MasukRaka membuka mata di lantai kamar. Napasnya memburu, rasa panas membakar dari dalam tubuhnya, seolah lava mengalir di setiap pembuluh darah. Urat-urat menonjol di leher dan lengannya, sementara jantungnya berdetak seperti genderang perang yang dipukul tanpa henti.
Namun anehnya, seluruh rasa sakit yang tadi menghancurkan tubuhnya lenyap begitu saja. Digantikan oleh energi liar yang meluap.
Raka mengernyit, ia menyentuh rahang yang sebelumnya dihantam sepatu senior itu. Lalu tangannya turun ke tulang rusuk yang tadi terasa patah. Semuanya terasa biasa saja tanpa rasa sakit.
“Apa...?”
Perlahan ia menekan lantai untuk bangkit.
KREK!
Keramik di bawah telapak tangannya retak membentuk jaring halus.
Raka langsung menoleh terkejut, tatapannya turun ke lantai, lalu ke tangannya sendiri. Ia bahkan tidak menekan sekuat itu.
Panas di tubuhnya terasa makin menjadi. Sesuatu bergerak di balik daging dan tulangnya, seperti makhluk tidur yang baru terbangun lalu meraba seluruh raganya dari dalam.
“Apakah aku halu?”
Ia mencoba bangkit perlahan.
KRETEK~ KRETEK~
Saat punggungnya tegak, tulang-tulang di tubuhnya berbunyi keras. Seakan, sendi-sendinya baru saja dipasang ulang.
“Tunggu, tubuhku…” lirih Raka, sesaat sebelum mendengar suara lain.
Di luar kamar, suara tawa yang meremehkan dari tiga senior itu masih terdengar jelas dari koridor. Seolah yang baru mereka hajar hanyalah sampah yang tak akan bangun lagi.
“Pingsan cuma segitu.”
“Hahaha! Besok pakai lagi buat hiburan.”
“Anak sampah memang cocok di Kelas Nol.”
Tatapan Raka berubah dingin, ia melangkah menuju pintu dan meraih gagangnya.
Klik.
Pintu terbuka perlahan.
Tiga senior itu menoleh bersamaan.
Brama—si Senior plontos menyeringai lebar, matanya penuh ejekan. “Eh, bangun lagi samp—”
WHOOSH!
Namun, kalimatnya terputus. Raka hanya berniat melangkah biasa, tetapi tubuhnya melesat jauh lebih cepat dari pikirannya.
Dalam sekejap ia sudah berdiri tepat di depan Brama.
Mata pria itu membelalak.
Raka sendiri ikut membeku sepersekian detik.
‘Cepat sekali…’ Brama mundur refleks sambil mengangkat tangan. “A-apa—”
Tubuh Raka bergerak sendiri, tinju kanannya meluncur lurus.
BUG! BRAKK!
Wajah Brama terpelintir ke samping, gigi bercampur darah muncrat ke udara. Tubuh besarnya terangkat lalu terbang menghantam dinding koridor hingga retak dan ambles.
Debu berjatuhan.
Lorong mendadak sunyi.
Raka menoleh ke arah dinding yang hancur, lalu ke tubuh besar yang kini terkapar tak bergerak. Setelah itu pandangannya turun ke kepalan tangannya sendiri, jari-jarinya masih mengepal kaku.
“Tunggu. Aku... melakukan itu?”
Barusan, ia tidak memakai seluruh tenaga. Bahkan ia tidak merasa sedang memukul sekeras itu.
Lalu kenapa hasilnya seperti ini?
Panas di dalam tubuhnya kembali berdenyut, lebih liar dari sebelumnya.
Dua senior lain membeku di tempat. Wajah mereka pucat, napas tercekat.
“Apa-apaan ini?!”
“Brama tumbang satu pukulan!”
“Sial! Dia bukan Grade E!”
Salah satu dari mereka meraung panik dan mengayunkan tongkat besi ke arah kepala Raka.
Raka baru sempat menoleh, tubuhnya kembali bergerak lebih cepat dari kesadaran. Tangannya terangkat dan menangkap tongkat itu di udara.
TAK!
Benturan keras berhenti di telapak tangannya.
Mata Raka menyipit, ia menatap batang besi yang tertahan satu tangan, lalu tanpa sadar menggenggam sedikit lebih kuat.
KREKK!
Tongkat itu remuk seperti ranting kering, pecahan logam berjatuhan ke lantai. Senior yang memegangnya membelalak ngeri.
Raka ikut terdiam sesaat, bahkan cengkeramannya sendiri tak lagi ia kenali. Darah mengalir tipis di sela jari-jarinya.
Dengan refleks, ia menendang perut pria itu.
DUAGH!
Tubuh senior tersebut terbang menabrak pintu kamar di ujung lorong.
