로그인Di sebuah ruangan yang sangat tertutup di perguruan singa timur, ada beberapa orang yang sedang bicara, dan mereka adalah para ketua perguruan, dan beberapa pendekar kelas atas yang datang ke perguruan singa timur.Dari belasan orang itu, hanya ada satu bocah ingusan yang diajak untuk masuk ke ruangan yang akan adakan pertemuan itu."Terima kasih untuk sahabat semuanya karena sudah datang ke ruangan ini memenuhi undangan dariku!" kata Ki Rentak, ketua perguruan singa timur.Mata Ki Rentak tak bosan-bosannya melihat ke arah bocah yang ada di dalam ruangan itu. Dia tak lain adalah Panji.Ketua Kusuma tahu apa yang ada di dalam pikiran ketua perguruan singa timur, tapi dia untuk saat ini memilih untuk diam."Ki Bawak, bicaralah!" kata Ki Rentak.Ki Bawak berdiri, dan semua mata mengarah padanya."Aku melihat kalau salah satu ketua organisasi kalajengking tadi datang untuk menonton pertandingan turnamen pendekar muda!" ucap Ki Bawak memulai ucapannya."Organisasi kalajengking?""Iya!""Ap
Semua orang menatap saat Abanda melancarkan serangannya yang sangat ganas, dan mematikan, yang menurut pandangan orang, Panji sudah tak dapat bergerak lagi.Saat kepalan tangan Abanda sudah ada di hadapan Panji, dan hanya berjarak beberapa centi saja, Abanda menghentikan serangan dengan tiba-tiba."Kau kalah!" ucap Panji.Ki Askana yang melihat itu berteriak keras."Abanda, apa yang kau lakukan, kalahkan dia?" teriak Ki Askana.Tapi Abanda sungguh inginkan menang, tapi dia tak dapat lagi gerakkan tubuhnya, dia merasakan ada ledakan di dalam tubuhnya.Melihat wajah Abanda, Panji mundur beberapa langkah, dan menatap Abanda dengan tatapan yang tajam.Huakkkkkk!!Dan, dari mulut Abanda menyembur darah yang cukup banyak, dan itu mengotori lantai arena turnamen.Brukkkkkk!!Tak berapa lama, Abanda jatuh ke lantai arena, dan pingsan karena kalah melawan Panji."Abanda!" teriak Ki Askana.Huppppp!!Dia melompat dari tempat dia duduk, dan segera mendarat di samping muridnya. Dia langsung memer
Semua yang melihat pertandingan itu sangat tak menduga kalau Panji berhasil membuat Abanda terdesak dengan sangat hebatnya. Bahkan sampai membuat Abanda muntah darah."Kurang ajar!" maki Ki Askana yang melihat muridnya di ambang kekalahan.Hiatttttt!!Abanda memutar tubuhnya, dan menyerang kaki Panji. Tapi dengan ringan, Panji melayang ke udara, dan berputar-putar dengan cukup indah."Kau akan mati!" teriak Abanda.Haaaaaaaaaaa!!Abanda yang masih memiliki sisa tenaga dalam, melepaskan seluruhnya, dan gunakan jurus yang kuat."Terkaman singa gunung!" teriak Abanda.Dengan hentakan kaki yang kuat, Abanda melompat ke udara, dan mengejar Panji yang mengindari serangannya ke atas.Abanda menyilangkan kedua tangan di depan wajah dan cakar yang tajam dengan tenaga dalam yang dialiri ke jarinya siap melukai tubuh Panji.Crasssssss!!Pergelangan kaki Panji robek oleh tajamnya cakar tangan Abanda, tapi itu tak terlalu berpengaruh pada Panji."Mengaku kalah lah!" teriak Panji dengan suara keras
Intan Agni sungguh marah karena tuduhan Panji padanya, gadis muda itu sangat jelas tak suka pada perkataan Panji yang menuduhnya mendapatkan lawan yang lemah."Coba kau pikirkan sendiri, kau sudah bertanding dua kali, tapi kau belum menemukan lawan yang sepadan denganmu?" ucap Panji."Itu karena nomor undian ku sangat beruntung!" kata Intan Agni."Bukan, tapi kau digadang-gadang akan masuk ke delapan besar, dan itu juga untuk hargai kakekmu, jadi mereka buat undian yang menguntungkan dirimu!" kata Panji."Kakek!" kata Intan Agni meminta pembelaan dari kakeknya."Hahaha, apa yang dikatakan Panji itu benar Intan. Dia tak berdusta!""Jadi?""Tapi semua tak sepenuhnya benar!" kata Ki Sutopo."Dimana yang tak benar itu, sepuh?""Aku katakan padamu Panji, lawan pertama Intan, mungkin lemah, tapi lawan keduanya tak lemah, hanya saja kemampuan Intan memang yang tinggi!" kata Ki Sutopo.Panji memilih untuk tunggu penjelasan yang berikutnya."Dan, bukan kami yang menentukan lawan, tapi karena l
"Mulai!" teriak Ki Bawak dan bergeser ke samping."Aku mulai!" teriak Bohia.Hiatttttt!!Pemuda itu maju dengan serangan yang kuat, dan langsung menekan Pradana dari awal. Serangan itu gambarkan kalau dia ingin kalahkan Pradana secepatnya."Tapak anggrek!" ucap Pradana.Plakkkkkk!!Pradana memapak serangan tapak tangan Bohia, dan dia kaget saat merasakan kemampuan Bohia ada di atasnya.Huppppp!!Pradana dengan perhitungan yang matang, memilih untuk mundur. Dia tahu, jika terus beradu kekuatan, dia akan kalah dari Bohia."Cukup gesit!" kata Bohia.Pemuda dari perguruan awan putih itu memutar tubuhnya, dan menyerang kembali dengan cukup cepat, dan mulai terlihat perbedaan kekuatan mereka.Tapi, Pradana yang sudah tahu dengan kemampuan lawan, tak mau sembrono dalam hadapi lawan, dia sadar diri akan kemampuan.Bammmmmmm!!Namun pada akhirnya, mereka beradu kekuatan juga, dan perasaan terdorong beberapa langkah ke belakang."Lawan yang tangguh!" ucap Pradana.Ki Bawak yang melihat itu, sud
Pertarungan Junta melawan Mutia baru saja dimulai, tapi junta sudah melakukan sesuatu yang buruk pada Mutia."Juri, apa ini adil?" tanya Mutia pada Ki Hasta yang jadi juri pertandingan mereka."Maaf nona, aku merasa tidak ada yang salah yang dilakukan oleh lawanmu!" kata Ki Hasta.Wajah Mutia merah karena jawaban Ki Hasta. Itu membuat amarahnya sampai ke ubun-ubun."Hei nona, jika kau tak ingin bertarung, pulang dan jadi istri yang baik!""Hei nona, inilah pertarungan, bukan hanya pakaianmu yang akan robek, tapi tubuhmu, serta nyawamu juga dalam keadaan yang terancam!"Teriakan itu datang ke telinga Mutia, yang membuat dia tak bisa untuk bicara lagi. Dia tak terima pada ucapan itu."Heheh, inilah dunia persilatan, nona. Aku akan tunjukkan bagaimana kau akan kalah!" kata Junta sambil terkekeh pada Mutia."Aku tak akan kalah!" teriak Mutia.Hiatttttt!!Mutia menyerang lagi, dan kali ini menyerang dengan jurus terbaik yang dia miliki, mencoba keras untuk melawan Junta yang memiliki kemam







