로그인Tanpa terasa, keduanya telah tiba di lapangan latihan taktis Satuan Garuda VII. Tempat ini sama sekali berbeda dari arena rintangan di kamp mahasiswa baru. Tembok tinggi, pagar listrik, kubangan lumpur, jaring panjat, hingga lingkaran api memenuhi area tersebut, seolah menunjukkan betapa brutalnya pertempuran yang sesungguhnya.Belasan prajurit bertelanjang dada sedang menjalani latihan fisik ekstrem. Otot-otot mereka menegang, sementara teriakan keras terus menggema di udara.Komandan Hendra melangkah maju bersama Raka. "Berhenti!"Belasan prajurit itu serentak menghentikan latihan mereka dan menoleh. Tatapan mereka tajam dan penuh agresi, seperti sekelompok predator yang sedang mengamati mangsa baru.Komandan Hendra menepuk bahu Raka. "Perkenalkan, ini Raka Mahendra, anggota baru C-3." Dia menyeringai. "Benar, dia adalah Raka yang belakangan ini namanya terus kalian dengar.""Mulai hari ini, kita makan dari dapur yang sama. Jadi jangan terlalu keras padanya.""Komandan, jadi ini mon
Komandan Hendra Dinata, dia berjalan lurus ke arah Raka, menatapnya dari atas sampai bawah dengan sorot mata yang lebih mirip seseorang yang baru menemukan mainan menarik.Komandan Hendra menyeringai, memperlihatkan deretan gigi putihnya. "Pendatang baru, selamat datang di Satuan Garuda VII."Tangannya terangkat dan menepuk bahu Raka cukup keras. "Mulai hari ini, aku adalah instruktur yang bertanggung jawab membimbingmu.""Komandan Hendra!" Raka benar-benar tercengang.Dia mengira Arman hanya akan menugaskan seorang instruktur biasa untuk menyambutnya. Tak disangka, orang itu justru Komandan Hendra. Senyum tipis terukir di wajah pria tersebut, sementara tatapannya dipenuhi rasa ingin tahu dan sedikit godaan."Kenapa? Kaget melihatku?"Raka memang sedikit terkejut. "Bukankah Anda bertugas sebagai instruktur di kamp pelatihan mahasiswa baru?""HAHA! Mustahil," Komandan Hendra Dinata mengangkat bahu dengan ekspresi tak berdaya. "Komandan Arman melihat kita sudah saling kenal, jadi untuk
Data mengenai pengerahan pasukan, model persenjataan terbaru, hingga arah penelitian dan pengembangan militer dari berbagai negara di dunia terus mengalir tanpa henti.Di dalamnya juga terdapat analisis geopolitik setiap zona perang utama, titik-titik yang berpotensi memicu konflik, serta hubungan kepentingan rumit di antara berbagai kekuatan besar.Yang paling mengejutkan, seluruh informasi itu terus diperbarui secara dinamis dan real-time.“Luar biasa…”Raka sampai merasa kepalanya hampir pecah akibat banjir informasi yang mendadak memenuhi pikirannya. Sambil menahan rasa pusing, dia memaksa dirinya tetap fokus dan segera mengalihkan perhatian ke fungsi terakhir dari Arsip Induk Militer.[Peta sumber daya global.]Seketika, sebuah proyeksi tiga dimensi Bumi perlahan terbentang di ruang kesadarannya. Dia dapat memperbesar maupun memperkecil tampilan sesuka hati dan mengamati setiap sudut planet itu dengan sangat rinci.Di atas peta tersebut, tak terhitung banyaknya titik cahaya yang
Saat itulah sebuah suara mekanis yang telah lama dinantikannya tiba-tiba bergema di dalam benaknya.[Ding!][Perpindahan data Pengguna berhasil terdeteksi. Sistem Komando Tempur Global resmi diaktifkan.]Raka sontak membuka mata. ‘Akhirnya... Sistem Komando Tempur Global juga.’Semangatnya langsung bangkit. Ia tanpa sadar meluruskan punggung dan memusatkan perhatian pada panel transparan yang hanya bisa dilihat olehnya.[Sistem Komando Tempur Global][Pengguna: Raka Mahendra][Pangkat Militer: Prajurit (Jasa Tempur: 0/1000)][Poin Jasa Tempur: 0][Hadiah aktivasi sedang didistribusikan…][Selamat! Anda memperoleh hadiah aktivasi: 1 Unit Predator Alpha: Phantom.]Raka sempat terpaku. ‘Predator Alpha: Phantom?'Belum sempat ia mencerna informasi itu, gelombang data dalam jumlah besar langsung mengalir deras ke benaknya seperti banjir yang baru saja membuka bendungan.Barulah saat itu Raka memahami bahwa Phantom sama sekali bukan hewan tempur biasa. Makhluk tersebut merupakan unit biolog
