Share

Bab 6

last update publish date: 2026-07-07 10:34:03

Sanjaya, pemuda yang menolong Panji, hanya bisa menahan napas saat Panji katakan tidak tahu harus kemana, tak punya rumah, dan hidup sendirian.

"Apa yang harus aku lakukan pada bocah ini?" kata Sanjaya bicara sendirian.

Melihat Sanjaya diam, Panji berdiri.

"Terima kasih sudah menolong diriku, aku akan pergi dan mencari yang mau menerima diriku!" kata Panji dan langkahkan kaki mungilnya.

"Hei bocoh, berhenti!" bentak Sanjaya.

Tubuh Panji gemetar karena bentakan Sanjaya, dan Panji berbalik melihat ke arah Sanjaya.

"Apa lagi paman?" tanya Panji.

"Bagaimana kalau ikut denganku?" tanya Sanjaya.

"Kemana?" tanya Panji.

"Ikut saja, aku yakin kau akan suka!" kata Sanjaya dan putuskan untuk membawa Panji ke perguruan tempat dia bernaung.  Di perguruan Anggrek Putih.

"Baiklah, aku akan ikut!" kata Panji yang tak tahu harus melangkah kemana lagi.

***

Cukup jauh perjalanan mereka bagi Panji. Dan berkali-kali sudah Panji bertanya kemana mereka sesunguhnya.

"Tunggu saja, kita akan segera sampai!" kata Sanjaya.

Mereka berdua masuk ke dalam sebuah kota, kota Muara namanya. Mereka berdua tak singgah di kota itu, tapi malah meninggalkan kota itu hingga menuju ke pinggiran kota itu.

"Apakah kau lihat bangunan besar itu, Panji?" tanya Sanjaya dan tunjuk sebuah bangunan yang ada di lembah di pinggiran kota Muara.

Panji melihat bangunan yang ada di dalam lembah itu, dan yakin kalau itu bangunan sebuah perguruan.

"Apakah itu sebuah perguruan?" tanya Panji.

"Iya, dan kau akan tinggal bersama diriku di dalam perguruan itu!"

"Aku, masuk ke perguruan itu?" kata Panji.

"Iya, apa kau suka pada ilmu kanuragan?" tanya Sanjaya.

"Aku tidak tahu, tapi aku lebih suka pada pengobatan!" kata Panji.

"Aih, sepertinya aku sudah salah membawa masuk seseorang ke dalam perguruan ini!" kata Sanjaya yang merasa gatal seluruh kepalanya.

"Sudahkah, mari kita datangi perguruan itu, mungkin nanti kau akan berubah pikiran dan suka pada ilmu kanuragan!" kata Sanjaya.

"Baik!" jawab Panji.

Ia juga tak memiliki pilihan yang lain, harus bersedia ikut dengan Sanjaya, dan masuk ke dan perguruan Anggrek putih.

Saat mereka datang, belasan murid bertemu dengan mereka, dan semua murid itu memberikan hormat pada Sanjaya, yang artinya Sanjaya memiliki nama dan kehormatan di perguruan itu.

"Guru Sanjaya!" kata tiap orang yang jumpa dengan mereka.

Tapi, perhatian bukan hanya pada Sanjaya, tapi juga Panji yang dibawa oleh Sanjaya.

"Siapa yang dibawa oleh guru Sanjaya? Apa dia akan jadi murid pertama guru Sanjaya?" kata mereka menggosipkan guru Sanjaya yang membawa Panji.

"Jangan hiraukan ucapan mereka, kau cukup istirahat dulu, jika kau tak suka disini, kau bebas untuk pergi!" kata Sanjaya dan bawa Panji masuk ke dalam pondok besar yang jadi tempat dia tinggal.

Pondok itu memiliki tiga kamar, dan Sanjaya memakai kamar yang ada di lantai bawah.

"Masih ada dua kamar di lantai atas, kau bebas memakai yang mana!" kata Sanjaya dan masuk ke dalam kamarnya.

Dia memilih untuk istirahat sebelum melaporkan hasil pekerjaannya pada ketua perguruan Anggek putih itu.

