Mag-log inSuliwa hanyalah seorang murid luar berkemampuan rendah yang bertugas sebagai pelayan logistik di perbatasan sekte. Saat mencari tanaman obat di malam hari, dia terperosok ke dalam jurang dan menemukan seorang Tetua Agung dari sekte musuh yang sedang sekarat karena dikhianati. Dalam kondisi sekarat dan pandangan yang kabur, Tetua tersebut mengira Suliwa adalah murid kesayangannya, lalu mentransfer seluruh inti jiwa, sebuah ilmu kultivasi yang disegel, dan cincinnya ke tubuh Suliwa sebelum akhirnya tewas.
view moreKabut tipis menyelimuti Lembah Gunung Hitam sejak subuh. Suliwa sudah terbiasa dengan udara dingin yang menusuk tulang ini, sedingin apa pun cuacanya, tugas hariannya tidak pernah berkurang.
Ia memanggul keranjang bambu berisi kayu bakar di punggungnya, melangkah menyusuri jalan setapak berbatu menuju gudang logistik di kaki tebing. Setiap langkahnya menimbulkan bunyi gemeretak dari sepatu bot kulit murah yang solnya sudah menipis, hampir tidak mampu lagi menahan dinginnya tanah berbatu di bawah kakinya. "Cepat sedikit, Liwa! Jatah makan murid senior belum kau antar!" Suara itu datang dari Bata, murid logistik lain yang lebih senior tiga tahun darinya. Suliwa hanya mengangguk singkat tanpa membalas. Ia tahu percuma berdebat dengan orang-orang seperti Bata, semakin banyak bicara, semakin banyak alasan mereka memotong jatahnya bulan ini. "Iya, sebentar lagi selesai," jawabnya pendek. Bata mendengus, lalu berlalu sambil menendang kerikil ke arah kaki Suliwa. Suliwa tidak bereaksi. Wajahnya tetap datar, matanya yang hitam pekat menatap lurus ke depan seolah tidak ada yang terjadi. Hanya kilat tajam sesaat di sudut matanya yang menunjukkan bahwa ia sebenarnya mencatat semua penghinaan itu diam-diam. "Dasar murid sampah," gumam Bata sambil berlalu, sengaja cukup keras agar terdengar. "Untung saja masih berguna buat angkut-angkut barang." Suliwa mengepalkan tangannya sejenak di balik jubah lusuhnya, lalu melepaskannya perlahan. Ia sudah belajar sejak lama bahwa kemarahan hanya akan mendatangkan masalah baru bagi orang seperti dirinya, murid luar tanpa keluarga, tanpa bakat kultivasi yang menonjol, dan tanpa seorang pun yang akan membelanya jika terjadi sesuatu. Sejak kecil, Suliwa dibesarkan tanpa keluarga, dititipkan ke Sekte Gunung Hitam oleh seseorang yang tidak pernah ia ketahui identitasnya. Statusnya sebagai murid luar bagian logistik membuatnya berada di dasar hierarki sekte, jauh dari murid faksi utama yang mendapat pelatihan kultivasi resmi. Tubuhnya kurus karena jatah makan yang sering dipotong, tapi bertahun-tahun kerja fisik membuat ototnya mengeras seperti kawat baja di balik jubah linen abu-abu yang sudah robek di bagian ketiak. Ketika akhirnya seluruh tugas hariannya selesai, matahari sudah lama tenggelam di balik puncak tebing. Suliwa duduk sejenak di depan gudang logistik, mengunyah sepotong roti keras yang menjadi jatah makannya malam itu. Perutnya masih terasa lapar, tapi ia sudah terbiasa menahan rasa itu. "Liwa," panggil seorang murid muda lain yang bertugas sebagai penjaga gerbang, "kau masih harus ke tebing dalam malam ini? Sendirian?" "Iya. Tidak ada pilihan lain," jawab Suliwa singkat sambil bangkit berdiri. "Persediaan jamur es untuk faksi medis sudah hampir habis. Kalau tidak diantar besok pagi, aku yang akan disalahkan." "Hati-hati. Daerah gua terlarang itu katanya sering ada suara aneh belakangan ini. Angker." Suliwa hanya mengangguk singkat, tidak terlalu menghiraukan peringatan itu. Bagi murid faksi utama, gua terlarang mungkin terdengar menakutkan. Namun bagi Suliwa yang sudah terbiasa menghadapi binatang buas dan medan berbahaya seorang diri, itu hanya satu lagi tugas yang harus diselesaikan. Malam itu, setelah menyelesaikan seluruh tugasnya, Suliwa masih harus mencari jamur es, bahan obat langka