Mag-log in
Kimmy diminta masuk ke sebuah kamar. Dan begitu kakinya melangkah masuk. Tiba-tiba...
Klik. Sura pintu tertutup di belakang punggungnya dan terkunci. "Kenapa pintunya terkunci?" Kimmy tidak pernah membayangkan dirinya bakal berada di dalam sebuah kamar dengan pintu terkunci rapat bersama Tristan Murai. Bos dari tunangannya. Pria itu masih muda, tampan, berkarisma. Namun saat ini terlihat berbahaya. "Dia menawarkan mu di ranjangku sebagai imbalan karena aku sudah memberinya promosi jabatan. " saat itu Kimmy baru tahu jika dirinya sedang dijual untuk sebuah promosi jabatan oleh tunangannya sendiri. "Tolong biarkan aku pulang." "Ayolah kita sudah sama-sama dewasa kita tidak perlu seperti ini, sementara kita bisa melakukan banyak hal menyenangkan jika kau mau mendekat kemari." "Aku akan tetap di sini! " "Untuk apa kau bersikeras seperti itu?" heran Tristan. "Apa itu hanya untuk pria yang sudah menawarkanmu di ranjangku?" Kimmy berpaling karena takut ketahuan jika dirinya hendak menangis tiap kali diingatkan dengan penghianatan tunangannya. "Lebih baik kita bercinta dan melupakannya dari pada kau hanya berdiri di situ." "Oh, singkirkan otak kotormu! " pekik Kimmy dengan jijik. "Tidak ada yang tidak suka bercinta, aku yakin kau juga akan sangat menyukainya denganku, " Kimmy menutup telinga. "Kau tidak perlu keras kepala, dengan berpura-pura tidak menginginkannya sama sekali." "Tidak, aku tidak akan melakukan apapun untukmu!" tegas Kimmy untuk ke sekian kali. "Terlalu banyak hal menyenangkan yang bisa dilakukan pria dan wanita ketika terkurung berdua di kamar seperti ini. Tidak akan ada yang mengganggu kita." Kimmy kembali pura-pura tuli. Tristan kembali bangkit untuk berjalan mendekati Kimmy yang masih keras kepala menolaknya. "Ini akan menyenangkan dan cukup hanya kita berdua yang tahu, " bisiknya ketika mereka ternyata sudah cukup dekat karena Kimmy tidak bisa mundur lagi. Tristan mendesak wanitanya semakin merekat ke dinding. Dan tiba-tiba tangan Tristan sudah sangat lancang menyisip ke dalam rok pensil pendeknya. Sungguh itu adalah tindakan yang sangat kotor. Tapi Kimmy sama sekali tidak bisa berkelit karena lututnya juga ditekan ke dinding. "Oh, Tolong..." Kimmy hanya bisa pasrah ketika merasakan jari-jari pria yang sudah sangat tidak senonoh. "Kau akan menyukainya?" bisik Tristan seperti ejekan halus karena dia tidak bodoh untuk sekedar mengetahui jika wanita itu juga bakal menikmati sentuhannya. Ada denyut hangat yang menyenangkan. "Ah..." Kimmy mulai melenguh gelisah. Tristan makin tidak mau berhenti mempermainkannya dan sama sekali tidak perduli walaupun Kimmy mulai kepayahan mempertahankan harga diri. "Mr. Murai... " Nama Tristan di sebut dengan bibir gemetar. Sebenarnya Tristan juga tidak menyangka jika dirinya akan mendapatkan hadiah menyenangkan seperti ini. Menggoda seorang wanita yang ternyata masih sangat awam dengan sentuhan pria tentunya akan menjadi kegiatan yang semakin menyenangkan. "Aku punya banyak cara untuk menyenangkan mu seperti ini," bisik Tristan sambari mengigit daun telinga Kimmy yang sudah tidak mampu lagi menolak semua