Share

Bab 7

Penulis: Mochi
last update Tanggal publikasi: 2026-07-25 12:20:41

Pagi itu datang tanpa peringatan.

Suara terompet perang menggema tiba-tiba dari arah gerbang utama, memecah ketenangan Lembah Gunung Hitam yang biasanya hanya diisi suara angin dan kicau burung pagi.

"Razia mendadak! Semua murid berkumpul di halaman sekarang juga!" teriak salah satu penjaga sambil berlari melewati barisan gudang logistik.

Suliwa yang sedang menyusun karung gandum langsung menghentikan pekerjaannya, jantungnya berdegup kencang mendengar kata razia.

Ia bergegas keluar bersama murid lain, dan begitu sampai di halaman, ia melihat pemandangan yang membuat darahnya seketika dingin.

Puluhan prajurit berzirah marun berbaris rapi di halaman gudang, dan di depan mereka semua, berdiri seorang pemuda tegap dengan jubah sutra merah marun bersulam emas, rambut hitam legamnya tertata rapi di bawah mahkota giok kecil.

Wajahnya angkuh, matanya menyapu seluruh murid yang berkumpul dengan tatapan merendahkan.

"Komandan Kanaka," bisik salah satu murid di sebelah Suliwa, suaranya bergetar ketakutan.

Suliwa menahan napas, berusaha keras menjaga wajahnya tetap datar meski seluruh tubuhnya menegang.

Ini pertama kalinya ia melihat langsung sosok yang selama ini hanya ia kenal lewat kilasan ingatan sang Tetua.

"Dengarkan baik-baik," ucap Kanaka dengan suara lantang penuh wibawa, melangkah maju di depan barisan murid. "Aku tidak punya banyak waktu untuk basa-basi. Aku ingin memastikan sendiri, apakah ada pengkhianat di antara kalian yang menyembunyikan sesuatu yang bukan haknya?"

Ia mengangkat tangannya, dan salah satu pengawalnya segera menyerahkan sebuah artefak berbentuk kepala naga terukir dari giok hijau tua, berkilau samar seperti memiliki kehidupannya sendiri.

"Ini adalah giok pelacak warisan Sekte Pedang Langit," lanjut Kanaka, suaranya dingin dan tegas. "Siapa pun yang menyembunyikan energi asing di tubuhnya tidak akan bisa lolos dari deteksinya."

Suliwa merasakan jantungnya nyaris berhenti berdetak.

Ia mencoba menekan energinya sekuat mungkin, mengingat kembali teknik pernapasan yang selama ini ia latih diam-diam.

Namun semakin ia menekan, semakin gelisah pula energi di dalam dirinya bereaksi, seolah tertarik secara alami oleh kehadiran giok naga yang membawa jejak familiar dari sumber yang sama.

Kanaka mulai berjalan menyusuri barisan, giok naga di tangannya sesekali berkedip pelan tanpa reaksi berarti.

Namun semakin ia mendekat ke arah barisan tengah, tempat Suliwa berdiri, kedipan itu mulai terasa lebih sering, lebih terang.

"Tahan," gumam Suliwa dalam hati, keringat dingin mulai membasahi punggungnya. "Bertahanlah sedikit lagi."

Ketika Kanaka akhirnya berhenti tepat di hadapan barisan tempat Suliwa berdiri, giok naga di tangannya berpendar terang selama sepersekian detik, cukup terlihat oleh siapa pun yang berdiri cukup dekat.

Mata Kanaka menyipit tajam, menatap lurus ke arah barisan itu. "Ada sesuatu di sini."

Suliwa merasa dunia di sekitarnya seolah berhenti berputar. Namun tepat pada saat itu, sebuah suara tegas memotong ketegangan yang mencekam.

"Komandan Kanaka," Alicia melangkah maju dari sisi lain halaman, wajahnya tenang meski matanya menyimpan kewaspadaan tersembunyi. "Maaf mengganggu, tapi izinkan saya menjelaskan sesuatu."

Kanaka menoleh, alisnya terangkat sedikit melihat kedatangan Alicia yang tiba-tiba. "Tabib Alicia. Ada urusan apa kau di sini?"

"Saya sedang melakukan pemeriksaan kesehatan rutin di area ini," jawab Alicia, melangkah mendekat dengan langkah tenang yang penuh perhitungan. "Kebetulan salah satu murid di barisan itu baru saja menjalani pengobatan untuk luka bakar meridian ringan akibat kecelakaan kerja beberapa minggu lalu. Sisa energi dari ramuan pemulihan mungkin yang terdeteksi oleh giok Anda."

Kanaka menatapnya dengan curiga. "Kau yakin itu bukan sesuatu yang lebih serius?"

