Masuk
Langit sore di atas Akademi Tempur Garuda tertutup awan kelabu pekat. Gumpalan mendung menggantung rendah, seolah menekan seluruh kompleks akademi dengan beban tak kasatmata.
Di plaza utama, ribuan peserta berdiri dalam barisan panjang menghadap panggung ujian raksasa. Layar hologram, menara sensor, drone pengawas, dan kristal pengukur Etherion berjejer seperti altar masa depan.
Di tempat itu, nasib ditentukan.
Siapa yang lulus akan memperoleh kekuasaan, uang, status, dan jalan menjadi kultivator militer. Dan bagi mereka yang gagal, akan kembali menjadi rakyat biasa, hidup di bawah kaki mereka yang kuat.
Di tengah lautan manusia itu, seorang pemuda berdiri tenang dengan seragam lusuh yang warnanya mulai pudar.
Raka Mahendra, putra sulung keluarga Mahendra. Dua puluh tahun yang lalu, nama Mahendra membuat banyak orang menunduk. Sekarang, nama itu hanya mengundang tawa. Nama besar yang pernah mengguncang dunia bisnis dan militer, sebelum hancur dalam satu malam dan dicap sebagai keluarga pengkhianat.
Kini, pewaris terakhir keluarga itu hanya berdiri sendirian di antara ribuan orang yang menertawakannya.
Tangannya masuk ke saku celana, wajahnya datar. Namun sepasang mata amber miliknya menatap panggung dengan ketajaman dingin.
“Peserta nomor 317, Reyhan Aditya!”
Sorak-sorai meledak.
Seorang pemuda tinggi melangkah maju dengan dagu terangkat. Rambutnya tertata rapi, jas akademi khusus menempel sempurna di tubuh atletisnya. Beberapa pengawal keluarga berdiri tak jauh di belakang.
Reyhan meletakkan telapak tangan di atas kristal ujian.
Nggg~
Cahaya biru meledak ke udara, diikuti tulisan besar muncul di layar hologram.
[Bakat Etherion : Grade A]
[Jalur Nadi : Stabil][Potensi Tempur : Sangat Tinggi]“Gila!”
“Grade A!”
“Seperti dugaan, keluarga Aditya memang monster!”
Suara kagum itu muncul dari tengah kerumunan, lalu segera disusul bisik-bisik lain yang bernada sama.
“Reyhan luar biasa!”
“Bakat kelas atas.”
“Sudah pasti masuk divisi elit.”
Reyhan menampilkan senyum tipis yang santai dan percaya diri. Ia menikmati sorotan yang mengarah padanya seperti seseorang yang sudah terbiasa dipuja. Ketika pandangannya menyapu barisan peserta dan berhenti pada Raka, senyum itu perlahan berubah menjadi seringai tipis merendahkan.
Namun Raka tak memberi reaksi sedikit pun. Wajahnya tetap datar, sorot matanya tenang. Seolah Reyhan hanyalah angin lalu.
Satu per satu peserta kembali dipanggil.
Grade B.
Grade C.
Sesekali Grade A muncul dan memancing sorak kagum.
Plaza semakin panas. Udara dipenuhi ambisi, iri hati, gengsi, dan tekanan tak kasatmata. Setiap orang ingin naik, tak ada yang rela jadi sampah.
Lalu suara petugas kembali menggema.
“Peserta nomor 401, Raka Mahendra!”
Seketika kerumunan bergejolak.
“Mahendra? Si Sampah itu?”
“Bukannya itu keluarga pengkhianat?”
“Anak pengkhianat mau masuk akademi?”
Tawa kecil mulai terdengar dari berbagai sisi.
Raka berjalan maju tanpa menoleh sedikit pun. Setiap langkahnya stabil, seolah suara-suara itu tak pernah sampai ke telinganya. Ia berhenti tepat di depan kristal uji.
Seorang instruktur berjubah hitam memindai data di tablet, lalu mendecak pelan dengan wajah jijik. “Tidak ada sponsor, tidak ada rekomendasi. Riwayat pelatihan nihil.”
Dagunya terangkat, nada suaranya dingin. “Sentuh kristal itu.”
Raka tak menjawab, dengan ekspresi tenang, ia mengangkat tangan dan menempelkan telapak ke permukaan kristal.
Hening.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Lalu kristal bergetar pelan.
Grrr~
Cahaya redup yang kecil muncul, seperti api lilin yang hampir padam diterpa angin. Hologram di atasnya berkedip sesaat, mati sepersekian detik, lalu menyala kembali.
[Bakat Etherion : Grade E]
[Jalur Nadi : Rusak][Potensi Tempur : Hampir Nol]Sunyi menggantung sepersekian detik.
Lalu—
“HAHAHAHA!”
Ledakan tawa mengguncang plaza.
“Grade E?!”
“Sampah total!”
“Potensi hampir nol?!”
“Ngapain datang ke sini?”
“Balik kerja serabutan sana!”
Suasana berubah jadi arena penghinaan.
