INICIAR SESIÓN“Oxymeter.” Vino segera menjepit alat tersebut ke jari Calvin begitu diterimanya dari Anna. “Sus, tolong siapkan tabung oksigen.”
Anna mengangguk dengan wajah panik dan segera menghubungi bagian persediaan alat rumah sakit. Kemudian dia menyerahkan jarum suntik yang telah berisi obat anti kejang pada Vino.
“Apa kita harus memberitahu keluarga pasien?” ucap seorang perawat. Biasanya di sore hari seperti ini, di saat Calvin sedang beristirahat, keluarganya keluar sebentar untuk makan malam, mengingat kondisi Calvin yang cukup stabil.
Vino hanya mengangguk sedikit dengan tetap fokus pada Calvin. “Biarkan Sus Anna yang menyampaikan pada keluarganya.”
“A.. aku tetap di sini.” Anna menolak dengan tegas. Vino menoleh sekilas, dia bisa melihat wajah adiknya yang begitu khawatir. Vino kemudian menoleh ke perawat lainnya sambil mengangguk, menandakan bahwa perawat tersebut yang ditugaskan memberitau keluarga pasien.
“Di.. dia ga papa kan, Kak?” ucap Anna dengan suara tegang yang tidak dapat dia sembunyikan ketika sisa mereka berdua di dalam ruangan.
“Kemungkinan ada gangguan di sarafnya. Kita tunggu sampai saturasinya membaik.” Ucap Vino setelah selesai menyuntikkan obat anti kejang.
Anna mengangguk dan segera memasangkan masker oksigen pada Calvin ketika alat tersebut telah diterimanya, “Ayo, bertahanlah. Kamu pasti bisa.” Ucapnya parau.
Vino cukup terkejut, dia menatap adiknya yang nampak begitu khawatir. Vino tau bahwa Anna, walaupun tidak bercita-cita menjadi seorang perawat, mempunyai dedikasi yang sangat tinggi pada pekerjaannya. Dia sangat bertanggungjawab dalam setiap tugas, memperhatikan setiap pasien tanpa pandang bulu, karena memang pada dasarnya gadis itu memiliki hati yang baik. Tapi baru kali ini Vino melihat perhatian Anna bukan hanya sekedar tanggungjawabnya sebagai seorang perawat, namun lebih dari itu.
Vino mengelus pundak sepupunya, “Dia akan baik-baik saja. Kejangnya sudah mulai berhenti. Dan... saturasinya mulai meningkat.” Ucap Vino menenangkan Anna sambil mengecek oxymeter yang masih menempel di jari Calvin. Anna hanya mengangguk lemah, namun jantungnya tetap berdebar kencang.
“Dok, keluarga pasien tidak berhasil saya hubungi.” Perawat yang tadi bertugas keluar kembali masuk ke dalam ruangan.
“Tidak apa-apa, pasien sudah mulai membaik. Nanti tolong dikabari saja, mungkin bisa lewat chat atau sms. Setidaknya kita tetap mengabari mereka kondisi pasien.” Ucap Vino dan mendapat anggukan dari perawat tersebut.
“Oia dok, ada jadwal operasi sebentar lagi.” Lanjut perawat tadi.
Vino melihat pergelangan tangannya, ya dia ada jadwal operasi tiga puluh menit lagi. Vino menoleh kembali pada Calvin, ada rasa galau di wajah tampan dokter muda tersebut.
“Aku bisa menjaganya sementara.” Anna bersuara.
“Kamu..”
“Aku bisa, toh aku enggak ngapa-ngapain. Setidaknya sampai keluarganya kembali.” Ucap Anna meyakinkan Vino kembali.
Vino kembali menghela nafas berat. Sebenarnya dia tidak tega menugaskan Anna, karena dia tau Anna sebenarnya sudah cukup lelah bertugas dari pagi dan seharusnya jam jaganya sudah berakhir.
“Please, Kak...” ucapnya dengan wajah memohon, mengetahui keraguan sepupunya itu.
Vino akhirnya mengangguk, “Kamu selesaikan makananmu dulu. Aku akan menjaganya sementara.”
Anna mengangguk dengan penuh semangat dan segera berlari keluar ruangan. Vino menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku sang adik.
***
Anna menguap mencoba menahan kantuknya. Dia mencoba membaca novel yang belum selesai dibacanya, namun semakin dia membaca, semakin matanya ingin terpejam.
