LOGINAnna baru saja membuka matanya ketika didengarnya ketukan pintu di ruang tamu. Gadis itu mengerjapkan matanya, mengumpulkan kembali separuh nyawanya yang belum sepenuhnya kembali. Di tengah keputusasaannya, Anna akhirnya memilih membaca novelnya yang sudah lama terbengkalai, namun malah membuatnya tertidur.Gadis itu kemudian beranjak turun dari kasurnya dengan gontai, dengan sangat terpaksa menyeret kakinya menuju pintu depan.“Ck.. mama ini pasti lupa bawa kunci rumah lagi.” Gerutunya. Sang mama setelah makan siang langsung keluar bersama temannya untuk arisan bulanan dan biasanya para ibu-ibu itu seakan tidak mengenal waktu sampai salah satu di antara mereka menerima telpon dari rumah mereka untuk memintanya pulang.“Ma... kok cepet banget baliknya?” ucap Anna ketika membuka pintu rumah sambil mengucek matanya. “Cal.. Calvin?”Calvin mengangkat sebelah alisnya melihat rambut Anna yang masih berantakan dengan wajah bantalnya dan juga kaos oblong dan celana pendek. Namun kali ini Ann
“Gimana, Ma? Calvin bilang apa?” tanya Anna begitu sambungan telpon itu terputus.Cecilia tersenyum jail, “Penasaran amat sih?” Ucapnya sambil mencubit hidung mancung sang putri.Tampang Anna menggerutu tapi tetap bertanya, “Nada suaranya gimana, Ma?”“Biasa aja sih.” Ucap Cecilia setelah memikir sesaat.“Tuh kan, Ma.” Anna menghempaskan tubuhnya di atas sofa. “Dia itu nggak ada perasaan sama Anna.”“Tau dari mana?”“Ya buktinya pesan aku dari kemarin malam nggak dibalas, terus ini dia biasa aja pas mama bilang aku jalan sama Victor.”“Ini kita mau ngetes Calvin, kenapa jadi sekarang kamu yang galau gitu ya?”“Ya kalau gagal gimana dong, Ma?”Cecilia tertawa, “Wah.. wah... wah... fix kamu uda jatuh cinta sama dia.”“Mama!”“Kita tunggu aja ya. Uda sekarang kamu bantuin mama dulu di dapur.”***“Kenapa, Vin? Kok cemberut gitu mukanya?” Steffany menepuk pundak sepupunya yang nampak diam termenung di pojokan. Beberapa tamu sudah mulai pulang sehingga dia bisa sedikit bersantai setelah le
“Calvin, kamu di mana sih?” dering telpon di pagi hari membuat Calvin menggeliat dan langsung menerimanya dengan mata yang masih terpejam tanpa melihat siapa si penelpon. Namun suara cempreng yang memekakkan telinga membuat pria itu menjauhkan telpon dari telinganya.“Ck.. kenapa Stef? Aku masih ngantuk.”“Uda hampir jam sebelas ini, tamu-tamu uda pada datang. Kamu cepetan, aku nggak bisa melayani semua tamu sendirian.”“Tamu?” Calvin memijit kepalanya yang terasa pening karena mendengar teriakan Steffany di pagi hari.“Jangan bilang kamu lupa kalau hari ini grand opening kantor Kak Ivan.”“Astaga!! Aku mandi dulu dan segera ke sana.” Ucap Calvin langsung mematikan sambungan telpon tersebut tanpa menunggu jawaban atau dipastikan omelan dari Steffany.Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit pria tampan itu sudah berada di sebuah ruko yang lumayan luas yang kini secara resmi telah menjadi kantor baru Ivan. Walau tidak mengenal semua tamu yang hadir, namun dengan keahliannya dari bersos
Anna terdiam cukup lama, “Anna tidak tau, Ma.”“Apa yang masih kamu pikirkan?“Bagaimanapun... Anna pernah menjalin hubungan yang cukup lama dengan Victor, Ma.”Cecilia mengangguk, “Lamanya seperti cicilan kredit motor ya.” Godanya.“Mama... ih... gitu deh suka ngejek anak sendiri.”Cecilia terbahak, “Iiih ngambekan.” Ucap mama Anna kemudian mencubit pipi anaknya.Anna mendengkus kemudian lanjut berucap, “Anna nggak bisa membohongi diri Anna kalau masih ada sisa rasa buat Kak Victor, bagaimanapun dia cinta pertama Anna. Salah nggak sih Ma kalau Anna masih menyimpan rasa sama dia?”“Nggak salah, Sayang. Itu wajar kok, kalian kan baru putus dan juga hubungan kalian bahkan sudah sampai ke tahap tunangan. Kalau boleh mama tau, sebenarnya alasan kamu memutuskan dia apa? Mama yakin bukan karena kalian sibuk dan tidak punya waktu.”Anna terdiam, “Mama ingat dokter koas itu?”Cecilia mengangguk.“Mereka kembali berhubungan lagi. Kak Victor berselingkuh, Ma.” Lanjut Anna.“Kamu yakin?” Cecili
