LOGINPria bermantel hitam itu sadar bahwa lari bukanlah lagi sebuah pilihan. Dalam sepersekian detik, jemarinya bergerak liar, menembus saku mantelnya dan melayangkan sebuah pukulan fatal berlapis sihir penembus ke arah dada Aaron.Namun, Aaron hanya menyeringai kejam.BAM!Tanpa berkedip, sang Alpha tidak sedikit pun menghindar. Dengan kecepatan yang melampaui batas wajar makhluk supernatural biasa, Aaron menyambut serangan itu dengan terkaman mautnya sendiri.Pertarungan sengit pecah seketika di tengah hutan pinus.Setiap benturan fisik di antara keduanya menciptakan dentuman hebat yang menggetarkan udara di sekeliling mereka.Gerakan mereka secepat kilat, hanya menyisakan guratan bayangan hitam dan kilatan perak keemasan yang saling menabrak dari satu pohon ke pohon lainnya. Batang-batang pinus tua tumbang dan hancur luluh lantak akibat hantaman liar pertarungan itu.Di sekeliling area pertempuran, para prajurit werewolf berdiri membatu dengan ketegangan memuncak. Di mata telanja
Setelah memutuskan ikatan batin, Aldrick kembali membuka matanya. Ia harus mengulur waktu agar pria ini tidak melarikan diri sebelum Aaron tiba. "Kamu begitu yakin Aaron akan jatuh?" tanya Aldrick kembali memancing percakapan, mencoba mengalihkan perhatian lawannya. "Kamu bicara seolah-olah kamu mengerti segalanya tentang Alpha kami." Pria bermantel hitam itu melangkah mundur satu langkah, jemarinya bergerak halus di dalam saku mantelnya. "Cinta membuatnya lemah, Aldrick. Seorang Alpha yang bertindak berdasarkan perasaan pada seorang wanita ... sangat mudah diprediksi." "Atau mungkin," sahut Aldrick dengan nada mengejek, sengaja melangkah maju setengah langkah untuk mengunci ruang gerak pria itu, "kamu hanya terlalu takut untuk berhadapan langsung dengannya tanpa ramuan pelindungmu ini?" Pria itu menyipitkan mata, menyadari permainan kata Aldrick. "Kamu terlalu banyak bicara hari ini, Beta. Dan dari cara matamu menatapku ... kamu sedang menunggu seseorang, bukan?" Di sekeli
Hembusan angin dingin menyelusup di antara batang-batang pohon pinus yang menjulang tinggi, membawa aroma tanah basah dan embun pagi yang pekat.Di sekeliling area rumah Nenek Fay, atmosfer terasa begitu mencekam. Pola penjagaan telah diperketat, puluhan prajurit werewolf pilihan berdiri sigap dengan posisi saling melengkapi, mata dan telinga mereka siaga menangkap ancaman sekecil apa pun.Namun, di tengah kepungan yang tak tertembus itu, Aldrick melangkah masuk ke dalam area hutan dengan tenang.Tangan kanannya merogoh saku mantel. Jarinya menggenggam sebuah botol kaca mungil berisi cairan bening dengan kilau keemasan yang samar. Tanpa ragu, Aldrick membuka tutup botol itu dan menenggak isinya sampai habis.Cairan itu terasa dingin menusuk tenggorokan, lalu seketika membakar seluruh saraf indranya. Penglihatan Aldrick membias sejenak, pupil matanya membesar dan berkilat keemasan saat ramuan khusus itu bekerja menetralisir manipulasi penglihatan di sekitarnya.Saat matanya kembal
Keheningan masih menyelimuti benteng bawah tanah. Tak seorang pun bergerak. Tak seorang pun berani memecahkan suasana. Semua mata tertuju pada Aaron yang masih berada di sisi jasad pria itu. Beberapa saat kemudian, Aaron berdiri perlahan. Ia mengalihkan pandangannya kepada Adrian. "Adrian." "Ya, Alpha." "Pastikan dia dimakamkan dengan layak." Adrian tampak ragu sejenak. "Dia baru saja berusaha membunuh Anda, Alpha." Aaron kembali memandang jasad pria itu. "Dia memang datang sebagai penyerang, tapi dia pergi sebagai bagian dari kaum kita." Tatapannya tetap tenang. "Cari makam keluarganya. Jika masih dapat ditemukan, makamkan dia di samping mereka." Adrian menundukkan kepala dalam. "Dimengerti, Alpha." Ratusan anggota klan masih berdiri di tempat masing-masing. Para pekerja proyek, para insinyur, hingga para prajurit yang sedari tadi menyaksikan semuanya hanya bisa menundukkan kepala. Tidak lagi karena aturan, melainkan karena rasa hormat. "Perang telah merenggut terlalu bany
