مشاركة

Bab 6

مؤلف: Imgnmln
last update تاريخ النشر: 2026-05-07 22:50:40

Pilihan Ketiga.

TING!

Jam digital di dinding tiba-tiba berubah angka.

00:59

Ruangan Garuda tenggelam dalam cahaya redup. Pintu baja utama tetap terkunci rapat, sementara monitor di dinding menampilkan tiga sosok bertopeng yang bergerak cepat di koridor luar.

Langkah mereka tenang, bahkan terlalu tenang untuk orang yang datang membunuh.

Raka berdiri beberapa meter dari meja Darmawan. Bahunya rileks, lutut sedikit menekuk, napasnya teratur. Namun sorot matanya tak lepas dari layar. “Siapa mereka?” tanyanya singkat.

Darmawan menyandarkan punggung ke kursi. “Orang-orang yang lebih cepat mencium darah daripada anjing perang.”

Tatapan Raka tak berubah. “Aku menanyakan nama.”

“Kalau mereka berhasil membunuhmu, nama tak penting.”

TING!

00:42

Suara logam bergesek terdengar dari luar.

KRRRK~

Salah satu assassin sedang memotong panel kunci pintu dengan pisau Ether. Percikan biru memancar di layar monitor.

Raka melirik Darmawan. “Anda bisa menghentikan ini.”

“Aku juga bisa memberimu kursi dan teh hangat.” Nada pria tua itu datar. “Tapi malam ini, aku sedang ingin melihat sesuatu.”

“Melihat aku mati?” sorot mata Raka menajam.

“Melihat apakah kau pantas hidup,” nada suara Darmawan berubah dingin.

Raka menarik napas perlahan. Panas liar di dadanya mulai bergerak lagi. Sejak Bloodline itu bangkit, setiap ancaman terasa seperti bahan bakar.

TING!

00:21

BRAK!

Pintu baja bergetar keras.

Retakan tipis muncul di bagian tengah.

BRAK—!

Benturan kedua lebih keras dari sebelumnya.

Darmawan bahkan tak menoleh. “Nasihat terakhir,” katanya santai. “Jangan percaya gerakan pertama.”

Raka menatap pintu. “Apa—?!”

BRAAAK!

Pintu baja jebol ke dalam.

Asap dan serpihan logam beterbangan.

[INSTING TEMPUR AKTIF]

Tulisan merah itu muncul kembali di hadapannya.

Raka menegang. “Apa lagi ini…?”

Belum sempat ia memahami semuanya, sosok bertopeng itu sudah di depannya. Belati Ether di tangan kanannya memancarkan cahaya biru tajam.

Namun tepat saat bilah itu hampir menyentuh tenggorokan—

DUG!

Panas di dada Raka meledak, dunia di hadapannya mendadak melambat.

Debu yang beterbangan tampak menggantung di udara. Percikan logam jatuh seperti hujan lambat. Gerakan assassin itu masih cepat, tapi sekarang… bisa dibaca.

Mata Raka menyipit. Lintasan belati, tumpuan kaki kiri dan bahu kanan turun sepersekian detik sebelum tusukan.

“...”

Raka hanya bisa terdiam melihat semua itu.

Tiba-tiba tubuhnya sudah bergerak lebih dulu. 

SWOOSH!

Raka memiringkan kepala. Belati pertama meleset tipis di samping lehernya. Detik berikutnya, lutut assassin menghantam udara kosong.

Raka sudah berada di sisi lawan.

“Apa—”

BUKK! KRAKK!

Siku Raka menghantam rusuk pria itu. Bunyi patahan terdengar jelas.

Tubuh assassin terpental menabrak dinding. Namun dua bayangan lain sudah masuk. Yang satu melempar tiga pisau pendek dan yang lain menyapu rendah ke kaki.

“Cih!” Tubuh Raka bergerak lebih dulu sebelum pikirannya menyusul.

Ia melompat mundur, memutar tubuh di udara, dua pisau lewat di bawah ketiaknya, satu lagi menggores lengan.

Brak!

Kakinya mendarat keras di lantai. Sesaat kemudian, rasa perih menyambar dari lengannya.

Raka menoleh cepat. Goresan tipis memanjang di kulitnya, darah mulai merembes keluar.

Ia mengernyit, sedikit kaget. “Masih kena...?”

Darmawan menuang teh tanpa tergesa, seolah tak sedang menyaksikan pembunuhan. “Kalau kau pikir baru bangun semalam lalu langsung tak terkalahkan, berarti kau terlalu percaya diri.”

