Share

Bab 4

Author: Imgnmln
last update publish date: 2026-05-07 22:48:49

WIUUU~ WIUUU~

Sirene darurat meraung panjang, menggema ke seluruh area belakang Akademi Tempur Garuda. Lampu merah berkedip cepat di sepanjang lorong, mewarnai dinding kusam Asrama Kelas Nol dengan nuansa bahaya yang mencekam.

Koridor itu hancur berantakan.

Retakan menjalar di tembok, beberapa pintu kamar copot dari engsel dan tergeletak miring. Darah tercecer di lantai, sementara debu tipis masih melayang di udara.

Brama, senior plontos yang tadi paling garang, kini tertanam setengah badan di dinding. Wajahnya remuk, mulutnya penuh darah, tubuhnya tak bergerak sedikit pun.

Dua senior lain bernasib tak jauh berbeda. Satu orang memegangi lengan yang patah sambil merintih pelan, sedangkan yang lain merangkak mundur dengan tatapan penuh teror, napasnya kacau.

Pintu-pintu kamar terbuka satu per satu.

Para penghuni Kelas Nol keluar dengan wajah tegang. Ada yang tak percaya, ada yang ketakutan, ada pula yang hanya membisu.

Di tengah lorong berdiri seorang pemuda dengan napas tenang.

Raka Mahendra, darah mengering di sudut bibirnya, seragamnya robek di beberapa bagian. Namun tubuhnya tegak lurus. Sepasang mata amber miliknya menyisakan pijar merah samar, yang membuat siapa pun enggan menatap terlalu lama.

Baru beberapa jam lalu, ia datang sebagai bahan tertawaan.

Sekarang, seluruh lorong menatapnya seperti bencana yang baru terbangun.

“Dia... benar-benar Grade E?”

“Mustahil.”

“Senior Brama kalah...?”

Bisik-bisik gugup terdengar dari berbagai sisi.

Raka mengabaikan semuanya, sorot matanya jatuh pada telapak tangannya sendiri sesaat. Panas itu masih berputar di dalam tubuhnya. Energi kasar dan liar mengalir melalui jalur nadi yang sebelumnya terasa mati. Setiap detak jantungnya membawa ledakan tenaga baru.

Apa sebenarnya ini?

Tok. Tok. Tok.

Suara langkah berat mendadak menggema dari ujung lorong.

Semua kepala menoleh serempak.

Belasan orang berseragam hitam memasuki koridor dalam formasi rapi. Armor mereka berlapis baja ringan, helm menutupi wajah, sementara tongkat Ether di tangan kanan masing-masing memancarkan cahaya biru redup.

Pasukan Disiplin Akademi.

Unit yang bahkan senior tahun akhir pun enggan berurusan dengan mereka.

Barisan itu berhenti serempak.

Seorang pria tinggi bertubuh kokoh maju satu langkah dari tengah formasi. Mata kirinya dihiasi bekas luka panjang, tatapannya keras seperti baja tua yang ditempa ribuan kali.

Kapten Vargos, ia menyapu kerusakan lorong hanya dengan satu tatapan singkat.

“Raka Mahendra.” Vargos berhenti tepat di depan pemuda itu. “Kau membuat keributan di hari pertama? Hebat.” Tatapannya dingin. “Sekarang ikut kami.” 

Lorong mendadak makin sunyi.

Raka menatap pria itu tanpa emosi. “Ikut…?” Suaranya rendah, lebih terdengar seperti memastikan daripada membantah. 

Alis Vargos bergerak tipis. “Berlutut dan menyerahlah.”

Beberapa siswa langsung menahan napas. Tak seorang pun di Kelas Nol pernah cukup gila untuk menolak perintah itu.

Raka terdiam.

Kata-kata itu terdengar jelas, tapi pikirannya justru terpecah.

Berlutut?

Kenapa?

Dadanya kembali berdenyut.

DUG!

Sekilas bayangan tadi terlintas—tubuh yang bergerak sendiri, kekuatan yang tak ia kenali, dan para senior yang tumbang tanpa bisa melawan.