Instruktur berjubah hitam melirik Raka dengan muak. Ia menekan tablet dengan kasar. “Memalukan.” jeda singkat. “Lulus bersyarat, masuk Kelas Nol.”
Suara tawa semakin keras.
Kelas Nol, tempat pembuangan bagi peserta gagal yang masih dipertahankan demi kuota kasar, kerja kotor, atau sekadar jadi samsak hidup.
Raka menatap hasil uji beberapa detik. ‘Grade E… Lagi.’
Sejak kecil hasilnya selalu sama, tubuh gagal, jalur nadi rusak dan tidak punya masa depan. Namun ekspresinya tetap datar.
Ia berbalik hendak pergi, namun suara langkah mendekat lebih dulu.
Reyhan Aditya berhenti tepat di depannya, cukup dekat untuk menunjukkan bahwa ia sengaja menghalangi jalan. “Kau benar-benar datang.”
Nada suaranya santai, tetapi penuh ejekan. “Kalau aku jadi kau, aku akan mengubur nama Mahendra dan hidup diam-diam.”
Beberapa peserta langsung merapat, menunggu tontonan.
Reyhan menatap seragam lusuh Raka dari atas ke bawah, lalu tersenyum tipis. “Dulu keluargamu membuat banyak orang menunduk.”
Ia mendekat sedikit. “Sekarang, pewarisnya bahkan tak layak menatap panggung yang sama denganku.”
Tawa kecil terdengar dari sekitar.
Raka tak menjawab. Ia hanya menatap Reyhan satu detik dengan mata datar, lalu berjalan melewatinya.
Reyhan menyipitkan mata. “Bagus,” katanya pelan. “Pewaris sampah memang tahu kapan harus diam.”
Wiuu~Fajar baru saja menyingsing ketika suara sirine panjang menggema di seluruh Wilayah Militer Selatan, memecah keheningan pagi bahkan sebelum matahari benar-benar muncul di ufuk timur.Suara nyaring itu langsung membangunkan seluruh kadet. Dalam hitungan menit, barak yang semula lengang berubah menjadi lautan langkah kaki dan teriakan para instruktur yang memaksa semua orang bergerak secepat mungkin."Bangun!""Lima menit berkumpul di lapangan!""Siapa yang terlambat, bersiap menerima hukuman!"Tak seorang pun berani mengulur waktu. Para kadet segera mengenakan seragam latihan sambil berlari keluar dari barak, takut menjadi orang pertama yang dijadikan contoh.Di barak wanita, Celine masih duduk terpaku di tepi ranjang. Matanya sembap akibat semalaman tidak pernah benar-benar terpejam. Setiap kali mencoba memejamkan mata, bayangan Raka selalu muncul sesaat setelah pria itu menyiram air padanya, bersamaan dengan kalimat yang masih terngiang jelas di telinganya.[Selamat datang... di
"Siap, Komandan Unit!"Raka berdiri tegak memberi hormat. Senyum puas tersungging di wajahnya ketika menjawab, "Saya pastikan tugas ini akan diselesaikan dengan sempurna."Setelah Arman benar-benar meninggalkan kantin, Raka menurunkan tangan dari sikap hormatnya. Tatapannya perlahan menyapu seluruh kadet, dan hawa di sekelilingnya seolah ikut mendingin ketika sorot matanya kembali berubah sedingin es."Apa yang masih kalian lihat? Sudah selesai makan?""Kalau sudah, kembali ke barak untuk istirahat siang. Tepat pukul 13.30 seluruh unit harus sudah berkumpul di lapangan latihan."Dia berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan nada datar."Siapa pun yang terlambat, meski hanya satu menit, hukumannya tambahan lari lima kilometer."Satu perintah itu langsung membuat seluruh kantin gempar. Para kadet berhamburan meninggalkan tempat tersebut secepat mungkin, seolah takut terlambat sedetik saja.Bara dan Rio hanya bisa saling berpandangan. Keduanya masih belum sepenuhnya pulih dari keterkej
Semua sikap dingin, semua ucapan kejam, bahkan perlakuan kasar yang diterimanya sebelumnya, pasti hanya sandiwara. Tujuannya semata-mata untuk menarik perhatiannya. Sebenarnya Raka masih sangat mencintainya.Dalam sekejap, imajinasi Celine berkembang tanpa kendali. Berbagai adegan romantis yang hanya ada di dalam pikirannya bermunculan silih berganti, seolah sebuah drama panjang sedang diputar di benaknya. Di dalam kisah itu, dirinya adalah satu-satunya pemeran utama wanita yang tidak tergantikan.Sedangkan Raka adalah tokoh utama pria yang rela menentang siapa pun, bahkan seluruh dunia, demi mempertahankan cintanya. Semakin lama memikirkannya, semakin yakin Celine Permata dengan kesimpulannya sendiri.Suasana hatinya yang sempat jatuh ke titik terendah perlahan kembali pulih. Dalam pandangannya, Raka bukan lagi pemuda miskin, pendiam, dan penurut yang dulu selalu mengikutinya.Sekarang Raka memiliki kemampuan. Dia telah menjadi seorang instruktur, mendapat kepercayaan penuh dari Koma