"Nanti aku akan temui ketua Kusuma, setelah aku istirahat. Sekalian aku akan perkenalkan Panji!" kata Sanjaya dan rebahkan tubuhnya di tempat tidur.

Sementara itu, Panji naik ke lantai atas pondok itu, dan memilih satu kamar yang jendelanya mengarah ke halaman luas perguruan Anggrek Putih.

"Apakah hidupku akan berakhir di perguruan ini?" gumam Panji.

***

Perguruan Anggek putih, merupakan salah satu perguruan yang ada di negeri lima benua. Negeri yang didiami oleh Panji.

Negeri itu merupakan negeri yang luas dan kaya, yang mana negeri itu memiliki lima daerah yang dinamakan benua.

Benua merah, biru, kuning, hitam dan putih. Benua yang memiliki keunikan dan keindahan masing-masing dari tiap area benua itu.

Panji, berada di benua biru, benua yang memiliki keindahan alam yang cukup indah, meskipun tak seindah di benua-benua yang lain.

Benua biru juga dikatakan sebagai benua yang paling lemah dari lima benua yang lain, dan benua terkuat adalah benua putih, yang mana benua itu banyak memiliki pendekar golongan putih.

Perguruan Anggek putih, hanya satu dari ratusan perguruan silat yang ada di negeri lima benua, dan perguruan itu hanya masuk dalam perguruan kelas menengah.

Perguruan paling kuat, dan paling disegani di dunia persilatan adalah perguruan angsa emas perguruan tinju besi, dan perguruan naga putih.

Ketiga perguruan itu sejajar dengan kuil matahari yang merupakan sosok netral di dunia persilatan, dan juga sejajar dengan perguruan tangan setan yang merupakan hitam di negeri lima benua.

Meskipun hanya perguruan kelas menengah, tapi perguruan Anggrek Putih, tetap memiliki nama besar, apalagi di kota Muara. Perguruan itu masih yang jadi tujuan bagi pemuda yang ingin menimba ilmu kanuragan.

Ketua Liwa, ketua perguruan itu, dia merupakan sosok yang memiliki kemampuan yang sudah mencapai tingkat tinggi.

Memang dia bukan yang terbaik di dunia persilatan, tapi dia masih masuk dalam dua puluh besar pendekar terbaik golongan putih.

Meskipun perguruan itu sering dipandang sebelah mata, apalagi mereka ada di benua biru, benua paling lemah di negeri lima benua.

Brakkkkkkk!!

"Dasar Sanjaya, dia selalu berbuat sesuka hatinya. Seharusnya dia langsung melapor jika dia sudah kembali!" bentak ketua Kusuma saat kabar kepulangan Sanjaya sampai di telinganya.

Dia segera ambil jubahnya, dan pakai sekaian dia keluar dari ruang pribadinya.

Dia berjalan cepat, dan diikuti oleh seorang lelaki yang merupakan wakil ketua dari perguruan Anggrek Putih, Ki Liwa namanya.

Dia tersenyum lebar saat melihat amarah di mata ketua Kusuma. Dia sangat suka kalau ketua perguruan itu marah pada Sanjaya.

Semua orang sudah tahu bagaimana kemampuan Sanjaya, dia merupkan murid yang berkembang cepat, dan di usia dua puluh lima tahun, dia sudah jadi guru pengajar di perguruan Anggek putih.

Hal itu menimbulkan kecemburuan pada hati wakil ketua perguruan itu, wakil Liwa. Dia tak suka pada keberhasilan Sanjaya yang menurutnya menutupi bakat-bakat keturunannya.

"Dia juga membawa seorang anak kecil bersamanya, ketua!" kata wakil Liwa yang terus mencoba memanasi hati ketua Kusuma.

"Dia membawa seorang anak kecil, dan tak katakan padaku?" kata ketua Kusuma kembali kesal pada Sanjaya.

"Iya, ketua! Dan mereka saat ini ada di pondok Sanjaya!" kata wakil Liwa.

Ketua Kusuma semakin kesal, tapi jelas itu bukan amarah. Dia hanya kesal karena Sanjaya tak langsung temui dia.

