Share

Antidote
Antidote
Penulis: Delf

Bab 1

Penulis: Delf
last update Tanggal publikasi: 2026-04-09 18:59:21

Bunyi sirene ambulans terdengar memasuki halaman rumah sakit, dengan secepat kilat Anna bersama dengan perawat lainnya segera berlari ke arah pintu Instalasi Gawat Darurat, bersiap untuk menyambut pasien yang baru saja datang.

“Kecelakaan tunggal, diperkirakan ada tulang yang patah. Pasien mengalami pendarahan hebat. Tekanan darah turun drastis, pasien mulai kehilangan kesadaran.” Ucap seorang perawat yang baru saja turun dari mobil ambulans.

Anna mengangguk menerima informasi yang disampaikan dan kemudian segera mendorong brankar tersebut sambil berlari menuju ruang IGD bersama perawat lainnya.

Perawat cantik itu dengan cekatan membantu sang dokter untuk mengambil alat-alat medis yang diperlukan. Suasana tegang meliputi ruang IGD, ditambah suara panik dan isak tangis keluarga membuat udara terasa mencekat.

“Sus, tolong panggil dokter Victor, pasien harus segera dioperasi.” Ucap sang dokter IGD dan secepat kilat Anna berlari menuju ruangan dokter favoritnya.

“Dok...” belum sempat Anna menyelesaikan ucapannya, gadis manis itu terperangah melihat pria yang sudah ditaksirnya sejak dua tahun lalu itu sedang duduk berduaan, dengan posisi yang cukup ambigu, dengan seorang dokter koas* yang baru saja training tidak lebih dari dua minggu di rumah sakit tersebut.

“Anna! Kamu kalau mau masuk ketok pintu dulu!” tegur Victor dengan wajah tidak bersahabat.

Anna tidak mendengar apa yang diucapkan pria itu, otaknya terasa membeku karena terkejut dengan apa yang dilihatnya barusan.

“Gianna Drey!” suara tinggi Victor seketika mengembalikan kesadaran Anna.

“Dok.. ada pasien di IGD yang harus segera dioperasi.” Ucap Anna ketika mengingat tujuannya ke ruangan ini. Anna menoleh sekilas pada dokter koas cantik yang memasang wajah canggung tersebut dan kemudian kembali berlari meninggalkan ruangan.

Operasi berjalan cukup lama dan menguras energi. Anna berusaha fokus pada tugas dihadapannya, dengan cekatan mempersiapkan peralatan yang sekiranya akan segera dibutuhkan oleh sang dokter. Pengalaman membuatnya cukup mengerti dan sigap dengan kondisi pasien dihadapannya.

Perawat berhidung mancung dan berkulit putih itu sedikit meringis dan menutup matanya ketika darah yang keluar dari kaki pasien cukup banyak, pun ketika Victor menjahit sobekan luka tersebut. Rasanya ngilu, namun dia tetap harus professional. Tepatnya demi cintanya pada Victor.

Victor adalah seorang dokter bedah yang merupakan sahabat kakak sepupunya, Alvino, seorang dokter penyakit dalam. Anna jatuh cinta pada pandangan pertama ketika Vino mengajak Victor datang ke pesta sweet seventeen Anna sepulang praktek koas. Gilanya Anna langsung memanjatkan doa ulang tahunnya berharap Victor adalah jodohnya.

Sejak saat itu, seluruh fokus Anna tertuju pada Victor, termasuk berhasil membuat orangtuanya terkejut ketika gadis ceria yang sangat berbakat menggambar itu tiba-tiba mengalihkan minat kuliahnya menjadi jurusan keperawatan, hanya demi dekat dengan Victor.

Victor menghembuskan nafas berat namun lega sambil membuka sarung tangannya dan membuangnya ke tempat sampah. Keningnya terlihat mengeluarkan bulir-bulir keringat, dan Anna dengan cekatan segera memberikan Victor sehelai tissue.

“Thanks.” Ucap Victor singkat dengan seulas senyum samar.

“Mau minum?” Anna menawarkan segelas air pada dokter tampan tersebut. Victor menerimanya dan segera meminumnya dalam sekali teguk.

“Kamu pulanglah, istirahat.” Ucap Victor menepuk bahu Anna pelan dengan senyum penuh perhatian.

