Share

BAB 4 PHK

Author: Jemyadam
last update publish date: 2020-09-28 16:33:59

BAB 4 PHK

Pagi itu Kimmy datang ke kantor dengan perasaan yang aneh.

Baru semalam ia berada di sebuah klub elite yang dipenuhi orang-orang sukses, lampu kristal, pakaian mahal, dan percakapan tentang proyek bernilai miliaran rupiah.

Lalu pagi ini...

Ia kembali duduk di kursi kerjanya yang mulai berderit setiap kali digeser. Kembali melihat komputer lama yang kadang mati sendiri. Kembali mencium aroma kertas, tinta printer, dan kopi sachet yang terlalu manis.

Rasanya seperti baru pulang jalan-jalan ke bulan..Lalu ditendang kembali ke bumi.

Kimmy menghela napas pelan. Hidup memang suka bercanda. Kadang bercandanya juga keterlaluan.

Kalau dipikir-pikir, siapa yang tidak ingin bekerja di perusahaan besar seperti tempat Hanif bekerja?

Gaji besar.

Jenjang karier jelas.

Lingkungan kerja nyaman.

Bonus.

Fasilitas.

Sedangkan dirinya?

Tiga tahun bekerja di sini dan satu-satunya bonus yang pernah ia dapat adalah tambahan pekerjaan.

Kimmy bahkan pernah bercanda pada Hanif bahwa dirinya bekerja bukan demi masa depan, melainkan demi membayar tagihan internet setiap bulan.

Sayangnya itu bukan lelucon.

Baru saja ia duduk, suara seseorang memanggilnya.

"Kimmy."

Kimmy mendongak.

"Kak Lisa."

Wanita yang duduk dua kubikel darinya tersenyum.

Lisa adalah satu-satunya perempuan lain di ruangan itu. Satu-satunya tempat Kimmy bisa mengeluh tanpa takut dianggap terlalu sensitif.

"Ada surat buat kamu."

"Hm?"

"Tadi ditaruh bagian administrasi."

Kimmy mengikuti arah telunjuk wanita itu. Sebuah amplop cokelat tergeletak di atas mejanya.

"Oh."

Kimmy langsung mengambilnya.

"Terima kasih, Kak."

"Sama-sama."

Lalu tanpa alasan jelas, Kak Lisa mengedip.

"Good luck."

Kimmy tertawa kecil.

"Kenapa pakai good luck segala?"

"Ya siapa tahu isinya kabar baik."

"Kabar baik dari kantor ini?"

Kak Lisa ikut tertawa.

"Benar juga."

Kimmy meletakkan amplop itu sementara waktu mejanya masih berantakan. Hari Jumat lalu ia pulang terburu-buru demi bersiap pergi bersama Hanif ke acara perusahaan.

Setelah lima belas menit membereskan kertas, memo, dan penjepit dokumen yang berserakan, barulah ia kembali ingat pada amplop coklatnya. Dengan santai ia merobek bagian atasnya.

Tidak ada firasat apa pun. Dia pikir paling cuma slip gaji. Atau pemberitahuan administrasi. Atau tagihan asuransi.

Kemudian matanya membaca isi surat. Sekali... dia ulang lagi dua kali untuk memastikan. Sampai akhirnya otaknya mulai memahami kalimat yang tertulis di sana.

Wajah Kimmy perlahan kosong.

"...hah?"

Ruangan terasa sunyi.

Padahal suara printer masih berbunyi.

Orang-orang masih bekerja.

Seseorang bahkan sedang tertawa di sudut ruangan.

Tetapi Kimmy seperti tidak mendengar apa-apa.

Yang ia lihat hanya beberapa kalimat sederhana.

[Kontrak kerja tidak diperpanjang. Efektif akhir bulan ini. Terima kasih atas kontribusi selama bekerja.

Sekian.

Selesai.]

Tiga tahun kerja keras diringkas menjadi tiga kalimat.

"Astaga..."