Jari-jarinya mengencang tanpa sadar.

Ia mengangkat kepala perlahan.

“Aku…” kalimat itu terhenti.

Ia sendiri belum yakin apa yang ingin ia katakan.

Vargos menatap lurus. “Menurutlah, kau akan tahu kenapa semua orang diam saat kami datang.”

Seketika tongkat Ether para petugas terangkat.

ZZZT!

Arus listrik biru menjalar di ujung senjata, tekanan aura memenuhi lorong.

Seorang siswa di barisan belakang langsung mundur ketakutan.

“Dia gila...”

“Berani melawan Pasukan Disiplin?”

Vargos mengangkat satu tangan.

Pasukannya bersiap menyerbu.

“Ini peringatan terakhir,” katanya dingin. “Ikutlah dengan kami.”

Udara menegang.

BEEP!

Tiba-tiba, suara notifikasi tajam terdengar dari earpiece Vargos.

Ia menyentuh sisi helmnya. “Kapten Vargos menerima.”

Tak ada suara lain yang terdengar. Namun perubahan di wajahnya cukup jelas.

Mata tajamnya sedikit menyipit. “...Dipahami.”

Ia menurunkan tangannya.

Tongkat Ether para petugas ikut turun bersamaan.

Kerumunan langsung gaduh.

“Hah?”

“Apa yang terjadi?”

“Kenapa dihentikan?”

Vargos menatap Raka lebih lama dari sebelumnya, nada suaranya tetap datar. “Perintah baru, tahan dia hidup-hidup.”

Jeda singkat.

“Tanpa luka tambahan.”

Lorong seketika meledak oleh bisik terkejut.

“Tanpa luka?”

“Sejak kapan Pasukan Disiplin sebaik itu?”

“Siapa sebenarnya dia?”

Raka sendiri menyipitkan mata.

Jadi ada seseorang di atas sana yang memperhatikannya.

Vargos memberi isyarat.

Dua anggota pasukan maju, tetapi tidak menyentuh tubuh Raka.

“Jalan.”

Raka melirik mereka sebentar, lalu melangkah. Bukan karena tunduk, ia hanya ingin tahu siapa orang yang memanggilnya.

Di balkon lantai dua gedung seberang, seorang pemuda berdiri sendirian dengan kedua tangan di saku.

Reyhan Aditya, tatapannya tertuju pada iring-iringan pasukan yang membawa Raka keluar dari asrama. Rahangnya mengeras, ia mengingat bagaimana tangannya ditepis di plaza, lalu bagaimana dalam satu malam seorang Grade E membuat sirene akademi meraung.

Sorot matanya berubah dingin. “Menarik…” senyum tipis muncul di bibirnya. “Jadi begini wajahmu saat berhenti pura-pura lemah.”

“Tapi bagus. Dengan begitu, saat aku menjatuhkanmu nanti... semua orang akan melihatnya.”

***

Gedung Pusat Akademi Tempur Garuda menjulang di tengah kompleks utama seperti benteng perang yang dibangun untuk menghadapi akhir zaman. Dinding logam hitam memantulkan cahaya malam dengan kilap dingin, kaca gelap menutupi tiap sisi, sementara menara sensor berdiri di setiap sudut.

Raka dibawa melewati gerbang keamanan berlapis. Pintu otomatis terbuka satu demi satu dengan suara mekanis berat.

KRRRK...

Lorong bagian dalam gedung jauh berbeda dari Asrama Kelas Nol. Setiap lapis pengaman yang terbuka terasa seperti memasuki wilayah yang tak seharusnya dijangkau siswa biasa.

Di sisi dinding, layar digital raksasa menampilkan statistik pertempuran, peta zona Retakan Langit, laporan korban mingguan, hingga data Etherion nasional yang terus bergerak real-time.

Akademi ini bukan sekadar sekolah. Ini markas militer yang menyamar sebagai lembaga pendidikan.

