terkembang.Tak hanya itu, dari pintu toilet keluar sosok Citra, sahabat Nana.“Lho, Ci. Kamu sudah dateng juga rupanya?!“ s

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   38. Vila Luar Kota

    'Bongsor! Kamu itu kenapa gede banget sih? Bikin repot aja! Udah gitu, susah muncrat pula, huhh!' geram Teja menoyor gemas miliknya sendiri yang menjulang bebas ke angkasa.Seperti memiliki pikiran, miliknya dengan gagah berani memantul-mantul, menampar tangan Teja seolah menantangnya.Tak mau menyakiti diri sendiri, Teja mengalihkan pikirannya untuk menerawang Nana.Ia dengan jelas bisa mengindrakan baby doll bunga-bunga yang tadi sudah sempat ia tebak di depan sang ayah.Perlahan perasaannya mencoba meresapi apa yang ada di balik baby doll tersebut. Dan seketika itu juga Teja terlonjak dari posisi rebahnya, membuat miliknya yang berdiri bebas tanpa celana itu ikut melompat tinggi seperti rudal balistik yang baru saja diluncurkan.'Nana nggak pakai beha sama CD?! Ada-ada aja sih tuh anak!' tangan Teja meraih ponsel di samping bantal, berniat menghubungi Nana.Namun setelah itu ia meletakkan kembali ponselnya karena tak ingin Nana menjadi penasaran sendiri atau bahkan menuduhnya meng

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   37. Kuning Mencolok

    “Gampangnya, kita langsung praktik saja. Coba kamu baca apa karakter ayah!“ perintah Toni kemudian.Teja terdiam. Menatap wajah ayahnya dan berkonsentrasi.“Pusatkan pikiranmu pada fisik dan wajah ayah. Nanti akan muncul jawaban yang berupa kata hati. Rasakan itu dalam dadamu,” imbuh sang ayah memberikan tuntunan.Teja melakukan seperti apa yang diperintahkan ayahnya. Perlahan muncul cerminan perasaan dalam hatinya yang kemudian membentuk gambaran abstrak di dalam pikirannya.“Ehmm, weton pon. Ayah adalah tipe petarung solo dalam banyak hal mau itu pertarungan sebenarnya ataupun pertarungan hidup buat nyari nafkah. Ayah bukan orang yang suka bergerombol atau berkelompok buat berjuang,” ungkap Teja mencoba membaca gambaran abstrak di dalam pikirannya tersebut.Toni mengangguk dan tersenyum senang. “Bagus, lanjutkan!“Teja kembali memusatkan perhatian dan konsentrasinya. Lamat-lamat gambaran abstrak itu muncul lagi dan kini jauh lebih jelas daripada sebelumnya.“Ayah adalah sosok pemiki

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   36. Cenayang

    “Dua tamparan itu buat imbalan karena kamu sudah berani menyewa Bintang dan ngerusak rumahku!“ seru Teja tegas.Bibir Prapto pecah. Beberapa giginya juga copot dari akarnya. Darah mengalir semakin banyak dari bibirnya.Tamparan Teja memang tidak terlihat terlalu keras. Namun lambaran energi Qi yang menyertainya membuat tamparan itu menjadi berkali-kali lipat daya gempurnya.Kepala Prapto terkulai. Tubuhnya masih terkunci erat oleh anak buah Bintang. “Sudah, Teja, sudah… ampunnn!“ lirih Prapto kehilangan daya sokong tubuhnya karena rentetan tamparan tadi.Teja menanggapinya dengan gelengan pelan. “Apa kamu pikir aku bakal percaya gitu aja? Enggak, Pak Prapto. Kemarin, aku melepaskanmu tapi kamu justru ngasih ancaman ke aku, bahkan berani nyewa kelompoknya Bintang!“ semburnya.“Nggak, Ja. Kali ini aku jujur. Aku kapok!“ balas Prapto dengan tatapan menghiba.“Kamu kapok sama aku, tapi nanti Bu Septa kamu sakiti lagi?!“ desak Teja mengejar sikap tunduk Prapto secara menyeluruh.“Enggak, J

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status