แชร์

11. Rencana yang Berkhianat

ผู้เขียน: malapalas
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-04 10:14:08

​(Malam Kejadian – Di Luar Ruang Kerja Aaron)​

Di luar pintu ruang kerja CEO, langkah kaki seorang wanita cantik menggema di lorong eksekutif yang sunyi. Jessi berjalan dengan dagu terangkat, membiarkan gaun merah marun melekat sempurna mengikuti lekuk tubuhnya. Setiap ketukan hak sepatunya di atas lantai tersebut terdengar seperti menyebarkan sikap angkuh yang tenang.​

Senyum tipis terukir di bibirnya yang merah menyala. Semuanya berjalan sesuai rencana. Ia telah memastikan cairan "Luna's Lust
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Anak Rahasia Sang Alpha   220. Ramuan yang Sirna

    Tekanan cakar Aaron menghunjam semakin dalam tanpa ampun. Rasa sakit yang membakar menjalar dari dada kiri Damian, disusul darah segar yang kembali menyembur dari mulutnya.Napasnya langsung tersengal hebat.Aaron tidak berkata apa-apa.Sorot matanya tetap dingin, bahkan nyaris tanpa emosi, seolah hanya sedang menyaksikan mangsa yang perlahan kehilangan seluruh harapan hidupnya.Bersamaan dengan luka fatal yang terus menguras darahnya, aliran sihir yang menopang ramuan penyamar mulai kacau. Konsentrasi Damian runtuh. Dalam sekejap, selubung ilusi yang menyelimuti tubuhnya pecah tak berbekas.​Detik itu juga, sosok Damian yang awalnya tak kasatmata kini mendadak muncul begitu saja di hadapan semua orang.Para prajurit yang sejak tadi hanya melihat Aaron bertarung dengan ruang kosong langsung membelalak."Itu—""Ada orang di sana!""Jadi benar-benar ada penyusup!"Suara keterkejutan bersahutan memenuhi hutan pinus.Beberapa prajurit bahkan refleks mengangkat senjata mereka, sementara ya

  • Anak Rahasia Sang Alpha   219. Pengakuan Sang Pembantai

    Keheningan hutan pinus mendadak terasa begitu menyesakkan. Di atas tanah basah yang telah ternoda darah, Aaron masih menatap pria bermantel hitam itu dengan sorot mata dingin yang sanggup membekukan siapa pun.Cakar tajamnya tetap menancap di dada kiri Damian, menahan pria itu agar tidak bergerak sedikit pun.Dengan tangan yang lain, Aaron perlahan merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan sebuah cincin bermata merah, benda yang sejak beberapa waktu terakhir tak pernah lepas dari genggamannya.Kilau batu merah itu memantulkan cahaya redup di sela-sela pepohonan pinus."Damian...." Suara Aaron terdengar datar, namun dinginnya menusuk hingga ke tulang. Ia mengangkat cincin itu tepat di depan wajah lawannya. "Kamu tahu ini apa?"Begitu melihat cincin tersebut, mata Damian langsung melebar."B-bagaimana ... cincin itu bisa ada padamu?" tanyanya spontan.Kepanikan yang muncul di wajahnya tak sempat lagi ia sembunyikan.Sudut bibir Aaron terangkat tipis."Kenapa?" tanyanya pelan. "Apa cincin

  • Anak Rahasia Sang Alpha   218. Terdesak

    ​Pria bermantel hitam itu sadar bahwa lari bukanlah lagi sebuah pilihan. Dalam sepersekian detik, jemarinya bergerak liar, menembus saku mantelnya dan melayangkan sebuah pukulan fatal berlapis sihir penembus ke arah dada Aaron.​Namun, Aaron hanya menyeringai kejam.​BAM!​Tanpa berkedip, sang Alpha tidak sedikit pun menghindar. Dengan kecepatan yang melampaui batas wajar makhluk supernatural biasa, Aaron menyambut serangan itu dengan terkaman mautnya sendiri.​Pertarungan sengit pecah seketika di tengah hutan pinus.​Setiap benturan fisik di antara keduanya menciptakan dentuman hebat yang menggetarkan udara di sekeliling mereka.Gerakan mereka secepat kilat, hanya menyisakan guratan bayangan hitam dan kilatan perak keemasan yang saling menabrak dari satu pohon ke pohon lainnya. Batang-batang pinus tua tumbang dan hancur luluh lantak akibat hantaman liar pertarungan itu.​Di sekeliling area pertempuran, para prajurit werewolf berdiri membatu dengan ketegangan memuncak. Di mata telanja