Pandangan Raka berhenti pada layar ditigal raksasa itu, menyimpan semuanya dalam kepala, seakan memeriksa setiap detail tanpa banyak bicara. Jalur keluar, kamera, titik buta, dan pola penjagaan. Semua masuk ke memorinya secara alami.

Barisan berhenti di depan lift khusus berlapis baja.

Kapten Vargos menempelkan kartu akses ke panel.

TING.

Pintu lift terbuka perlahan.

Tak seorang pun bicara selama perjalanan naik. Hanya suara mesin halus dan angka digital yang terus bertambah.

5… 12… 21… 37…

Saat pintu kembali terbuka di lantai tertinggi, suasananya berubah lebih sunyi lagi.

Karpet hitam tebal membentang di sepanjang koridor, meredam seluruh langkah kaki. Lampu kuning redup menyorot dinding kayu gelap yang memberi kesan elegan, tapi menekan.

Di ujung lorong berdiri sebuah pintu baja besar dengan lambang Garuda emas terukir di tengahnya.

Di bawahnya tertulis—RUANG GARUDA.

[AKSES TERBATAS]

Vargos menoleh. “Masuk, jangan buat aku mengulang.” 

Raka menatap tulisan itu sesaat.

“Cepat,” nada Vargos tak berubah sedikit pun.

Raka mendecak pelan, lalu mendorong pintu itu dengan satu tangan.

KREEEK...

Ruangan luas terbentang di baliknya. Jendela raksasa memperlihatkan seluruh kompleks akademi dari ketinggian. Lampu kota berkilau jauh di kejauhan.

Di tengah ruangan berdiri meja panjang dari kayu hitam. Di balik meja itu duduk seorang pria tua berbahu lebar dengan seragam komandan penuh medali. Rambutnya memutih rapi, tatapannya tajam seperti bilah pedang yang tak pernah tumpul meski termakan usia.

Direktur Darmawan Putra.

Pintu di belakang Raka tertutup otomatis.

BRAK.

Kini hanya mereka berdua.

Darmawan berdiri perlahan dari kursinya. Gerakannya tenang, tapi setiap langkah membawa tekanan tak kasatmata yang membuat udara ruangan terasa lebih berat.

Ia berhenti dua meter di depan Raka, mata tuanya menatap wajah pemuda itu lama sekali, suaranya rendah dan berat.

“Dua puluh tahun…” Pria tua itu menatapnya lama. “Akhirnya ada satu Mahendra yang berdiri di depanku lagi.” 

Raka tak bergeming. Bahunya tetap rileks, wajahnya tak menunjukkan apa pun. Namun instingnya siaga penuh.

Darmawan menatap mata amber itu lebih dalam. “Wajahmu mirip ayahmu.”

Jantung Raka berdetak keras, namun wajahnya tetap tenang.

Pria tua itu melanjutkan. “Dan matamu... milik ibumu.”

Tangan Raka mengepal, otot rahangnya menegang tipis. “Anda mengenal orang tuaku?”

Darmawan tak langsung menjawab. Ia berbalik menuju meja, lalu menekan tombol di permukaannya.

WUUUNG.

Layar hologram menyala.

Satu nama muncul besar di udara.

[MAHESA MAHENDRA]

Di bawahnya tertulis—STATUS: HILANG.

Tubuh Raka menegang, napasnya tertahan, tatapannya terpaku pada nama itu.

Darmawan menoleh setengah badan. “Duduk, Raka Mahendra.”

Nada suaranya kini berubah dingin. “Karena mulai malam ini, hidupmu tidak akan pernah sama lagi.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 212

