Share

Bab 2

Penulis: Mochi
last update Tanggal publikasi: 2026-07-24 10:49:06

Cahaya emas itu menembus setiap ruang gelap di dalam gua, membakar meridian Suliwa yang sempit dan belum pernah dilatih sama sekali.

Rasa sakitnya jauh melampaui apa pun yang pernah ia rasakan seumur hidupnya, seakan seluruh pembuluh darahnya diisi lahar panas sekaligus dibekukan es dalam waktu bersamaan.

"Tuan, hentikan! Saya bukan Kanaka!" teriak Suliwa, suaranya nyaris tenggelam oleh dengung energi yang menggetarkan seisi gua.

Namun sang Tetua sudah tidak lagi mendengar.

Matanya yang berkabut menerawang jauh, terkunci pada wajah yang ia yakini sebagai murid kesayangannya sendiri. Cengkeramannya di ubun-ubun Suliwa semakin erat, mendorong seluruh inti jiwanya keluar dari tubuhnya yang sekarat.

Sesuatu yang berat dan padat mengalir masuk ke dalam diri Suliwa, sebuah basis kultivasi yang begitu murni hingga tubuhnya bergetar hebat menahannya.

Di saat yang bersamaan, sebuah cincin giok yang tadinya melingkar di jari sang Tetua terlepas sendiri, melayang sejenak sebelum menembus kulit pergelangan tangan Suliwa dan menyatu di sana seperti tato hidup.

"Terimalah ini... dengan baik," bisik sang Tetua, suaranya kini nyaris tak terdengar. "Jangan sia-siakan... apa yang telah kubangun selama ini."

Tubuh Suliwa melengkung ke belakang, matanya terpejam rapat menahan lonjakan energi yang mengancam meledakkan seluruh tubuhnya dari dalam.

Ia merasakan setiap meridiannya berteriak, dipaksa melebar jauh melampaui kapasitas alaminya.

Napasnya tercekat, dan untuk sepersekian detik, ia yakin bahwa inilah akhir hidupnya, terkubur di dalam gua yang bahkan tidak diketahui siapa pun.

Namun tepat sebelum kehancuran itu terjadi, sebuah pola bercahaya muncul di sekitar dadanya, menjalar hingga ke matanya, membentuk rantai-rantai tipis yang saling mengunci satu sama lain.

Segel itu bekerja secara instan, menahan sembilan puluh sembilan persen kekuatan yang baru saja masuk, mencegah raga Suliwa yang lemah hancur berkeping-keping.

Perlahan, ledakan energi di dalam tubuhnya mereda, meski rasa panas masih menjalar di setiap ujung sarafnya, meninggalkan jejak nyeri yang berdenyut pelan seperti bara yang belum sepenuhnya padam.

Ketika Suliwa akhirnya membuka mata, sang Tetua sudah terbaring diam, senyum tipis masih tersisa di wajahnya yang pucat. Dadanya tidak lagi naik turun.

"Tuan?" panggil Suliwa pelan, meski ia sudah tahu jawabannya.

Tidak ada balasan.

Hanya sunyi yang menggantung berat di udara gua, dipecah sesekali oleh suara tetesan air dari langit-langit batu.

Bau darah bercampur ozon dari sisa energi yang meledak masih memenuhi udara di sekitarnya, membuat dada Suliwa terasa sesak setiap kali menarik napas.

Suliwa terduduk lemas di lantai gua, tubuhnya masih berkeringat dingin, napasnya memburu. Ia menatap kedua tangannya sendiri, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.

Jemarinya gemetar, bukan hanya karena kelelahan, tetapi karena sesuatu di dalam dirinya terasa asing, seolah tubuh ini bukan lagi sepenuhnya miliknya sendiri.

Cincin giok di pergelangan tangannya terasa hangat, berdenyut pelan seiring detak jantungnya, seperti makhluk hidup yang baru saja terbangun.

"Apa yang... baru saja terjadi padaku?" gumamnya, suaranya bergetar antara bingung dan takut.

