Share

Bab 3

Author: Delf
last update publish date: 2026-04-09 18:59:45

“Thanks ya, kok kamu bisa tau sih aku suka baca novel?” suara Sherly terdengar dari balik pintu ruangan Victor yang tidak tertutup rapat.

“Aku hanya menebak saja, syukurlah kalau kamu suka.” Suara bas terdengar membalas perkataan si dokter koas tersebut.

“Kamu yang milih novel ini?”

“Ya iya dong, tadi sempat-sempatin mampir ke mall dulu beli ini.”

“Wah, dokter Victor perhatian sekali, aku merasa tersanjung.” Ucap Sherly dengan suara manja.

Anna yang berjalan melewati ruangan tersebut, seketika menghentikan langkah kakinya. Ada rasa aneh seperti sebuah batu besar yang menghantam dadanya. Dan tanpa terduga, sebulir air mata jatuh di pipi lembut gadis itu.

Ketika mobilnya baru terparkir tadi, Victor dengan wajah sumringah langsung menghampirinya. Anna menyerahkan novelnya yang belum sempat dibacanya pada dokter muda itu, dan alangkah terkejutnya sebuah pelukan langsung dilayangkan oleh Victor, membuat sekujur tubuh Anna panas dingin. Kebahagiaan yang hanya selalu ada di dalam mimpinya mulai terwujud. Namun belum sempat dia menikmati kebahagiaan itu, kini apa yang baru saja didengarnya seolah mendorongnya jatuh ke dalam jurang kesedihan.

“Sus, ada pasien baru masuk IGD.” Sebuah suara dari belakang mengagetkannya. Anna segera menghapus air matanya, dan berbalik ke arah suara itu. Gadis itu mengangguk dan segera berlari mengikuti rekan kerjanya menuju ruang IGD.

“Pasien tidak sadarkan diri, tekanan darah turun drastis, saturasi melemah.” Ucap seorang perawat menjelaskan. “Di mana dokter jaga?”

Anna terdiam, dia tau bahwa yang mendapat jadwal tugas malam ini adalah dokter Sherly, tapi…

“Sus Anna?” tegur perawat di sebelahnya, mengembalikan kesadaran Anna.

“Biar aku yang menangani pasien ini.” Terdengar sebuah suara dari belakang yang sangat dikenal oleh Anna.

“Dokter Alvino?” beberapa perawat terkejut melihat kehadiran Vino.

Vino tersenyum dan menoleh pada sepupunya, “Sus Anna, tolong masukan pasien ke ruang ICU sekarang.”

Anna mengangguk dan segera mendorong brankar dibantu perawat lainnya. Anna sekilas menoleh pada pasien tersebut, dan dirinya sedikit terkejut dan juga bingung, pria ini…

“Detak jantung pasien melemah.” Ucap Anna ketika melihat grafik pada monitor alat yang terpasang di tubuh pasien tersebut.

Vino segera melakukan CPR untuk memacu detak jantung pasien namun tidak kunjung membuahkan hasil. Anna segera mengambil alat defibrillator dan menyerahkannya pada Vino. Dokter muda tersebut tidak menyia-nyiakan waktunya dan segera menghentakkan alat pemacu detak jantung ke dada pasien tersebut.

Wajah panik Anna terlihat, dalam hati dia terus melantunkan doa untuk keselamatan pasien tersebut. Ayo ganteng, kamu harus bertahan!

Detik demi detik berlalu, dan grafik kembali menunjukkan detak jantung pasien tersebut perlahan berangsur normal. Kelegaan luar biasa terpancar di wajah Vino dan juga Anna.

Vino melepaskan maskernya dan kemudian menulis beberapa catatan yang kemudian diserahkan kepada Anna. Anna mengangguk dan kemudian keluar ruang ICU untuk menuju bagian apotek.

“Sus, bagaimana keadaan anak saya?” seorang wanita paruh baya yang sangat cantik berjalan mendekat dengan bulir-bulir air mata yang masih tersisa di pipinya.

Seorang pria paruh baya segera menyusul dan merangkul sang istri, mengelus bahu wanita tersebut untuk menenangkannya, namun tidak menutupi kesedihan yang terpancar di wajah yang mulai terlihat kerutan tipis.

