تسجيل الدخول"Om, mau tidak jadi Papa kami?" Jeinnarra tidak menyangka si kembar yang memaksa ikut ke pernikahan sahabatnya akan bertingkah konyol, dimana si kembar datang-datang membawa seorang pria berjas dan berparas tampan bahkan yang membuatnya terkejut saat pria itu mengatakan bahwa dia telah menikah dengannya.
عرض المزيدI stared at the contract on my desk like it was a live grenade.
Three months. That's all I had left before my lease at the gallery expired, and Marcus Chen—my landlord, my nemesis, and unfortunately the most attractive man I'd ever had the misfortune of despising—knew it.
The new terms sat there in crisp black ink: a forty percent rent increase. Effective immediately.
I read it three times, hoping the numbers would magically change.They didn't. If anything, they seemed to mock me more with each pass. Forty percent. The words blurred as anger heated my cheeks.
My gallery—Sofia Reyes Fine Arts—had taken five years to build. Five years of living off ramen and rejected credit card applications.
Five years of sweet-talking artists and charming collectors.
Five years of pouring every ounce of myself into transforming a rundown warehouse space into something beautiful.
And now Marcus Chen, with his perfectly tailored suits and his obscene wealth and his infuriating smirk, was about to price me out.
"Absolutely not," I muttered, grabbing my phone. My finger hovered over his contact for half a second before I pressed call. Professional. I needed to stay professional, even though what I really wanted was to march into his office and throw the contract at his stupidly handsome face.
He answered on the second ring.
"Ms. Reyes." His voice was smooth, controlled, with just a hint of amusement that made my jaw clench. "I assume you received the revised agreement.""You can't be serious, Marcus. Forty percent? That's predatory."
"It's market rate. The neighborhood's changed. Your little art gallery sits on prime real estate now." He paused, and I could practically hear the smirk in his voice. "Of course, if you'd like to discuss alternative arrangements, my office is open."
"Alternative arrangements," I repeated flatly. My free hand curled into a fist on the desk.
"I'm a reasonable man, Sofia. Come by tomorrow. Six o'clock. We'll talk."The line went dead before I could tell him exactly where he could shove his alternative arrangements.
I sat there for a long moment, phone still pressed to my ear, listening to dead air. Then I very carefully set it down before I gave in to the urge to throw it across the room.Marcus Chen had been a thorn in my side since the day I signed my first lease. He was only thirty-two—just five years older than me—but he carried himself like some kind of corporate emperor. Old money, new money, it didn't matter. He had enough of both to buy and sell me a hundred times over.
And he knew it.
Every interaction we'd had over the past two years had been the same. Him, impeccably dressed and infuriatingly calm. Me, trying desperately not to show how much he got under my skin.
Our lease meetings were exercises in restraint. His "courtesy inspections" were thinly veiled excuses to remind me who owned the building.
I hated him.
Or at least, I told myself I did.
Because hating him was easier than admitting the truth—that sometimes, when he looked at me with those dark, knowing eyes, my stomach did things it absolutely should not do.That when he leaned close to point out a clause in the contract, I noticed the way his cologne smelled like cedar and something darker, more expensive. That I'd caught myself staring at his hands more than once, wondering what they'd feel like—
No. Stop.
I shook my head sharply, as if that would dislodge the thought. Marcus Chen was my landlord. My professional adversary. Nothing more.
Tomorrow, I'd go to his office. I'd negotiate like the businesswoman I was.
And I absolutely, definitely would not think about the way his suits fit across his shoulders, or the hint of ink I'd once glimpsed at his wrist when his cuff slipped, or the fact that his voice did very inappropriate things to my pulse.
Absolutely not.