"Saya yang menangani sendiri pengobatannya," jawab Alicia tanpa ragu sedikit pun, suaranya tetap tenang dan meyakinkan. "Kalau Anda ingin, saya bisa perlihatkan catatan medisnya."

Untuk beberapa detik, Kanaka hanya menatap Alicia dan Suliwa bergantian, wajahnya sulit dibaca.

Suliwa berusaha keras menahan diri agar tidak menunjukkan rasa panik yang menggerogoti dadanya.

Akhirnya, Kanaka mendengus pelan, menurunkan giok naga di tangannya. "Baiklah. Tapi awasi baik-baik seluruh area ini, Tabib Alicia. Aku tidak ingin ada yang lolos dari pengawasan hanya karena alasan medis."

"Tentu, Komandan," jawab Alicia sambil membungkuk sopan.

Kanaka berbalik, memerintahkan pasukannya untuk melanjutkan pemeriksaan ke area lain, meninggalkan halaman gudang logistik dengan langkah tegas penuh wibawa.

Begitu sosoknya benar-benar menghilang di balik gerbang, Suliwa merasakan lututnya nyaris goyah karena lega yang begitu besar.

Alicia menoleh ke arahnya, tatapannya kini berbeda dari biasanya, lebih tajam, lebih penuh makna yang tidak terucapkan. "Ikut aku," bisiknya pelan, hanya cukup terdengar oleh Suliwa seorang. "Kita perlu bicara, sekarang."

Suliwa menatapnya sejenak, jantungnya masih berdegup kencang, kali ini bukan hanya karena rasa takut, melainkan juga oleh pertanyaan besar yang mulai menghantui pikirannya.

"Apakah Alicia baru saja menyelamatkanku karena benar-benar percaya pada alasan medis itu sendiri, atau karena ia sudah lama tahu kebenaran yang sesungguhnya?"

"Ini bukan kebetulan," batin Suliwa, mengikuti langkah Alicia dengan hati yang masih berdebar tidak menentu. "Aku yakin, dia tahu sesuatu. Dan sekarang, aku tidak punya pilihan selain menghadapinya."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pewaris yang Tak Diinginkan.   Bab 9

    Malam itu, setelah seluruh murid logistik terlelap, Suliwa mengendap keluar dari gudang mengikuti tanda yang sudah disepakati, sebuah lentera kecil berwarna biru yang digantung di dekat pohon tua perbatasan faksi alkimia. Ia menyusuri jalan setapak sunyi, jantungnya berdegup campuran antara gugup dan harap.Alicia sudah menunggunya di sana, mengenakan jubah gelap yang berbeda dari biasanya, agar tidak terlalu mencolok dalam kegelapan malam. "Kau tepat waktu," ucapnya pelan. "Ikuti aku, dan jangan bersuara."Mereka menyusuri lorong tersembunyi di balik salah satu bangunan faksi alkimia, menuruni tangga batu yang curam menuju sebuah ruangan bawah tanah luas. Dinding ruangan itu dipenuhi rak-rak berisi bahan ramuan langka, sementara di tengahnya terdapat lingkaran formasi berukir yang berpendar samar kebiruan."Tempat apa ini?" tanya Suliwa, matanya menyapu seluruh ruangan dengan kagum."Ruang latihan rahasia leluhur faksi alkimia," jawab Alicia sambil menyalakan beberapa lampu minyak

  • Pewaris yang Tak Diinginkan.   Bab 8

    Ruang penyimpanan obat itu remang-remang, hanya diterangi oleh satu lampu minyak kecil di sudut ruangan. Rak-rak kayu berjejer rapi dipenuhi botol-botol ramuan dan tumbuhan kering, aromanya bercampur antara herbal pahit dan sesuatu yang manis samar seperti mint."Duduklah," ucap Alicia sambil menunjuk bangku kayu sederhana di dekat meja racikan. "Percakapan ini akan lebih lama dari yang kau kira."Suliwa duduk dengan hati-hati, matanya masih waspada mengawasi setiap gerakan Alicia. "Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?"Alicia menarik kursi di seberangnya, duduk dengan sikap tegak yang tidak pernah luntur meski suasana di antara mereka begitu tegang. "Pertama, aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Tetua Agung dari Sekte Pedang Langit. Dan kedua, aku ingin memastikan energi yang kau sembunyikan itu tidak akan menjadi bencana bagi siapa pun, termasuk dirimu sendiri.""Kenapa kau peduli?" tanya Suliwa, suaranya masih penuh kewaspadaan. "Kau bisa saja langsung melaporkanku