Pintu kayu pecah berkeping-keping. Pria itu jatuh berguling di antara serpihan dengan erangan menyakitkan.
Senior terakhir menjerit panik lalu berbalik hendak kabur.
Raka membeku sesaat di tempatnya sendiri. Napasnya masih berat, tetapi matanya dipenuhi kebingungan yang sulit disembunyikan. “Kekuatan macam apa ini...?”
Suaranya rendah dan serak. “Apa yang sebenarnya terjadi padaku?”
Panas di dalam tubuhnya kembali berdenyut liar, mengalir cepat dari dada menuju seluruh anggota tubuh. Urat di lengannya menegang, seolah tenaga itu menunggu perintah berikutnya.
Raka mengangkat kepala. Pandangannya menangkap sosok senior terakhir yang hampir mencapai tikungan lorong. Sorot matanya langsung berubah dingin.
“BERHENTI!”
Bentakan itu menggema keras di koridor.
Senior terakhir tersentak hebat, langkahnya kacau, lalu berhenti dengan tubuh gemetar sebelum perlahan menoleh ke belakang.
Raka menarik napas perlahan, tenaga liar di tubuhnya mulai mengikuti ritme napas.
Ia mengangkat kepala. Pandangannya menangkap sosok senior terakhir yang hampir mencapai tikungan lorong.
Sorot matanya langsung berubah dingin.
Senior terakhir itu menoleh ke belakang dengan wajah pucat, mata membelalak melihat Raka yang kini berdiri tegak di tengah lorong.
Raka tidak berkata apa-apa.
Ia hanya menatapnya.
BRAKK!
Tatapan itu dingin, tajam, penuh tekanan, dan seolah ada sesuatu yang tak bisa dilihat oleh mata biasa.
Senior itu gemetar. Kakinya mundur satu langkah, lalu dua langkah, sampai akhirnya ia berbalik dan berlari sekencang mungkin menyusuri lorong gelap. Langkahnya kacau, napasnya terengah, tidak berani menoleh lagi.
Raka tetap berdiri di tempat yang sama. Ia menatap lorong kosong itu beberapa saat, lalu menunduk ke telapak tangannya. Napasnya terdengar berat, kebingungan menerpa dirinya.
Kekuatan apa yang baru saja bangun dalam dirinya?
Ia mengepalkan tangan perlahan, mencoba memahami sensasi panas yang masih berdenyut di inti dadanya.
Lalu—
DUG!
Satu dentuman terdengar dari dalam dadanya.
Raka menegang, panas di aliran darahnya berkumpul menuju jantung, lalu menyebar lagi seperti gelombang merah. Tubuhnya terasa lemas sesaat, membuatnya terduduk dengan kaki gemetar.
Suara berat dan asing bergema langsung di benaknya.
[Pewaris terverifikasi.]
Raka mengangkat kepala, sorot matanya berubah tajam.
“Siapa?”
Tak ada siapa-siapa di lorong.
Namun suara itu kembali terdengar.
[Resonansi Darah Mahendra telah aktif.]
Di depan matanya, garis-garis cahaya merah perlahan mulai terbentuk di udara. Fragmen tulisan asing berputar.
[WARISAN TAHAP AWAL DIBUKA]
[JALUR NADI: PEMULIHAN DIMULAI][TEKNIK PERTAMA: INSTING TEMPUR]Raka menatap simbol itu tanpa berkedip, kebingungan terlintas jelas di matanya.
“Simbol? Tulisan kuno…”
Suaranya nyaris tak terdengar. Perlahan tulisan itu tercerna ke dalam pikirannya, lalu berubah menjadi huruf yang bisa ia baca.
Napasnya tertahan, sorot matanya goyah. “Apa ini… Warisan…?”
Panas di dadanya masih berdenyut liar, dan terasa sangat nyata. Perlahan, luka-luka di tubuhnya menghilang dalam sekejap.
“Tunggu… lukaku…” suaranya tercekat, matanya terpaku pada telapak tangan yang tadi berlumur darah kini bersih, utuh, tanpa bekas, “Sembuh?”
Napasnya mulai kacau, naik turun tak beraturan, seolah tubuhnya belum siap menerima kenyataan yang terjadi begitu cepat. Pikirannya bergerak liar, menyusun ulang potongan demi potongan yang barusan ia alami. Tiga senior itu, satu hantaman, dinding yang hancur dalam satu benturan brutal.
Kalau ini efek dari hal yang tadi dikatakan sosok itu—
Kalau ini yang membuatnya bisa menjatuhkan mereka dalam satu gerakan—
Deg!
Jantungnya berdegup lebih keras, cepat, menghantam dadanya tanpa ampun.