yang hanya tumbuh di celah tebing terdalam dekat gua terlarang. Tidak ada murid faksi utama yang mau mengambil tugas ini karena medannya terlalu berbahaya. Tapi bagi Suliwa, bahaya bukan hal baru. Ia menyusuri jalan setapak sempit dengan obor kecil di tangan. Angin malam bertiup kencang, membawa aroma tanah basah dan lumut yang menempel di dinding batu. Semakin dalam ia melangkah, semakin sunyi suasananya, hanya suara langkah kakinya sendiri yang terdengar di antara kabut tebal. Sesekali terdengar lolongan binatang buas dari kejauhan, namun Suliwa sudah cukup hafal medan ini untuk tahu jarak amannya. "Harusnya sih jamurnya ada di sekitar sini," gumamnya sambil mengangkat obornya lebih tinggi, menyusuri celah-celah batu yang mulai ditumbuhi jamur bercahaya kebiruan pucat. DUAAARR! Tiba-tiba, sebuah dentuman keras menggema dari dalam jurang, disusul getaran hebat yang membuat bebatuan di sekitarnya berjatuhan. Suliwa refleks mundur, matanya menyipit menatap celah baru yang muncul di dinding tebing. "Astaga! Suara ledakan apa itu?" gumamnya pelan sambil mendekat, waspada namun juga tidak bisa menahan rasa ingin tahunya. Ia mengintip ke dalam celah itu, dan tanpa peringatan, tanah di bawah kakinya runtuh. Suliwa terjatuh, tubuhnya berguling melewati lorong batu sempit sebelum akhirnya membentur lantai gua bawah tanah yang gelap. Rasa sakit menjalar di punggungnya. Ia bangkit perlahan, menahan nyeri sambil mengambil obornya yang masih menyala, untungnya belum padam meski sempat terlepas dari genggamannya saat terjatuh. Cahaya remang itu memperlihatkan ruangan luas berukir simbol-simbol kuno, sebuah gua yang terlihat tersembunyi selama ribuan tahun, dindingnya dipenuhi ukiran yang belum pernah ia lihat sebelumnya di manapun. Di tengah ruangan, seorang pria tua tergeletak bersimbah darah berwarna emas. Jubah putihnya yang bersih kini basah kuyup oleh darahnya sendiri. Suliwa mematung, jantungnya berdegup kencang. "Siapa... di sana?" suara pria itu serak, nyaris tak terdengar. Suliwa ragu sejenak sebelum mendekat, insting hati-hatinya bertarung dengan rasa ibanya melihat kondisi orang tua itu. "Saya hanya murid logistik yang tersesat, Tuan. Saya tidak bermaksud—" Pria tua itu mengangkat kepalanya dengan susah payah. Matanya yang berkabut menatap ke arah Suliwa, namun sorot itu tidak benar-benar melihatnya. Sorot itu menatap sesuatu, atau seseorang, dari masa lalu. "Kau... akhirnya kau datang," bisiknya, suaranya bergetar antara lega dan pilu. "Kanaka... anakku..." "Tunggu, saya bukan—" Suliwa mencoba menjelaskan, tapi sang Tetua sudah tidak lagi mendengarkan. "Dengarkan aku baik-baik," lanjutnya, tangannya yang gemetar terangkat perlahan. "Waktuku tidak banyak. Semua yang kumiliki, semua yang seharusnya menjadi milikmu, akan kuwariskan sekarang." "Tuan, saya bukan orang yang Anda maksud! Anda salah orang!" Suliwa mencoba mundur, tapi kakinya seolah terpaku di tempat, tertahan oleh tekanan energi aneh yang mulai memenuhi udara di sekitarnya. Sang Tetua tersenyum tipis, seolah tidak mendengar sepatah kata pun dari penolakan itu. "Maafkan aku karena tidak bisa mendampingimu lebih lama. Tapi mulai sekarang, kekuatan ini adalah milikmu." Tangan pria tua itu mencengkeram ubun-ubun Suliwa dengan kekuatan yang jauh melampaui tubuhnya yang sekarat. Cahaya emas meledak dari titik pertemuan mereka, menyilaukan seisi gua. "Aaarrghhh." Suliwa membuka mulutnya untuk berteriak, tapi tidak ada suara yang keluar. Tubuhnya membeku, dipenuhi oleh sesuatu yang jauh lebih besar dari yang bisa ditampung oleh raganya yang lemah.Malam itu, setelah seluruh murid logistik terlelap, Suliwa mengendap keluar dari gudang mengikuti tanda yang sudah disepakati, sebuah lentera kecil berwarna biru yang digantung di dekat pohon tua perbatasan faksi alkimia. Ia menyusuri jalan