Sorot matanya menajam. “Sekarang bertahan hidup dulu.” 

Dua assassin tersisa saling berpandangan.

“Laporan salah, bocah ini lebih kuat.”

“Habisi sekarang!”

Mereka bergerak bersamaan.

Satu dari kiri, satu dari kanan.

Pisau berkilat tajam, diikuti langkah kaki cepat yang senyap. Aura mematikan menguar dari tubuh kedua assassin itu.

Raka mengepalkan tangan. Panas dalam tubuhnya berputar makin liar.

DUG!

Sekali lagi dunia melambat.

Ia melihat celah, yang kiri sedikit lebih cepat dan yang kanan menunggu kesempatan. Kalau menghindar satu, yang lain akan menikam punggung.

Maka Raka maju.

SHOOSH!

Ia menerobos ke tengah serangan.

Sreeek—

Pisau kiri menggores pundaknya dan pisau kanan menyayat pinggangnya.

Namun tinju Raka lebih dulu sampai.

BUGH! KREEEK—!

Terdengar suara retakan yang nyaring, wajah assassin sebelah kiri terpelintir ke kanan.

Sebelum tubuh itu jatuh, Raka meraih pergelangan tangan assassin sebelah kanan.

KREKK!

Terdengar retakan tulang yang patah.

“AARGGHH—!”

Jeritan pecah.

Raka memutar tubuh dan melempar pria itu ke meja panjang.

BRAKK!

Darmawan menatap meja yang hancur, lalu pecahan cangkir di lantai. “Sial…!”

“Kau menghancurkan gelas tehku! Itu cangkir favoritku.”

Raka terengah, darah menetes dari dua luka sayatan. “Maaf.”

“Bohong, kau bahkan tidak menyesalinya!” raung Darmawan.

“Benar.”

Mendengar jawaban singkat pemuda di hadapannya, sudut bibir Darmawan naik tipis.

Assassin pertama yang rusuknya patah memaksa bangkit, napasnya berat. Ia mencabut jarum hitam dari sabuk dan menusukkannya ke leher sendiri.

Urat-urat di wajahnya langsung menonjol.

Aura pria itu melonjak gila.

“Serum paksa...” gumam Darmawan.

Assassin itu meraung lalu menerjang seperti binatang. Lantai retak di tiap langkah kakinya.

Raka mengangkat tangan bertahan—

DUAAGH! BRAKK!

Tubuhnya terpukul dan terlempar menabrak pilar. Darah menyembur dari mulutnya, nyeri menjalar ke seluruh badan.

Assassin itu tak memberi jeda. Ia melompat tinggi, belati mengarah ke kepala Raka. “MATILAH!”

Raka mengangkat wajah perlahan, panas di dadanya berdenyut brutal.

Suara berat bergema di benaknya.

[INSTING TEMPUR: SINKRONISASI 32%]

Mata amber Raka berpendar merah samar. Saat assassin itu menerjang turun dari atas, tubuhnya hanya bergeser setengah langkah ke kiri. Belati lawan menghantam lantai dan menancap keras.

Sebelum pria itu sempat menyadari serangannya gagal, telapak tangan Raka sudah lebih dulu menempel di dadanya. Tatapannya dingin, nyaris tanpa emosi. “Jangan menghalangiku.”

BAAAANG!

Gelombang aura liar meledak. Tubuh assassin terpental menembus pintu baja yang sudah rusak dan menghantam koridor luar.

Sunyi.

Dua assassin lain tak bergerak lagi.

WIUUU~ WIUUU~

Alarm gedung meraung keras.

Raka berdiri limbung, napasnya berat. Darah mengalir dari sudut bibir.

Darmawan bangkit perlahan dari kursinya, tatapannya kini seakan menilai. “Menarik...” gumamnya.

Raka menyeka darah di bibir. “Jadi?”

“Jadi apa?” Darmawan sedikit menarik alisnya.

“Aku lulus tes?”

Darmawan berjalan mendekat, lalu berhenti satu meter di depannya. “Bocah.” Ia menatap mata Raka lurus-lurus. “Tes yang sebenarnya baru dimulai.”

Di koridor luar, salah satu assassin yang sekarat tertawa serak.

“Haha... terlambat...”

Raka dan Darmawan menoleh bersamaan.

Pria bertopeng itu mengangkat sesuatu kecil di tangannya. Sebuah pemancar merah, lampunya berkedip cepat.

