LOGINGhea Victoria punya semuanya—kecuali rasa. Muak dengan pria-pria murahan, ia membuat keputusan gila: menikahi pria suci yang bisa ia miliki sepenuhnya. Dan Kalandra—asistennya sendiri—dipaksa mencarikannya. Satu bulan. Satu target yang hampir mustahil. Tapi semakin ia mencari, semakin jelas satu hal: yang Ghea inginkan, mungkin selama ini ada tepat di depannya. Masalahnya kalau batas itu dilanggar, tidak akan ada jalan kembali. Dia akan menjadi miliknya seutuhnya, menerima sepenuhnya perlakuannya, bahkan ketika Ghea tak membutuhkannya lagi.
View More"Kal, carikan aku suami, tapi yang masih perjaka!" Ucapan gila sang atasan membuat Kalandra merasa mustahil. Terlebih dengan wanita itu yg sangat dekat dengan dunia malam. Tapi siapa sangka saat ia mengajukan diri, di malam pertama mereka, bos cantiknya ternyata sama-sama masih awam?
*** Lampu lantai empat puluh dua gedung VC Group masih menyala benderang, kontras dengan langit malam Jakarta yang mulai sunyi. Di dalam ruangan yang luas itu, Ghea Victoria masih betah duduk di balik meja kerjanya. Pandangannya tertuju pada layar tablet, menampilkan profil deretan pria yang baru saja dia tolak tanpa pikir panjang. Putra konglomerat, pengusaha muda, politikus, dokter, hingga pengacara papan atas. Di atas kertas, riwayat mereka tampak tanpa cela. Berpendidikan tinggi, rupawan, dan datang dari keluarga terpandang. Namun, setiap kali membaca detail tersebut, Ghea justru merasa muak. Beberapa dari mereka punya catatan rahasia tentang skandal perselingkuhan dan terlalu akrab dengan kehidupan malam. Sebagian lagi dicitrakan terlalu sempurna hingga terdengar palsu. Ghea mendecakkan lidah, lalu melempar gawai itu begitu saja ke atas meja. “Menjijikkan.” Semuanya tidak lebih dari sekadar kepalsuan yang dipoles rapi. Di usia tiga puluh tahun, Ghea sebenarnya memiliki semuanya—kekayaan, kekuasaan, dan daya pikat yang sanggup membuat pria mana pun bertekuk lutut. Namun ada ruang kosong yang dingin di hatinya. Pengalaman masa kecil melihat ibunya hancur karena perselingkuhan sang ayah telah membangun dinding pembatas yang tebal. Bagi Ghea, pria adalah makhluk yang hanya pandai mengumbar janji, sebelum akhirnya menyakiti perempuan dengan cara paling kejam. Bukan berarti Ghea tidak membutuhkan kehadiran seorang pria. Dia butuh, tetapi fungsinya spesifik, hanya untuk menemaninya tidur. Tidak kurang, tidak lebih. Ghea tidak membutuhkan asmara atau komitmen emosional. Yang dia cari hanyalah laki-laki yang bersih, jujur, dan bisa diandalkan di atas ranjang tanpa perlu membawa drama ke dalam hidupnya. Ceklek. Pintu ruangannya terbuka. Kalandra, asisten pribadinya, melangkah masuk. Kehadirannya seolah memberi napas segar di ruang kerja itu. Kalandra meletakkan secangkir air hangat dan seberkas laporan di sudut meja. “Minumlah, Nona. Ini sudah cangkir kelima Anda hari ini. Kafein berlebih tidak akan membuat Anda berpikir lebih jernih.” “Terima kasih, Kal. Kamu selalu tahu apa yang aku butuhkan,” sahut Ghea tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel di tangannya. Kalandra membalasnya dengan anggukan kepala. Selama bertahun-tahun bekerja bersama, hubungan mereka berjalan secara profesional. Namun karena intensitas pertemuan yang tinggi, batas itu perlahan menjadi kabur secara fungsional. Kalandra menghafal seluruh kebiasaan Ghea. Jadwal harian, jam tidur, makanan favorit, hingga gestur kecil wanita itu saat mulai didera stres tingkat tinggi. “Nona...” Kalandra menjeda kalimatnya sebentar, mengukur situasi sebelum melanjutkan dengan hati-hati. “Tuan Besar menelepon saya secara pribadi setengah jam yang lalu karena Anda mengabaikannya.” Gerakan jemari Ghea di layar ponsel langsung terhenti. “Apa lagi