Mag-log inBAB 1 PERTUNANGAN YANG INDAH
TIGA BULAN SEBELUMNYA... Tangan Kimmy masih terasa dingin. Jari manisnya gemetar halus saat ia memandangi cincin berlian yang kini melingkar sempurna di sana. Kilau batu bening itu menangkap cahaya lampu ballroom dan memantulkannya dengan indah. Sangat indah... Namun bukan sekedar keindahan berlian itu yang membuat jantung Kimmy berdebar seperti ini. Melainkan pria yang berdiri di hadapannya. Hanif. Pria yang baru saja resmi menjadi tunangannya. Tepuk tangan memenuhi ruangan. Suara ucapan selamat datang dari seluruh keluarga. Para kerabat tersenyum bahagia, beberapa bahkan terlihat lebih bersemangat daripada pasangan yang sedang bertunangan hari itu. Mata Kimmy kembali tertuju pada Hanif. Pria itu tersenyum lembut. "Tanganmu dingin sekali." Kimmy langsung tersadar. "Hah?" Hanif terkekeh pelan. "Kau gugup?" Kimmy tersipu menahan senyum. "Ini masih seperti mimpi." Ungkapnya dengan dada terus berdebar. "Kua tidak sedang bermimpi." Hanif mengecup punggung tangan Kimmy. "Karena aku yang sejak kecil memimpikan hari ini." Mereka berdua kompak tertawa. Mengingat masa anak-anak mereka yang telah tumbuh besar bersama. Kadang Kimmy masih tidak percaya semua ini benar-benar terjadi. Mereka bisa saling jatuh cinta dan sebentar lagi akan menikah. Jika hidupnya adalah dongeng, maka Hanif adalah pangeran tampan yang keluar dari halaman buku cerita. Dan Kimmy? Adalah Upik Abu. Seorang gadis yang sejak kecil selalu mengagumi Hanif yang selalu menjadi pusat perhatian keluarga besar mereka. Tinggi, tampan, pintar, sopan. Anak laki-laki kesayangan semua orang tua. Setiap kali acara keluarga berlangsung, para ibu selalu menjadikan Hanif bahan perbandingan. Hanif masuk universitas bagus. Hanif dapat beasiswa. Hanif itu calon menantu idaman. Pujian-punia itu sudah sangat akrab di telinga Kimmy. Dan jujur saja, ia juga setuju. Karena Hanif memang luar biasa. Hingga kisah cinta mereka benar-benar terdengar seperti dongeng. ******** Saat Hanif diterima kuliah di Yale, seluruh keluarga merayakannya seperti kemenangan nasional. Kemudian tahun-tahun berlalu. Hanif pergi ke Amerika. Sampai Kimmy tumbuh menjadi gadis dewasa. Mereka jarang bertemu. Jarang saling berbicara. Hampir hidup di dunia yang berbeda. Sampai lima tahun lalu. Hari ketika Hanif pulang ke Indonesia setelah lulus kuliah. Kimmy masih mengingat momen pertemuan kembali itu dengan jelas dan tidak akan terlupakan. Acara keluarga berlangsung ramai di rumah salah satu kerabat..Saat itu Kimmy sedang membantu membawakan minuman ketika tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. "Kimmy?" Kimmy menoleh, lalu membeku. Hanif berdiri di hadapannya. Mengenakan kemeja putih sederhana. Dan masih ingat pada namanya "Bang Hanif?" Pria itu tampak terkejut. Matanya membesar beberapa detik. Seolah sedang memastikan sesuatu. "Kau benar-benar, Kimmy?" Kimmy jadi reflek tertawa. "Memangnya aku mirip siapa lagi?" Hanif menggeleng pelan. "Aku cuma tidak percaya kau sudah sebesar ini." "Apa?" "Kau berubah." Kimmy mengangkat sebelah alis. "Berubah jelek?" "Bukan." Hanif tersenyum. "Sangat cantik." Saat itu Kimmy hampir lupa cara bernapas. Dan sejak hari itu semuanya berubah. Hanif mulai menghubunginya. Awalnya hanya obrolan ringan. Lalu semakin sering. Kemudian menjadi kebiasaan. Dan tanpa sadar mereka saling jatuh cinta. Meski Hanif sempat harus kembali bekerja di Seattle. Hubungan mereka tetap berjalan dengan sangat baik. ***** Setelah Tiga tahun menjalani hubungan jarak jauh. Tiga tahun menahan rindu. Tiga tahun menunggu. Dan banyak orang mengatakan hubungan seperti itu sulit bertahan. Namun Hanif membuktikan sebaliknya. Pria itu selalu hadir, selalu menjaga komunikasi, selalu meluangkan waktu. Bahkan ketika perbedaan waktu membuat salah satu dari mereka harus begadang. Sampai akhirnya Hanif membuat keputusan yang mengejutkan semua orang. Ia meninggalkan pekerjaannya di Seattle. Pulang ke Indonesia demi Kimmy. Tidak semua orang berani mengorbankan