Jleb!Dalam sepersekian detik, tubuh Aaron bergerak lebih cepat daripada siapa pun yang sempat menangkapnya dengan mata.Tangannya mencengkeram pergelangan tangan pria itu tepat sebelum ujung senjata menyentuh tubuhnya.Satu putaran.Satu hentakan.Belati yang semula mengarah ke Aaron berbalik menghunjam perut pemiliknya sendiri."Ugh...!"Mata pria itu membelalak. Tubuhnya menegang sesaat sebelum darah segar menyembur dari mulutnya.Bruk!Tubuhnya roboh menghantam lantai beton.Keheningan menyelimuti lorong bawah tanah.Seluruh pekerja, anggota klan, hingga para insinyur yang sedari tadi menundukkan kepala karena memberi hormat kepada sang Alpha sontak mengangkat wajah mereka.Wajah-wajah yang semula dipenuhi rasa hormat kini berubah menjadi keterkejutan."Alpha!"Adrian spontan melangkah maju bersama beberapa prajurit. Namun, sebelum mereka sempat mendekat, suara Aaron menghentikan semuanya."Jangan."Hanya satu kata.Suara itu terdengar amat tenang, datar, dan tanpa nada panik sedi
Dari luar, bangunan logistik itu tampak tak berbeda dari fasilitas penyimpanan material pada umumnya.Kontainer-kontainer besar tersusun rapi di halaman. Forklift hilir mudik mengangkut baja dan semen, sementara beberapa pekerja sibuk memeriksa daftar material yang baru tiba.Tidak ada yang mencolok, setidaknya bagi mata manusia.Aaron melangkah masuk tanpa berhenti. Adrian mengikuti di belakangnya hingga mereka tiba di sebuah pintu baja besar yang dijaga oleh beberapa anggota keamanan pilihan.Begitu melihat Aaron, mereka serempak menundukkan kepala."Salam, Alpha."Aaron mengangguk pelan.Pintu baja perlahan terbuka, memperlihatkan sebuah lift industri berukuran besar.Keduanya masuk ke dalam. Pintu kembali tertutup rapat, lalu lift itu turun perlahan, melewati beberapa lantai di bawah permukaan tanah.Semakin dalam mereka bergerak, suara alat berat di atas perlahan menghilang.Ding!Pintu lift terbuka.Koridor berdinding beton membentang panjang di hadapan mereka. Lampu-lampu kerja
Jessi memejamkan mata perlahan. Untuk beberapa saat, ia hanya duduk diam tanpa bergerak. Namun perlahan, napasnya mulai berubah lebih berat. Naluri serigalanya bergerak samar di bawah kulit, merespons emosi yang kini tidak lagi kacau, melainkan dingin dan terarah.Ia bisa merasakannya dengan jelas
Lorong itu kembali sunyi. Namun, atmosfer kali ini terasa sangat berbeda. Keheningan tersebut bukan lagi kehampaan, melainkan sebuah jeda yang sarat akan ketegangan.Di balik pilar batu yang tinggi, bayangan hitam itu tetap diam beberapa saat lebih lama. Sosok tersebut tampak memastikan bahwa la
Pintu kayu itu tertutup rapat di belakang mereka, meredam segala suara dari luar, namun ketegangan yang tersisa masih terasa jelas di sekitar mereka.Aaron berdiri tepat membelakangi pintu. Tatapannya lurus ke depan, menatap kosong pada dinding di hadapannya. Pikirannya berkecamuk, mencoba menyusu
Jessi keluar dari dalam lift dengan langkah tergesa-gesa, hampir tersandung karena pandangannya yang mengabur. Napasnya terengah-engah dan kacau, sementara sebelah tangannya masih menekan sisi wajah yang terus mengalirkan darah segar. Namun, rasa perih yang menjalar di kulitnya sama sekali tidak se