maunya?” “Beliau memberi ultimatum,” ujar Kalandra, menatap lurus. “Akhir bulan ini Anda harus sudah menikah. Jika tidak, beliau sendiri yang akan menjodohkan Anda dengan Tuan Dhanu.” Ghea mendongak seketika. Sorot matanya menajam, mengunci figur pria di hadapannya. Nama Dhanu laksana racun bagi telinganya. Pria itu adalah definisi mimpi buruk—pesolek yang bangga akan rekam jejak seks bebas dan pengkhianatan. Lebih jelasnya, dia adalah pria yang kotor. “Tidak akan kubiarkan sampah murahan itu menyentuhku,” desis Ghea dingin. “Lalu, apa rencana Anda, Nona? Waktu Anda hanya kurang dari satu minggu lagi.” Ghea tidak langsung menjawab. Dia bangkit dari kursi kebesarannya, berjalan perlahan mendekati Kalandra hingga jarak mereka hanya tersisa sejengkal. “Selama ini kau rapi sekali menyembunyikan urusan pribadimu dariku, ya, Kal?” Kalandra sedikit mengernyit, terkejut namun berusaha tetap tegap. “Saya tidak menangkap maksud Anda, Nona.” Ghea mengambil sebuah map kuning dari laci mejanya, lalu menyerahkannya tepat ke dada Kalandra. “Buka.” Ragu-ragu saat Kalandra membuka halaman pertama. Seketika itu juga, rona wajahnya surut drastis. Di sana tertera salinan rekam medis adiknya secara lengkap. Diagnosis, hasil laboratorium, hingga surat rujukan ICU. “Dari mana Anda mendapatkan semua ini?” tanyanya tak habis pikir karena Kalandra merasa tak pernah mengatakan apapun pada sang atasan. “Aku punya caraku sendiri,” sahut Ghea santai, kini kembali bersandar di tepi meja kerjanya. “Adikmu sedang bertaruh nyawa di ICU karena DBD fase kritis, Kalandra. Trombositnya anjlok drastis dan dia mengalami pendarahan hebat di saluran pencernaan sejak sore tadi. Dia terus memuntahkan darah, dan dokter bilang dia butuh transfusi darah segar malam ini juga sebelum terlambat.” Rahang Kalandra mengeras, ada kilat defensif di matanya. “Anda memata-matai saya?” “Aku Cuma memastikan orang yang bekerja denganku tidak menyimpan masalah yang bisa mengganggu pekerjaannya.” Ghea menatap asistennya tanpa riak iba sedikit pun. “Tapi kau tahu sendiri masalah utamanya, kan? Adikmu mewarisi mutasi genetik yang langka. Bombay phenotype. Pihak Palang Merah dan bank darah rumah sakit tidak punya stok satu kantong pun malam ini.” Kalandra kehabisan kata-kata. Bagaimana bisa? Padahal dia baru saja menerima kabar buruk itu dari rumah sakit satu jam lalu, dan kini bosnya sudah tahu detail medis adiknya secara mendalam. “Aku rasa kamu juga harus tahu hal ini, Kal. Kalau aku memiliki golongan darah yang sama, dengan adikmu.” Kerutan di dahi Kalandra semakin melebar. “Maksud Anda...?” “Aku bisa ke rumah sakit sekarang, mendonorkan darahku untuk adikmu. Bukan Cuma untuk malam ini, tapi mendampinginya selama masa kritis sampai trombositnya benar-benar stabil.” Ghea menjeda kalimatnya, menatap Kalandra yang kini kehilangan kata-kata. Ghea melangkah maju satu senti lagi. Tanpa diduga, wanita itu mengulurkan tangan, menarik kerah kemeja Kalandra, hingga wajah mereka hampir bersentuhan. “Tapi sebagai gantinya ... nikahi aku.” “Nona, ini...” “Aku nggak butuh cintamu. Aku Cuma butuh suami yang sehat, setia, dan bisa memenuhi kebutuhanku tanpa membawa drama. Kau hangatkan ranjangku, dan adikmu mendapatkan kesempatan untuk hidup. Adil, kan?” Ghea menekan jarinya tepat di dada kiri Kalandra, merasakan detak jantung pria itu yang berpacu liar tak karuan. “Ini bukan penawaran, Kalandra. Ini kesepakatan.”Tiba-tiba saja mereka sudah duduk di salah satu sudut kafe semi-terbuka di tepi danau. Ghea menatap gadis di hadapannya dengan raut datar dan dingin—sikap khasnya saat berhadapan dengan orang luar.Kalandra sebenarnya sempat melarang Ghea memanggil Aiko ke sini. Pria itu menggeleng enggan saat mata mereka tak sengaja bertatap di tepi danau tadi. Namun Ghea bersikeras. Dia memanggil nama gadis itu dan memintanya duduk bersama. Ya, Ghea memang bukan tipe orang yang suka menyimpan ganjalan di belakang.Aiko sendiri masih terdiam. Siapa yang tak merasa serba salah saat dihadapkan dengan tatapan dingin Ghea Victoria? Wanita itu terlalu berwibawa untuk dilancangi.