  • Pewaris yang Tak Diinginkan.   Bab 7

    Pagi itu datang tanpa peringatan. Suara terompet perang menggema tiba-tiba dari arah gerbang utama, memecah ketenangan Lembah Gunung Hitam yang biasanya hanya diisi suara angin dan kicau burung pagi."Razia mendadak! Semua murid berkumpul di halaman sekarang juga!" teriak salah satu penjaga sambil berlari melewati barisan gudang logistik.Suliwa yang sedang menyusun karung gandum langsung menghentikan pekerjaannya, jantungnya berdegup kencang mendengar kata razia. Ia bergegas keluar bersama murid lain, dan begitu sampai di halaman, ia melihat pemandangan yang membuat darahnya seketika dingin.Puluhan prajurit berzirah marun berbaris rapi di halaman gudang, dan di depan mereka semua, berdiri seorang pemuda tegap dengan jubah sutra merah marun bersulam emas, rambut hitam legamnya tertata rapi di bawah mahkota giok kecil. Wajahnya angkuh, matanya menyapu seluruh murid yang berkumpul dengan tatapan merendahkan."Komandan Kanaka," bisik salah satu murid di sebelah Suliwa, suaranya berge

  • Pewaris yang Tak Diinginkan.   Bab 6

    Salah satu pengawalnya yang berdiri di dekat pintu menoleh. "Nona Alicia, apakah Anda menemukan sesuatu yang mencurigakan hari ini?""Belum bisa dipastikan," jawab Alicia, matanya masih menerawang jauh. "Tapi aku merasa ada yang tidak beres dengan murid bernama Suliwa itu. Ada sebuah energi yang asing, meskipun samar-samar tapi aku bisa merasakannya.""Apakah perlu saya laporkan pada Komandan Kanaka?" tanya pengawal itu.Alicia terdiam sejenak, mempertimbangkan dengan hati-hati. "Jangan. Aku hanya ingin memastikan sendiri terlebih dahulu sebelum melibatkan pasukan penegak hukum. Kalau ternyata dugaanku salah, aku tidak ingin ada murid tidak bersalah yang jadi korban kecurigaan berlebihan, apalagi dia dari murid logistik bawah."Ia bangkit dari kursinya, berjalan menuju jendela kamar yang menghadap ke arah Lembah Gunung Hitam yang gelap diselimuti kabut malam. Matanya menyipit tajam, penuh tekad."Aku akan kembali ke sana," bisiknya pelan. "Dan aku akan memastikan sendiri, energi apa y

  • Pewaris yang Tak Diinginkan.   Bab 5

    Alicia berjalan pelan menyusuri barisan, matanya menatap tajam pada setiap wajah yang dilewatinya.Ia tidak membawa alat apa pun, sebab kemampuannya bersumber dari matanya sendiri, pola bunga teratai di sekeliling pupilnya adalah anugerah spiritual langka yang memungkinkannya membaca aliran energi tersembunyi hanya dengan menatap seseorang cukup lama."Kenapa dia menatap wajah setiap orang selama itu?" bisik murid di sebelah Suliwa."Sepertinya itu kemampuan bawaannya," bisik yang lain. "Kudengar matanya bisa mengenali anomali kultivasi yang tersembunyi, cukup dengan menatapnya saja."Suliwa menahan napas, mencoba menenangkan detak jantungnya yang mulai berpacu.Ia memusatkan pikirannya untuk menekan sekuat mungkin energi di dalam tubuhnya, berharap Segel Rantai Takdir cukup rapat menyembunyikan keberadaannya.Satu per satu, Alicia memeriksa para murid, menatap tajam ke dalam mata masing-masing selama beberapa detik untuk membaca aliran energi mereka lewat pola teratai di matanya, nam

  • Pewaris yang Tak Diinginkan.   Bab 4

    Murid itu mengangguk, lalu berlalu untuk kembali ke posnya.Suliwa menatap punggungnya yang menjauh, dadanya masih terasa sesak oleh kebohongan yang baru saja ia ucapkan.Ia tahu ini hanya permulaan dari rentetan kebohongan yang harus ia jaga rapi-rapi, satu demi satu, tanpa pernah boleh ada celah sedikit pun.Sore harinya, Suliwa kembali ditugaskan mengangkut pasokan air ke sumur belakang gudang, tugas rutin yang biasanya ia kerjakan tanpa banyak berpikir.Namun kali ini, pikirannya terus melayang ke arah percakapan tadi siang, membayangkan wajah tegas Komandan Kanaka yang pernah ia lihat sekilas dalam kilasan ingatan sang Tetua."Kalau dia benar-benar datang ke sini," gumamnya sambil menimba air dari sumur, "apa yang harus kulakukan? Bersembunyi selamanya jelas itu mustahil."Ia menatap pantulan wajahnya sendiri di permukaan air yang beriak pelan. Wajah itu masih sama seperti biasa, kurus dan lelah, namun matanya kini menyimpan sesuatu yang jauh lebih berat dari sekadar rasa lapar d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status