Anna tersenyum tulus, “Sejauh ini cukup baik, nanti dokter akan menjelaskan. Saya permisi dulu karena harus mengambil obat untuk pasien.” Dan dibalas dengan anggukan kedua orangtua pasien.

***

“Anna…”

“Kak?” Anna segera menghapus air matanya. “Kak Vino bukannya hari ini enggak ada jadwal jaga?” ucapnya mencoba menutupi kesedihannya dengan senyum manisnya.

Vino balas tersenyum walau tidak bisa menutupi rasa cemas di wajahnya, “Aku lagi enggak ada kerjaan, bosan di rumah, jadi ya.. aku ke di sini saja. Setidaknya aku bisa menemanimu.” Ucapnya sambil menggidikkan bahunya berusaha terlihat santai.

Kenyataannya adalah tadi siang Victor menghubunginya dan mengatakan bahwa dia sedang tertarik dengan seorang dokter koas dan berencana untuk menyatakan perasaannya. Vino tidak bisa menghalangi keputusan Victor walaupun dia tau sepupunya begitu tergila-gila pada sahabatnya itu, karena kita tidak bisa memaksakan perasaan seseorang. Yang bisa Vino lakukan adalah berada di sisi sepupunya untuk menenangkannya bila Anna mengetahui kenyataan pahit yang akan dihadapinya.

Anna memaksakan senyumannya, “Pasien tadi? Apakah kondisinya sudah membaik?”

“Sudah cukup stabil, lima belas menit lagi kamu tolong masukan obat yang barusan kamu ambil.”

“Baik, Kak.” Ucap Anna. “Pasien tadi kenapa, Kak? Secara fisik dia baik-baik saja.” lanjutnya.

Wajah Vino sedikit murung, “Dia.. mengidap MDS.”

“MDS?”

“Ya, sindrom mielodisplasia. Ada kerusakan pada sel-sel darah merahnya. Jika dibiarkan bisa berkembang menjadi kanker darah.”

Entah mengapa, ucapan Vino membuat sekujur tubuh Anna merinding, ada rasa asing yang menyergapinya. “Berapa lama dia bisa bertahan?” ucapnya dengan suara bergetar.

“Kemungkinan setahun, tapi..”

“Jika sumsum tulang belakangnya dicangkok, apa ada kemungkinan dia bisa selamat?”

“Hanya itu satu-satunya cara. Cuma untuk mencari pendonor yang cocok itu tidak...”

Anna langsung menyela “Aku akan coba bantu mencari pendonor.”

Vino menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya sembari tersenyum, “Kamu sepertinya tertarik dan perhatian dengan pasien kita yang ganteng itu.” goda pria tampan itu.

Anna membulatkan matanya terkejut, “Ngaco deh. Aku itu pernah ketemu sama dia di mall, dia lagi sama ceweknya. Mereka orang yang baik, sempat tolongin aku ambilin buku. Mungkin ini caraku membalas kebaikan mereka.” Anna menggidikkan bahunya.

Vino tersenyum sambil mengelus kepala sang adik, “Kamu memang selalu baik, Na.”

“Itulah gunanya kita hidup kan, Kak?” jawab Anna sumringah.

Vino mengangguk, “Yeah.”

Anna mengangkat pergelangan tangannya melihat jam tangannya, “Aku siapin obatnya sekarang deh.”

“Anna, tunggu.” Vino menghentikan langkah suster manis itu.

Anna menoleh sambil menelengkan kepalanya, “Ya Kak?”

Vino terdiam, nampak berpikir, kemudian berkata, “Anna, bagaimana jika kamu menjadi perawat khusus untuk pasien tersebut?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Antidote   Bab 105

    “Gimana, Ma? Calvin bilang apa?” tanya Anna begitu sambungan telpon itu terputus.Cecilia tersenyum jail, “Penasaran amat sih?” Ucapnya sambil mencubit hidung mancung sang putri.Tampang Anna menggerutu tapi tetap bertanya, “Nada suaranya gimana, Ma?”“Biasa aja sih.” Ucap Cecilia setelah memikir sesaat.“Tuh kan, Ma.” Anna menghempaskan tubuhnya di atas sofa. “Dia itu nggak ada perasaan sama Anna.”“Tau dari mana?”“Ya buktinya pesan aku dari kemarin malam nggak dibalas, terus ini dia biasa aja pas mama bilang aku jalan sama Victor.”“Ini kita mau ngetes Calvin, kenapa jadi sekarang kamu yang galau gitu ya?”“Ya kalau gagal gimana dong, Ma?”Cecilia tertawa, “Wah.. wah... wah... fix kamu uda jatuh cinta sama dia.”“Mama!”“Kita tunggu aja ya. Uda sekarang kamu bantuin mama dulu di dapur.”***“Kenapa, Vin? Kok cemberut gitu mukanya?” Steffany menepuk pundak sepupunya yang nampak diam termenung di pojokan. Beberapa tamu sudah mulai pulang sehingga dia bisa sedikit bersantai setelah le