    Wiuu~Fajar baru saja menyingsing ketika suara sirine panjang menggema di seluruh Wilayah Militer Selatan, memecah keheningan pagi bahkan sebelum matahari benar-benar muncul di ufuk timur.Suara nyaring itu langsung membangunkan seluruh kadet. Dalam hitungan menit, barak yang semula lengang berubah menjadi lautan langkah kaki dan teriakan para instruktur yang memaksa semua orang bergerak secepat mungkin."Bangun!""Lima menit berkumpul di lapangan!""Siapa yang terlambat, bersiap menerima hukuman!"Tak seorang pun berani mengulur waktu. Para kadet segera mengenakan seragam latihan sambil berlari keluar dari barak, takut menjadi orang pertama yang dijadikan contoh.Di barak wanita, Celine masih duduk terpaku di tepi ranjang. Matanya sembap akibat semalaman tidak pernah benar-benar terpejam. Setiap kali mencoba memejamkan mata, bayangan Raka selalu muncul sesaat setelah pria itu menyiram air padanya, bersamaan dengan kalimat yang masih terngiang jelas di telinganya.[Selamat datang... di

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 211

    "Siap, Komandan Unit!"Raka berdiri tegak memberi hormat. Senyum puas tersungging di wajahnya ketika menjawab, "Saya pastikan tugas ini akan diselesaikan dengan sempurna."Setelah Arman benar-benar meninggalkan kantin, Raka menurunkan tangan dari sikap hormatnya. Tatapannya perlahan menyapu seluruh kadet, dan hawa di sekelilingnya seolah ikut mendingin ketika sorot matanya kembali berubah sedingin es."Apa yang masih kalian lihat? Sudah selesai makan?""Kalau sudah, kembali ke barak untuk istirahat siang. Tepat pukul 13.30 seluruh unit harus sudah berkumpul di lapangan latihan."Dia berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan nada datar."Siapa pun yang terlambat, meski hanya satu menit, hukumannya tambahan lari lima kilometer."Satu perintah itu langsung membuat seluruh kantin gempar. Para kadet berhamburan meninggalkan tempat tersebut secepat mungkin, seolah takut terlambat sedetik saja.Bara dan Rio hanya bisa saling berpandangan. Keduanya masih belum sepenuhnya pulih dari keterkej

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 210

    Semua sikap dingin, semua ucapan kejam, bahkan perlakuan kasar yang diterimanya sebelumnya, pasti hanya sandiwara. Tujuannya semata-mata untuk menarik perhatiannya. Sebenarnya Raka masih sangat mencintainya.Dalam sekejap, imajinasi Celine berkembang tanpa kendali. Berbagai adegan romantis yang hanya ada di dalam pikirannya bermunculan silih berganti, seolah sebuah drama panjang sedang diputar di benaknya. Di dalam kisah itu, dirinya adalah satu-satunya pemeran utama wanita yang tidak tergantikan.Sedangkan Raka adalah tokoh utama pria yang rela menentang siapa pun, bahkan seluruh dunia, demi mempertahankan cintanya. Semakin lama memikirkannya, semakin yakin Celine Permata dengan kesimpulannya sendiri.Suasana hatinya yang sempat jatuh ke titik terendah perlahan kembali pulih. Dalam pandangannya, Raka bukan lagi pemuda miskin, pendiam, dan penurut yang dulu selalu mengikutinya.Sekarang Raka memiliki kemampuan. Dia telah menjadi seorang instruktur, mendapat kepercayaan penuh dari Koma

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 209

    Harapan yang sempat padam kembali menyala di mata para kadet.Tak seorang pun menyangka Raka yang beberapa saat lalu masih berdiri bersama mereka sebagai peserta pelatihan, kini mendadak berubah menjadi instruktur.Benar-benar di luar dugaan."Komandan Unit." Raka kembali melangkah maju dan memberi hormat. "Saya masih memiliki satu permohonan."Arman menghembuskan napas panjang. "Katakan."Nada suaranya mulai dipenuhi rasa tidak sabar.Semakin lama berhadapan dengan Raka, semakin dia merasa pemuda itu sulit ditebak. Sifat-sifat yang selama ini tidak pernah terlihat justru bermunculan satu per satu, membuat Arman merasa harus mengawasinya lebih saksama setelah ini.Raka tidak berputar-putar. Tatapannya bergeser ke arah Celine, lalu sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum yang begitu lebar hingga sulit disembunyikan. "Saya berharap Komandan Unit menunda hukuman untuk Celine Permata."Kalimat itu baru saja selesai diucapkan ketika seluruh kantin mendadak gempar.Arman bahkan n

