تسجيل الدخولRuangan itu tenggelam dalam sunyi.
Hanya dengung halus proyektor hologram yang masih terdengar, memantulkan cahaya kebiruan ke seluruh ruang.
Di udara, satu nama tetap menyala.
Tatapan Raka terpaku pada tulisan itu. Dadanya naik turun perlahan, namun matanya tak berkedip sedikit pun.
Sepuluh tahun.
Sepuluh tahun ia hidup dengan satu keyakinan mutlak—kedua orang tuanya telah mati… atau dibungkam untuk selamanya.
Kini, satu kata sederhana meruntuhkan seluruh keyakinan yang ia pegang selama ini.
Hilang.
“Duduk.”
Suara Darmawan kembali terdengar rendah dan penuh tekanan. Membawa tekanan alami dari seseorang yang terlalu lama terbiasa memerintah.
Raka mengalihkan pandangan dari layar, lalu menatap pria tua itu tanpa banyak ekspresi. “Aku lebih suka berdiri.”
Sudut bibir Darmawan bergerak tipis. “Keras kepala, sama seperti ayahmu.”
Raka tetap tak bergeming. Ia kemudian berkata dengan tenang, tetapi tajam. “Aku tidak datang ke sini untuk mendengar cerita lama. Aku ingin jawaban.”
Beberapa detik berlalu.
Darmawan berjalan memutari meja, lalu berdiri di dekat jendela raksasa yang menghadap seluruh kompleks akademi. Lampu-lampu kota berkilau di kejauhan seperti lautan api kecil.
“Jawaban?” Darmawan mendengus tipis. “Di dunia ini, itu barang paling mahal.”
Ia menoleh setengah badan. “Dan orang sepertimu datang menuntutnya pada malam pertama masuk akademi.”
Raka tak terpancing sedikit pun. “Kalau Anda memanggilku hanya untuk bermain kata, saya bisa pergi.”
Tekanan di ruangan berubah, udara seakan menjadi lebih berat.
Darmawan menatapnya cukup lama sebelum tertawa kecil. “Bagus.”
Ia kembali ke meja dan menekan beberapa panel.
WUUUNG.
Layar utama berganti sebuah foto lama muncul di udara. Keluarga berempat, seorang pria gagah berseragam militer, wanita cantik bermata amber dan seorang anak laki-laki sekitar sebelas tahun.
Dan… seorang gadis kecil yang memeluk lengannya.
Tubuh Raka menegang, ia mengenali foto itu dalam sekejap. Diambil sebelum semuanya runtuh.
“Kau menyimpan ini...” ucap Raka pelan.
“Aku menyimpan banyak hal,” jawab Darmawan. “Termasuk hal-hal yang seharusnya sudah dimusnahkan.”
Layar bergeser lagi, foto berikutnya muncul. Rumah keluarga Mahendra terbakar hebat, mobil lapis baja hancur di halaman, tubuh-tubuh bergelimpangan di sekitar pagar.
Pupil mata Raka mengecil.
Malam itu.
Malam yang terus menghantuinya dalam mimpi.
Bau asap.
Jeritan.
Api.
“Apa maksud Anda?”
“Maksudku sederhana,” kata Darmawan datar. “Keluargamu tidak dihancurkan oleh kebetulan.”
Ia menatap lurus ke arah Raka. “Mahendra dijatuhkan melalui operasi terencana.”
Raka hanya bisa diam, namun jari tangannya perlahan mengepal. “Siapa yang melakukan itu?”
“Jika aku tahu seluruh jawabannya, orang-orang itu sudah lama mati,” jawab Darmawan dengan tenang.
Dan justru karena itulah terdengar mengerikan.
Raka menarik napas panjang, menahan gejolak di dada. “Kenapa keluargaku?”
Darmawan tak langsung menjawab, ia mengganti layar sekali lagi.
Kini muncul diagram tubuh manusia dengan jalur energi berwarna merah. Di bagian dada, satu titik cahaya berkedip pelan seperti jantung kedua.
“Karena ibumu.”
Mata Raka menyipit.
“Kirana Dewanti bukan wanita biasa. Dan juga pembawa garis darah langka yang dicari banyak pihak.”
Mendengar pernyataan itu, suara Raka terdengar goyah. “Siapa ibuku sebenarnya?”
Ruangan mendadak terasa lebih dingin.
Raka teringat liontin tua, mata amber ibunya, dan banyak hal aneh yang dulu tak pernah ia pahami.
“Apa garis darah itu?”
