Kimmy baru menyadari ada sesuatu yang aneh ketika taksi yang ditumpanginya berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit.
Ia kembali memeriksa kartu nama di tangannya. Alamatnya benar.
Tetapi...
Ini bukan kantor.
Kimmy mendongak perlahan.
Gedung itu menjulang tinggi dengan fasad kaca berwarna gelap yang memantulkan langit pagi. Deretan mobil mewah keluar masuk area depan gedung. Beberapa petugas keamanan berdiri di pintu masuk dengan setelan rapi yang bahkan terlihat lebih mahal daripada seluruh isi lemari pakaian Kimmy.
"Yakin, Mbak, di sini?" tanya sopir taksi.
Kimmy menahan napas sampai benar-benar yakin.
"Sepertinya."
Jujur saja, sekarang ia mulai tidak yakin. Tapi dia tetap keluar menuju lobby.
Seorang petugas lobby sudah menunggunya. Dan begitu Kimmy menyebut namanya, pria itu langsung tersenyum sopan.
"Silakan ikut saya, Nona Kimmy."
Kimmy mengangguk.
Semakin jauh ia melangkah ke dalam gedung, semakin ia merasa dirinya salah masuk dunia.
Lantai marmer putih mengkilap. Dinding kaca raksasa. Lukisan-lukisan modern yang mungkin harganya setara rumah.
Semuanya terasa sangat mewah.
Lift pribadi membawa mereka naik. Dan terus naik hingga ke puncak. Sampai akhirnya pintu lift terbuka kembali.
Kimmy melangkah keluar. Lalu berhenti. Benar-benar berhenti. Matanya membesar. Untuk beberapa detik ia bahkan lupa berkedip.
"Ya Tuhan..."
Di depannya terbentang sebuah kolam renang indoor yang luar biasa besar. Atap kaca menjulang tinggi di atas kepala. Sinar matahari pagi masuk dari segala arah.
Ajaibnya, deretan pohon palem tumbuh di sepanjang sisi kolam. Ada pasir putih, ada batu koral ada kursi santai. Semuanya dibuat menyerupai pantai pribadi. Padahal mereka berada puluhan lantai di atas tanah.
Kimmy bahkan masih bisa melihat sebagian pemandangan kota dari balik dinding kaca. Gedung-gedung tinggi menjulang di kejauhan. Mobil-mobil di jalan terlihat sekecil mainan. Rasanya seperti berdiri di dunia lain.
Bukan apartemen.
Bukan rumah.
Lebih mirip resor pribadi yang dipindahkan ke puncak gedung pencakar langit.
"Mohon tunggu sebentar."
Pelayan yang mengantarnya membungkuk sopan. Kimmy hanya mengangguk. Pikirannya masih sibuk memproses apa yang sedang ia lihat.
Lalu suara percikan air membuatnya menoleh. Dan jantungnya langsung berhenti berdetak selama satu detik.
Seseorang baru saja keluar dari kolam renang.
Tristan Murai.
Kimmy langsung membeku. Pria itu berjalan santai menuju tepi kolam. Air masih menetes dari rambut gelapnya, dari bahu, dari lengan, dada, otot perut. Semua masih terbuka.
Kimmy buru-buru mengalihkan pandangan. Tetapi terlambat. Gambaran pria dewasa itu sudah terlanjur masuk ke dalam kepalanya.
Ya Tuhan.
Kenapa wawancara kerja dilakukan di tempat seperti ini?
Tristan mengambil handuk dari kursi di dekat kolam. Mengeringkan rambutnya sekilas. Kemudian melilitkan handuk itu di pinggang. Barulah kemudian ia berjalan menghampiri Kimmy.
Langkahnya tenang. Percaya diri. Seolah seluruh tempat ini memang teritori nya.
"Aku tidak tahu kau sudah datang."
Suara Tristan terdengar berat, datar. Dan entah kenapa selalu terdengar seperti perintah meskipun ia sedang berbicara biasa.