perlakuannya. "Kau begitu manis dan panas." Entahlah Kimmy tidak tahu lagi apa yang dia rasakan ketika menyaksikan Tristan melumat jari tengahnya sendiri yang baru dia cabut dari dalam tubuhnya yang mencair. "Biarkan aku pergi..." "Mustahil aku melepaskan mu." Tristan justru angsung menyambar tubuh Kimmy yang masih gemetar lemas dan membaringkannya di atas ranjang. "Tolong jangan lakukan itu lagi..." Tristan menyentuh bibirnya dengan jari telunjuk dan berdesis lirih agar Kimmy diam ketika ia mulai melepas kancing bajunya. "Kita akan bercinta Sayang. Dan percayalah ini akan menyenangkan." ***Hanif, Kimmy, dan Tristan duduk di beranda sambil menyaksikan anak-anak yang sibuk bermain dengan kuda poni. Al juga sudah lama tidak bertemu Sofia, nampaknya mereka juga sudah sangat rindu hingga sepertinya belum mau berpisah ketika Hanif hendak mengajak putrinya untuk pulang. "Menginaplah, Bang, mereka sudah lama tidak bertemu biarkan lebih puas bermain dulu." Tristan juga menawarkan kamar tamu yang dekat dengan kamar putranya di lantai dua, karena Al juga merengek ingin tidur bersama bang Hanif. Dulu Kimmy memang sering membiarkan putranya menginap di tempat Bang Hanif jika dirinya sedang bepergian untuk pekerjaannya. Meski bukan darah dagingnya sendiri tapi Hanif tetap menyayangi Al seperti putranya dan bocah laki-laki itu juga sudah biasa bermanja-manja padanya sejak bayi. Bang Hanif akhirnya setuju untuk kembali ke hotelnya beso
Menjelang akhir musim semi udara malam terasa semakin hangat, bercinta bisa menjadi kegiatan yang semakin menyenangkan karena mereka tidak perlu merasa khawatir bakal menggigil kedinginan meskipun tidur tanpa pakaian sampai pagi. Tristan sengaja membuka semua pintu balkon dan membiarkan udara malam ikut masuk menemani mereka berdua bergelung dalam gairah. Kimmy sudah terasa begitu lembut dan manis, menyambut dengan antusias setiap sentuhannya dengan begitu menyenangkan. Lenguhan rendahnya terlalu menggoda untuk di abaikan, Tristan tahu di mana wanita itu paling suka untuk di sentuh dan di manjakan. Tristan kembali menekan pinggul Kimmy yang sedikit terangkat karena sama-sama sedang tidak sabar ingin segera diselesaikan."Sabar, Sayang." Tristan baru saja hendak memasukinya ketika tiba-tiba Kimmy menjentikkan jari menyuruhnya untuk berhenti.
Sudah hampir tengah malam ketika hujan akhirnya reda, Kimmy dan Tristan sampai harus mengendap-ngendap masuk kerumah mereka sediri seperti pencuri yang takut tertangkap basah. Tristan membawa Kimmy melewati tangga putar dari samping menara ruang kerja kakeknya. Dari situ ada lorong sempit yang akan berujung pada pintu darurat dari kamarnya. Bahkan Kimmy sendiri tidak tahu jika ada pintu keluar lain dari kamar mereka. Karena jarang di lewati jadi lorongnya gelap tanpa penerangan dan agak berdebu. Belum apa-apa Kimmy sudah terbersin-bersin dan membuat Tristan menciumnya kemudian tertawa."Jangan berisik nanti kita ketahuan" seolah mereka berdua benar-benar remaja nakal yang sedang menyusup keluar dari kamar.Kimmy terbersin lagi dan Tristan menciumnya sekali lagi sebelum buru -buru menarik Kimmy melewati lorong.