“Ta.. tapi..”

“Aku tau kamu kelelahan, kamu butuh istirahat. Aku tidak ingin kamu sakit.” Victor membelai kepala dan kemudian mengucek-ngucek rambut gadis manis itu dengan senyum tulus.

“Kak Victor enggak pulang juga?”

“Aku masih harus berjaga-jaga, setidaknya sampai pasien tersebut siuman.” Victor kemudian melirik jam tangannya. “Sudah jam sebelas malam. Kamu bawa mobil kan?” lanjutnya.

Anna menggeleng, “Enggak, dipakai papa. Tadinya mikir mau nebeng Kak Victor. Tapi ya sudah aku naik ojek online saja. Aku balik dulu, Kak. Bye.” Ucap Anna sambil bersiap menuju ruang ganti.

“Anna, tunggu.” Victor menahan lengan Anna.

“Ya?” Anna menoleh pada pria tampan berkacamata tersebut.

Victor menghembuskan nafasnya dengan kasar, “Ya sudah aku anterin kamu pulang.”

“Tapi Kak Victor katanya masih mau menjaga pasien?”

“Sudah cepatan, enggak usah cerewet. Aku tunggu kamu di mobil.” Ucap Victor dengan wajah menahan kesalnya dan kemudian berjalan meninggalkan Anna yang masih bergeming di tempatnya.

***

Bukan pertama kalinya Anna diantar oleh Victor, bahkan Victor sudah seperti sopir cadangannya. Kedekatan hubungan Victor dan Alvino membuat Victor tidak mempunyai pilihan lain selain harus memperlakukan Anna dengan baik.

“Lain kali, kalau kamu cari jadwal, samain saja sama Vino, kalian kan bisa pulang bareng.”

Anna mencibirkan bibirnya, “Bukan aku Kak yang nentuin jadwal, kan dari kepala rumah sakit, ya mana aku tau bisa barengan terus sama Kak Victor. Apa kita memang jodoh ya? Ouch!! Sakit!” Tiba-tiba tangan Victor menggetok kepala Anna.

“Kamu itu sudah seorang perawat sekarang, bukan mahasiswi lagi. Hilangin pikiran konyolmu. Memalukan instansi keperawatan saja!” ucap Vino kesal.

“Ck.. Kak Victor ini serius banget sih. Bisa-bisa pasien cepat mati ditangani dokter galak begini.” cibir Anna.

Victor yang tersinggung kembali memberi tatapan tajam pada Anna, “Kalau semua dokter bertingkah dan berpikiran konyol seperti kamu, enggak ada pasien yang selamat!”

“Eits… jangan salah, hati yang gembira adalah obat. Justru kalau dokternya murah senyum, ramah, suka bercanda, itu akan memberikan afirmasi positif bagi pasiennya.”

“Sok tau. Sudah sampai, cepatan turun. Aku harus balik ke rumah sakit lagi.”

“Iya..iya.. Makasih.” Belum sempat Anna menyelesaikan kalimatnya, mobil Victor telah melaju kencang meninggalkannya.

Anna sedikit terkejut namun dia sudah terbiasa dengan kelakuan Victor. Walau Victor selalu galak padanya, namun nyatanya dia tetap perhatian tidak membiarkan Anna pulang sendirian. “Aku yakin kamu juga mencintaiku.” Senyuman terukir di sudut bibir gadis itu.

*Koas adalah ko-asisten atau dokter muda yang baru menyelesaikan kuliah kedokteran.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Antidote   Bab 105

    “Gimana, Ma? Calvin bilang apa?” tanya Anna begitu sambungan telpon itu terputus.Cecilia tersenyum jail, “Penasaran amat sih?” Ucapnya sambil mencubit hidung mancung sang putri.Tampang Anna menggerutu tapi tetap bertanya, “Nada suaranya gimana, Ma?”“Biasa aja sih.” Ucap Cecilia setelah memikir sesaat.“Tuh kan, Ma.” Anna menghempaskan tubuhnya di atas sofa. “Dia itu nggak ada perasaan sama Anna.”“Tau dari mana?”“Ya buktinya pesan aku dari kemarin malam nggak dibalas, terus ini dia biasa aja pas mama bilang aku jalan sama Victor.”“Ini kita mau ngetes Calvin, kenapa jadi sekarang kamu yang galau gitu ya?”“Ya kalau gagal gimana dong, Ma?”Cecilia tertawa, “Wah.. wah... wah... fix kamu uda jatuh cinta sama dia.”“Mama!”“Kita tunggu aja ya. Uda sekarang kamu bantuin mama dulu di dapur.”***“Kenapa, Vin? Kok cemberut gitu mukanya?” Steffany menepuk pundak sepupunya yang nampak diam termenung di pojokan. Beberapa tamu sudah mulai pulang sehingga dia bisa sedikit bersantai setelah le

