Share

Bab 39

last update publish date: 2026-07-18 15:42:26

"Panji! Panji!" teriak guru Sahdan saat melihat Panji yang sudah tak sadarkan diri.

Dia segera membawa Panji ke atas punggungnya, dan berlari cepat menuju kota yang sudah tak jauh dari tepian sungai itu.

Pradana, dan dua saudara seperguruan Panji ikut di belakang guru Sahdan, mereka berusaha keras untuk ikuti langkah lari guru Sahdan yang berlari bagaikan kesetanan.

"Tabib! Tabib!" teriak guru Sahdan saat sampai di sebuah balai pengobatan.

"Ada apa ini?" tanya tabib yang bertugas di balai pengo
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 44

    "Dia tak akan datang!" kata guru Sahdan dan langkahkan kakinya menemui pengawas sekaligus juri di turnamen itu.Tanpa ragu, guru Sahdan membisikkan sesuatu ke telinga pengawas turnamen itu."Apa kau yakin?" tanya pengawas itu."Iya, dia muridku, mungkin dia tak akan datang!" kata Guru Sahdan.Askan, lawan dari Panji merasa kesal karena dia tak dapatkan lawan. Dia ingin tunjukkan kemampuan, tapi kali ini ia gagal.Setelah mendengarkan alasan dari Guru Sahdan, pengawas turnamen tak lagi katakan apa-apa, dia berdiri ke depan semua penonton.Tapi sebelum ia bicara, Askan sudah berteriak keras."Panji Sanjaya keluarkan, jangan sembunyi seperti seekor kecoa, apa kau takut hadapi aku?" teriak Askan dengan amarah yang besar."Askan cukup! Aku yang akan bicara kali ini!" kata pengawas turnamen itu.Pengawas itu menarik napas. Dan mulai menggunakan suara yang keras."Dengan berat hati, dan karena alasan yang jelas, dengan ini peserta atas nama Panji Sanjaya kami eliminasi!" teriaknya dengan sua

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 43

    Setelah berjalan bersama dengan Ki Sutopo, dan cucunya, Intan Agni, Panji tak lagi mengejar rombongan guru Sahdan, tapi Panji memilih untuk ikuti Ki Sutopo dan cucunya.Tapi ada satu hal yang membuat Panji heran, mereka tak memburu waktu, seolah-olah turnamen itu tak penting bagi mereka."Sepuh, apa kalian tidak takut terlambat?" tanya Panji."Hahah, tidak! Karena cucuku sudah mendapatkan nomor urut!" kata Ki Sutopo."Nomor urut?" tanya Panji."Iya, nomor untuk kapan bertanding!""Jadi dia sudah tahu kapan untuk bertanding?" tanya Panji."Iya, memangnya kau belum memiliki nomor urut, Panji?" tanya ki Sutopo."Belum, sepuh!""Kenapa tidak kau katakan dari awal! Dasar bocah bodoh!" bentak Ki Sutopo."Aku sungguh tak tahu soal itu, sepuh!""Dasar bodoh! Nomor urut itu penentuan kapan kau bertarung, dan jika kau bertarung di nomor yang kecil maka kau akan bertarung lebih dahulu!""Bagaimana ini?" tanya Panji."Besok turnamen itu akan dimulai dan jarak kita menuju kota Malengka masih ada t

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 42

    Panji membuka matanya saat pagi datang, dan dia merasakan ada perubahan yang nyata pada tubuhnya.Tubuhnya kini jauh lebih kokoh, dan otot tubuhnya semakin terlihat nyata, itu karena peningkatan kualitas tulang Panji yang tak Panji sangka.Awalnya Panji kecewa karena dia tak berhasil menerobos naik ke tulang serigala perak, tapi nyata ia mampu.Bammmmmmm!!Panji memukul sebatang pohon untuk mencoba kualitas tulang serigala perak yang kini ia miliki.Brakkk!Pohon itu langsung remuk padahal Panji hanya gunakan kekuatan fisik saja."Luar biasa!" ucap Panji.Kualitas tulang Panji meskipun berada di tahap tulang serigala perak, tapi itu sudah setingkat dengan tulang harimau muda.Itu dikarenakan Panji melatih tulangnya dengan latihan yang keras. Dan latihan keras itu juga berpengaruh pada kekuatan fisik panji.Banyak pendekar yang mengejar kualitas tulang tanpa memperdulikan kualitas fisik, dia memang berhasil, tapi hanya tulang yang meningkat, tidak dengan kekuatan fisik.Kebanyakan oran