Darmawan berteriak. “Menjauh dari pintu!”

Raka menyipit. “Itu apa?”

Darmawan menatap pintu yang hancur. “Dia baru saja memberitahu seluruh pemburu bahwa kau ada di sini.”

Sorot matanya berubah tajam. “Dan mereka sudah bergerak.”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 212

    Wiuu~Fajar baru saja menyingsing ketika suara sirine panjang menggema di seluruh Wilayah Militer Selatan, memecah keheningan pagi bahkan sebelum matahari benar-benar muncul di ufuk timur.Suara nyaring itu langsung membangunkan seluruh kadet. Dalam hitungan menit, barak yang semula lengang berubah menjadi lautan langkah kaki dan teriakan para instruktur yang memaksa semua orang bergerak secepat mungkin."Bangun!""Lima menit berkumpul di lapangan!""Siapa yang terlambat, bersiap menerima hukuman!"Tak seorang pun berani mengulur waktu. Para kadet segera mengenakan seragam latihan sambil berlari keluar dari barak, takut menjadi orang pertama yang dijadikan contoh.Di barak wanita, Celine masih duduk terpaku di tepi ranjang. Matanya sembap akibat semalaman tidak pernah benar-benar terpejam. Setiap kali mencoba memejamkan mata, bayangan Raka selalu muncul sesaat setelah pria itu menyiram air padanya, bersamaan dengan kalimat yang masih terngiang jelas di telinganya.[Selamat datang... di

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 211

    "Siap, Komandan Unit!"Raka berdiri tegak memberi hormat. Senyum puas tersungging di wajahnya ketika menjawab, "Saya pastikan tugas ini akan diselesaikan dengan sempurna."Setelah Arman benar-benar meninggalkan kantin, Raka menurunkan tangan dari sikap hormatnya. Tatapannya perlahan menyapu seluruh kadet, dan hawa di sekelilingnya seolah ikut mendingin ketika sorot matanya kembali berubah sedingin es."Apa yang masih kalian lihat? Sudah selesai makan?""Kalau sudah, kembali ke barak untuk istirahat siang. Tepat pukul 13.30 seluruh unit harus sudah berkumpul di lapangan latihan."Dia berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan nada datar."Siapa pun yang terlambat, meski hanya satu menit, hukumannya tambahan lari lima kilometer."Satu perintah itu langsung membuat seluruh kantin gempar. Para kadet berhamburan meninggalkan tempat tersebut secepat mungkin, seolah takut terlambat sedetik saja.Bara dan Rio hanya bisa saling berpandangan. Keduanya masih belum sepenuhnya pulih dari keterkej

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 210

    Semua sikap dingin, semua ucapan kejam, bahkan perlakuan kasar yang diterimanya sebelumnya, pasti hanya sandiwara. Tujuannya semata-mata untuk menarik perhatiannya. Sebenarnya Raka masih sangat mencintainya.Dalam sekejap, imajinasi Celine berkembang tanpa kendali. Berbagai adegan romantis yang hanya ada di dalam pikirannya bermunculan silih berganti, seolah sebuah drama panjang sedang diputar di benaknya. Di dalam kisah itu, dirinya adalah satu-satunya pemeran utama wanita yang tidak tergantikan.Sedangkan Raka adalah tokoh utama pria yang rela menentang siapa pun, bahkan seluruh dunia, demi mempertahankan cintanya. Semakin lama memikirkannya, semakin yakin Celine Permata dengan kesimpulannya sendiri.Suasana hatinya yang sempat jatuh ke titik terendah perlahan kembali pulih. Dalam pandangannya, Raka bukan lagi pemuda miskin, pendiam, dan penurut yang dulu selalu mengikutinya.Sekarang Raka memiliki kemampuan. Dia telah menjadi seorang instruktur, mendapat kepercayaan penuh dari Koma

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 209

    Harapan yang sempat padam kembali menyala di mata para kadet.Tak seorang pun menyangka Raka yang beberapa saat lalu masih berdiri bersama mereka sebagai peserta pelatihan, kini mendadak berubah menjadi instruktur.Benar-benar di luar dugaan."Komandan Unit." Raka kembali melangkah maju dan memberi hormat. "Saya masih memiliki satu permohonan."Arman menghembuskan napas panjang. "Katakan."Nada suaranya mulai dipenuhi rasa tidak sabar.Semakin lama berhadapan dengan Raka, semakin dia merasa pemuda itu sulit ditebak. Sifat-sifat yang selama ini tidak pernah terlihat justru bermunculan satu per satu, membuat Arman merasa harus mengawasinya lebih saksama setelah ini.Raka tidak berputar-putar. Tatapannya bergeser ke arah Celine, lalu sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum yang begitu lebar hingga sulit disembunyikan. "Saya berharap Komandan Unit menunda hukuman untuk Celine Permata."Kalimat itu baru saja selesai diucapkan ketika seluruh kantin mendadak gempar.Arman bahkan n