Ia mencoba bangkit, namun kakinya masih lemas dan gemetar.

Perlahan, ia meraih cincin di pergelangan tangannya, mengamati ukiran halus di permukaannya di bawah cahaya obor yang masih tersisa.

Ada sebuah lencana kecil terpahat di sisi dalam cincin itu, simbol pedang yang membelah langit, ukirannya begitu detail hingga terlihat seperti berkilau sendiri meski tidak terkena cahaya langsung.

Rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya.

Suliwa memusatkan sedikit kesadaran ke arah cincin itu, dan seketika sebuah kilasan ingatan asing menyusup masuk ke benaknya, bukan miliknya, melainkan milik sang Tetua.

Ia melihat wajah seorang pemuda tegap berjubah merah marun bersulam emas, berdiri gagah di tengah aula sekte, dikelilingi murid-murid lain yang menunduk hormat.

Ingatan itu menunjukkan pemuda itu dipanggil dengan satu nama, diucapkan berulang kali oleh suara sang Tetua sendiri dengan nada penuh harap dan bangga.

"Kanaka..." Suliwa mengulang nama itu pelan, dan seketika jantungnya berdegup kencang.

Ia tahu nama itu.

Semua murid di Lembah Gunung Hitam tahu nama itu, meski hanya sebatas desas-desus yang beredar dari mulut ke mulut.

Kanaka, Young Master dari faksi utama, putra petinggi sekte sekaligus Komandan Pasukan Penegak Hukum. Sosok yang seharusnya menerima seluruh warisan ini, bukan seorang murid logistik tak berarti seperti dirinya.

"Ini bukan milikku," bisik Suliwa, suaranya nyaris tercekat, tangannya mengepal erat menahan gemetar. "Tetua ini salah orang. Aku hanya kebetulan lewat."

Rasa panik mulai merayap di dadanya. Ia tahu betul bagaimana reputasi Kanaka yang sombong, temperamental, dan tidak akan segan menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya.

Jika Kanaka atau sekutunya sampai tahu bahwa warisan berharga ini kini berada di tubuh seorang murid logistik kelas bawah, nyawanya tidak akan bertahan sampai fajar berikutnya.

"Aku harus lapor pada dewan sekte," gumamnya, mencoba mencari jalan keluar yang aman.

Namun secepat pikiran itu muncul, ia langsung menepisnya sendiri. "Tidak-tidak. Kalau aku lapor, mereka justru akan menganggapku pencuri. Siapa yang akan percaya seorang murid logistik tiba-tiba memiliki warisan seorang Tetua Agung?"

Suliwa memejamkan mata, mencoba menenangkan napasnya yang masih memburu. Pikirannya berlarian mencari jalan keluar, menimbang setiap kemungkinan yang ada, namun satu hal menjadi semakin jelas baginya.

"Aku harus menyembunyikan ini," ucapnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Apa pun yang terjadi, tidak ada yang boleh tahu, tidak sekarang, atau mungkin tidak pernah."

Ia menatap jasad sang Tetua sekali lagi, rasa bersalah dan bingung bercampur menjadi satu di dadanya.

Pria itu telah memberikan segalanya kepada orang yang salah, dengan keyakinan penuh bahwa ia sedang menyelamatkan masa depan muridnya, tanpa pernah tahu bahwa harapannya justru jatuh ke tangan orang asing.

"Maaf, Tuan," bisik Suliwa pelan. "Saya tidak tahu apakah saya pantas menerima ini, tapi saya berjanji, saya tidak akan pernah menyia-nyiakannya."

Suliwa memungut selembar daun pisang, lalu menutupi wajah sang Tetua dengan hormat sebelum akhirnya bangkit berdiri. Kakinya masih goyah, namun tekadnya sudah bulat.

Mulai malam ini, ia harus kembali menjadi murid logistik yang lemah dan tidak berarti seperti sebelumnya, setidaknya di permukaan.