Kimmy menatap surat itu lagi. Berharap huruf-hurufnya berubah. Tetapi tidak, tetap sama.

Kontraknya selesai.

Dan perusahaan tidak ingin memperpanjangnya.

Artinya?

Ia kehilangan pekerjaan. Kesal, malu, sedih, semua bercampur menjadi satu. Kimmy langsung meremas surat itu.

Bruk!

Amplop cokelat melayang masuk ke tempat sampah. Beberapa kepala sempat menoleh. Kimmy tidak peduli. Sungguh ia tidak peduli.

Atau setidaknya berusaha terlihat tidak peduli.

Padahal dalam hati rasanya ingin menjerit.

Hebat sekali.

Bahkan perusahaan yang tidak pernah memberinya kenaikan gaji pun tetap merasa dirinya tidak layak dipertahankan.

Benar-benar pencapaian yang luar biasa.

Kimmy menyandarkan kepala ke kursi. Menatap langit-langit. Kalau ibunya tahu pasti panik. Kalau keluarga besar tahu pasti heboh.

Kalau Hanif tahu...

Kimmy langsung menutup wajahnya.

Ya Tuhan.

Bagian itu yang paling memalukan.

Sepanjang siang Kimmy tidak bisa fokus. Angka-angka yang biasanya mudah dipahami berubah menjadi simbol asing. Laporan keuangan tampak seperti tulisan dari kitab kuno. Pikirannya terus kembali pada satu hal.

PHK.

PHK.

PHK.

Padahal dirinya bukan karyawan bermasalah. Tidak pernah terlambat. Tidak pernah membuat keributan. Tidak pernah menerima surat peringatan. Bahkan sering lembur.

Tetapi ternyata itu semua tidak cukup.

Kimmy mendesah.

Mungkin memang benar. Ada orang yang dilahirkan dengan bakat luar biasa. Dan ada orang yang dilahirkan dengan nasib luar biasa. Sayangnya Kimmy merasa dirinya tidak memiliki keduanya.

Jam tiga sore akhirnya ia menyerah. Laptop ditutup, tas dia sambar. Lalu ia keluar kantor lebih awal. Masa bodoh. Mereka sudah memecatnya.

Apa lagi yang bisa mereka lakukan?

Memecatnya dua kali?

Satu jam kemudian Kimmy duduk di dekat jendela sebuah coffee shop. Pipinya bertumpu di tangan. Tatapannya kosong. Sesekali ia mengaduk milkshake yang sebenarnya sudah hampir habis.

Di luar sana matahari mulai turun. Mobil lalu-lalang memenuhi jalan. Kemudian sebuah sosok yang sangat dikenalnya muncul di area parkir.

Hanif.

Kimmy otomatis memperhatikannya. Dan seperti biasa...

Pria itu terlihat menyebalkan karena terlalu tampan.

Serius.

Kimmy sedang mengalami hari terburuk. Tetapi Hanif tetap terlihat seperti model iklan jas mahal yang baru selesai pemotretan.

Pria itu melambai dari kejauhan. Kimmy membalas lemas.

Beberapa menit kemudian Hanif sudah duduk di depannya.

"Kau menunggu lama?"

"Sedikit."

Hanif membuka jasnya.

"Aku punya kabar bagus."

Kimmy memaksakan senyum.

"Oh ya?"

Hanif tampak bersemangat.

"Aku dapat promosi lagi."

Dan tepat saat itulah... Mental Kimmy rasanya jatuh dari lantai tiga puluh. Di saat dirinya baru menjadi pengangguran, tunangannya justru naik jabatan lagi.

Hidup memang kreatif dalam menciptakan kontras.

Hanif masih berbicara antusias. Tentang proyek baru. Tentang tanggung jawab baru. Tentang target masa depan. Tentang rencana membangun perusahaan sendiri suatu hari nanti.

Kimmy berusaha mendengar. Tapi sungguh otaknya seperti berhenti bekerja. Ia hanya mengaduk sisa es yang sudah mencair. Sampai bunyi sedotan menggesek dasar gelas.