  • Antidote   Bab 104

    “Calvin, kamu di mana sih?” dering telpon di pagi hari membuat Calvin menggeliat dan langsung menerimanya dengan mata yang masih terpejam tanpa melihat siapa si penelpon. Namun suara cempreng yang memekakkan telinga membuat pria itu menjauhkan telpon dari telinganya.“Ck.. kenapa Stef? Aku masih ngantuk.”“Uda hampir jam sebelas ini, tamu-tamu uda pada datang. Kamu cepetan, aku nggak bisa melayani semua tamu sendirian.”“Tamu?” Calvin memijit kepalanya yang terasa pening karena mendengar teriakan Steffany di pagi hari.“Jangan bilang kamu lupa kalau hari ini grand opening kantor Kak Ivan.”“Astaga!! Aku mandi dulu dan segera ke sana.” Ucap Calvin langsung mematikan sambungan telpon tersebut tanpa menunggu jawaban atau dipastikan omelan dari Steffany.Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit pria tampan itu sudah berada di sebuah ruko yang lumayan luas yang kini secara resmi telah menjadi kantor baru Ivan. Walau tidak mengenal semua tamu yang hadir, namun dengan keahliannya dari bersos

  • Antidote   Bab 103

    Anna terdiam cukup lama, “Anna tidak tau, Ma.”“Apa yang masih kamu pikirkan?“Bagaimanapun... Anna pernah menjalin hubungan yang cukup lama dengan Victor, Ma.”Cecilia mengangguk, “Lamanya seperti cicilan kredit motor ya.” Godanya.“Mama... ih... gitu deh suka ngejek anak sendiri.”Cecilia terbahak, “Iiih ngambekan.” Ucap mama Anna kemudian mencubit pipi anaknya.Anna mendengkus kemudian lanjut berucap, “Anna nggak bisa membohongi diri Anna kalau masih ada sisa rasa buat Kak Victor, bagaimanapun dia cinta pertama Anna. Salah nggak sih Ma kalau Anna masih menyimpan rasa sama dia?”“Nggak salah, Sayang. Itu wajar kok, kalian kan baru putus dan juga hubungan kalian bahkan sudah sampai ke tahap tunangan. Kalau boleh mama tau, sebenarnya alasan kamu memutuskan dia apa? Mama yakin bukan karena kalian sibuk dan tidak punya waktu.”Anna terdiam, “Mama ingat dokter koas itu?”Cecilia mengangguk.“Mereka kembali berhubungan lagi. Kak Victor berselingkuh, Ma.” Lanjut Anna.“Kamu yakin?” Cecili

  • Antidote   Bab 102

    Anna memasuki kamarnya, hari ini dirinya merasa begitu lelah. Bukan karena dia habis berlari berpuluh kilo meter atau mengangkat beban berpuluh kilogram, tapi benar kata orang beban pikiran dan emosi ikut andil menguras energi fisik tubuh kita.Gadis mungil itu kini berdiri di depan cermin panjang di depan kamarnya, menatap dirinya yang berpakaian slip dress mini berwarna hitam, namun kali ini tanpa outer. Ya outer itu dia pakai hanya ketika mengunjungi kantor Calvin untuk meminta maaf, dan kemudian dilepaskannya ketika sudah sampai di acara pesta dan ditinggalkannya di dalam mobil. Hanya saja mobilnya akhirnya dipinjam oleh Vino untuk mengantar kedua orangtuanya, dan Anna membiarkan Vino membawa mobilnya dulu karena dia bisa pulang menebeng dengan teman yang lain.Siapa sangka bahwa Victor ada di rumahnya dan bisa Anna lihat bahwa pria itu sedikit terkejut dan juga menikmati melihat Anna berpakaian seksi karena tatapan pria itu tidak terlepas dari dadanya. Sangat berbeda dengan Calvi