  • Anak Rahasia Sang Alpha   217. Umpan yang Sempurna

    Setelah memutuskan ikatan batin, Aldrick kembali membuka matanya. Ia harus mengulur waktu agar pria ini tidak melarikan diri sebelum Aaron tiba. ​"Kamu begitu yakin Aaron akan jatuh?" tanya Aldrick kembali memancing percakapan, mencoba mengalihkan perhatian lawannya. "Kamu bicara seolah-olah kamu mengerti segalanya tentang Alpha kami." ​Pria bermantel hitam itu melangkah mundur satu langkah, jemarinya bergerak halus di dalam saku mantelnya. "Cinta membuatnya lemah, Aldrick. Seorang Alpha yang bertindak berdasarkan perasaan pada seorang wanita ... sangat mudah diprediksi." ​"Atau mungkin," sahut Aldrick dengan nada mengejek, sengaja melangkah maju setengah langkah untuk mengunci ruang gerak pria itu, "kamu hanya terlalu takut untuk berhadapan langsung dengannya tanpa ramuan pelindungmu ini?" ​Pria itu menyipitkan mata, menyadari permainan kata Aldrick. "Kamu terlalu banyak bicara hari ini, Beta. Dan dari cara matamu menatapku ... kamu sedang menunggu seseorang, bukan?" ​Di sekeli

  • Anak Rahasia Sang Alpha   216. Membuka Bayangan

    ​Hembusan angin dingin menyelusup di antara batang-batang pohon pinus yang menjulang tinggi, membawa aroma tanah basah dan embun pagi yang pekat.Di sekeliling area rumah Nenek Fay, atmosfer terasa begitu mencekam. Pola penjagaan telah diperketat, puluhan prajurit werewolf pilihan berdiri sigap dengan posisi saling melengkapi, mata dan telinga mereka siaga menangkap ancaman sekecil apa pun.​Namun, di tengah kepungan yang tak tertembus itu, Aldrick melangkah masuk ke dalam area hutan dengan tenang.​Tangan kanannya merogoh saku mantel. Jarinya menggenggam sebuah botol kaca mungil berisi cairan bening dengan kilau keemasan yang samar. Tanpa ragu, Aldrick membuka tutup botol itu dan menenggak isinya sampai habis.​Cairan itu terasa dingin menusuk tenggorokan, lalu seketika membakar seluruh saraf indranya. Penglihatan Aldrick membias sejenak, pupil matanya membesar dan berkilat keemasan saat ramuan khusus itu bekerja menetralisir manipulasi penglihatan di sekitarnya.​Saat matanya kembal

  • Anak Rahasia Sang Alpha   215. Untuk Kaum Kita

    Keheningan masih menyelimuti benteng bawah tanah. Tak seorang pun bergerak. Tak seorang pun berani memecahkan suasana. Semua mata tertuju pada Aaron yang masih berada di sisi jasad pria itu. Beberapa saat kemudian, Aaron berdiri perlahan. Ia mengalihkan pandangannya kepada Adrian. "Adrian." "Ya, Alpha." "Pastikan dia dimakamkan dengan layak." Adrian tampak ragu sejenak. "Dia baru saja berusaha membunuh Anda, Alpha." Aaron kembali memandang jasad pria itu. "Dia memang datang sebagai penyerang, tapi dia pergi sebagai bagian dari kaum kita." Tatapannya tetap tenang. "Cari makam keluarganya. Jika masih dapat ditemukan, makamkan dia di samping mereka." Adrian menundukkan kepala dalam. "Dimengerti, Alpha." Ratusan anggota klan masih berdiri di tempat masing-masing. Para pekerja proyek, para insinyur, hingga para prajurit yang sedari tadi menyaksikan semuanya hanya bisa menundukkan kepala. Tidak lagi karena aturan, melainkan karena rasa hormat. "Perang telah merenggut terlalu bany

  • Anak Rahasia Sang Alpha   25. Istirahatlah, Bunga Hujanku

    Suara jangkrik di luar jendela perlahan memudar, tenggelam oleh keheningan yang terasa berat namun familier bagiku. Aku berada di antara sadar dan tidak. Tubuhku terasa sangat ringan, seolah-olah aku sedang mengapung di atas awan, namun di saat yang sama, rasa lelah yang luar biasa menahan kelopak

  • Anak Rahasia Sang Alpha   24. Pengakuan Sang Alpha dan Rencana Keji

    ​Lampu minyak di atas meja itu bergoyang pelan, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding dapur. Suasana terlihat sunyi, namun udara di ruangan itu terasa sangat berbeda.Aaron duduk di salah satu kursi yang tampak terlalu kecil untuk tubuh tegapnya, namun ia tetap terlihat seperti pengua

  • Anak Rahasia Sang Alpha   22. Malam Pertama Bulan Merah

    ​Aku sudah menyadarinya bahkan sebelum langit berubah warna. Ada sesuatu yang salah dengan malam ini. Udara terasa menipis, seolah oksigen ditarik paksa dari paru-paruku.​Kulitku mulai mengeluarkan hawa panas yang tidak wajar. Ini bukan demam biasa, melainkan sengatan yang merayap dari dalam sumsu

  • Anak Rahasia Sang Alpha   21. Penyeimbang Batin

    Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah jendela dapur, membawa aroma kopi dan singkong rebus yang mengepul hangat. Aku duduk di meja makan, jemariku melingkari gelas teh yang panas sambil mencoba mengusir sisa-sisa kegelisahan tadi malam.Rasa aman yang aneh itu masih ada, menetap laya

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status