karier yang sudah dibangun dengan susah payah demi cinta. Tetapi Hanif melakukannya. Dan sejak hari itu Kimmy semakin yakin. Pria ini benar-benar mencintainya. "Kau melamun lagi." Suara Hanif menarik Kimmy kembali ke kenyataan. Mereka kini berdiri di salah satu sudut ballroom setelah menerima puluhan ucapan selamat. Kimmy tersenyum. "Aku cuma sedang bahagia." "Bagus." "Sangat bahagia." Hanif meraih tangannya. Mengusap punggung jemarinya dengan ibu jari. "Aku juga." Tatapan pria itu begitu hangat, tulus, dan selalu menenangkan. Sampai Kimmy merasa tidak ada yang perlu ia khawatirkan di dunia ini. "Setahun lagi." Hanif berkata pelan. Kimmy mengangguk. "Setahun lagi." "Kita menikah." Jantung Kimmy kembali berdebar. Hanif terkekeh melihat wajah Kimmy memerah. "Masih gugup untuk menjadi istriku?" "Diamlah." "Aku serius." Hanif menggenggam tangannya lebih erat. "Aku akan membuatmu bahagia." Dan Kimmy selalu mempercayainya sepenuh hati. Hanif adalah pria yang hampir sempurna. Arsitek muda yang cemerlang. Baru saja mendapatkan promosi jabatan. Dicintai keluarga. Dihormati rekan kerja. Dan sekarang akan menjadi suaminya. Masa depan mereka tampak begitu indah. Begitu terang, seperti jalan panjang yang dipenuhi cahaya. Tanpa pertanda badai, hanya kebahagiaan. Itu adalah saat Kimmy masih belum tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Karena ternyata dia bukan Cinderella yang bertemu pangeran tampan. Tapi Belle yang harus bertemu monster!Hanif, Kimmy, dan Tristan duduk di beranda sambil menyaksikan anak-anak yang sibuk bermain dengan kuda poni. Al juga sudah lama tidak bertemu Sofia, nampaknya mereka juga sudah sangat rindu hingga sepertinya belum mau berpisah ketika Hanif hendak mengajak putrinya untuk pulang. "Menginaplah, Bang, mereka sudah lama tidak bertemu biarkan lebih puas bermain dulu." Tristan juga menawarkan kamar tamu yang dekat dengan kamar putranya di lantai dua, karena Al juga merengek ingin tidur bersama bang Hanif. Dulu Kimmy memang sering membiarkan putranya menginap di tempat Bang Hanif jika dirinya sedang bepergian untuk pekerjaannya. Meski bukan darah dagingnya sendiri tapi Hanif tetap menyayangi Al seperti putranya dan bocah laki-laki itu juga sudah biasa bermanja-manja padanya sejak bayi. Bang Hanif akhirnya setuju untuk kembali ke hotelnya beso
Menjelang akhir musim semi udara malam terasa semakin hangat, bercinta bisa menjadi kegiatan yang semakin menyenangkan karena mereka tidak perlu merasa khawatir bakal menggigil kedinginan meskipun tidur tanpa pakaian sampai pagi. Tristan sengaja membuka semua pintu balkon dan membiarkan udara malam ikut masuk menemani mereka berdua bergelung dalam gairah. Kimmy sudah terasa begitu lembut dan manis, menyambut dengan antusias setiap sentuhannya dengan begitu menyenangkan. Lenguhan rendahnya terlalu menggoda untuk di abaikan, Tristan tahu di mana wanita itu paling suka untuk di sentuh dan di manjakan. Tristan kembali menekan pinggul Kimmy yang sedikit terangkat karena sama-sama sedang tidak sabar ingin segera diselesaikan."Sabar, Sayang." Tristan baru saja hendak memasukinya ketika tiba-tiba Kimmy menjentikkan jari menyuruhnya untuk berhenti.
Sudah hampir tengah malam ketika hujan akhirnya reda, Kimmy dan Tristan sampai harus mengendap-ngendap masuk kerumah mereka sediri seperti pencuri yang takut tertangkap basah. Tristan membawa Kimmy melewati tangga putar dari samping menara ruang kerja kakeknya. Dari situ ada lorong sempit yang akan berujung pada pintu darurat dari kamarnya. Bahkan Kimmy sendiri tidak tahu jika ada pintu keluar lain dari kamar mereka. Karena jarang di lewati jadi lorongnya gelap tanpa penerangan dan agak berdebu. Belum apa-apa Kimmy sudah terbersin-bersin dan membuat Tristan menciumnya kemudian tertawa."Jangan berisik nanti kita ketahuan" seolah mereka berdua benar-benar remaja nakal yang sedang menyusup keluar dari kamar.Kimmy terbersin lagi dan Tristan menciumnya sekali lagi sebelum buru -buru menarik Kimmy melewati lorong.