Kimmy memaksakan senyum sopan.
"Maaf jika saya datang di waktu yang tidak tepat."
Tatapan mata biru gelap itu bergerak meneliti lawan bicaranya beberapa detik. Membuat Kimmy semakin tidak nyaman.
"Sebaiknya kita bicara di tempat lain."
Tristan menjentikkan jarinya. Seorang pelayan segera mendekat.
"Antarkan Nona Kimmy."
"Baik, Tuan."
Kimmy hampir mengucapkan terima kasih karena merasa diselamatkan oleh pelayan.
Ia dibawa ke lantai berikutnya. Kali ini suasananya lebih tenang. Lebih privat.
Ada area duduk luas yang menghadap langsung ke kolam renang dari atas. Pelayan mempersilahkannya menunggu.
Kimmy duduk perlahan.
Tangannya meremas tas di pangkuan. Matanya sibuk memperhatikan sekeliling.
Dominasi warna putih.
Abu-abu lembut.
Kaca.
Cahaya.
Semuanya terasa mahal.
Dan sunyi.
Sangat sunyi.
Seolah hanya ada sedikit orang yang diizinkan masuk ke tempat ini.
Kimmy mendadak teringat kantor lamanya. Lalu merasa hidup memang tidak adil.
Tidak lama kemudian pelayan yang sama kembali.
"Nona Kimmy."
"Ya?"
"Mr. Murai sudah menunggu."
Kimmy segera berdiri. Perasaannya mulai tidak tenang. Tetapi ia tetap mengikuti pria itu. Melewati lorong panjang. Naik satu lift lagi. Lalu berjalan melewati karpet tebal yang meredam suara langkah mereka menjadi sangat halus.
Akhirnya mereka berhenti di depan sebuah pintu. Pelayan yang membukanya.
"Silakan masuk."
Kimmy mengangguk berterima kasih. Kemudian melangkah masuk.
Ruangan itu sangat besar. Dan baru setelah beberapa langkah Kimmy sadar bahwa itu bukan ruang kerja.
Bukan ruang rapat.
Bukan kantor.
Itu kamar.
Kamar pribadi.
Jantungnya sontak langsung berdetak lebih cepat.
Tristan Murai juga sudah berada di sana. Duduk santai di sofa dekat jendela. Kini ia sudah berpakaian lengkap. Kemeja hitam, celana panjang gelap. Rambutnya masih sedikit basah. Beberapa helai jatuh di dahinya.
Ia terlihat hampir sama seperti saat pesta. Tenang, dingin, sulit ditebak.
Kimmy menoleh ke belakang. Pintu sudah tertutup. Entah kenapa bulu kuduknya meremang.
"Hanif yang mengirimmu kemari? " suaranya terdengar datar dan tenang.
"Ya," Kimmy mengangguk.
Kimmy hanya tidak menyangka jika kemudian Tristan bangkit dan berjalan menghampirinya.
"Dia menyuruhku datang untuk wawancara," kata Kimmy sebelum pria itu benar-benar mendekat dan tiba-tiba Kimmy ingin melangkah mundur.
"Aku tidak yakin dia mengatakan itu padamu." Tristan mengernyitkan dahinya.
"Apa maksud, Anda?"
"Dia mengirimmu kemari untukku."
Tristan Murai sudah berdiri tepat di depannya dan sedang menyentuh kulit leher Kimmy mengunakan punggung tangannya dengan lembut seperti buaian.
"Dia menawarkanmu di ranjangku sebagai imbalan karena aku sudah memberinya promosi jabatan. "
"Mustahil! " Kali ini Kimmy benar-benar melangkah mundur. Meskipun tidak percaya ia tetap harus waspada karena instingnya memberitahukan seperti itu.
Tristan hanya mengedikkan bahu dan justru terlihat santai menanggapinya.