"Siapa Arneta Seymour?" tanya Tristan pada Philippe yang baru duduk di depannya. "Maaf Tuan, apa maksud Anda?" Kelihatanya Phillippe langsung panik dengan pertanyaan mengejutkan tersebut, apa lagi dengan cara Tristan menatapnya kali ini. Mereka sedang berada di ruang kerja tuan Murai yang pastinya Tristan juga tidak sedang main-main sampai sengaja memanggilnya kemari. "Wanita yang dimakamkan tepat di sebelah kakekku." "Dia putri Sharlote," gugup Phillippe. "Apa hubungannya dengan kakekku?" Tristan tidak bodoh dan tahu jika kakeknya tidak akan menempatkan orang sembarangan di sebelahnya. Philippe merasa jika dirinya semak
Sudah lewat tengah hari ketika mereka semua tiba di Tuscany dan langsung menuju rumah keluarga Murai. Kedua orangtua Kimmy sepertinya juga nampak terkagum-kagum dengan keindahan perbukitan dan ladang-ladang anggur yang mereka lihat di sepanjang perjalanan tadi. Al juga tidak berhenti berceloteh sendiri sambil bernyanyi-nyanyi riang. Kimmy lega karena putranya tidak rewel, karena ini merupakan perjalanan jauh pertama baginya."Nanti akan kuajak berkeliling perkebunan dan gudang anggur," bisik Tristan pada putranya yang mengintip dari jendela.Tristan memiliki warisan perkebunan yang sangat luas dan sebuah rumah penghasil anggur ternama yang sekarang di kelola oleh beberapa teman kepercayaan kakeknya. Karena Tristan sendiri sudah tidak memiliki waktu untuk mengurus semua itu.Begitu mereka sampai para pengurus rumah berbaris menyambut mereka di halaman. Tristan memperkenalkan mereka satu-persatu karena sudah menganggap mereka semua layaknya keluarga. BibiSha
Hari masih pagi ketika keributan kembali terjadi. Philippe datang ke rumah Kimmy bersama seorang pria bersetelan rapi yang katanya petugas KUA. Baru kemarin Tristan membahas perkara pernikahan dan tentu saja Kimmy tidak menyangka Tristan serius dengan ucapannya tentang menyuruh Philippe."Tristan ini pernikahan kenapa kau tidak bicara dulu denganku?" protes Kimmy."Sepertinya aku sudah bicara padamu kemari."Kimmy langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Ya, tapi..." tiba-tiba Kimmy jadi tidak bisa melanjutkan kata-katanya sangking keterlaluannya pria itu.Umumnya orang memang akan ribet jika membahas pernikahan tidak seperti Tristan Murai yang cuma hanya seperti sekedar membahas liburan di akhir pekan. Tapi masalahnya dari dul
Kimmy baru menyadari ada sesuatu yang aneh ketika taksi yang ditumpanginya berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit. Ia kembali memeriksa kartu nama di tangannya. Alamatnya benar. Tetapi... Ini bukan kantor. Kimmy mendongak perlahan. Gedung itu menjulang tinggi dengan fasad kaca ber
BAB 4 PHK Pagi itu Kimmy datang ke kantor dengan perasaan yang aneh. Baru semalam ia berada di sebuah klub elite yang dipenuhi orang-orang sukses, lampu kristal, pakaian mahal, dan percakapan tentang proyek bernilai miliaran rupiah. Lalu pagi ini... Ia kembali duduk di kursi kerjanya yang mulai
BAB 3 PESTA Kimmy berdiri di depan cermin untuk ketiga kalinya. Berputar memperhatikan gaun merah yang membalut tubuhnya. Entah kenapa ia masih merasa tidak yakin akan berani keluar dengan gaun seperti itu. Gaun satin itu sederhana, tetapi potongannya sangat pas di tubuh, sehingga menonjolkan ti
BAB 1 PERTUNANGAN YANG INDAH TIGA BULAN SEBELUMNYA... Tangan Kimmy masih terasa dingin. Jari manisnya gemetar halus saat ia memandangi cincin berlian yang kini melingkar sempurna di sana. Kilau batu bening itu menangkap cahaya lampu ballroom dan memantulkannya dengan indah. Sangat indah...