  • Antidote   Bab 104

    “Calvin, kamu di mana sih?” dering telpon di pagi hari membuat Calvin menggeliat dan langsung menerimanya dengan mata yang masih terpejam tanpa melihat siapa si penelpon. Namun suara cempreng yang memekakkan telinga membuat pria itu menjauhkan telpon dari telinganya.“Ck.. kenapa Stef? Aku masih ngantuk.”“Uda hampir jam sebelas ini, tamu-tamu uda pada datang. Kamu cepetan, aku nggak bisa melayani semua tamu sendirian.”“Tamu?” Calvin memijit kepalanya yang terasa pening karena mendengar teriakan Steffany di pagi hari.“Jangan bilang kamu lupa kalau hari ini grand opening kantor Kak Ivan.”“Astaga!! Aku mandi dulu dan segera ke sana.” Ucap Calvin langsung mematikan sambungan telpon tersebut tanpa menunggu jawaban atau dipastikan omelan dari Steffany.Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit pria tampan itu sudah berada di sebuah ruko yang lumayan luas yang kini secara resmi telah menjadi kantor baru Ivan. Walau tidak mengenal semua tamu yang hadir, namun dengan keahliannya dari bersos

  • Antidote   Bab 103

    Anna terdiam cukup lama, “Anna tidak tau, Ma.”“Apa yang masih kamu pikirkan?“Bagaimanapun... Anna pernah menjalin hubungan yang cukup lama dengan Victor, Ma.”Cecilia mengangguk, “Lamanya seperti cicilan kredit motor ya.” Godanya.“Mama... ih... gitu deh suka ngejek anak sendiri.”Cecilia terbahak, “Iiih ngambekan.” Ucap mama Anna kemudian mencubit pipi anaknya.Anna mendengkus kemudian lanjut berucap, “Anna nggak bisa membohongi diri Anna kalau masih ada sisa rasa buat Kak Victor, bagaimanapun dia cinta pertama Anna. Salah nggak sih Ma kalau Anna masih menyimpan rasa sama dia?”“Nggak salah, Sayang. Itu wajar kok, kalian kan baru putus dan juga hubungan kalian bahkan sudah sampai ke tahap tunangan. Kalau boleh mama tau, sebenarnya alasan kamu memutuskan dia apa? Mama yakin bukan karena kalian sibuk dan tidak punya waktu.”Anna terdiam, “Mama ingat dokter koas itu?”Cecilia mengangguk.“Mereka kembali berhubungan lagi. Kak Victor berselingkuh, Ma.” Lanjut Anna.“Kamu yakin?” Cecili

  • Antidote   Bab 102

    Anna memasuki kamarnya, hari ini dirinya merasa begitu lelah. Bukan karena dia habis berlari berpuluh kilo meter atau mengangkat beban berpuluh kilogram, tapi benar kata orang beban pikiran dan emosi ikut andil menguras energi fisik tubuh kita.Gadis mungil itu kini berdiri di depan cermin panjang di depan kamarnya, menatap dirinya yang berpakaian slip dress mini berwarna hitam, namun kali ini tanpa outer. Ya outer itu dia pakai hanya ketika mengunjungi kantor Calvin untuk meminta maaf, dan kemudian dilepaskannya ketika sudah sampai di acara pesta dan ditinggalkannya di dalam mobil. Hanya saja mobilnya akhirnya dipinjam oleh Vino untuk mengantar kedua orangtuanya, dan Anna membiarkan Vino membawa mobilnya dulu karena dia bisa pulang menebeng dengan teman yang lain.Siapa sangka bahwa Victor ada di rumahnya dan bisa Anna lihat bahwa pria itu sedikit terkejut dan juga menikmati melihat Anna berpakaian seksi karena tatapan pria itu tidak terlepas dari dadanya. Sangat berbeda dengan Calvi