"Dia sendiri yang menawarkanmu ke padaku, aku tidak pernah meminta wanita," senyumnya terlihat meremehkan.
"Itu tidak mungkin! " tolak Kimmy.
Kimmy sama sekali tidak percaya karena bagaimanapun dia bukan baru mengenal tunangannya satu atau dua tahu. Jadi saat itu Kimmy masih yakin jika tidak mungkin pria yang sudah di cintainya seumur hidup itu tega berbuat demikian hanya untuk sebuah jabatan.
Walaupun Kimmy tahu jika Hanif adalah pria yang memiliki ambisi dan akan melakukan apapun demi tujuannya tapi tetap tidak mungkin dia tega menjualnya pada Tristan Murai.
"Kami akan menikah, tahun depan," kata Kimmy.
Kali ini Tristan yang melangkah mundur untuk memperhatikan Kimmy dengan lebih seksama.
"Kupikir kalian sudah cukup dewasa untuk membahas perkara seperti ini, sebelum mengirimmu padaku."
"Aku masih tidak percaya bang Hanif tega berbuat seperti itu!" Kimmy masih menggeleng karena sama sekali tidak ingin mempercayai apapun yang di katakan Tristan Murai yang sangat tidak masuk akal.
"Kau pikir aku akan memberinya promosi semudah itu tanpa imbalan apa-apa yang coba dia tawarkan padaku? " Tristan balik bertanya dengan nada sinis, sedikit mengejek.
Kimmy masih menggeleng dan mundur sampai tiba-tiba punggungnya sudah membentur dinding. Kimmy benar-benar masih tidak ingin percaya jika pria yang sangat dicintainya itu tega berbuat seperti ini padanya.
"Dia juga memohon agar aku memberi pekerjaan untukmu, " tambah Tristan.
"Mustahil, dia tidak mungkin berbuat seperti itu!" Kimmy terus menggeleng bersama benih air mata yang mulai menggenang di sudut matanya.
"Dia hanya menawarkan mu untuk satu hari satu malam." _____"Sebenarnya itu bukan masalah, kau cukup menemaniku sampai aku selesai dan kau boleh pergi, dia juga akan tetap menikahi mu."
Baru kali ini Kimmy benar-benar menangis. Dia tidak percaya tunanganya tega berbuat seperti ini, karena seorang Tristan Murai juga tidak mungkin sedang berbohong. Dia bisa mendapatkan wanita manapun tanpa perlu repot-repot mengarang kebohongan macam ini. Apa lagi hanya untuk wanita seperti dirinya.
Tristan coba meraih Kimmy dan menghapus air matanya tapi Kimy buru-buru menolak dengan berinsut menjauh.
"Aku mau pulang, " kata Kimmy saat memberanikan diri untuk menatap Tristan yang ternyata hanya menggeleng.
"Sepertinya tidak bisa, " kata pria itu dan Kimmy pun segera menepis tangannya, karena tiba-tiba merasa jijik.
"Aku tidak mau dan aku punya hak untuk menolak! " tegas Kimmy dengan gigi bergetar.
Kimmy tidak peduli jika telah dikhianatin oleh tunangannya sendiri dan itu masih terlalu menyakitkan untuk benar-benar dia pikirkan sekarang. Tapi yang Kimmy tahu dirinya tetap wanita yang bebas baik bang Hanif ataupun Tristan, mereka sama sekali tidak memiliki hak atas dirinya.
"Buka pintunya dan aku mau pergi!" Kimmy sudah cukup panik karena memutar-mutar knop pintu yang tetap tidak bergeming.
Tristan menggeleng, "Dia sudah mengambil perjanjiannya, aku boleh memilikimu.Tidak perlu sehari semalam, cukup buat saja aku puas dan semua ini selesai." Tristan masih begitu santai seolah mereka tidak sedang membahas perkara yang sangat tidak bermartabat.
"Kau tidak bisa memaksaku!" tolak Kimmy dengan tegas.