“Aku tahu, kalian pasti berpikir aku sengaja mengikuti kalian sampai ke sini, kan?” Aiko membuka suara lebih dulu, menyuarakan prasangka di antara mereka.“Wajar kalau kami berpikir begitu. Terlebih setelah aku tahu seperti apa hubungan kalian dulu,” sahut Ghea langsung saja. Tanpa basa-basi. Suasana di meja itu seketika mak
Hari pertama di Zurich menjelma menjadi lembaran cerita yang perlahan-lahan menghapus sisa keletihan fisik akibat perbedaan zona waktu. Begitu meninggalkan kamar hotel dengan perlengkapan musim dingin yang berlapis, Kalandra dan Ghea menyusuri kawasan Altstadt atau kota tua yang membentang di sisi Sungai Limmat. Arsitektur abad pertengahan dengan fasad bangunan klasik berwarna pastel menyambut langkah mereka di atas jalanan berbatu yang tertata rapi. Kalandra sama sekali tidak melepaskan tautan jemarinya. Sesekali, ketika embusan angin dari arah pegunungan bertambah lancip, pria itu menarik tangan Ghea yang terbungkus sarung tangan kulit untuk dimasukkan ke dalam saku coat-nya yang hangat. “Kamu nggak begitu kedinginan, kan?” tanya Kalandra saat mereka berhenti di depan etalase sebuah toko cokelat artisanal yang memamerkan berbagai olahan manis berukuran besar. Ghea menggeleng. Meski tak dipungkiri hidungnya memerah. “Aman.” “Syukurlah. Soalnya kalau sampai Ibu dengar kamu
Ekspektasi sering kali berbanding terbalik dengan realita. Ghea dan Kalandra mungkin sempat membayangkan bulan madu mereka di Swiss akan penuh momen romantis. Bisa bangun pagi disambut cahaya lembut dari balik jendela, lalu bersantai menikmati pemandangan.Namun ada satu hal yang luput dari perhitungan mereka. Hal sepele yang jadi masalah besar di tengah musim dingin Eropa.Aksi impulsif Ghea tadi malam jelas menuntut pertanggungjawaban pagi ini. Mereka harus mandi wajib dan keramas, di saat kondisi yang temtu saja lagi malas-malasnya. Ya, di sinilah penderitaannya dimulai. Meski kamar mandi hotel dilengkapi pemanas air yang berfungsi baik, masalah muncul begitu keran dimatikan. Sebab udara dingin di luar bilik shower langsung menyerbu kulit mereka tanpa ampun.Apalagi dengan kondisi rambut basah kuyup begini. Begitu melangkah keluar, suhu tubuh rasanya langsung menurun drastis. Dinginnya menusuk sampai ke tulang.“Sumpah, Kal, dingin banget!” keluh Ghea dengan gigi gemeretak.
Langkah kaki Ghea terasa berat saat menginjak lantai Bandara Zurich. Hawa dingin khas Eropa yang berembus dari celah pintu otomatis langsung menyapa kulit, membuat tubuhnya yang belum pulih refleks bergidik. Jet lag mulai menghantam mereka. Selisih waktu lima jam lebih lambat dari Jakarta sukses mengacak-acak jam biologisnya. Rasanya membingungkan. Mata dan otaknya sudah menagih tidur karena di Jakarta jam menunjukkan pukul sembilan malam, padahal langit Zurich masih terang benderang di pukul empat sore. “Masih mulas perutnya, Ghe?” tanya Kalandra seraya merapatkan jaket tebal yang membalut tubuh istrinya. Pria itu lalu mengambil alih koper Ghea. “Perutnya mendingan, tapi giliran kepala yang pusing, Kal. Aneh. Padahal masih terang, tapi sudah nggak tahan mataku. Berat,” balas Ghea terus terang. Pandangannya agak berkunang-kunang karena kelelahan setelah menempuh belasan jam penerbangan. “ “Iya itu efek jetlag. Ya sudah, selesai ambil mobil sewaan, kita langsung ke hotel. Nggak












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews