Beranda / Rumah Tangga / Anak Selingkuhan Suamiku / BAB 25. Tiramisu dari Rey

Share

BAB 25. Tiramisu dari Rey

Penulis: Mira Restia
last update Tanggal publikasi: 2026-07-13 03:28:36

Pagi berikutnya, rumah terasa berbeda. Ada suara sendok beradu dengan piring, ada tawa kecil, ada langkah kaki berlari dari kamar ke dapur.

Aku bangun lebih awal. Untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, aku memasak dengan hati yang tenang. Aku membuat nasi goreng, telur dadar, dan sayur bening. Menu sederhana. Menu rumah.

Denis sudah duduk rapi di meja makan sejak aku selesai menata piring. Matanya berbinar menatap sarapan. Sementara Azka duduk di sebelahnya. Tubuhny
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 27 Luka Azka

    Hari berganti hari dengan ritme yang sederhana, tapi menenangkan. Pagi aku membuat sarapan, mengantar Denis dan Azka ke sekolah. Siang aku duduk di depan laptop, menerjemahkan novel asing halaman demi halaman. Sore menjemput mereka, mengantar mengaji pada Pak Ustadz, lalu pulang mengajak mereka bermain, menemani belajar, dan membacakan dongeng sebelum tidur.Alif sedang sibuk live streaming gamenya, jarang menghubungi. Rey juga belum muncul lagi sejak sore di Alun-Alun itu. Dari status WhatsApp-nya, ia sedang menangani perkara orang lain di luar kota. Foto ruang sidang, tumpukan berkas, dan secangkir kopi hitam.Aku sedikit rindu momen itu. Tawa Denis dan Azka, Rey yang jadi kiper dadakan, kaosnya yang melar ditarik anak-anak.Pukul 19.00 malam, aku di dapur, anak-anak menghampiri. Denis dan Azka masuk bersama, rambut mereka masih basah setelah mandi. "Mah," Denis bertanya duluan. "Kapan Om Rey ajak main lagi?"Azka mengangguk cepat di sampin

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 26. Sweet Memory

    Satu minggu berlalu. Rumah yang dulu sepi kini dipenuhi suara. Penuh warna, penuh tawa. Denis dan Azka kadang akur, kadang bertengkar. Alasannya sederhana. Siapa yang paling dulu dibuatkan susu oleh Mamah. Siapa yang tubuhnya lebih tinggi. Siapa yang hafalan suratnya lebih banyak. Aku hanya memantau dari dapur. Ketika suara mereka mulai meninggi, aku menengahi dengan satu kalimat. "Stok susu di rumah cukup untuk berdua, jangan rebutan. Tinggi kalian sama-sama akan bertambah. Surat yang kalian hafal, pahalanya sama di mata Allah. Lalu mereka saling pandang. Denis mencubit pipi Azka. Azka mencubit balik. Tiga detik kemudian mereka berlari lagi, main kejar-kejaran seperti tidak pernah bertengkar. Di sela mengurus mereka, aku mulai membuka laptop lagi. Orderan terjemahan novel bahasa asing masuk dari penerbit lama. Aku menerjemahkannya bab demi bab, mengirimkannya sebelum tenggat. Rasanya seperti menemukan diriku yang dulu. Yang sempat padam

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 25. Tiramisu dari Rey

    Pagi berikutnya, rumah terasa berbeda. Ada suara sendok beradu dengan piring, ada tawa kecil, ada langkah kaki berlari dari kamar ke dapur.Aku bangun lebih awal. Untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, aku memasak dengan hati yang tenang. Aku membuat nasi goreng, telur dadar, dan sayur bening. Menu sederhana. Menu rumah.Denis sudah duduk rapi di meja makan sejak aku selesai menata piring. Matanya berbinar menatap sarapan. Sementara Azka duduk di sebelahnya. Tubuhnya kaku. Punggungnya tegak seperti sedang berada di panti. Tangannya terlipat rapi di pangkuan. Ia tidak berani menyentuh sendok sebelum dipersilakan.Aku menuang nasi ke piring mereka. Porsiku sama untuk keduanya. Porsi anak yang sedang tumbuh.Azka menatap piringnya. Alisnya berkerut pelan. "Mamah... kenapa porsi Azka banyak sekali?" Suaranya pelan, ragu. "Apa boleh Azka makan sebanyak ini?"Pertanyaan itu menghantam dadaku. Tujuh tahun ia hidup dengan jatah yang terb