"Aku bukan pria yang akan memaksa wanita. "
Tristan Murai sengaja melangkah mundur agar Kimmy bisa melihatnya secara utuh.
"Apa aku terlihat buruk ?" tanya pria itu dengan sangat percaya diri, dan luar biasa jengkel dengan sikap naif Kimmy. "Kupastikan kau juga akan sangat bersenang-senang."
Sungguh demi apapun Kimmy tetap merasa jijik membayangkan dirinya harus melakukan perbuatan kotor untuk melayani nafsu seorang pria di atas ranjang, tak perduli meskipun pria itu setampan Tristan Murai.
"Kupikir kita sudah cukup dewasa untuk membahas hal seperti ini. Kita adalah dua orang dewasa yang sedang berada di dalam sebuah kamar mustahil kau tidak ingin kita melakukan apa-apa. "
Kimmy menggeleng tegas sembari mengepalkan tangannya dengan kaku.
"Aku mau pulang, dan akan berteriak jika kau tidak segera membuka pintu!"
"Tidak akan ada yang mendengarmu," muak Tristan yang kemudian malah berjalan kembali ke sofa dan duduk satai di sana untuk menatap Kimmy yang masih berdiri kaku di depan pintu.
"Terserah jika kau akan mengurungku sehari semalam, tapi jangan harap aku mau melakukan apapun untukmu!"
"Duduklah jika kau lelah berdiri di situ," kata Tristan sambil menepuk sofa di sebelahnya, berlagak sama sekali tidak menghiraukan ancaman Kimmy.
Kimmy sama sekali tak bergeming dan bersikeras tetap akan berdiri meskipun nanti kakinya kram dan pegal.
"Apa kau tidak bosan? " tanya Trista setelah beberapa lama Kimmy benar-benar hanya berdiri.
Kimmy masih acuh.
"Ayolah kita sudah sama-sama dewasa kita tidak perlu seperti ini, sementara kita bisa melakukan banyak hal menyenangkan jika kau mau mendekat kemari."
"Aku akan tetap di sini! "
"Untuk apa kau bersikeras seperti itu?" heran Tristan.
"Apa itu hanya untuk pria yang sudah menawarkanmu di ranjangku?"
Kimmy berpaling karena takut ketahuan jika dirinya hendak menangis tiap kali diingatkan dengan penghianatan tunangannya.
"Lebih baik kita bercinta dan melupakannya dari pada kau hanya berdiri di situ."
"Oh,singkirkan otak kotormu! " pekik Kimmy yang sudah mengabaikan tata krama, tapi anehnya Tristan justru tertawa.
"Tidak ada yang tidak suka bercinta, aku yakin kau juga akan sangat menyukainya denganku, " cemoohnya dengan seringai meremehkan.
"Kau tidak perlu keras kepala, dengan berpura-pura tidak menginginkannya sama sekali."
"Tidak, aku tidak akan melakukan apapun untukmu!" tegas Kimmy untuk ke sekian kali.
"Terlalu banyak hal menyenangkan yang bisa dilakukan pria dan wanita ketika terkurung berdua di kamar seperti ini." ______ "Tidak akan ada yang mengganggu kita."
Kimmy kembali membisu, pura-pura tidak mendengar apa yang dibicarakan pria itu.
Tristan kembali bangkit untuk berjalan mendekati Kimmy yang masih keras kepala menolaknya.
"Ini akan menyenangkan dan cukup hanya kita berdua yang tahu, " bisiknya ketika mereka ternyata sudah cukup dekat karena Kimmy tidak bisa mundur lagi.
"Tinggal kau tanggalkan pakaianmu dan aku juga akan melakukan hal yang sama."
Tristan benar-benar pintar untuk mengiring pikirannya ke lembah nista.
Kimmy semakin tegas menggeleng karena sama sekali tidak bisa membayangkan dirinya berbuat sekotor itu. Tak peduli meski pun Tristan Murai adalah mahluk yang terlalu menggoda untuk dituruti keinginannya.