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 41

    "Kenapa? Apa putriku kurang cantik?" tanya Ki Ireng yang membuat kepala Panji terasa sakit.Panji merasa bingung, dia masih berusia dua belas tahun, tapi sudah dijodohkan dengan seorang anak gadis yang akan dewasa. Ranti dengan usia lima belas tahun."Hahaha, kau tak usah pikirkan soal itu Panji, aku hanya berharap kau yang akan jadi pendamping putriku di masa depan!" kata Ki Ireng tertawa keras.Ki Ireng tak ingin membuat Panji lebih bingung, hingga dia memutuskan untuk tak lanjutkan pembicaraan itu."Aku masih dua belas tahun paman, dan paman sudah katakan tentang menantu padaku, apakah aku pantas?" kata Panji."Kau yang pantas, dan memang hanya dirimu!" kata Ki Ireng.Panji tak lagi menjawab, tapi memilih untuk diam karena jika diladeni maka pembicaraan itu akan semakin panjang.Bertepatan pula Ranti datang dan masuk ke dalam kamar itu. Hingga Panji selamat dari pembicaraan itu."Ranti, Panji mungkin akan ada di perguruan ini satu minggu ke depan, jadi ada baiknya kau siapkan kamar

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 40

    Saat pagi datang, guru Sahdan dan tiga muridnya dengan berat hati meninggalkan Panji di perguruan Loreng merah."Jika dia sudah baikan, aku harap dia datang ke kota Malengka, mungkin dia akan kami butuhkan!" kata guru Sahdan."Aku akan coba bantu dia!" kata Ki Ireng.Ki Ireng melepas mereka pergi, dan setelah itu ia masuk ke dalam kamarnya. Dia memeriksa lagi kondisi Panji."Aku sudah meninggalkan penghalang di tubuh Panji. Apa penghalang itu tak berguna?" ucap Ki Ireng.Dia mendekteksi penghalang itu, dan penghalang itu masih di tubuh Panji. Tapi penghalang itu tak bereaksi padahal nyawa Panji dalam keadaan yang kritis."Pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Panji!" kata Ki Ireng.Haaaaaaaaaaa!!Dia menekan tubuh Panji dengan tenaga dalam, dan mencoba menemukan apa yang disembunyikan oleh tubuh Panji."Ini?" ucapnya saat merasakan inti tenaga Panji.Wajahnya sangat kaget, dia tak percaya kalau Panji memiliki tenaga dalam yang tersimpan di inti tenaga dalam, dan itu bukan tenaga d

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 39

    "Panji! Panji!" teriak guru Sahdan saat melihat Panji yang sudah tak sadarkan diri.Dia segera membawa Panji ke atas punggungnya, dan berlari cepat menuju kota yang sudah tak jauh dari tepian sungai itu.Pradana, dan dua saudara seperguruan Panji ikut di belakang guru Sahdan, mereka berusaha keras untuk ikuti langkah lari guru Sahdan yang berlari bagaikan kesetanan."Tabib! Tabib!" teriak guru Sahdan saat sampai di sebuah balai pengobatan."Ada apa ini?" tanya tabib yang bertugas di balai pengobatan itu."Tolong selamatkan muridku, dia terluka parah!" kata guru Sahdan dengan suara yang ketakutan."Letakkan dia di atas meja itu!" kata tabib itu.Guru Sahdan lakukan itu, dan dia terus menatap wajah Panji yang mulai pucat karena kehabisan banyak darah."Apa yang terjadi pada muridmu?" tanya tabib itu saat melihat luka di bagian dada Panji mulai membiru."Dia dilukai oleh siluman sungai!" jawab guru Sahdan.Tranggggg!!Alat-alat pengobatan yang ada di tangan tabib itu jatuh. Dia tak perca

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status