"Krrkkk..."

"Krrkkk..."

"Krrkkk..."

Tiba-tiba Hanif mengambil gelas itu.

Kimmy berkedip.

"Hm?"

"Sudah habis dari lima menit lalu."

"Oh."

Hanif mengernyit. "Kau sakit?"

Tangannya terulur menyentuh dahi Kimmy.

Kimmy menggeleng. "Bukan di situ yang sakit."

Hanif tampak bingung.

Kimmy menunjuk dadanya sendiri. "Yang sakit di sini."

Kini wajah Hanif berubah serius.

"Ada apa?"

Kimmy menunduk sebentar. Lalu akhirnya mengaku.

"Aku baru kena PHK."

Beberapa detik Hanif hanya diam. Bukan karena terkejut. Cuma tampak sedang memproses sesuatu. Kemudian ia menghela napas panjang.

"Jadi benar."

"Benar apa?"

"Kamu memang tidak mendengarkanku dari tadi."

Kimmy berkedip.

"Hah?"

Hanif menyandarkan tubuhnya.

"Aku sudah bilang ada kabar baik untukmu."

Kimmy masih bingung.

"Aku pikir kabar baiknya cuma soal promosi."

"Bukan."

"Lalu?"

Hanif menggeleng pasrah.

"Aku sudah berkali-kali menyuruhmu resign."

Kimmy mulai memperhatikan. Dan baru kali ini dia merasa tertarik.

"Terus?"

"Ada posisi kosong untukmu."

Kimmy membeku.

"...apa?"

"Ada lowongan."

"Untuk aku?"

Hanif mengangguk.

"Untuk kamu."

Kimmy langsung duduk tegak. Sedetik lalu ia hampir menangis. Sekarang matanya mulai berbinar.

"Tunggu."

"Ya."

"Tunggu sebentar."

Hanif tertawa kecil.

"Aku menunggu."

"Jadi aku tidak menganggur?"

"Belum tentu."

Wajah Kimmy langsung kembali cemberut.

Hanif terkekeh.

"Tergantung hasil wawancara."

"Bang!"

"Oke, oke."

Beberapa menit kemudian Hanif mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya.

Ia meletakkannya di atas meja. Kimmy mengambilnya. Lalu membaca tulisan yang tertera.

TRISTAN MURAI.

Kimmy langsung mengenali nama itu.

"Bosmu?"

Hanif mengangguk.

"Aku sudah bicara dengannya untuk memberimu kesempatan."

Kimmy menatap kartu itu. Jantungnya mulai berdebar.

"Serius?"

"Serius."

"Dia mau mempertimbangkan ku?" Kimmy menunjuk dirinya sendiri.

"Ya."

Akhirnya Kimmy menatap kartu itu lagi. Ada harapan baru di wajahnya.

"Mungkin hariku belum sepenuhnya buruk."

Namun yang tidak Kimmy sadari...

Kartu nama di tangannya bukan sekadar peluang pekerjaan baru.

Bukan sekadar jalan keluar dari dunia pengangguran.

Karena tanpa ia ketahui, langkah kecil yang akan diambilnya besok justru akan membuka pintu menuju sesuatu yang jauh lebih besar.

Sesuatu yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Dan semua itu dimulai dari satu nama yang tercetak elegan di atas kartu hitam tersebut.

