Mag-log inRaka memahami bahwa menghadapi orang seperti Celine tidak cukup hanya dengan mengucapkan selamat tinggal. Satu-satunya cara untuk memutus semua keterikatan adalah membuat perempuan itu mengembalikan seluruh keuntungan yang selama ini diperolehnya.Raka tersenyum tipis, tetapi sorot matanya sama sekali tidak mengandung kehangatan. "Apa kau tidak punya uang untuk mengembalikannya?"Ia melirik layar ponselnya sendiri. "Semua bukti transaksi ada di sini. Kalau masalah ini sampai dibawa ke jalur hukum, hasilnya tetap tidak akan berubah."Tatapannya kembali mengunci Celine. "Jadi, kembalikan semua uangku."Wajah Celine memucat, tubuhnya bergetar karena campuran marah, malu, dan panik. Di dalam benaknya, Raka yang sekarang benar-benar berbeda dari pria yang selama ini selalu menuruti setiap keinginannya. Orang yang dulu tidak pernah keberatan menghabiskan uang demi dirinya, kini justru datang untuk menagih semuanya."Raka Mahendra!" Celine berteriak dengan wajah memerah. "Dasar bajingan!" Ia
"Jangan-jangan dia benar-benar balik lagi?""Serius? Setelah semua yang dia katakan tadi?""Sayang sekali, kukira Raka sudah benar-benar berubah.""Hebat di medan latihan, tapi ternyata tetap tidak bisa lepas dari perempuan."Bisik-bisik itu menyebar semakin luas hingga hampir semua orang mulai percaya bahwa Raka akhirnya menyerah.Rio berkedip beberapa kali. Ia masih ingin membela Raka, tetapi kata-kata yang sudah berada di ujung lidahnya mendadak tertahan. Tatapannya tanpa sengaja beralih ke Tiara.Ekspresi gadis itu berubah jauh lebih dingin dibanding sebelumnya. Aura yang terpancar darinya membuat Rio spontan menelan ludah dan mengurungkan niat untuk berbicara.Bara pun ikut menggaruk kepala. Ia sama sekali tidak memahami apa yang sedang dilakukan Raka. "Kenapa Raka malah melakukan itu?" gumamnya pelan.Di tengah kebingungan semua orang, Tiara tiba-tiba melangkah keluar dari kerumunan dengan tenang. Ia berjalan menuju gerbang."Eh?" Rio baru menyadari beberapa detik kemudian. "Tia
Di balik pagar, puluhan mahasiswa baru menahan napas sambil mengikuti setiap detik yang terjadi di depan gerbang.Sudut bibir Reyhan kembali terangkat. "Lihat." Ia menyenggol lengan Damar dengan wajah penuh kemenangan. "Aku sudah bilang, kan? Dia tetap tidak bisa benar-benar melepaskannya."Ucapan itu membuat Celine kembali mendapatkan secercah harapan. Ia yakin Raka masih peduli, pemuda itu pasti akan berbalik.Dan tepat ketika semua orang mengira Raka akan terus berjalan, langkahnya benar-benar terhenti. Sosok itu berdiri membelakangi mereka tanpa bergerak sedikit pun.Keheningan langsung menyelimuti area gerbang.Hembusan angin seolah ikut melemah, sementara suara serangga yang sejak tadi memenuhi suasana juga terasa menghilang. Seluruh perhatian tertuju kepada punggung Raka, menunggu apa yang akan dilakukan selanjutnya.Kenapa dia berhenti?Apa dia akhirnya berubah pikiran?Apa semua ini hanya sandiwara sebelum kembali meminta maaf?Berbagai dugaan bermunculan di benak para penont
Raka bahkan tidak melirik Kevin. Tatapannya tetap tertuju kepada Celine. Beberapa detik kemudian, ia baru menunjuk Kevin dengan ibu jarinya. "Ngomong-ngomong..." Nada suaranya terdengar santai. "Dia ini siapa?"Raka memiringkan kepala sedikit. "Aku bahkan tidak mengenalnya, tapi tiba-tiba muncul lalu sibuk mengurus urusan orang lain."Wajah Kevin langsung memerah. Ia baru saja membuka mulut untuk memperkenalkan diri ketika Celine lebih dulu menyela. "Namanya Kevin Hartanto."Dengan bangga, ia menggandeng lengan Kevin lebih erat. "Dia sahabat laki-laki terbaikku."Kalimat itu baru saja keluar ketika suara tawa yang ditahan-tahan langsung terdengar dari balik pagar."Cih... sahabat laki-laki?""Aku sih tidak percaya.""Kalau itu cuma sahabat, terus aku ini komandan pasukan khusus?""Benar! Tinggal tunggu mereka bilang hubungan mereka murni."Berbagai bisikan bernada mengejek langsung menyebar di antara para mahasiswa baru. Banyak yang berusaha menahan tawa sambil saling bertukar pandang
