Masuk"Mulai!" teriak Ki Bawak dan bergeser ke samping."Aku mulai!" teriak Bohia.Hiatttttt!!Pemuda itu maju dengan serangan yang kuat, dan langsung menekan Pradana dari awal. Serangan itu gambarkan kalau dia ingin kalahkan Pradana secepatnya."Tapak anggrek!" ucap Pradana.Plakkkkkk!!Pradana memapak serangan tapak tangan Bohia, dan dia kaget saat merasakan kemampuan Bohia ada di atasnya.Huppppp!!Pradana dengan perhitungan yang matang, memilih untuk mundur. Dia tahu, jika terus beradu kekuatan, dia akan kalah dari Bohia."Cukup gesit!" kata Bohia.Pemuda dari perguruan awan putih itu memutar tubuhnya, dan menyerang kembali dengan cukup cepat, dan mulai terlihat perbedaan kekuatan mereka.Tapi, Pradana yang sudah tahu dengan kemampuan lawan, tak mau sembrono dalam hadapi lawan, dia sadar diri akan kemampuan.Bammmmmmm!!Namun pada akhirnya, mereka beradu kekuatan juga, dan perasaan terdorong beberapa langkah ke belakang."Lawan yang tangguh!" ucap Pradana.Ki Bawak yang melihat itu, sud
Pertarungan Junta melawan Mutia baru saja dimulai, tapi junta sudah melakukan sesuatu yang buruk pada Mutia."Juri, apa ini adil?" tanya Mutia pada Ki Hasta yang jadi juri pertandingan mereka."Maaf nona, aku merasa tidak ada yang salah yang dilakukan oleh lawanmu!" kata Ki Hasta.Wajah Mutia merah karena jawaban Ki Hasta. Itu membuat amarahnya sampai ke ubun-ubun."Hei nona, jika kau tak ingin bertarung, pulang dan jadi istri yang baik!""Hei nona, inilah pertarungan, bukan hanya pakaianmu yang akan robek, tapi tubuhmu, serta nyawamu juga dalam keadaan yang terancam!"Teriakan itu datang ke telinga Mutia, yang membuat dia tak bisa untuk bicara lagi. Dia tak terima pada ucapan itu."Heheh, inilah dunia persilatan, nona. Aku akan tunjukkan bagaimana kau akan kalah!" kata Junta sambil terkekeh pada Mutia."Aku tak akan kalah!" teriak Mutia.Hiatttttt!!Mutia menyerang lagi, dan kali ini menyerang dengan jurus terbaik yang dia miliki, mencoba keras untuk melawan Junta yang memiliki kemam
"Apa yang kau capai disini Panji?" tanya Hardi yang penasaran dengan tingkat kependekaran Panji."Untuk apa kakak tanya, aku melihat tingkat kemampuan Panji masih di tahap pendekar raja, tidak ada peningkatan!" ucap Mayang."Hahaha, mungkin aku terlihat masih sama, tapi aku sudah beda!" kata Panji.Wajah Hardi terlihat sedikit kecewa, karena ia tak melihat ada perubahan pada Panji. Padahal ia tak tahu kalau Panji saat ini memanipulasi kemampuan yang ia miliki."Ternyata ilmu langka itu benar adanya. Aku berhasil memanipulasi kemampuan yang aku miliki!" kata dalam hatinya."Jadi hanya sia-sia kau latihan disini, sungguh percuma aku berikan tempat ini!" kata Hardi lagi masih dengan nada yang kecewa."Hahaha!" Panji malah tertawa keras."Apakah harus disini aku tunjukkan kemampuan yang baru atau kalian tunggu hingga aku bertarung melawan Abanda?" tanya Panji."Kau terlalu yakin, tapi apa kau sungguh sudah meningkat Panji?" tanya Mayang masih dengan raut wajah yang tak percaya."Baiklah,
Perguruan Singa Timur, beberapa hari sebelum babak yang berikutnya diadakan, para peserta yang lolos ke babak berikutnya akan bertarung lagi, tiga hari yang akan datang.Hal itu membuat banyak peserta yang gunakan kesempatan itu untuk berlatih keras, semuanya demi nama besar yang akan di dapat jika maju ke babak yang berikutnya."Reksa, latih ilmu Kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang kau miliki, jangan malas!""Iya, guru! Aku tahu apa yang akan aku lakukan!" kata bocah berusia enam belas tahun.Bocah itu bernama Reksa, dia salah satu orang yang digadang-gadang akan jadi juara di turnamen itu. Dia berasal dari perguruan Rajawali."Apa kau tak lihat kemampuan Abanda, ataupun Intan Agni. Mereka memiliki kemampuan yang cukup kuat!""Aku sudah lihat guru, tapi mereka masih dibawah kemampuan Reksa!" kata anak muda itu."Tapi jika kau tak latih tubuhmu, maka mereka akan tinggalkan kemampuan yang kau miliki!""Iya, guru aku paham!""Tapi Reksa, bagaimana menurutmu bocah yang menantang Ab
"Inikah gua latihan kak Hardi?" tanya Panji."Iya, sekuat apapun kau bergerak, dan bersuara disini, aku pastikan tidak akan ada yang mendengar dan tahu keberadaan dirimu disini!" kata Hardi."Baiklah, aku akan latihan disini!" kata Panji."Kau yakin akan berlatih untuk kalahkan Abanda?" tanya Hardi."Tidak, aku berlatih bukan untuk kalahkan dia, tapi untuk diriku sendiri. Entah mengapa aku merasa kalau akan ada masalah yang akan datang!" jawab Panji.Hardi merasa lega karena jawaban Panji. Yang artinya Panji tak dendam pada Abanda, orang yang kalahkan dan lukai Sahita"Aku akan tinggalkan dirimu, disini! Jika waktu pertandinganmu sudah dekat, aku akan jemput dirimu!" kata Hardi."Baik, kak! Aku paham!" kata Panji.Hardi putuskan untuk pergi tinggalkan Panji. Dia ingin Panji fokus melatih dirinya untuk meningkatkan kemampuan yang ia miliki.Bammmmmmm!!Terdengar suara batu yang berdebam keras, yang artinya pintu gua itu sudah ditutup dengan rapat dari luar."Baiklah, saatnya aku menero
Kepalan tangan Panji dan tendangan Abanda beradu di udara, dan itu ciptakan ledakan yang cukup keras. Itu adalah adu kekuatan Panji dan Abanda.Dan, meskipun tanpa kekuatan tenaga dalam, Panji mampu bertahan, dan mundur karena dalam adu kekuatan itu.Tapi hal itu sudah cukup untuk selamatkan nyawa Sahita dan keganasan dan kekejaman Abanda."Ku bunuh kau!" teriak Abanda."Cukup!" kata juri turnamen dan menahan tangan tepat di depan dada Abanda.Mata juri itu melotot pada Panji. Dia tak suka karena Panji naik ke atas arena dan hentikan pertarungan itu."Bocah, kau sok kuat rupanya!" ucapnya dengan sinis pada Panji."Aku hanya tak ingin rekanku mati!""Aku juri, dan aku yang menentukan hasil di atas arena ini!""Oh, jadi tadi sengaja menutup matamu agar dia membunuh rekanku, begitu maksudmu?" ucap Panji."Aku melihat dia masih mampu bertahan!""Iya, karena matamu buta!""Bocah, jangan pancing amarahku!""Aku tak pancing amarahmu, aku hanya tak suka caramu, kau biarkan rekanku dihajar hab