Di balik topeng itu, ia akan belajar mengendalikan kekuatan yang kini mengalir deras dalam tubuhnya, diam-diam, perlahan, dan tanpa seorang pun boleh curiga.

Suliwa menoleh sekali lagi ke arah reruntuhan di atas kepalanya, menghitung waktu sebelum fajar tiba. Ia harus kembali ke gudang logistik sebelum ada yang menyadari ketidakhadirannya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pewaris yang Tak Diinginkan.   Bab 9

    Malam itu, setelah seluruh murid logistik terlelap, Suliwa mengendap keluar dari gudang mengikuti tanda yang sudah disepakati, sebuah lentera kecil berwarna biru yang digantung di dekat pohon tua perbatasan faksi alkimia. Ia menyusuri jalan setapak sunyi, jantungnya berdegup campuran antara gugup dan harap.Alicia sudah menunggunya di sana, mengenakan jubah gelap yang berbeda dari biasanya, agar tidak terlalu mencolok dalam kegelapan malam. "Kau tepat waktu," ucapnya pelan. "Ikuti aku, dan jangan bersuara."Mereka menyusuri lorong tersembunyi di balik salah satu bangunan faksi alkimia, menuruni tangga batu yang curam menuju sebuah ruangan bawah tanah luas. Dinding ruangan itu dipenuhi rak-rak berisi bahan ramuan langka, sementara di tengahnya terdapat lingkaran formasi berukir yang berpendar samar kebiruan."Tempat apa ini?" tanya Suliwa, matanya menyapu seluruh ruangan dengan kagum."Ruang latihan rahasia leluhur faksi alkimia," jawab Alicia sambil menyalakan beberapa lampu minyak

  • Pewaris yang Tak Diinginkan.   Bab 8

    Ruang penyimpanan obat itu remang-remang, hanya diterangi oleh satu lampu minyak kecil di sudut ruangan. Rak-rak kayu berjejer rapi dipenuhi botol-botol ramuan dan tumbuhan kering, aromanya bercampur antara herbal pahit dan sesuatu yang manis samar seperti mint."Duduklah," ucap Alicia sambil menunjuk bangku kayu sederhana di dekat meja racikan. "Percakapan ini akan lebih lama dari yang kau kira."Suliwa duduk dengan hati-hati, matanya masih waspada mengawasi setiap gerakan Alicia. "Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?"Alicia menarik kursi di seberangnya, duduk dengan sikap tegak yang tidak pernah luntur meski suasana di antara mereka begitu tegang. "Pertama, aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Tetua Agung dari Sekte Pedang Langit. Dan kedua, aku ingin memastikan energi yang kau sembunyikan itu tidak akan menjadi bencana bagi siapa pun, termasuk dirimu sendiri.""Kenapa kau peduli?" tanya Suliwa, suaranya masih penuh kewaspadaan. "Kau bisa saja langsung melaporkanku

  • Pewaris yang Tak Diinginkan.   Bab 7

    Pagi itu datang tanpa peringatan. Suara terompet perang menggema tiba-tiba dari arah gerbang utama, memecah ketenangan Lembah Gunung Hitam yang biasanya hanya diisi suara angin dan kicau burung pagi."Razia mendadak! Semua murid berkumpul di halaman sekarang juga!" teriak salah satu penjaga sambil berlari melewati barisan gudang logistik.Suliwa yang sedang menyusun karung gandum langsung menghentikan pekerjaannya, jantungnya berdegup kencang mendengar kata razia. Ia bergegas keluar bersama murid lain, dan begitu sampai di halaman, ia melihat pemandangan yang membuat darahnya seketika dingin.Puluhan prajurit berzirah marun berbaris rapi di halaman gudang, dan di depan mereka semua, berdiri seorang pemuda tegap dengan jubah sutra merah marun bersulam emas, rambut hitam legamnya tertata rapi di bawah mahkota giok kecil. Wajahnya angkuh, matanya menyapu seluruh murid yang berkumpul dengan tatapan merendahkan."Komandan Kanaka," bisik salah satu murid di sebelah Suliwa, suaranya berge