"Sanjaya! Sanjaya! Keluar kau!" teriak ketua Kusuma.

Sanjaya dengan malas keluar dari dalam pondok, dan diikuti oleh Panji yang juga kaget karena suara keras itu.

"Ketua, apa ketua tak bisa bicara pelan? Nanti mengundang banyak orang!" kata Sanjaya.

"Diam kau, apa kau tak hargai diriku?" bentak ketua Kusuma.

Sanjaya melirik ke arah wakil Liwa, dia tahu pasti wakil ketua perguruan Anggek putih itu yang melaporkan kedatangannya.

"Dia tetap tak suka padaku," gumam Sanjaya dalam hatinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 44

    "Dia tak akan datang!" kata guru Sahdan dan langkahkan kakinya menemui pengawas sekaligus juri di turnamen itu.Tanpa ragu, guru Sahdan membisikkan sesuatu ke telinga pengawas turnamen itu."Apa kau yakin?" tanya pengawas itu."Iya, dia muridku, mungkin dia tak akan datang!" kata Guru Sahdan.Askan, lawan dari Panji merasa kesal karena dia tak dapatkan lawan. Dia ingin tunjukkan kemampuan, tapi kali ini ia gagal.Setelah mendengarkan alasan dari Guru Sahdan, pengawas turnamen tak lagi katakan apa-apa, dia berdiri ke depan semua penonton.Tapi sebelum ia bicara, Askan sudah berteriak keras."Panji Sanjaya keluarkan, jangan sembunyi seperti seekor kecoa, apa kau takut hadapi aku?" teriak Askan dengan amarah yang besar."Askan cukup! Aku yang akan bicara kali ini!" kata pengawas turnamen itu.Pengawas itu menarik napas. Dan mulai menggunakan suara yang keras."Dengan berat hati, dan karena alasan yang jelas, dengan ini peserta atas nama Panji Sanjaya kami eliminasi!" teriaknya dengan sua

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 43

    Setelah berjalan bersama dengan Ki Sutopo, dan cucunya, Intan Agni, Panji tak lagi mengejar rombongan guru Sahdan, tapi Panji memilih untuk ikuti Ki Sutopo dan cucunya.Tapi ada satu hal yang membuat Panji heran, mereka tak memburu waktu, seolah-olah turnamen itu tak penting bagi mereka."Sepuh, apa kalian tidak takut terlambat?" tanya Panji."Hahah, tidak! Karena cucuku sudah mendapatkan nomor urut!" kata Ki Sutopo."Nomor urut?" tanya Panji."Iya, nomor untuk kapan bertanding!""Jadi dia sudah tahu kapan untuk bertanding?" tanya Panji."Iya, memangnya kau belum memiliki nomor urut, Panji?" tanya ki Sutopo."Belum, sepuh!""Kenapa tidak kau katakan dari awal! Dasar bocah bodoh!" bentak Ki Sutopo."Aku sungguh tak tahu soal itu, sepuh!""Dasar bodoh! Nomor urut itu penentuan kapan kau bertarung, dan jika kau bertarung di nomor yang kecil maka kau akan bertarung lebih dahulu!""Bagaimana ini?" tanya Panji."Besok turnamen itu akan dimulai dan jarak kita menuju kota Malengka masih ada t

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 42

    Panji membuka matanya saat pagi datang, dan dia merasakan ada perubahan yang nyata pada tubuhnya.Tubuhnya kini jauh lebih kokoh, dan otot tubuhnya semakin terlihat nyata, itu karena peningkatan kualitas tulang Panji yang tak Panji sangka.Awalnya Panji kecewa karena dia tak berhasil menerobos naik ke tulang serigala perak, tapi nyata ia mampu.Bammmmmmm!!Panji memukul sebatang pohon untuk mencoba kualitas tulang serigala perak yang kini ia miliki.Brakkk!Pohon itu langsung remuk padahal Panji hanya gunakan kekuatan fisik saja."Luar biasa!" ucap Panji.Kualitas tulang Panji meskipun berada di tahap tulang serigala perak, tapi itu sudah setingkat dengan tulang harimau muda.Itu dikarenakan Panji melatih tulangnya dengan latihan yang keras. Dan latihan keras itu juga berpengaruh pada kekuatan fisik panji.Banyak pendekar yang mengejar kualitas tulang tanpa memperdulikan kualitas fisik, dia memang berhasil, tapi hanya tulang yang meningkat, tidak dengan kekuatan fisik.Kebanyakan oran