Darmawan meliriknya beberapa saat. “Belum saatnya.”
Raka melangkah satu langkah maju. “Aku tidak suka jawaban setengah-setengah.”
BANG!
Udara di ruangan seakan runtuh.
Tekanan tak terlihat menghantam bahu Raka seperti gedung yang dijatuhkan dari langit. Lututnya bergetar, lantai retak di bawah telapak kaki. Tubuhnya menegang, napasnya tertahan, namun ia tidak berlutut.
Darmawan masih berdiri di tempat semula. Hanya auranya yang menekan ruangan. “Dan aku tidak suka nada ancaman,” katanya datar.
Keringat dingin mulai muncul di pelipis Raka. Namun matanya tetap menatap balik tanpa mundur sejengkal pun. Dua sosok itu saling menahan dalam diam.
Beberapa detik terasa seperti menit.
Darmawan mengangguk pelan. “Kau jauh lebih kuat daripada isi laporanmu.”
Raka Mahendra menarik napas dalam. Tekanan tadi masih menyisakan nyeri samar di bahu dan tulang belakang, tapi wajahnya tetap datar. “Aku masih menunggu jawaban keluargaku.”
“Hahaha!” Darmawan akhirnya tertawa lebih lantang. “Benar-benar anak Mahesa.”
Ia kembali ke kursinya, lalu duduk perlahan seperti seseorang yang baru menemukan hiburan langka. “Kudengar Bloodline Signature-mu aktif malam ini.”
“Entahlah,” jawab Raka singkat.
“Jangan bohong di depanku,” nada Darmawan turun satu tingkat. Tak keras, tapi cukup untuk membuat udara di ruangan ikut menegang.
Raka tak menjawab.
Tok. Tok. Tok.
Darmawan mengetukkan jemarinya di atas meja. “Kau punya dua pilihan mulai malam ini.”
Ia menekan panel di sisi meja.
WUUUNG.
Layar hologram berubah. Logo Akademi Tempur Garuda muncul besar di udara, berputar perlahan dalam cahaya biru.
“Pilihan pertama,” Darmawan mengangkat satu jari, suaranya kembali formal. “Kau kembali ke Kelas Nol.”
Layar menampilkan asrama kumuh.
“Kau akan dipukuli senior, diperas instruktur, lalu dibunuh orang yang memburu darahmu.”
Ia menatap Raka. “Lalu mati tanpa sempat mengetahui kebenaran.”
Tatapan Raka tetap datar. “Pilihan kedua?” tanyanya singkat.
Sudut bibir Darmawan terangkat tipis. “Kau berada dalam pengawasanku.”
Data baru muncul, menampilkan ruang latihan privat, akses gudang Etherion dan jadwal tempur elit.
“Latihan khusus, akses sumber daya, dan perlindungan terbatas.” Darmawan mencondongkan tubuh sedikit ke depan. ”Sebagai gantinya, kau mengikuti semua perintahku selama berada di akademi.”
Raka langsung menjawab. “Tidak.”
Darmawan mengangkat alis. “Kau menolak terlalu cepat.”
“Masih banyak hal yang harus kulakukan.”
Ruangan kembali hening.
Lalu Darmawan berkata pelan, “Kalau begitu ada pilihan ketiga.”
BRAK! BRAK! BRAK!
Seluruh jendela raksasa tiba-tiba tertutup lapisan baja otomatis.
Pintu utama terkunci.
Lampu ruangan meredup, menyisakan cahaya garis tipis di sudut langit-langit.
Raka langsung bergeser setengah langkah dan memasang kuda-kuda. Bahunya rileks, lutut sedikit turun, tatapannya berubah tajam..
Darmawan menatap lurus padanya. “Mulai malam ini, banyak orang akan tahu kau masih hidup.”
Nada suaranya rendah. “Dan beberapa dari mereka akan datang membunuhmu.”
Raka mengerutkan kening. “Apa hubungannya dengan pilihan ketiga?”
Darmawan menyandarkan tubuh ke kursi.
“Pilihan ketiga…” Ia mengangkat tangan, menunjuk pintu keluar yang kini tertutup rapat dengan tatapan tajam. “Kau keluar dari ruangan ini sendirian, lalu… kita lihat apakah kau masih hidup saat matahari terbit.”
Mata Raka menyipit, bibirnya perlahan membentuk garis tipis. “Menarik…”
“Jadi ini tes?”
“Tidak.” Jawaban Darmawan singkat. “Itu kenyataan.”