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 24. Sidang

    Pukul 11.00, sidang dimulai. Ruang Sidang 2. Hakim yang sama seperti saat sidang hak asuh Denis dulu. Wajahnya teduh, tapi sorot matanya tegas. Dafa duduk di kursi pesakitan, mengenakan baju oranye tahanan. Wajahnya pucat, matanya merah seperti kurang tidur berhari-hari. Bu Sinta duduk di sebelah pengacaranya, kepala menunduk dalam. Maya tidak datang. Katanya "sakit". Rey, Alif, Bidan Sri, aku, Denis, dan Azka duduk di kursi penggugat. Azka duduk di sampingku, jemarinya menggenggam tanganku erat. Denis duduk di sebelah, lengan kanannya memeluk Azka dari samping, seperti perisai kecil. Hakim membuka map tebal di hadapannya. "Sidang penetapan hak asuh dan gugatan penipuan penukaran bayi, Ny. Ririn Riadi melawan Dafa Wibowo. Saya akan membacakan hasil DNA dari Laboratorium RS Hasan Sadikin." Seluruh ruangan hening. Hanya terdengar detak jam dinding. Azka mendongak, berbisik ke telingaku. "Mamah, DNA itu apa, Mah

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 23. Azka dari Dekat

    Pintu ruang tamu panti terbuka pelan. Bu Siti menuntun seorang anak kecil keluar. Tubuhnya kurus, rambutnya dipotong asal, baju kebesaran melorot di bahu. Tapi matanya... matanya sama persis dengan mataku waktu kecil. Jantungku berhenti sedetik. Napasku tercekat di tenggorokan. Itu Azka. Tujuh tahun aku membayangkan wajahnya dari foto USG yang pudar. Tujuh tahun aku mengarang-ngarang bentuk hidungnya, bentuk dagunya. Tapi tidak ada yang sama dengan kenyataan. Ia berhenti dua langkah di depanku. Tidak langsung lari memeluk. Hanya menatapku dari bawah, ragu-ragu, seperti anak kucing yang takut diusir lagi. Aku ingin berlari memeluknya. Ingin menjerit "Azka, aku ibumu!". Tapi tubuhku terpaku. Lututku lemas. Tanganku gemetar di sisi tubuh, menahan diri agar tidak menakutinya. "Azka..." suaraku keluar serak. Aku berjongkok, menyamakan tinggi mataku dengan matanya. Menjaga jarak, memberi dia ruang.

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 22. Azka Nama Anakku

    Pukul 07.00 pagi, notifikasi WhatsApp masuk dari Rey. Pesannya singkat, tapi cukup untuk membuat jantungku berdegup lebih cepat. Rey: "Ririn, hari ini kami mengurus penetapan hakim ke Dinas Sosial dan tiga panti asuhan terbesar di kota ini. Target kami: bayi laki-laki dengan berat badan 3,2 kg yang masuk tanggal 12-20 Agustus 2019. Bidan Sri ikut bersama kami. Doakan, ya."Aku membalas sambil menemani Denis sarapan bubur ayam. "Baik, Rey... Hati-hati di jalan. Aku di rumah saja menjaga Denis.""Mamah enak banget buburnya.""Iya, yang lahap ya makannya, jangan lupa dihabiskan jangan ada sisa.""Iya, mah. Mamah juga yang lahap, ya. Biar gemoy kaya Denis. Dan biar gak gampang lagi kaya kemarin-kemarin. Soalnya, Denis khawatir.""Duh, baiknya anak mamah. Iya deh mamah lahap biar sehat biar bisa temenin Denis belajar dan main."Aku mencium pipinya yang chubby."Tapi kok mamah kelihatan sedih, sih?""Gak sedih ko

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status