Saat ini dirinya berada di dalam ruangan Calvin. Keluarga Calvin sudah berhasil dihubungi dan sudah sempat menjenguk. Namun melihat kondisi kedua orangtuanya yang kelelahan menjaga Calvin dalam beberapa hari ini, membuat Anna menawarkan diri untuk menjaga Calvin, agar orangtua Calvin bisa berisrirahat sementara waktu. Toh keadaan sudah stabil.
Anna kemudian meletakkan novelnya kembali ke atas meja, dan mengambil buku sketsa dari dalam tasnya, mencoba menyalurkan hobbynya yang sudah lama tertunda. Gadis itu kemudian memainkan pensilnya di atas kertas sketsa, memikirkan gambar yang akan dibuatnya. Lama terdiam, akhirnya Anna memilih untuk menggambar sepasang angsa di sebuah danau yang indah.
Walau tangannya sudah tidak selentur dulu dalam menggambar, namun Anna cukup puas dengan hasil karyanya. “Ga jelek-jelek amat ternyata.” Ucapnya pada diri sendiri sambil memandang hasil gambarnya sambil tersenyum.
Sketsa gambar itu kemudian diletakkannya di atas meja, kali ini dia sudah tidak mampu menahan rasa kantuknya. Dengan sekuat tenaga, Anna kembali mengecek suhu tubuh, tensi darah, denyut jantung, dan juga saturasi Calvin. Ketika semua dirasa cukup stabil, Anna akhirnya tertidur di samping ranjang Calvin.
***
Pagi menyapa dan Calvin yang karena efek obat membuatnya terlelap sepanjang malam hingga pagi akhirnya terbangun juga. Ada rasa kram di sebelah tangan kanannya seperti tertindih oleh sesuatu yang terasa berat.
Pria tampan itu membuka matanya dan hampir saja berteriak karena terkejut melihat bulatan berbulu menindih tangannya. Untung saja dia segera sadar bahwa itu adalah sebuah kepala yang menindih tangannya.
Calvin mengerjapkan matanya, mengamati sosok yang tidur di tepi ranjangnya. Suster Anna? Gadis itu begitu lelap tertidur, bahkan tidak menyadari bahwa pasien yang ditungguinya bahkan sudah bangun.
Calvin tersenyum mengamati wajah polos Anna yang sedang tertidur dengan mulut yang sedikit terbuka. Hampir saja Calvin tertawa memandang wajah polos itu. Dengan jailnya, Calvin kemudian mengambil handphonenya yang terletak di samping tempat tidurnya, kemudian mengabadikan moment langka itu yang kemudian mengisi galeri foto di handphonenya. Calvin pun menyeringai puas melihat hasil tangkapan layarnya.
Merasakan sedikit getaran, Anna pun akhirnya terbangun dan seketika terkesiap ketika menyadari posisi tidurnya dan bahkan tertangkap langsung oleh Calvin.
“Ma.. maaf.. Pak Calvin.” Ucap gadis itu canggung sambil memperbaiki rambut dan juga pakaiannya agar kembali rapi.
Calvin menahan tawa sambil tangan kirinya menunjuk sudut bibirnya, memberi kode pada Anna.
“A.. apa?” Anna kebingungan.
“Ada iler di sini.” Ucap Calvin kemudian sambil menyerahkan selembar tisu, membuat wajah Anna memerah. Anna bukannya mengambil tisu tersebut dan mengelap sudut bibirnya, namun gadis manis itu langsung lari keluar ruangan dengan rasa malu yang teramat sangat.
Calvin terbahak melihat tingkah laku menggemaskan perawatnya. Usai pintu ruangannya tertutup, Calvin kemudian mengalihkan pandangannya pada meja di samping tempat tidurnya. Rupanya sang perawat karena saking malunya, melupakan dan meninggalkan barang-barangnya.
Calvin menatap sekilas kemudian mengambil buku sketsa yang tergeletak terbuka di atas meja. Di amatinya gambar itu dengan seksama, kemudian tersenyum, "Punya bakat lain rupanya, bagus juga."
Sementara Anna berlari ke arah toilet, mengabaikan semua sapaan dari rekan-rekan kerjanya.
“Sial!!” makinya ketika berada di depan cermin toilet rumah sakit.