Ia menekan panel sekali lagi. Monitor di dinding menyala serempak, menampilkan kamera lorong luar.
Tiga sosok bertopeng hitam sedang bergerak cepat menuju lantai atas. Langkah mereka ringan, terlatih, mematikan. Masing-masing membawa senjata Ether pendek yang berkilat redup.
Sorot mata Raka jatuh pada tiga sosok itu.
Darmawan menatap layar, lalu menatap Raka. “Dalam satu menit mereka akan sampai di pintu,” tatapannya tak berubah. “Sekarang pilih.”
Wiuu~Fajar baru saja menyingsing ketika suara sirine panjang menggema di seluruh Wilayah Militer Selatan, memecah keheningan pagi bahkan sebelum matahari benar-benar muncul di ufuk timur.Suara nyaring itu langsung membangunkan seluruh kadet. Dalam hitungan menit, barak yang semula lengang berubah menjadi lautan langkah kaki dan teriakan para instruktur yang memaksa semua orang bergerak secepat mungkin."Bangun!""Lima menit berkumpul di lapangan!""Siapa yang terlambat, bersiap menerima hukuman!"Tak seorang pun berani mengulur waktu. Para kadet segera mengenakan seragam latihan sambil berlari keluar dari barak, takut menjadi orang pertama yang dijadikan contoh.Di barak wanita, Celine masih duduk terpaku di tepi ranjang. Matanya sembap akibat semalaman tidak pernah benar-benar terpejam. Setiap kali mencoba memejamkan mata, bayangan Raka selalu muncul sesaat setelah pria itu menyiram air padanya, bersamaan dengan kalimat yang masih terngiang jelas di telinganya.[Selamat datang... di
"Siap, Komandan Unit!"Raka berdiri tegak memberi hormat. Senyum puas tersungging di wajahnya ketika menjawab, "Saya pastikan tugas ini akan diselesaikan dengan sempurna."Setelah Arman benar-benar meninggalkan kantin, Raka menurunkan tangan dari sikap hormatnya. Tatapannya perlahan menyapu seluruh kadet, dan hawa di sekelilingnya seolah ikut mendingin ketika sorot matanya kembali berubah sedingin es."Apa yang masih kalian lihat? Sudah selesai makan?""Kalau sudah, kembali ke barak untuk istirahat siang. Tepat pukul 13.30 seluruh unit harus sudah berkumpul di lapangan latihan."Dia berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan nada datar."Siapa pun yang terlambat, meski hanya satu menit, hukumannya tambahan lari lima kilometer."Satu perintah itu langsung membuat seluruh kantin gempar. Para kadet berhamburan meninggalkan tempat tersebut secepat mungkin, seolah takut terlambat sedetik saja.Bara dan Rio hanya bisa saling berpandangan. Keduanya masih belum sepenuhnya pulih dari keterkej
Semua sikap dingin, semua ucapan kejam, bahkan perlakuan kasar yang diterimanya sebelumnya, pasti hanya sandiwara. Tujuannya semata-mata untuk menarik perhatiannya. Sebenarnya Raka masih sangat mencintainya.Dalam sekejap, imajinasi Celine berkembang tanpa kendali. Berbagai adegan romantis yang hanya ada di dalam pikirannya bermunculan silih berganti, seolah sebuah drama panjang sedang diputar di benaknya. Di dalam kisah itu, dirinya adalah satu-satunya pemeran utama wanita yang tidak tergantikan.Sedangkan Raka adalah tokoh utama pria yang rela menentang siapa pun, bahkan seluruh dunia, demi mempertahankan cintanya. Semakin lama memikirkannya, semakin yakin Celine Permata dengan kesimpulannya sendiri.Suasana hatinya yang sempat jatuh ke titik terendah perlahan kembali pulih. Dalam pandangannya, Raka bukan lagi pemuda miskin, pendiam, dan penurut yang dulu selalu mengikutinya.Sekarang Raka memiliki kemampuan. Dia telah menjadi seorang instruktur, mendapat kepercayaan penuh dari Koma