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 208

    Arman tak lagi memperdulikan keadaan Celine. Setelah mengalihkan pandangan darinya, dia menatap Raka lalu menyampaikan sebuah keputusan yang langsung mengguncang seluruh kantin."Mulai hari ini, Raka Mahendra ditunjuk sebagai instruktur pelatihan militer bagi para kadet baru."Ucapan itu seketika memancing kegemparan.Semua orang memandang Raka dengan ekspresi tak percaya, termasuk Celine yang masih terduduk di lantai. Bahkan Raka sendiri sempat terpaku beberapa saat karena sama sekali tidak menduga keputusan tersebut."Komandan Unit." Raka mengusap pelipisnya sambil mengembuskan napas pelan, lalu tersenyum pahit. "Bukankah sebelumnya kita sudah sepakat saya hanya membantu selama satu hari?"Dia benar-benar merasa telah dijebak.Mendengar protes itu, Arman justru menyunggingkan senyum tipis. "Bukankah ini masuk akal? Pasukan sedang kekurangan personel, jadi seorang prajurit sepertimu tentu harus ikut membantu menjadi instruktur."Raka langsung menggeleng. "Komandan Unit, saya masih da

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 207

    Semua orang membeku di tempat."Raka masih kadet tahun pertama, bukan? Bagaimana mungkin dia sudah resmi menjadi prajurit?""Mustahil! Dia baru mengikuti pelatihan militer selama dua bulan!""Aku juga tidak percaya. Apa jangan-jangan dia punya jalur khusus atau orang dalam?"Bisik-bisik langsung memenuhi seluruh kantin.Semua orang saling bertukar pandang, tetapi tak seorang pun mampu memahami bagaimana Raka bisa resmi bergabung dengan militer dalam waktu sesingkat itu.Celine pun sama terkejutnya. Baginya, kenyataan bahwa Raka berani menembak seseorang sudah cukup sulit diterima.Kini pria itu bahkan telah resmi menjadi prajurit.Apakah ini benar-benar Raka yang selama ini dikenalnya?Bukankah dulu dia selalu penurut, lembut, pendiam, dan tak pernah berani melawan?‘Tidak…’Celine segera menepis pikiran itu.Pria di hadapannya tidak mungkin benar-benar berubah. Dia yakin Raka masih menyimpan perasaan yang sama seperti dulu, dan keyakinan itulah yang kembali menyalakan secercah harapa

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 1

    Langit sore di atas Akademi Tempur Garuda tertutup awan kelabu pekat. Gumpalan mendung menggantung rendah, seolah menekan seluruh kompleks akademi dengan beban tak kasatmata.Di plaza utama, ribuan peserta berdiri dalam barisan panjang menghadap panggung ujian raksasa. Layar hologram, menara sensor

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 8

    “SEMUA DIAM!”Tiba-tiba, suara menggelegar meledak di tengah arena, langsung menarik perhatian seluruh siswa baru.Seorang pria bertubuh tegap berdiri di depan barisan. Kulitnya gelap, rahangnya keras, dan sorot matanya tajam seperti bilah pisau yang menyapu kerumunan tanpa jeda. Namanya Arman Hali

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 7

    Di depan pintu Ruang Garuda, tubuh assassin terakhir tergeletak tak bergerak. Tapi pemancar merah di tangannya masih berkedip.Raka menatap benda itu dengan napas berat. Panas asing di dalam tubuhnya belum benar-benar mereda sejak pertarungan tadi.Darmawan berjalan mendekat, lalu menendang pemanca

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 5

    Ruangan itu tenggelam dalam sunyi.Hanya dengung halus proyektor hologram yang masih terdengar, memantulkan cahaya kebiruan ke seluruh ruang.Di udara, satu nama tetap menyala.Tatapan Raka terpaku pada tulisan itu. Dadanya naik turun perlahan, namun matanya tak berkedip sedikit pun.Sepuluh tahun.

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status