“Gimana, Ma? Calvin bilang apa?” tanya Anna begitu sambungan telpon itu terputus.Cecilia tersenyum jail, “Penasaran amat sih?” Ucapnya sambil mencubit hidung mancung sang putri.Tampang Anna menggerutu tapi tetap bertanya, “Nada suaranya gimana, Ma?”“Biasa aja sih.” Ucap Cecilia setelah memikir sesaat.“Tuh kan, Ma.” Anna menghempaskan tubuhnya di atas sofa. “Dia itu nggak ada perasaan sama Anna.”“Tau dari mana?”“Ya buktinya pesan aku dari kemarin malam nggak dibalas, terus ini dia biasa aja pas mama bilang aku jalan sama Victor.”“Ini kita mau ngetes Calvin, kenapa jadi sekarang kamu yang galau gitu ya?”“Ya kalau gagal gimana dong, Ma?”Cecilia tertawa, “Wah.. wah... wah... fix kamu uda jatuh cinta sama dia.”“Mama!”“Kita tunggu aja ya. Uda sekarang kamu bantuin mama dulu di dapur.”***“Kenapa, Vin? Kok cemberut gitu mukanya?” Steffany menepuk pundak sepupunya yang nampak diam termenung di pojokan. Beberapa tamu sudah mulai pulang sehingga dia bisa sedikit bersantai setelah le
“Calvin, kamu di mana sih?” dering telpon di pagi hari membuat Calvin menggeliat dan langsung menerimanya dengan mata yang masih terpejam tanpa melihat siapa si penelpon. Namun suara cempreng yang memekakkan telinga membuat pria itu menjauhkan telpon dari telinganya.“Ck.. kenapa Stef? Aku masih ngantuk.”“Uda hampir jam sebelas ini, tamu-tamu uda pada datang. Kamu cepetan, aku nggak bisa melayani semua tamu sendirian.”“Tamu?” Calvin memijit kepalanya yang terasa pening karena mendengar teriakan Steffany di pagi hari.“Jangan bilang kamu lupa kalau hari ini grand opening kantor Kak Ivan.”“Astaga!! Aku mandi dulu dan segera ke sana.” Ucap Calvin langsung mematikan sambungan telpon tersebut tanpa menunggu jawaban atau dipastikan omelan dari Steffany.Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit pria tampan itu sudah berada di sebuah ruko yang lumayan luas yang kini secara resmi telah menjadi kantor baru Ivan. Walau tidak mengenal semua tamu yang hadir, namun dengan keahliannya dari bersos
Anna terdiam cukup lama, “Anna tidak tau, Ma.”“Apa yang masih kamu pikirkan?“Bagaimanapun... Anna pernah menjalin hubungan yang cukup lama dengan Victor, Ma.”Cecilia mengangguk, “Lamanya seperti cicilan kredit motor ya.” Godanya.“Mama... ih... gitu deh suka ngejek anak sendiri.”Cecilia terbahak, “Iiih ngambekan.” Ucap mama Anna kemudian mencubit pipi anaknya.Anna mendengkus kemudian lanjut berucap, “Anna nggak bisa membohongi diri Anna kalau masih ada sisa rasa buat Kak Victor, bagaimanapun dia cinta pertama Anna. Salah nggak sih Ma kalau Anna masih menyimpan rasa sama dia?”“Nggak salah, Sayang. Itu wajar kok, kalian kan baru putus dan juga hubungan kalian bahkan sudah sampai ke tahap tunangan. Kalau boleh mama tau, sebenarnya alasan kamu memutuskan dia apa? Mama yakin bukan karena kalian sibuk dan tidak punya waktu.”Anna terdiam, “Mama ingat dokter koas itu?”Cecilia mengangguk.“Mereka kembali berhubungan lagi. Kak Victor berselingkuh, Ma.” Lanjut Anna.“Kamu yakin?” Cecili
Anna memasuki kamarnya, hari ini dirinya merasa begitu lelah. Bukan karena dia habis berlari berpuluh kilo meter atau mengangkat beban berpuluh kilogram, tapi benar kata orang beban pikiran dan emosi ikut andil menguras energi fisik tubuh kita.Gadis mungil itu kini berdiri di depan cermin panjang di depan kamarnya, menatap dirinya yang berpakaian slip dress mini berwarna hitam, namun kali ini tanpa outer. Ya outer itu dia pakai hanya ketika mengunjungi kantor Calvin untuk meminta maaf, dan kemudian dilepaskannya ketika sudah sampai di acara pesta dan ditinggalkannya di dalam mobil. Hanya saja mobilnya akhirnya dipinjam oleh Vino untuk mengantar kedua orangtuanya, dan Anna membiarkan Vino membawa mobilnya dulu karena dia bisa pulang menebeng dengan teman yang lain.Siapa sangka bahwa Victor ada di rumahnya dan bisa Anna lihat bahwa pria itu sedikit terkejut dan juga menikmati melihat Anna berpakaian seksi karena tatapan pria itu tidak terlepas dari dadanya. Sangat berbeda dengan Calvi