  • Pewaris yang Tak Diinginkan.   Bab 6

    Salah satu pengawalnya yang berdiri di dekat pintu menoleh. "Nona Alicia, apakah Anda menemukan sesuatu yang mencurigakan hari ini?""Belum bisa dipastikan," jawab Alicia, matanya masih menerawang jauh. "Tapi aku merasa ada yang tidak beres dengan murid bernama Suliwa itu. Ada sebuah energi yang asing, meskipun samar-samar tapi aku bisa merasakannya.""Apakah perlu saya laporkan pada Komandan Kanaka?" tanya pengawal itu.Alicia terdiam sejenak, mempertimbangkan dengan hati-hati. "Jangan. Aku hanya ingin memastikan sendiri terlebih dahulu sebelum melibatkan pasukan penegak hukum. Kalau ternyata dugaanku salah, aku tidak ingin ada murid tidak bersalah yang jadi korban kecurigaan berlebihan, apalagi dia dari murid logistik bawah."Ia bangkit dari kursinya, berjalan menuju jendela kamar yang menghadap ke arah Lembah Gunung Hitam yang gelap diselimuti kabut malam. Matanya menyipit tajam, penuh tekad."Aku akan kembali ke sana," bisiknya pelan. "Dan aku akan memastikan sendiri, energi apa y

  • Pewaris yang Tak Diinginkan.   Bab 5

    Alicia berjalan pelan menyusuri barisan, matanya menatap tajam pada setiap wajah yang dilewatinya.Ia tidak membawa alat apa pun, sebab kemampuannya bersumber dari matanya sendiri, pola bunga teratai di sekeliling pupilnya adalah anugerah spiritual langka yang memungkinkannya membaca aliran energi tersembunyi hanya dengan menatap seseorang cukup lama."Kenapa dia menatap wajah setiap orang selama itu?" bisik murid di sebelah Suliwa."Sepertinya itu kemampuan bawaannya," bisik yang lain. "Kudengar matanya bisa mengenali anomali kultivasi yang tersembunyi, cukup dengan menatapnya saja."Suliwa menahan napas, mencoba menenangkan detak jantungnya yang mulai berpacu.Ia memusatkan pikirannya untuk menekan sekuat mungkin energi di dalam tubuhnya, berharap Segel Rantai Takdir cukup rapat menyembunyikan keberadaannya.Satu per satu, Alicia memeriksa para murid, menatap tajam ke dalam mata masing-masing selama beberapa detik untuk membaca aliran energi mereka lewat pola teratai di matanya, nam

  • Pewaris yang Tak Diinginkan.   Bab 4

    Murid itu mengangguk, lalu berlalu untuk kembali ke posnya.Suliwa menatap punggungnya yang menjauh, dadanya masih terasa sesak oleh kebohongan yang baru saja ia ucapkan.Ia tahu ini hanya permulaan dari rentetan kebohongan yang harus ia jaga rapi-rapi, satu demi satu, tanpa pernah boleh ada celah sedikit pun.Sore harinya, Suliwa kembali ditugaskan mengangkut pasokan air ke sumur belakang gudang, tugas rutin yang biasanya ia kerjakan tanpa banyak berpikir.Namun kali ini, pikirannya terus melayang ke arah percakapan tadi siang, membayangkan wajah tegas Komandan Kanaka yang pernah ia lihat sekilas dalam kilasan ingatan sang Tetua."Kalau dia benar-benar datang ke sini," gumamnya sambil menimba air dari sumur, "apa yang harus kulakukan? Bersembunyi selamanya jelas itu mustahil."Ia menatap pantulan wajahnya sendiri di permukaan air yang beriak pelan. Wajah itu masih sama seperti biasa, kurus dan lelah, namun matanya kini menyimpan sesuatu yang jauh lebih berat dari sekadar rasa lapar d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status