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 41

    "Kenapa? Apa putriku kurang cantik?" tanya Ki Ireng yang membuat kepala Panji terasa sakit.Panji merasa bingung, dia masih berusia dua belas tahun, tapi sudah dijodohkan dengan seorang anak gadis yang akan dewasa. Ranti dengan usia lima belas tahun."Hahaha, kau tak usah pikirkan soal itu Panji, aku hanya berharap kau yang akan jadi pendamping putriku di masa depan!" kata Ki Ireng tertawa keras.Ki Ireng tak ingin membuat Panji lebih bingung, hingga dia memutuskan untuk tak lanjutkan pembicaraan itu."Aku masih dua belas tahun paman, dan paman sudah katakan tentang menantu padaku, apakah aku pantas?" kata Panji."Kau yang pantas, dan memang hanya dirimu!" kata Ki Ireng.Panji tak lagi menjawab, tapi memilih untuk diam karena jika diladeni maka pembicaraan itu akan semakin panjang.Bertepatan pula Ranti datang dan masuk ke dalam kamar itu. Hingga Panji selamat dari pembicaraan itu."Ranti, Panji mungkin akan ada di perguruan ini satu minggu ke depan, jadi ada baiknya kau siapkan kamar

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 40

    Saat pagi datang, guru Sahdan dan tiga muridnya dengan berat hati meninggalkan Panji di perguruan Loreng merah."Jika dia sudah baikan, aku harap dia datang ke kota Malengka, mungkin dia akan kami butuhkan!" kata guru Sahdan."Aku akan coba bantu dia!" kata Ki Ireng.Ki Ireng melepas mereka pergi, dan setelah itu ia masuk ke dalam kamarnya. Dia memeriksa lagi kondisi Panji."Aku sudah meninggalkan penghalang di tubuh Panji. Apa penghalang itu tak berguna?" ucap Ki Ireng.Dia mendekteksi penghalang itu, dan penghalang itu masih di tubuh Panji. Tapi penghalang itu tak bereaksi padahal nyawa Panji dalam keadaan yang kritis."Pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Panji!" kata Ki Ireng.Haaaaaaaaaaa!!Dia menekan tubuh Panji dengan tenaga dalam, dan mencoba menemukan apa yang disembunyikan oleh tubuh Panji."Ini?" ucapnya saat merasakan inti tenaga Panji.Wajahnya sangat kaget, dia tak percaya kalau Panji memiliki tenaga dalam yang tersimpan di inti tenaga dalam, dan itu bukan tenaga d

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 39

    "Panji! Panji!" teriak guru Sahdan saat melihat Panji yang sudah tak sadarkan diri.Dia segera membawa Panji ke atas punggungnya, dan berlari cepat menuju kota yang sudah tak jauh dari tepian sungai itu.Pradana, dan dua saudara seperguruan Panji ikut di belakang guru Sahdan, mereka berusaha keras untuk ikuti langkah lari guru Sahdan yang berlari bagaikan kesetanan."Tabib! Tabib!" teriak guru Sahdan saat sampai di sebuah balai pengobatan."Ada apa ini?" tanya tabib yang bertugas di balai pengobatan itu."Tolong selamatkan muridku, dia terluka parah!" kata guru Sahdan dengan suara yang ketakutan."Letakkan dia di atas meja itu!" kata tabib itu.Guru Sahdan lakukan itu, dan dia terus menatap wajah Panji yang mulai pucat karena kehabisan banyak darah."Apa yang terjadi pada muridmu?" tanya tabib itu saat melihat luka di bagian dada Panji mulai membiru."Dia dilukai oleh siluman sungai!" jawab guru Sahdan.Tranggggg!!Alat-alat pengobatan yang ada di tangan tabib itu jatuh. Dia tak perca

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status