"Lakukan seperti saat kau bercinta dengannya."
"Aku bukan wanita seperti itu! "kali ini Kimmy cukup berani untuk balas menatap Tristan dengan sungguh-sungguh.
"Mustahil wanita sepertimu masih perawan? "tanya Tristan terdengar iseng tapi Kimmy memang mengangguk.
"Aku tidak akan melakukan perbuatan menjijikkan seperti itu! " tegas Kimmy masih cukup berbangga dengan prinsipnya.
"Apa bedanya, pada akhirnya semua wanita juga membutuhkan pria untuk mengisinya," cemooh Tristan sebelum mengangkat dagunya.
"Seorang wanita sebenarnya juga memiliki keinginan yang sama dengan seorang pria!"
Kimmy sama sekali tidak menduga jika Tristan akan menciumnya setelah itu. Kimmy berusaha menolak tapi Tristan berhasil menahannya agar tetap diam. Tentu Kimmy sudah pernah berulang kali berciuman dengan Hanif tapi rasanya memang tidak sama seperti saat Tristan Murai yang terus memaksa untuk merampas bibirnya meskipun Kimmy bersikeras menolak.
Tristan mendorongnya semakin merekat ke dinding jadi Kimmy sama sekali tidak bisa bergerak kecuali menerima apapun yang diperbuat pria itu termasuk saat tiba-tiba tangan Tristan sudah sangat lancang menyisip ke dalam span pensilnya. Sungguh itu adalah tindakan yang sangat kurang ajar, tapi Kimmy sama sekali tidak bisa berkelit karena lututnya juga ditekan ke dinding. Jadi Kimmy hanya bisa pasrah ketika merasakan jari-jari pria itu menggerayanginya dengan berani dan tidak senonoh.
"Kau menyukainya?" bisik Tristan seperti ejekan halus karena dia tidak bodoh untuk sekedar mengetahui jika wanita itu juga menikmati sentuhannya.
Kimmy mulai melenguh gelisah, karena Tristan tidak mau berhenti mempermainkannya dan sama sekali tidak perduli walaupun Kimmy mulai kepayahan mempertahankan harga diri.
"Aku punya banyak cara untuk menyenagkanmu seperti ini," bisik Tristan sambari mengigit daun telinga Kimmy yang sudah tidak mampu lagi menolak semua perlakuannya.
Kimmy memang sudah sangat kuwalahan menanggung semua keinginan Tristan, dia tidak bisa menghindar dan hanya bisa pasrah membiarkan pria itu mendapatkan kesenangannya.
"Kau begitu manis dan panas."
Entahlah Kimmy tidak tahu lagi apa yang dia rasakan ketika menyaksikan Tristan melumat jari tengahnya sendiri yang baru dia cabut dari dalam tubuhnya yang mencair. Kimmy benar-benar masih linglung setelah perbuatan kotor Tristan Murai menghancurkan kepolosannya.
Sebenarnya Tristan juga tidak menyangka jika dirinya akan mendapatkan hadiah menyenangkan seperti ini. Menggoda seorang wanita yang ternyata masih sangat awam dengan sentuhan pria tentunya akan menjadi kegiatan yang semakin menyenangkan.
Tristan sudah menyambar tubuh Kimmy dan membaringkannya di atas ranjang.
"Tolong jangan lakukan itu lagi, " mohon Kimmy rela berlutut agar pria itu berhenti. Tapi justru Tristan menyentuh bibirnya dengan jari telujuk dan berdesis lirih agar Kimmy diam ketika ia mulai melepas kancing bajunya.
"Kita akan bercinta sayang dan percayalah ini akan menyenangkan."
Kimmy hanya tahu jika semua ini sudah tidak benar tapi Tristan Murai tentunya juga bukan jenis pria yang mudah diabaikan dengan segala ajakan kotornya.