Tristan Murai.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Arif Zaif
baru habis baca kisah emy and Eric (aku memilihmu)
goodnovel comment avatar
Yuli Defika
Gila si hanif kimmy.run
goodnovel comment avatar
Kalsum Ajies
bagus cerita nya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • BERBAGI HATI DENGAN BOSMU   BAB 67 END

    Hanif, Kimmy, dan Tristan duduk di beranda sambil menyaksikan anak-anak yang sibuk bermain dengan kuda poni. Al juga sudah lama tidak bertemu Sofia, nampaknya mereka juga sudah sangat rindu hingga sepertinya belum mau berpisah ketika Hanif hendak mengajak putrinya untuk pulang. "Menginaplah, Bang, mereka sudah lama tidak bertemu biarkan lebih puas bermain dulu." Tristan juga menawarkan kamar tamu yang dekat dengan kamar putranya di lantai dua, karena Al juga merengek ingin tidur bersama bang Hanif. Dulu Kimmy memang sering membiarkan putranya menginap di tempat Bang Hanif jika dirinya sedang bepergian untuk pekerjaannya. Meski bukan darah dagingnya sendiri tapi Hanif tetap menyayangi Al seperti putranya dan bocah laki-laki itu juga sudah biasa bermanja-manja padanya sejak bayi. Bang Hanif akhirnya setuju untuk kembali ke hotelnya beso

  • BERBAGI HATI DENGAN BOSMU   BAB 66 HAMIL

    Menjelang akhir musim semi udara malam terasa semakin hangat, bercinta bisa menjadi kegiatan yang semakin menyenangkan karena mereka tidak perlu merasa khawatir bakal menggigil kedinginan meskipun tidur tanpa pakaian sampai pagi. Tristan sengaja membuka semua pintu balkon dan membiarkan udara malam ikut masuk menemani mereka berdua bergelung dalam gairah. Kimmy sudah terasa begitu lembut dan manis, menyambut dengan antusias setiap sentuhannya dengan begitu menyenangkan. Lenguhan rendahnya terlalu menggoda untuk di abaikan, Tristan tahu di mana wanita itu paling suka untuk di sentuh dan di manjakan. Tristan kembali menekan pinggul Kimmy yang sedikit terangkat karena sama-sama sedang tidak sabar ingin segera diselesaikan."Sabar, Sayang." Tristan baru saja hendak memasukinya ketika tiba-tiba Kimmy menjentikkan jari menyuruhnya untuk berhenti.

  • BERBAGI HATI DENGAN BOSMU   BAB 65 LOVE

    Sudah hampir tengah malam ketika hujan akhirnya reda, Kimmy dan Tristan sampai harus mengendap-ngendap masuk kerumah mereka sediri seperti pencuri yang takut tertangkap basah. Tristan membawa Kimmy melewati tangga putar dari samping menara ruang kerja kakeknya. Dari situ ada lorong sempit yang akan berujung pada pintu darurat dari kamarnya. Bahkan Kimmy sendiri tidak tahu jika ada pintu keluar lain dari kamar mereka. Karena jarang di lewati jadi lorongnya gelap tanpa penerangan dan agak berdebu. Belum apa-apa Kimmy sudah terbersin-bersin dan membuat Tristan menciumnya kemudian tertawa."Jangan berisik nanti kita ketahuan" seolah mereka berdua benar-benar remaja nakal yang sedang menyusup keluar dari kamar.Kimmy terbersin lagi dan Tristan menciumnya sekali lagi sebelum buru -buru menarik Kimmy melewati lorong.

  • BERBAGI HATI DENGAN BOSMU   BAB 64 TRISTAN

    "Siapa Arneta Seymour?" tanya Tristan pada Philippe yang baru duduk di depannya. "Maaf Tuan, apa maksud Anda?" Kelihatanya Phillippe langsung panik dengan pertanyaan mengejutkan tersebut, apa lagi dengan cara Tristan menatapnya kali ini. Mereka sedang berada di ruang kerja tuan Murai yang pastinya Tristan juga tidak sedang main-main sampai sengaja memanggilnya kemari. "Wanita yang dimakamkan tepat di sebelah kakekku." "Dia putri Sharlote," gugup Phillippe. "Apa hubungannya dengan kakekku?" Tristan tidak bodoh dan tahu jika kakeknya tidak akan menempatkan orang sembarangan di sebelahnya. Philippe merasa jika dirinya semak