Setelah selesai mengisi kajian, Rayyan bergegas menuju sekolah si kembar. Waktu pulang sekolah sudah hampir tiba, dan entah mengapa kali ini Rayyan merasa lebih bersemangat daripada biasanya. Saat melangkah cepat, senyum merekah di wajahnya, dan detak jantungnya terasa semakin kencang. Rayyan lantas beristighfar dalam hatinya, memohon ampun atas perasaan yang memenuhi dirinya. Entah sadar atau tidak, hatinya mulai menyebut nama Anastasia, sang guru muda yang mengajar si kembar. Seperti ada aura positif yang memancar darinya, membuat Rayyan merasa bersemangat menghadapi harinya Setelah 30 menit, mobil Rayhan tiba di depan gerbang sekolah. Rayyan dapat melihat dengan jelas bahwa si kembar sedang berjalan dengan Bu Ana di samping mereka, satu di sebelah kanan dan satu di sebelah kiri.Pintu mobil terbuka, saat Rayyan akan dibantu turun oleh asisten pribadinya, Ana mengucapkan salam bersamaan dengan si kembar."Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap Ana."Waalaikumsalam warah
Di ruang tunggu rumah sakit, Jayden dan Kanaya menarik perhatian banyak orang. Mata mereka tertuju pada Jayden yang tengah mendaftarkan Kanaya di meja resepsionis. Suasana jadi riuh oleh bisik-bisik penasaran, terutama melihat penampilan Jayden yang terlihat begitu cantik dan lucu dengan bandu telinga kelinci yang dipakai. Kemeja pink yang dikenakan Jayden semakin menambah daya tarik. Kanaya, menyadari hal tersebut, tersenyum ke arah suaminya dan berbisik, "Kamu tahu, kamu ini terlihat sangat manis hari ini." Jayden hanya bisa pasrah dengan wajah merah padam, menahan rasa malu yang meluap-luap. Seandainya ia tak perlu membujuk Kanaya untuk berobat, Jayden tentu tak akan mengenakan pakaian pink ini.Setelah mendaftar, Kanaya dan Jayden melangkah bersama menuju poli umum. Suasana ruangan yang ramai membuat Kanaya merasa gugup. Tak lama kemudian, nama Kanaya dipanggil oleh petugas, membuat jantungnya berdebar kencang. "Mas, sejujurnya gak usah ke dokter ih
Setelah satu bulan berlalu sejak kecelakaan itu, segalanya telah berubah. Kanaya dengan hati yang tulus memaafkan Rayyan atas semua kesalahannya. Dia juga mengizinkan si kembar bertemu dengan ayah kandung mereka.Fatimah, mertua Kanaya, sangat terharu dengan sifat baik hati menantunya. Dia melihat betapa Kanaya memiliki hati yang begitu baik.Setelah insiden itu, baru seminggu ini si kembar kembali melangkahkan kaki ke sekolah. Pagi ini, mereka akan diantar oleh ayah kandung mereka, Rayyan. "Abang! Adek! Ayo cepat, Papa sudah menunggu!" seru Kanaya, menarik perhatian mereka dari meja makan. "Sayang, jangan teriak-teriak, nanti tenggorokanmu sakit," tegur Jayden lembut. "Ih, kalau tidak teriak, bagaimana mereka bisa mendengar, Mas!" balas Kanaya dengan nada manja. Pagi itu, si kembar melangkah ke ruang makan dengan wajah ceria. "Pagi, Bunda. Pagi, Ayah sayang. Pagi, Nenek," sapa mereka ramah. "Lho, Bun, katanya ada Papa?" tanya Keanu dengan raut penasaran. "Tuh, Papamu ada di r
Fatimah menatap Jayden, mata yang penuh kecemasan. "Jayden, bawa Kanaya ke ruang rawat si kembar. Dia juga perlu istirahat," ujarnya lembut. Jayden tampak ragu, menggaruk-garuk kepala, "Tapi, Bun, bagaimana dengan Mas Rayyan?" Fatimah melirik Abdullah, yang kemudian mengambil alih pembicaraan. "Biarkan kami yang menjaganya, Jay. Kamu istirahat saja sekarang," ucap Abdullah, berusaha meyakinkan Jayden. Akhirnya, Jayden mengangguk dan mengajak Kanaya meninggalkan ruangan. Setelah pintu tertutup rapat, Fatimah tiba-tiba terisak pelan. Abdullah segera merengkuh istrinya, hati serasa teriris menyaksikan kesedihan yang mendalam di wajah Fatimah. "Sayang, kamu boleh menangis sekarang. Tapi setelah ini, saya mohon, jangan ada lagi air mata. Kita harus kuat demi Rayyan," bisiknya lembut di telinga Fatimah."Mas, tapi aku tidak menyangka Rayhan akan seberani itu membawa kabur si kembar," ucap Fatimah dengan suara lirih, matanya tampak berkaca-
"Tapi aku udah kayak tante-tante gatel deh, masa nikah sama brondong kayak gak ada cowok aja.""Cowok banyak, tapi jodohnya sama saya. Sudah gak usah dipikirkan," ucap Jayden meyakinkan."Ayo turun," ajak Jayden saat mobil akhirnya sampai di depan butik. Ternyata perjalanan hanya memakan waktu 10 me
"Ya jelas bisa, kan aku yang melamarnya," jawab Jayden dengan percaya diri."Kerja? Umurnya berapa?" tanya Rayyan."Dia seorang janda dengan dua anak, namanya Kanaya, usianya 27 tahun," jawab Jayden."Kamu sehat kan, Dek?" tanya Rayyan, masih bingung dengan pilihan Jayden yang memilih seorang janda
"Alasannya, kamu ini masih anak kecil. Kamu masih senang bermain-main. Jangan sampai-""Itu pemikiran konyol, Nay," pungkas Jayden."Apakah menikah harus dilihat dari umur? Kata siapa saya kekanakan? Bahkan kamu belum mengenal saya, dan kamu tidak akan tahu sifat dan sikap saya," ucap Jayden."So,
Jayden tersenyum kecil dan merentangkan kedua tangannya dengan lebar menyambut bocah kembar itu."Hap!" Keduanya masuk ke dalam pelukan Jayden.Hal ini jelas membuat Kanaya dan Maryam saling tatap seakan berbicara lewat hatinya, kenapa anak-anak begitu akrab dengan pria ini?"Ekhem!" Abdullah, aya


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
المراجعاتأكثر