Harapan yang sempat padam kembali menyala di mata para kadet.Tak seorang pun menyangka Raka yang beberapa saat lalu masih berdiri bersama mereka sebagai peserta pelatihan, kini mendadak berubah menjadi instruktur.Benar-benar di luar dugaan."Komandan Unit." Raka kembali melangkah maju dan memberi hormat. "Saya masih memiliki satu permohonan."Arman menghembuskan napas panjang. "Katakan."Nada suaranya mulai dipenuhi rasa tidak sabar.Semakin lama berhadapan dengan Raka, semakin dia merasa pemuda itu sulit ditebak. Sifat-sifat yang selama ini tidak pernah terlihat justru bermunculan satu per satu, membuat Arman merasa harus mengawasinya lebih saksama setelah ini.Raka tidak berputar-putar. Tatapannya bergeser ke arah Celine, lalu sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum yang begitu lebar hingga sulit disembunyikan. "Saya berharap Komandan Unit menunda hukuman untuk Celine Permata."Kalimat itu baru saja selesai diucapkan ketika seluruh kantin mendadak gempar.Arman bahkan n
Arman tak lagi memperdulikan keadaan Celine. Setelah mengalihkan pandangan darinya, dia menatap Raka lalu menyampaikan sebuah keputusan yang langsung mengguncang seluruh kantin."Mulai hari ini, Raka Mahendra ditunjuk sebagai instruktur pelatihan militer bagi para kadet baru."Ucapan itu seketika memancing kegemparan.Semua orang memandang Raka dengan ekspresi tak percaya, termasuk Celine yang masih terduduk di lantai. Bahkan Raka sendiri sempat terpaku beberapa saat karena sama sekali tidak menduga keputusan tersebut."Komandan Unit." Raka mengusap pelipisnya sambil mengembuskan napas pelan, lalu tersenyum pahit. "Bukankah sebelumnya kita sudah sepakat saya hanya membantu selama satu hari?"Dia benar-benar merasa telah dijebak.Mendengar protes itu, Arman justru menyunggingkan senyum tipis. "Bukankah ini masuk akal? Pasukan sedang kekurangan personel, jadi seorang prajurit sepertimu tentu harus ikut membantu menjadi instruktur."Raka langsung menggeleng. "Komandan Unit, saya masih da
Semua orang membeku di tempat."Raka masih kadet tahun pertama, bukan? Bagaimana mungkin dia sudah resmi menjadi prajurit?""Mustahil! Dia baru mengikuti pelatihan militer selama dua bulan!""Aku juga tidak percaya. Apa jangan-jangan dia punya jalur khusus atau orang dalam?"Bisik-bisik langsung memenuhi seluruh kantin.Semua orang saling bertukar pandang, tetapi tak seorang pun mampu memahami bagaimana Raka bisa resmi bergabung dengan militer dalam waktu sesingkat itu.Celine pun sama terkejutnya. Baginya, kenyataan bahwa Raka berani menembak seseorang sudah cukup sulit diterima.Kini pria itu bahkan telah resmi menjadi prajurit.Apakah ini benar-benar Raka yang selama ini dikenalnya?Bukankah dulu dia selalu penurut, lembut, pendiam, dan tak pernah berani melawan?‘Tidak…’Celine segera menepis pikiran itu.Pria di hadapannya tidak mungkin benar-benar berubah. Dia yakin Raka masih menyimpan perasaan yang sama seperti dulu, dan keyakinan itulah yang kembali menyalakan secercah harapa
Senja tenggelam perlahan di balik menara Akademi Tempur Garuda.Sorak-sorai plaza ujian sudah lama padam, digantikan suara langkah para peserta yang dibagi menuju gedung masing-masing. Mereka yang berbakat dibawa ke asrama utama. Mereka yang memiliki koneksi dijemput kendaraan keluarga.Dan mereka
“SEMUA DIAM!”Tiba-tiba, suara menggelegar meledak di tengah arena, langsung menarik perhatian seluruh siswa baru.Seorang pria bertubuh tegap berdiri di depan barisan. Kulitnya gelap, rahangnya keras, dan sorot matanya tajam seperti bilah pisau yang menyapu kerumunan tanpa jeda. Namanya Arman Hali
Di depan pintu Ruang Garuda, tubuh assassin terakhir tergeletak tak bergerak. Tapi pemancar merah di tangannya masih berkedip.Raka menatap benda itu dengan napas berat. Panas asing di dalam tubuhnya belum benar-benar mereda sejak pertarungan tadi.Darmawan berjalan mendekat, lalu menendang pemanca
Pilihan Ketiga.TING!Jam digital di dinding tiba-tiba berubah angka.00:59Ruangan Garuda tenggelam dalam cahaya redup. Pintu baja utama tetap terkunci rapat, sementara monitor di dinding menampilkan tiga sosok bertopeng yang bergerak cepat di koridor luar.Langkah mereka tenang, bahkan terlalu te