  • BERBAGI HATI DENGAN BOSMU   BAB 63 TUSCANY

    Sudah lewat tengah hari ketika mereka semua tiba di Tuscany dan langsung menuju rumah keluarga Murai. Kedua orangtua Kimmy sepertinya juga nampak terkagum-kagum dengan keindahan perbukitan dan ladang-ladang anggur yang mereka lihat di sepanjang perjalanan tadi. Al juga tidak berhenti berceloteh sendiri sambil bernyanyi-nyanyi riang. Kimmy lega karena putranya tidak rewel, karena ini merupakan perjalanan jauh pertama baginya."Nanti akan kuajak berkeliling perkebunan dan gudang anggur," bisik Tristan pada putranya yang mengintip dari jendela.Tristan memiliki warisan perkebunan yang sangat luas dan sebuah rumah penghasil anggur ternama yang sekarang di kelola oleh beberapa teman kepercayaan kakeknya. Karena Tristan sendiri sudah tidak memiliki waktu untuk mengurus semua itu.Begitu mereka sampai para pengurus rumah berbaris menyambut mereka di halaman. Tristan memperkenalkan mereka satu-persatu karena sudah menganggap mereka semua layaknya keluarga. BibiSha

  • BERBAGI HATI DENGAN BOSMU   BAB 62 PERNIKAHAN

    Hari masih pagi ketika keributan kembali terjadi. Philippe datang ke rumah Kimmy bersama seorang pria bersetelan rapi yang katanya petugas KUA. Baru kemarin Tristan membahas perkara pernikahan dan tentu saja Kimmy tidak menyangka Tristan serius dengan ucapannya tentang menyuruh Philippe."Tristan ini pernikahan kenapa kau tidak bicara dulu denganku?" protes Kimmy."Sepertinya aku sudah bicara padamu kemari."Kimmy langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Ya, tapi..." tiba-tiba Kimmy jadi tidak bisa melanjutkan kata-katanya sangking keterlaluannya pria itu.Umumnya orang memang akan ribet jika membahas pernikahan tidak seperti Tristan Murai yang cuma hanya seperti sekedar membahas liburan di akhir pekan. Tapi masalahnya dari dul

  • BERBAGI HATI DENGAN BOSMU   BAB 58 BATAS

    Pamela sudah mengidap leukimia kronis sejak dirinya masih anak-anak. Awalnya perkembangannya memang masih cukup lambat, tapi dia memang akan selalu membutuhkan tranfusi darah secara berkala untuk menggantikan fungsi darahnya yang cepat rusak di banding manusia normal. Tristan juga sudah mengupaya

  • BERBAGI HATI DENGAN BOSMU   BAB 3 PESTA KANTOR

    BAB 3 PESTA Kimmy berdiri di depan cermin untuk ketiga kalinya. Berputar memperhatikan gaun merah yang membalut tubuhnya. Entah kenapa ia masih merasa tidak yakin akan berani keluar dengan gaun seperti itu. Gaun satin itu sederhana, tetapi potongannya sangat pas di tubuh, sehingga menonjolkan ti

  • BERBAGI HATI DENGAN BOSMU   BAB 2 PERTUNANGAN

    BAB 1 PERTUNANGAN YANG INDAH TIGA BULAN SEBELUMNYA... Tangan Kimmy masih terasa dingin. Jari manisnya gemetar halus saat ia memandangi cincin berlian yang kini melingkar sempurna di sana. Kilau batu bening itu menangkap cahaya lampu ballroom dan memantulkannya dengan indah. Sangat indah...

  • BERBAGI HATI DENGAN BOSMU   BAB 1 PROLOG

    Kimmy diminta masuk ke sebuah kamar. Dan begitu kakinya melangkah masuk. Tiba-tiba... Klik. Sura pintu tertutup di belakang punggungnya dan terkunci. "Kenapa pintunya terkunci?" Kimmy tidak pernah membayangkan dirinya bakal berada di dalam sebuah kamar dengan pintu terkunci rapat bersama Tri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status