Jari-jarinya mengepal tanpa sadar. “Kalau ini benar…”
Belum sempat ia mencerna semuanya—
WIUUU~ WIUUU~
Sirene darurat meraung ke seluruh gedung.
Lampu darurat menyala merah, memandikan lorong-lorong akademi dengan warna bahaya. Para murid terbangun dalam kekacauan, pintu-pintu terbuka, suara langkah berlarian bersahutan.
Di Gedung Pusat Akademi, seluruh layar pengawas berkedip bersamaan. Sistem yang semula stabil mendadak kacau, data berloncatan liar.
Seorang pria tua berjubah komandan bangkit dari kursinya dengan wajah pucat. Tatapannya tertuju pada monitor utama.
Di layar itu, data peserta ujian siang tadi muncul kembali secara otomatis. Nama yang seharusnya tak penting kini memenuhi pusat tampilan.
[Raka Mahendra—Bloodline Detected]
Tangan pria tua itu bergetar, napasnya tercekat. “Tidak mungkin!”
Bibirnya bergerak pelan, nyaris tak bersuara. Matanya menatap layar tanpa berkedip, seolah takut tulisan itu akan hilang jika ia mengalihkan pandangan. “Garis darah Mahendra sudah punah!”
Wiuu~Fajar baru saja menyingsing ketika suara sirine panjang menggema di seluruh Wilayah Militer Selatan, memecah keheningan pagi bahkan sebelum matahari benar-benar muncul di ufuk timur.Suara nyaring itu langsung membangunkan seluruh kadet. Dalam hitungan menit, barak yang semula lengang berubah menjadi lautan langkah kaki dan teriakan para instruktur yang memaksa semua orang bergerak secepat mungkin."Bangun!""Lima menit berkumpul di lapangan!""Siapa yang terlambat, bersiap menerima hukuman!"Tak seorang pun berani mengulur waktu. Para kadet segera mengenakan seragam latihan sambil berlari keluar dari barak, takut menjadi orang pertama yang dijadikan contoh.Di barak wanita, Celine masih duduk terpaku di tepi ranjang. Matanya sembap akibat semalaman tidak pernah benar-benar terpejam. Setiap kali mencoba memejamkan mata, bayangan Raka selalu muncul sesaat setelah pria itu menyiram air padanya, bersamaan dengan kalimat yang masih terngiang jelas di telinganya.[Selamat datang... di
"Siap, Komandan Unit!"Raka berdiri tegak memberi hormat. Senyum puas tersungging di wajahnya ketika menjawab, "Saya pastikan tugas ini akan diselesaikan dengan sempurna."Setelah Arman benar-benar meninggalkan kantin, Raka menurunkan tangan dari sikap hormatnya. Tatapannya perlahan menyapu seluruh kadet, dan hawa di sekelilingnya seolah ikut mendingin ketika sorot matanya kembali berubah sedingin es."Apa yang masih kalian lihat? Sudah selesai makan?""Kalau sudah, kembali ke barak untuk istirahat siang. Tepat pukul 13.30 seluruh unit harus sudah berkumpul di lapangan latihan."Dia berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan nada datar."Siapa pun yang terlambat, meski hanya satu menit, hukumannya tambahan lari lima kilometer."Satu perintah itu langsung membuat seluruh kantin gempar. Para kadet berhamburan meninggalkan tempat tersebut secepat mungkin, seolah takut terlambat sedetik saja.Bara dan Rio hanya bisa saling berpandangan. Keduanya masih belum sepenuhnya pulih dari keterkej
Semua sikap dingin, semua ucapan kejam, bahkan perlakuan kasar yang diterimanya sebelumnya, pasti hanya sandiwara. Tujuannya semata-mata untuk menarik perhatiannya. Sebenarnya Raka masih sangat mencintainya.Dalam sekejap, imajinasi Celine berkembang tanpa kendali. Berbagai adegan romantis yang hanya ada di dalam pikirannya bermunculan silih berganti, seolah sebuah drama panjang sedang diputar di benaknya. Di dalam kisah itu, dirinya adalah satu-satunya pemeran utama wanita yang tidak tergantikan.Sedangkan Raka adalah tokoh utama pria yang rela menentang siapa pun, bahkan seluruh dunia, demi mempertahankan cintanya. Semakin lama memikirkannya, semakin yakin Celine Permata dengan kesimpulannya sendiri.Suasana hatinya yang sempat jatuh ke titik terendah perlahan kembali pulih. Dalam pandangannya, Raka bukan lagi pemuda miskin, pendiam, dan penurut yang dulu selalu mengikutinya.Sekarang Raka memiliki kemampuan. Dia telah menjadi seorang instruktur, mendapat kepercayaan penuh dari Koma