Anna memasuki kamarnya, hari ini dirinya merasa begitu lelah. Bukan karena dia habis berlari berpuluh kilo meter atau mengangkat beban berpuluh kilogram, tapi benar kata orang beban pikiran dan emosi ikut andil menguras energi fisik tubuh kita.Gadis mungil itu kini berdiri di depan cermin panjang di depan kamarnya, menatap dirinya yang berpakaian slip dress mini berwarna hitam, namun kali ini tanpa outer. Ya outer itu dia pakai hanya ketika mengunjungi kantor Calvin untuk meminta maaf, dan kemudian dilepaskannya ketika sudah sampai di acara pesta dan ditinggalkannya di dalam mobil. Hanya saja mobilnya akhirnya dipinjam oleh Vino untuk mengantar kedua orangtuanya, dan Anna membiarkan Vino membawa mobilnya dulu karena dia bisa pulang menebeng dengan teman yang lain.Siapa sangka bahwa Victor ada di rumahnya dan bisa Anna lihat bahwa pria itu sedikit terkejut dan juga menikmati melihat Anna berpakaian seksi karena tatapan pria itu tidak terlepas dari dadanya. Sangat berbeda dengan Calvi
Anna memasuki halaman rumahnya dan dilihatnya Victor sedang duduk di kursi teras depan sedang mengobrol dengan sang ayah. Entah apa yang mereka obrolkan tapi keduanya tampak seru dan serius.“Pa..” sapa Anna sambil mencium punggung tangan sang ayah. “Kak Victor..” sapanya kemudian sambil memberikan seulas senyuman singkat. Wajah Anna nampak lelah setelah seharian menghadiri pesta pernikahan adik April.“Kamu diantar siapa pulang?” tanya Adrian, ayah Anna, kemudian. Kedua orangtua Anna sejak tadi sore sudah pulang duluan dari acara nikahan, tapi Anna masih berada di sana karena masih ada acara lanjutan untuk sahabat-sahabat sang mempelai. Kalau istilah kekinian sekarang after party, pesta para anak muda.“Tadi diantar....” Belum sempat Anna menyelesaikan kalimatnya, suara di belakangnya mengejutkannya hingga Anna hampir saja terlonjak.“Malam Om.” Calvin berjalan mendekat dan kemudian mencium punggung tangan Adrian dan sekilas mengangguk kepada Victor dengan sisipan senyum penuh ejekan
“Calvin?” Olivia terkejut, raut wajahnya campur aduk, antara marah, sedih, dan juga khawatir. “Ka.. kamu?” ucapnya masih bergeming di tempatnya.“Liv..” ucap Calvin terbata, terkejut dengan kehadiran Olivia.Pandangan Olivia mengarah tajam ke Steffany, membuatnya menundukkan kepala karena merasa be
“Thanks ya, kok kamu bisa tau sih aku suka baca novel?” suara Sherly terdengar dari balik pintu ruangan Victor yang tidak tertutup rapat.“Aku hanya menebak saja, syukurlah kalau kamu suka.” Suara bas terdengar membalas perkataan si dokter koas tersebut.“Kamu yang milih novel ini?”“Ya iya dong, t
Hari ini adalah jadwal libur Anna, dan gadis imut itu memilih untuk berjalan-jalan ke mall seorang diri dan berencana ke toko buku untuk membeli buku sketsa. Sebenarnya Anna ingin menjadi seorang design grafis, dan keluarganya sudah mendukung karena bakat menggambarnya memang sudah terlihat sedari
Bunyi sirene ambulans terdengar memasuki halaman rumah sakit, dengan secepat kilat Anna bersama dengan perawat lainnya segera berlari ke arah pintu Instalasi Gawat Darurat, bersiap untuk menyambut pasien yang baru saja datang.“Kecelakaan tunggal, diperkirakan ada tulang yang patah. Pasien mengalam