Anna memasuki halaman rumahnya dan dilihatnya Victor sedang duduk di kursi teras depan sedang mengobrol dengan sang ayah. Entah apa yang mereka obrolkan tapi keduanya tampak seru dan serius.“Pa..” sapa Anna sambil mencium punggung tangan sang ayah. “Kak Victor..” sapanya kemudian sambil memberikan seulas senyuman singkat. Wajah Anna nampak lelah setelah seharian menghadiri pesta pernikahan adik April.“Kamu diantar siapa pulang?” tanya Adrian, ayah Anna, kemudian. Kedua orangtua Anna sejak tadi sore sudah pulang duluan dari acara nikahan, tapi Anna masih berada di sana karena masih ada acara lanjutan untuk sahabat-sahabat sang mempelai. Kalau istilah kekinian sekarang after party, pesta para anak muda.“Tadi diantar....” Belum sempat Anna menyelesaikan kalimatnya, suara di belakangnya mengejutkannya hingga Anna hampir saja terlonjak.“Malam Om.” Calvin berjalan mendekat dan kemudian mencium punggung tangan Adrian dan sekilas mengangguk kepada Victor dengan sisipan senyum penuh ejekan
Calvin menatap kertas-kertas yang berserakan di atas mejanya, konsentrasinya jelas sudah terpecah sejak kehadiran Anna di kantornya. Bukan hanya karena bayangan Anna berpakaian dress seksi, tapi juga karena ucapan Anna yang mengatakan dia sudah bercinta, membuat seluruh tubuh Calvin terasa terbakar api cemburu. Ada rasa marah, tidak terima, sesak, menyesal, namun dia tidak bisa melakukan apa-apa.“Arrgghh...” Calvin mengacak rambutnya frustasi, harusnya dia tidak pernah menerima tawaran gadis itu untuk mengajarinya berciuman. Ciuman Anna, seperti yang dirasakan Calvin, sangat memabukkan dan membuat candu. Tentu saja Victor yang telah menikmatinya tidak akan berhenti sampai di sana. Mengingat itu membuat Calvin semakin terpuruk. Belum lagi dia harus mengembalikan handphone gadis itu yang tertinggal di kantornya. Jika dia mengantarnya ke rumah Anna, dia belum tentu sanggup melihat Anna yang kemungkinan besar lagi berduaan dengan Victor. Apa dia memakai jasa kurir saja?Sebuah notifikasi
Knock..knock..“Permisi, Saya mau mengantarkan obat untuk pasien.” Ucap Anna ketika membuka pintu kamar pasien dan ternyata terdapat pengunjung lain di dalamnya.Anna melangkah masuk setelah mendapat anggukan dari pengunjung tersebut. Diletakkannya nampan berisi kantong bius dan juga beberapa butir
Hari ini adalah jadwal libur Anna, dan gadis imut itu memilih untuk berjalan-jalan ke mall seorang diri dan berencana ke toko buku untuk membeli buku sketsa. Sebenarnya Anna ingin menjadi seorang design grafis, dan keluarganya sudah mendukung karena bakat menggambarnya memang sudah terlihat sedari
“Thanks ya, kok kamu bisa tau sih aku suka baca novel?” suara Sherly terdengar dari balik pintu ruangan Victor yang tidak tertutup rapat.“Aku hanya menebak saja, syukurlah kalau kamu suka.” Suara bas terdengar membalas perkataan si dokter koas tersebut.“Kamu yang milih novel ini?”“Ya iya dong, t
Bunyi sirene ambulans terdengar memasuki halaman rumah sakit, dengan secepat kilat Anna bersama dengan perawat lainnya segera berlari ke arah pintu Instalasi Gawat Darurat, bersiap untuk menyambut pasien yang baru saja datang.“Kecelakaan tunggal, diperkirakan ada tulang yang patah. Pasien mengalam