  • Antidote   Bab 101

    Anna memasuki halaman rumahnya dan dilihatnya Victor sedang duduk di kursi teras depan sedang mengobrol dengan sang ayah. Entah apa yang mereka obrolkan tapi keduanya tampak seru dan serius.“Pa..” sapa Anna sambil mencium punggung tangan sang ayah. “Kak Victor..” sapanya kemudian sambil memberikan seulas senyuman singkat. Wajah Anna nampak lelah setelah seharian menghadiri pesta pernikahan adik April.“Kamu diantar siapa pulang?” tanya Adrian, ayah Anna, kemudian. Kedua orangtua Anna sejak tadi sore sudah pulang duluan dari acara nikahan, tapi Anna masih berada di sana karena masih ada acara lanjutan untuk sahabat-sahabat sang mempelai. Kalau istilah kekinian sekarang after party, pesta para anak muda.“Tadi diantar....” Belum sempat Anna menyelesaikan kalimatnya, suara di belakangnya mengejutkannya hingga Anna hampir saja terlonjak.“Malam Om.” Calvin berjalan mendekat dan kemudian mencium punggung tangan Adrian dan sekilas mengangguk kepada Victor dengan sisipan senyum penuh ejekan

  • Antidote   Bab 100

    Calvin menatap kertas-kertas yang berserakan di atas mejanya, konsentrasinya jelas sudah terpecah sejak kehadiran Anna di kantornya. Bukan hanya karena bayangan Anna berpakaian dress seksi, tapi juga karena ucapan Anna yang mengatakan dia sudah bercinta, membuat seluruh tubuh Calvin terasa terbakar api cemburu. Ada rasa marah, tidak terima, sesak, menyesal, namun dia tidak bisa melakukan apa-apa.“Arrgghh...” Calvin mengacak rambutnya frustasi, harusnya dia tidak pernah menerima tawaran gadis itu untuk mengajarinya berciuman. Ciuman Anna, seperti yang dirasakan Calvin, sangat memabukkan dan membuat candu. Tentu saja Victor yang telah menikmatinya tidak akan berhenti sampai di sana. Mengingat itu membuat Calvin semakin terpuruk. Belum lagi dia harus mengembalikan handphone gadis itu yang tertinggal di kantornya. Jika dia mengantarnya ke rumah Anna, dia belum tentu sanggup melihat Anna yang kemungkinan besar lagi berduaan dengan Victor. Apa dia memakai jasa kurir saja?Sebuah notifikasi

  • Antidote   Bab 4

    Knock..knock..“Permisi, Saya mau mengantarkan obat untuk pasien.” Ucap Anna ketika membuka pintu kamar pasien dan ternyata terdapat pengunjung lain di dalamnya.Anna melangkah masuk setelah mendapat anggukan dari pengunjung tersebut. Diletakkannya nampan berisi kantong bius dan juga beberapa butir

  • Antidote   Bab 3

    “Thanks ya, kok kamu bisa tau sih aku suka baca novel?” suara Sherly terdengar dari balik pintu ruangan Victor yang tidak tertutup rapat.“Aku hanya menebak saja, syukurlah kalau kamu suka.” Suara bas terdengar membalas perkataan si dokter koas tersebut.“Kamu yang milih novel ini?”“Ya iya dong, t

  • Antidote   Bab 2

    Hari ini adalah jadwal libur Anna, dan gadis imut itu memilih untuk berjalan-jalan ke mall seorang diri dan berencana ke toko buku untuk membeli buku sketsa. Sebenarnya Anna ingin menjadi seorang design grafis, dan keluarganya sudah mendukung karena bakat menggambarnya memang sudah terlihat sedari

  • Antidote   Bab 7

    “Calvin?” Olivia terkejut, raut wajahnya campur aduk, antara marah, sedih, dan juga khawatir. “Ka.. kamu?” ucapnya masih bergeming di tempatnya.“Liv..” ucap Calvin terbata, terkejut dengan kehadiran Olivia.Pandangan Olivia mengarah tajam ke Steffany, membuatnya menundukkan kepala karena merasa be

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status