Harapan yang sempat padam kembali menyala di mata para kadet.Tak seorang pun menyangka Raka yang beberapa saat lalu masih berdiri bersama mereka sebagai peserta pelatihan, kini mendadak berubah menjadi instruktur.Benar-benar di luar dugaan."Komandan Unit." Raka kembali melangkah maju dan memberi hormat. "Saya masih memiliki satu permohonan."Arman menghembuskan napas panjang. "Katakan."Nada suaranya mulai dipenuhi rasa tidak sabar.Semakin lama berhadapan dengan Raka, semakin dia merasa pemuda itu sulit ditebak. Sifat-sifat yang selama ini tidak pernah terlihat justru bermunculan satu per satu, membuat Arman merasa harus mengawasinya lebih saksama setelah ini.Raka tidak berputar-putar. Tatapannya bergeser ke arah Celine, lalu sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum yang begitu lebar hingga sulit disembunyikan. "Saya berharap Komandan Unit menunda hukuman untuk Celine Permata."Kalimat itu baru saja selesai diucapkan ketika seluruh kantin mendadak gempar.Arman bahkan n
Arman tak lagi memperdulikan keadaan Celine. Setelah mengalihkan pandangan darinya, dia menatap Raka lalu menyampaikan sebuah keputusan yang langsung mengguncang seluruh kantin."Mulai hari ini, Raka Mahendra ditunjuk sebagai instruktur pelatihan militer bagi para kadet baru."Ucapan itu seketika memancing kegemparan.Semua orang memandang Raka dengan ekspresi tak percaya, termasuk Celine yang masih terduduk di lantai. Bahkan Raka sendiri sempat terpaku beberapa saat karena sama sekali tidak menduga keputusan tersebut."Komandan Unit." Raka mengusap pelipisnya sambil mengembuskan napas pelan, lalu tersenyum pahit. "Bukankah sebelumnya kita sudah sepakat saya hanya membantu selama satu hari?"Dia benar-benar merasa telah dijebak.Mendengar protes itu, Arman justru menyunggingkan senyum tipis. "Bukankah ini masuk akal? Pasukan sedang kekurangan personel, jadi seorang prajurit sepertimu tentu harus ikut membantu menjadi instruktur."Raka langsung menggeleng. "Komandan Unit, saya masih da
Semua orang membeku di tempat."Raka masih kadet tahun pertama, bukan? Bagaimana mungkin dia sudah resmi menjadi prajurit?""Mustahil! Dia baru mengikuti pelatihan militer selama dua bulan!""Aku juga tidak percaya. Apa jangan-jangan dia punya jalur khusus atau orang dalam?"Bisik-bisik langsung memenuhi seluruh kantin.Semua orang saling bertukar pandang, tetapi tak seorang pun mampu memahami bagaimana Raka bisa resmi bergabung dengan militer dalam waktu sesingkat itu.Celine pun sama terkejutnya. Baginya, kenyataan bahwa Raka berani menembak seseorang sudah cukup sulit diterima.Kini pria itu bahkan telah resmi menjadi prajurit.Apakah ini benar-benar Raka yang selama ini dikenalnya?Bukankah dulu dia selalu penurut, lembut, pendiam, dan tak pernah berani melawan?‘Tidak…’Celine segera menepis pikiran itu.Pria di hadapannya tidak mungkin benar-benar berubah. Dia yakin Raka masih menyimpan perasaan yang sama seperti dulu, dan keyakinan itulah yang kembali menyalakan secercah harapa
“SEMUA DIAM!”Tiba-tiba, suara menggelegar meledak di tengah arena, langsung menarik perhatian seluruh siswa baru.Seorang pria bertubuh tegap berdiri di depan barisan. Kulitnya gelap, rahangnya keras, dan sorot matanya tajam seperti bilah pisau yang menyapu kerumunan tanpa jeda. Namanya Arman Hali
Di depan pintu Ruang Garuda, tubuh assassin terakhir tergeletak tak bergerak. Tapi pemancar merah di tangannya masih berkedip.Raka menatap benda itu dengan napas berat. Panas asing di dalam tubuhnya belum benar-benar mereda sejak pertarungan tadi.Darmawan berjalan mendekat, lalu menendang pemanca
Pilihan Ketiga.TING!Jam digital di dinding tiba-tiba berubah angka.00:59Ruangan Garuda tenggelam dalam cahaya redup. Pintu baja utama tetap terkunci rapat, sementara monitor di dinding menampilkan tiga sosok bertopeng yang bergerak cepat di koridor luar.Langkah mereka tenang, bahkan terlalu te
WIUUU~ WIUUU~Sirene darurat meraung panjang, menggema ke seluruh area belakang Akademi Tempur Garuda. Lampu merah berkedip cepat di sepanjang lorong, mewarnai dinding kusam Asrama Kelas Nol dengan nuansa bahaya yang mencekam.Koridor itu hancur berantakan.Retakan menjalar di tembok, beberapa pint