"Universitas Bintang Timur sekarang sudah resmi berada di bawah Komando Garuda Selatan. Walaupun statusnya bukan akademi militer, sistem pengelolaannya hampir pasti akan berubah menjadi semi-militer. Kalian sebaiknya mulai membiasakan diri dengan kenyataan itu."Raka berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Selain itu, kurikulum kampus juga kemungkinan besar akan mengalami perubahan besar. Ke depan, hampir semua program pendidikan akan diarahkan untuk mendukung kebutuhan militer, teknologi, dan pertahanan."Dia menggeleng pelan. "Sebagian besar materi yang selama ini dianggap penting mungkin tidak lagi menjadi prioritas."Setelah mengatur napas sejenak, tatapan Raka berubah lebih tajam. "Kalimat berikut mungkin terdengar tidak enak didengar, tetapi cepat atau lambat kalian juga akan menyadarinya sendiri.""Di masa perang, hal yang paling berharga bukan lagi gelar atau status... melainkan sumber daya.""Sumber daya yang kumaksud bukan hanya senjata atau amunisi," ujar Raka tenang. "Perse
Saat Raka kembali ke asrama, malam telah turun sepenuhnya.Suasana di dalam ruangan terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya.Rio membaringkan tubuh di ranjang sambil menatap kosong ke langit-langit. Jefri duduk di depan meja dengan ponsel di tangan, berkali-kali menyalakan dan mematikan layar seolah sedang menunggu sebuah kabar penting. Hanya Bara yang masih berlatih push-up tanpa henti hingga lantai di bawahnya dipenuhi tetesan keringat.Melihat Raka masuk, ketiganya langsung menghentikan aktivitas masing-masing."Raka, Komandan Unit memanggilmu buat apa? Jangan-jangan kamu kena hukuman?" tanya Bara sambil berdiri.Tanpa banyak bicara, Raka meletakkan map coklat yang dibawanya di atas meja.Ketiga orang itu spontan merapat."Surat Persetujuan Rekrutmen Khusus..." Rio membacanya pelan, tetapi suaranya langsung meninggi di akhir kalimat. "Astaga! Raka! Kamu... resmi masuk dinas militer?"Bara buru-buru merebut dokumen itu lalu membacanya berulang kali, seolah takut salah melihat. Ma
Area latihan yang tadinya hanya dipenuhi mahasiswa baru kini berubah ramai seperti arena pertandingan besar. Tatapan penasaran terus mengarah kepada Raka. Namun di tengah semua perhatian itu, ekspresinya tetap tenang seolah semua ini tidak ada hubungannya dengan dirinya.Sorot matanya perlahan bera
“Seorang tahanan tidak punya hak untuk bertanya.” Nada suara Raka tetap datar saat ia mendorong pria itu ke arah Bara dan Rio tanpa sedikit pun perubahan ekspresi.“Raka, kau benar-benar gila…” Bara masih belum bisa mengendalikan napasnya yang memburu. Dadanya naik turun keras, sementara matanya di
WIUUU~ WIUUU~ WIUUU~Malam sudah larut ketika suara alarm darurat tiba-tiba meraung memecah ketenangan kamp tanpa peringatan. Sirene yang melengking membuat seluruh area asrama langsung kacau.“Darurat! Seluruh personel siaga!”“Kamp disusupi kelompok bersenjata tak dikenal!”“Ini bukan latihan! Ul
Surya kemudian memiringkan kepala sedikit sambil tetap menatap Raka. “Aku berbeda dengan mereka, lintasan rintangan adalah duniaku.”Senyumnya perlahan melebar. “Dan kau… tidak akan mampu mengejarku bahkan kalau diberi kesempatan lari lebih dulu.”Surya menyeringai tipis sambil menatap Raka penuh p