Raka melangkah mendekat dengan ritme yang tenang. Wajahnya tetap datar tanpa memperlihatkan sedikit pun gejolak emosi, seolah pertemuan itu hanyalah urusan biasa yang tidak layak membuatnya terganggu.Begitu melihat Raka berhenti di hadapannya, Celine langsung mengangkat dagu dengan ekspresi penuh superioritas. "Jadi akhirnya kamu mau keluar juga."Sudut bibirnya terangkat tipis. "Aku sempat mengira kamu akan terus bersembunyi di dalam kamp seperti pengecut."Kevin berdiri di samping sambil melipat kedua tangan. Senyum tipis terus menghiasi wajahnya karena baginya semua ini tidak lebih dari hiburan yang menarik untuk disaksikan.Raka menghentikan langkah sekitar tiga meter dari mereka. Tatapannya hanya tertuju kepada Celine. Ia tidak menyela, tidak pula menunjukkan keinginan untuk menjawab.Sikap yang terlalu tenang itu justru membuat Celine kehilangan alur pembicaraan yang telah dipersiapkannya. Kalimat-kalimat yang semula ingin ia lontarkan seolah tertahan begitu saja.Dulu, setiap
"Aku sudah datang sendiri ke sini," ucap Celine sambil mengangkat dagu. "Itu saja sudah cukup memberinya kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya."Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada penuh percaya diri. "Nanti aku akan bicara baik-baik dengannya sampai dia sadar sudah bersikap keterlaluan."Pikirannya kemudian beralih ke hal lain."Masalah uang bulanan juga harus dibahas. Lima juta terlalu sedikit." Celine menyilangkan tangan lebih erat. "Aku sudah memutuskan. Setelah membuatku marah seperti ini, dia harus menaikkan uang bulananku menjadi delapan juta."Kevin langsung menimpali sambil tersenyum puas. "Itu baru benar." Ia mengangguk berkali-kali. "Menghadapi pria seperti itu memang tidak boleh terlalu baik. Semakin kamu menjaga jarak, semakin besar usahanya mengejarmu. Di matanya, kamu pasti sudah seperti seorang dewi."Mereka masih larut dalam percakapan ketika perhatian keduanya tertuju ke arah gerbang kamp.Seorang pemuda berpakaian santai sedang berjalan mendekat
Jauh di dalam hutan pulau terpencil.Raka dan Bara bersembunyi di balik semak lebat yang hampir menelan keberadaan mereka. Keduanya menahan napas sambil membiarkan tubuh mereka menyatu dengan lingkungan sekitar, membuat keberadaan mereka nyaris mustahil dideteksi dari kejauhan.Pengorbanan Rio tern
Raka membuka mata di lantai kamar. Napasnya memburu, rasa panas membakar dari dalam tubuhnya, seolah lava mengalir di setiap pembuluh darah. Urat-urat menonjol di leher dan lengannya, sementara jantungnya berdetak seperti genderang perang yang dipukul tanpa henti.Namun anehnya, seluruh rasa sakit
Senja tenggelam perlahan di balik menara Akademi Tempur Garuda.Sorak-sorai plaza ujian sudah lama padam, digantikan suara langkah para peserta yang dibagi menuju gedung masing-masing. Mereka yang berbakat dibawa ke asrama utama. Mereka yang memiliki koneksi dijemput kendaraan keluarga.Dan mereka
Langit sore di atas Akademi Tempur Garuda tertutup awan kelabu pekat. Gumpalan mendung menggantung rendah, seolah menekan seluruh kompleks akademi dengan beban tak kasatmata.Di plaza utama, ribuan peserta berdiri dalam barisan panjang menghadap panggung ujian raksasa. Layar hologram, menara sensor