setapak sunyi, jantungnya berdegup campuran antara gugup dan harap.Alicia sudah menunggunya di sana, mengenakan jubah gelap yang berbeda dari biasanya, agar tidak terlalu mencolok dalam kegelapan malam. "Kau tepat waktu," ucapnya pelan. "Ikuti aku, dan jangan bersuara."Mereka menyusuri lorong tersembunyi di balik salah satu bangunan faksi alkimia, menuruni tangga batu yang curam menuju sebuah ruangan bawah tanah luas. Dinding ruangan itu dipenuhi rak-rak berisi bahan ramuan langka, sementara di tengahnya terdapat lingkaran formasi berukir yang berpendar samar kebiruan."Tempat apa ini?" tanya Suliwa, matanya menyapu seluruh ruangan dengan kagum."Ruang latihan rahasia leluhur faksi alkimia," jawab Alicia sambil menyalakan beberapa lampu minyak
Ruang penyimpanan obat itu remang-remang, hanya diterangi oleh satu lampu minyak kecil di sudut ruangan. Rak-rak kayu berjejer rapi dipenuhi botol-botol ramuan dan tumbuhan kering, aromanya bercampur antara herbal pahit dan sesuatu yang manis samar seperti mint."Duduklah," ucap Alicia sambil menunjuk bangku kayu sederhana di dekat meja racikan. "Percakapan ini akan lebih lama dari yang kau kira."Suliwa duduk dengan hati-hati, matanya masih waspada mengawasi setiap gerakan Alicia. "Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?"Alicia menarik kursi di seberangnya, duduk dengan sikap tegak yang tidak pernah luntur meski suasana di antara mereka begitu tegang. "Pertama, aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Tetua Agung dari Sekte Pedang Langit. Dan kedua, aku ingin memastikan energi yang kau sembunyikan itu tidak akan menjadi bencana bagi siapa pun, termasuk dirimu sendiri.""Kenapa kau peduli?" tanya Suliwa, suaranya masih penuh kewaspadaan. "Kau bisa saja langsung melaporkanku
Pagi itu datang tanpa peringatan. Suara terompet perang menggema tiba-tiba dari arah gerbang utama, memecah ketenangan Lembah Gunung Hitam yang biasanya hanya diisi suara angin dan kicau burung pagi."Razia mendadak! Semua murid berkumpul di halaman sekarang juga!" teriak salah satu penjaga sambil berlari melewati barisan gudang logistik.Suliwa yang sedang menyusun karung gandum langsung menghentikan pekerjaannya, jantungnya berdegup kencang mendengar kata razia. Ia bergegas keluar bersama murid lain, dan begitu sampai di halaman, ia melihat pemandangan yang membuat darahnya seketika dingin.Puluhan prajurit berzirah marun berbaris rapi di halaman gudang, dan di depan mereka semua, berdiri seorang pemuda tegap dengan jubah sutra merah marun bersulam emas, rambut hitam legamnya tertata rapi di bawah mahkota giok kecil. Wajahnya angkuh, matanya menyapu seluruh murid yang berkumpul dengan tatapan merendahkan."Komandan Kanaka," bisik salah satu murid di sebelah Suliwa, suaranya berge
Salah satu pengawalnya yang berdiri di dekat pintu menoleh. "Nona Alicia, apakah Anda menemukan sesuatu yang mencurigakan hari ini?""Belum bisa dipastikan," jawab Alicia, matanya masih menerawang jauh. "Tapi aku merasa ada yang tidak beres dengan murid bernama Suliwa itu. Ada sebuah energi yang asing, meskipun samar-samar tapi aku bisa merasakannya.""Apakah perlu saya laporkan pada Komandan Kanaka?" tanya pengawal itu.Alicia terdiam sejenak, mempertimbangkan dengan hati-hati. "Jangan. Aku hanya ingin memastikan sendiri terlebih dahulu sebelum melibatkan pasukan penegak hukum. Kalau ternyata dugaanku salah, aku tidak ingin ada murid tidak bersalah yang jadi korban kecurigaan berlebihan, apalagi dia dari murid logistik bawah."Ia bangkit dari kursinya, berjalan menuju jendela kamar yang menghadap ke arah Lembah Gunung Hitam yang gelap diselimuti kabut malam. Matanya menyipit tajam, penuh tekad."Aku akan kembali ke sana," bisiknya pelan. "Dan aku akan memastikan sendiri, energi apa y
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.