  • Antidote   Bab 101

    Anna memasuki halaman rumahnya dan dilihatnya Victor sedang duduk di kursi teras depan sedang mengobrol dengan sang ayah. Entah apa yang mereka obrolkan tapi keduanya tampak seru dan serius.“Pa..” sapa Anna sambil mencium punggung tangan sang ayah. “Kak Victor..” sapanya kemudian sambil memberikan seulas senyuman singkat. Wajah Anna nampak lelah setelah seharian menghadiri pesta pernikahan adik April.“Kamu diantar siapa pulang?” tanya Adrian, ayah Anna, kemudian. Kedua orangtua Anna sejak tadi sore sudah pulang duluan dari acara nikahan, tapi Anna masih berada di sana karena masih ada acara lanjutan untuk sahabat-sahabat sang mempelai. Kalau istilah kekinian sekarang after party, pesta para anak muda.“Tadi diantar....” Belum sempat Anna menyelesaikan kalimatnya, suara di belakangnya mengejutkannya hingga Anna hampir saja terlonjak.“Malam Om.” Calvin berjalan mendekat dan kemudian mencium punggung tangan Adrian dan sekilas mengangguk kepada Victor dengan sisipan senyum penuh ejekan

  • Antidote   Bab 100

    Calvin menatap kertas-kertas yang berserakan di atas mejanya, konsentrasinya jelas sudah terpecah sejak kehadiran Anna di kantornya. Bukan hanya karena bayangan Anna berpakaian dress seksi, tapi juga karena ucapan Anna yang mengatakan dia sudah bercinta, membuat seluruh tubuh Calvin terasa terbakar api cemburu. Ada rasa marah, tidak terima, sesak, menyesal, namun dia tidak bisa melakukan apa-apa.“Arrgghh...” Calvin mengacak rambutnya frustasi, harusnya dia tidak pernah menerima tawaran gadis itu untuk mengajarinya berciuman. Ciuman Anna, seperti yang dirasakan Calvin, sangat memabukkan dan membuat candu. Tentu saja Victor yang telah menikmatinya tidak akan berhenti sampai di sana. Mengingat itu membuat Calvin semakin terpuruk. Belum lagi dia harus mengembalikan handphone gadis itu yang tertinggal di kantornya. Jika dia mengantarnya ke rumah Anna, dia belum tentu sanggup melihat Anna yang kemungkinan besar lagi berduaan dengan Victor. Apa dia memakai jasa kurir saja?Sebuah notifikasi

  • Antidote   Bab 1

    Bunyi sirene ambulans terdengar memasuki halaman rumah sakit, dengan secepat kilat Anna bersama dengan perawat lainnya segera berlari ke arah pintu Instalasi Gawat Darurat, bersiap untuk menyambut pasien yang baru saja datang.“Kecelakaan tunggal, diperkirakan ada tulang yang patah. Pasien mengalam

  • Antidote   Bab 7

    “Calvin?” Olivia terkejut, raut wajahnya campur aduk, antara marah, sedih, dan juga khawatir. “Ka.. kamu?” ucapnya masih bergeming di tempatnya.“Liv..” ucap Calvin terbata, terkejut dengan kehadiran Olivia.Pandangan Olivia mengarah tajam ke Steffany, membuatnya menundukkan kepala karena merasa be

  • Antidote   Bab 6

    “Besok aku berangkat.” Ucap seorang pria pada Calvin ketika Anna membuka pintu kamar Calvin.“Ma.. maaf..” ucap Anna sungkan.“Enggak apa-apa kok, Sus. Jadwal minum obat ya?” tanya pria tampan tersebut ramah.Anna mengangguk, “Sekalian mau ganti infus.”“Kenapa tiba-tiba berangkat?” tanya Calvin pa

  • Antidote   Bab 5

    “Oxymeter.” Vino segera menjepit alat tersebut ke jari Calvin begitu diterimanya dari Anna. “Sus, tolong siapkan tabung oksigen.”Anna mengangguk dengan wajah panik dan segera menghubungi bagian persediaan alat rumah sakit. Kemudian dia menyerahkan jarum suntik yang telah berisi obat anti kejang pa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status