Harapan yang sempat padam kembali menyala di mata para kadet.Tak seorang pun menyangka Raka yang beberapa saat lalu masih berdiri bersama mereka sebagai peserta pelatihan, kini mendadak berubah menjadi instruktur.Benar-benar di luar dugaan."Komandan Unit." Raka kembali melangkah maju dan memberi hormat. "Saya masih memiliki satu permohonan."Arman menghembuskan napas panjang. "Katakan."Nada suaranya mulai dipenuhi rasa tidak sabar.Semakin lama berhadapan dengan Raka, semakin dia merasa pemuda itu sulit ditebak. Sifat-sifat yang selama ini tidak pernah terlihat justru bermunculan satu per satu, membuat Arman merasa harus mengawasinya lebih saksama setelah ini.Raka tidak berputar-putar. Tatapannya bergeser ke arah Celine, lalu sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum yang begitu lebar hingga sulit disembunyikan. "Saya berharap Komandan Unit menunda hukuman untuk Celine Permata."Kalimat itu baru saja selesai diucapkan ketika seluruh kantin mendadak gempar.Arman bahkan n
Arman tak lagi memperdulikan keadaan Celine. Setelah mengalihkan pandangan darinya, dia menatap Raka lalu menyampaikan sebuah keputusan yang langsung mengguncang seluruh kantin."Mulai hari ini, Raka Mahendra ditunjuk sebagai instruktur pelatihan militer bagi para kadet baru."Ucapan itu seketika memancing kegemparan.Semua orang memandang Raka dengan ekspresi tak percaya, termasuk Celine yang masih terduduk di lantai. Bahkan Raka sendiri sempat terpaku beberapa saat karena sama sekali tidak menduga keputusan tersebut."Komandan Unit." Raka mengusap pelipisnya sambil mengembuskan napas pelan, lalu tersenyum pahit. "Bukankah sebelumnya kita sudah sepakat saya hanya membantu selama satu hari?"Dia benar-benar merasa telah dijebak.Mendengar protes itu, Arman justru menyunggingkan senyum tipis. "Bukankah ini masuk akal? Pasukan sedang kekurangan personel, jadi seorang prajurit sepertimu tentu harus ikut membantu menjadi instruktur."Raka langsung menggeleng. "Komandan Unit, saya masih da
Semua orang membeku di tempat."Raka masih kadet tahun pertama, bukan? Bagaimana mungkin dia sudah resmi menjadi prajurit?""Mustahil! Dia baru mengikuti pelatihan militer selama dua bulan!""Aku juga tidak percaya. Apa jangan-jangan dia punya jalur khusus atau orang dalam?"Bisik-bisik langsung memenuhi seluruh kantin.Semua orang saling bertukar pandang, tetapi tak seorang pun mampu memahami bagaimana Raka bisa resmi bergabung dengan militer dalam waktu sesingkat itu.Celine pun sama terkejutnya. Baginya, kenyataan bahwa Raka berani menembak seseorang sudah cukup sulit diterima.Kini pria itu bahkan telah resmi menjadi prajurit.Apakah ini benar-benar Raka yang selama ini dikenalnya?Bukankah dulu dia selalu penurut, lembut, pendiam, dan tak pernah berani melawan?‘Tidak…’Celine segera menepis pikiran itu.Pria di hadapannya tidak mungkin benar-benar berubah. Dia yakin Raka masih menyimpan perasaan yang sama seperti dulu, dan keyakinan itulah yang kembali menyalakan secercah harapa
Senja tenggelam perlahan di balik menara Akademi Tempur Garuda.Sorak-sorai plaza ujian sudah lama padam, digantikan suara langkah para peserta yang dibagi menuju gedung masing-masing. Mereka yang berbakat dibawa ke asrama utama. Mereka yang memiliki koneksi dijemput kendaraan keluarga.Dan mereka
Langit sore di atas Akademi Tempur Garuda tertutup awan kelabu pekat. Gumpalan mendung menggantung rendah, seolah menekan seluruh kompleks akademi dengan beban tak kasatmata.Di plaza utama, ribuan peserta berdiri dalam barisan panjang menghadap panggung ujian raksasa. Layar hologram, menara sensor
“SEMUA DIAM!”Tiba-tiba, suara menggelegar meledak di tengah arena, langsung menarik perhatian seluruh siswa baru.Seorang pria bertubuh tegap berdiri di depan barisan. Kulitnya gelap, rahangnya keras, dan sorot matanya tajam seperti bilah pisau yang menyapu kerumunan tanpa jeda. Namanya Arman Hali
Di depan pintu Ruang Garuda, tubuh assassin terakhir tergeletak tak bergerak. Tapi pemancar merah di tangannya masih berkedip.Raka menatap benda itu dengan napas berat. Panas asing di dalam tubuhnya belum benar-benar mereda sejak pertarungan tadi.Darmawan berjalan mendekat, lalu menendang pemanca