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 208

    Arman tak lagi memperdulikan keadaan Celine. Setelah mengalihkan pandangan darinya, dia menatap Raka lalu menyampaikan sebuah keputusan yang langsung mengguncang seluruh kantin."Mulai hari ini, Raka Mahendra ditunjuk sebagai instruktur pelatihan militer bagi para kadet baru."Ucapan itu seketika memancing kegemparan.Semua orang memandang Raka dengan ekspresi tak percaya, termasuk Celine yang masih terduduk di lantai. Bahkan Raka sendiri sempat terpaku beberapa saat karena sama sekali tidak menduga keputusan tersebut."Komandan Unit." Raka mengusap pelipisnya sambil mengembuskan napas pelan, lalu tersenyum pahit. "Bukankah sebelumnya kita sudah sepakat saya hanya membantu selama satu hari?"Dia benar-benar merasa telah dijebak.Mendengar protes itu, Arman justru menyunggingkan senyum tipis. "Bukankah ini masuk akal? Pasukan sedang kekurangan personel, jadi seorang prajurit sepertimu tentu harus ikut membantu menjadi instruktur."Raka langsung menggeleng. "Komandan Unit, saya masih da

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 207

    Semua orang membeku di tempat."Raka masih kadet tahun pertama, bukan? Bagaimana mungkin dia sudah resmi menjadi prajurit?""Mustahil! Dia baru mengikuti pelatihan militer selama dua bulan!""Aku juga tidak percaya. Apa jangan-jangan dia punya jalur khusus atau orang dalam?"Bisik-bisik langsung memenuhi seluruh kantin.Semua orang saling bertukar pandang, tetapi tak seorang pun mampu memahami bagaimana Raka bisa resmi bergabung dengan militer dalam waktu sesingkat itu.Celine pun sama terkejutnya. Baginya, kenyataan bahwa Raka berani menembak seseorang sudah cukup sulit diterima.Kini pria itu bahkan telah resmi menjadi prajurit.Apakah ini benar-benar Raka yang selama ini dikenalnya?Bukankah dulu dia selalu penurut, lembut, pendiam, dan tak pernah berani melawan?‘Tidak…’Celine segera menepis pikiran itu.Pria di hadapannya tidak mungkin benar-benar berubah. Dia yakin Raka masih menyimpan perasaan yang sama seperti dulu, dan keyakinan itulah yang kembali menyalakan secercah harapa

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 6

    Pilihan Ketiga.TING!Jam digital di dinding tiba-tiba berubah angka.00:59Ruangan Garuda tenggelam dalam cahaya redup. Pintu baja utama tetap terkunci rapat, sementara monitor di dinding menampilkan tiga sosok bertopeng yang bergerak cepat di koridor luar.Langkah mereka tenang, bahkan terlalu te

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 5

    Ruangan itu tenggelam dalam sunyi.Hanya dengung halus proyektor hologram yang masih terdengar, memantulkan cahaya kebiruan ke seluruh ruang.Di udara, satu nama tetap menyala.Tatapan Raka terpaku pada tulisan itu. Dadanya naik turun perlahan, namun matanya tak berkedip sedikit pun.Sepuluh tahun.

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 3

    Raka membuka mata di lantai kamar. Napasnya memburu, rasa panas membakar dari dalam tubuhnya, seolah lava mengalir di setiap pembuluh darah. Urat-urat menonjol di leher dan lengannya, sementara jantungnya berdetak seperti genderang perang yang dipukul tanpa henti.Namun anehnya, seluruh rasa sakit

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 2

    Senja tenggelam perlahan di balik menara Akademi Tempur Garuda.Sorak-sorai plaza ujian sudah lama padam, digantikan suara langkah para peserta yang dibagi menuju gedung masing-masing. Mereka yang berbakat dibawa ke asrama utama. Mereka yang memiliki koneksi dijemput kendaraan keluarga.Dan mereka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status