"Siapa Arneta Seymour?" tanya Tristan pada Philippe yang baru duduk di depannya. "Maaf Tuan, apa maksud Anda?" Kelihatanya Phillippe langsung panik dengan pertanyaan mengejutkan tersebut, apa lagi dengan cara Tristan menatapnya kali ini. Mereka sedang berada di ruang kerja tuan Murai yang pastinya Tristan juga tidak sedang main-main sampai sengaja memanggilnya kemari. "Wanita yang dimakamkan tepat di sebelah kakekku." "Dia putri Sharlote," gugup Phillippe. "Apa hubungannya dengan kakekku?" Tristan tidak bodoh dan tahu jika kakeknya tidak akan menempatkan orang sembarangan di sebelahnya. Philippe merasa jika dirinya semak
Sudah lewat tengah hari ketika mereka semua tiba di Tuscany dan langsung menuju rumah keluarga Murai. Kedua orangtua Kimmy sepertinya juga nampak terkagum-kagum dengan keindahan perbukitan dan ladang-ladang anggur yang mereka lihat di sepanjang perjalanan tadi. Al juga tidak berhenti berceloteh sendiri sambil bernyanyi-nyanyi riang. Kimmy lega karena putranya tidak rewel, karena ini merupakan perjalanan jauh pertama baginya."Nanti akan kuajak berkeliling perkebunan dan gudang anggur," bisik Tristan pada putranya yang mengintip dari jendela.Tristan memiliki warisan perkebunan yang sangat luas dan sebuah rumah penghasil anggur ternama yang sekarang di kelola oleh beberapa teman kepercayaan kakeknya. Karena Tristan sendiri sudah tidak memiliki waktu untuk mengurus semua itu.Begitu mereka sampai para pengurus rumah berbaris menyambut mereka di halaman. Tristan memperkenalkan mereka satu-persatu karena sudah menganggap mereka semua layaknya keluarga. BibiSha
Hari masih pagi ketika keributan kembali terjadi. Philippe datang ke rumah Kimmy bersama seorang pria bersetelan rapi yang katanya petugas KUA. Baru kemarin Tristan membahas perkara pernikahan dan tentu saja Kimmy tidak menyangka Tristan serius dengan ucapannya tentang menyuruh Philippe."Tristan ini pernikahan kenapa kau tidak bicara dulu denganku?" protes Kimmy."Sepertinya aku sudah bicara padamu kemari."Kimmy langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Ya, tapi..." tiba-tiba Kimmy jadi tidak bisa melanjutkan kata-katanya sangking keterlaluannya pria itu.Umumnya orang memang akan ribet jika membahas pernikahan tidak seperti Tristan Murai yang cuma hanya seperti sekedar membahas liburan di akhir pekan. Tapi masalahnya dari dul
Setelah selesai berpakaian Kimmy segara turun untuk sarapan. Ibunya sudah menunggu di meja makan menyiapkan mangkuk dan minuman hangat."Sudah, Bu. Aku bisa melakukannya sendiri," sepertinya hari ini dirinya sedikit di manja."Tidak apa-apa, ayo cepat kemari," panggil ibunya karena Kimmy masih berhent
Ternyata hanya berdiam diri di rumah juga sangat membosankan. Kimmy kembali memperhatikan buket bungan kirimanTristan yang masih ter onggok di sudut kamar dan saat itu juga kebetulan tiba-tiba terdengar suara kling dari pesan masuk di ponselnya. Ponsel tersebut berkedip sejenak dan uncul nama Trist
Sepulang dari makan malam Kimmy hanya menyapa ayah dan ibunya sambil lalu meskipun ibunya sempat memanggil untuk ikut bergabung duduk di sofa. Kimmy hanya ingin segera masuk ke kamarnya untuk menelpon Tristan Murai, dia ingat masih menyimpan kartu nama yang diberi
Kimmy baru menyadari ada sesuatu yang aneh ketika taksi yang ditumpanginya berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit. Ia kembali memeriksa kartu nama di tangannya. Alamatnya benar. Tetapi... Ini bukan kantor. Kimmy mendongak perlahan. Gedung itu menjulang tinggi dengan fasad kaca ber







